author-banner
Nanas20
Nanas20
Author

Novel-novel oleh Nanas20

Tawanan Tuan Muda Dingin

Tawanan Tuan Muda Dingin

Stella baru menyadari bahwa selama ini ia adalah perempuan ketiga dalam rumah tangga seorang pria bernama Carlos. Dengan hati hancur, ia memutuskan mengakhiri semuanya dan pergi ke Dubai untuk melupakan masa lalunya. Namun, belum sempat ia meninggalkan bandara, pandangannya mendadak mengabur. Tubuhnya limbung, lalu semuanya berubah menjadi gelap. Saat membuka mata, Stella mendapati dirinya telah terbaring di sebuah kamar mewah yang asing. "Apakah ini jalang kecil mainan ayahku?" Suara itu menggema di dalam kamar. Stella membeku. Jadi ... Apakah sekarang dia diculik oleh anak mantan kekasihnya. Tapi tunggu ... Kenapa pria itu terlihat seumuran dengan Carlos. Siapa pria itu sebenarnya?
Baca
Chapter: Aku Tidak Akan Mati
Pagi hari di mansion. Stella mengerjapkan matanya. Rasa pusing masih terasa di kepalanya. "Selamat pagi, anda sudah bangun, Nona," ucap perawat yang berdiri di samping ranjang Stella. Stella menatapnya lalu menatap infus di tangannya. Ia menghela nafas dalam, menyesal kenapa ia masih hidup. Seorang pelayan datang, pelayan yang kali ini lebih tua dari biasnya. "Selamat, Pagi, Nona Stella. Perkenalkan, nama saya Ruth. Mulai sekarang, saya yang akan melayani anda," pelayan itu memperkenalkan diri. Stella hanya meliriknya sekilas tanpa menjawab apapun. "Makanan sudah saya siapkan, Nona," ucap Ruth selanjutnya. "Makanlah selagi hangat."Stella membawa pandangannya pada dinding kaca. Memperhatikan langit biru dari tempatnya. "Kenapa tidak membiarkan aku mati saja?" Mendengar ucapan itu, Ruth melangkah mendekat. Dengan lembut ia berkata, "Justru Tuan Muda yang pertama kali mengetahui anda pingsan, Nona. Tuan juga merawat anda sebelum dokter datang.""Cih." Stella meludah. Pria itu .
Terakhir Diperbarui: 2026-08-21
Chapter: Menginginkannya Sekali Lagi
Sementara menunggu kedatangan dokter, Luke meminta pelayan membawakannya air hangat dan kompres. "Stella Valerie." Luke menyebut nama itu di ujung bibirnya. Ia bersandar di kursi dengan tatapan mata yang tetap terkunci di wajah wanita itu. 'Siapa gadis ini sebenarnya?' Batinnya. Pelayan datang membawa air hangat dan kompres. Luke bergeming, hanya memberi isyarat agar pelayan itu meletakkan wadah air hangat di atas nakas. Setelah pelayan pergi, Luke mengambil kompres air hangat. "Hanya tinggal makan setiap hari, apa susahnya," gumamnya. Ia membawa kompres itu pada Stella. Meletakkan di kening Stella dengan hati-hati. "Sekarang kau sangat menyusahkan," keluhnya. Matanya menyusuri wajah Stella yang terpejam rapat. "Saat ku perintahkan makan, maka kau harus makan. Aku tidak suka seseorang melawanku." Luke menyilangkan kakinya. Tetap diam menatap Stella yang bahkan tidak menjawab apapun. Saat kompres itu mulai dingin, ia akan menggantinya. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan pa
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Chapter: Awal Sebuah Keraguan
"Kau masih perawan?" Luke bertanya ragu. Tidak ada jawaban apapun. Stella menangis tak berdaya. Dia merasa marah pada Luke tetapi tidak bisa berbuat apapun. Di sisi lain, nafsu sedang berperang pada logika Luke. Laki-laki itu ragu tapi juga penasaran. Stella terlalu indah untuk dilewatkan malam ini. Dia ... Akhirnya harus mengakui jika ia menginginkan tubuh gadis ini. Benar-benar menginginkannya. Semua yang ada pada diri Stella benar-benar murni. Pada akhirnya, nafsu adalah pemenangnya. Ia mencari kepuasan atas tubuh Stella yang sekarang terlihat begitu indah dan begitu menggiurkan. Hingga Luke telah selesai dengan permainannya. Ia mengerang puas di atas tubuh polos Stella. Luke segera menarik diri setelah itu. Dia melemparkan selimut di atas tubuh Stella tanpa kelembutan. Pria itu duduk di sisi ranjang. Mengenakan kemejanya. Rasanya tidak mungkin jika wanita simpanan ayahnya masih perawan. Bukankah mereka sudah tinggal serumah beberapa tahun belakangan, pikirnya. Setelah kemb
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Chapter: Retakan Pertama
Keesokan harinya. Pelayan datang mengantarkan sarapan untuk Stella. "Aku tidak memiliki pakaian ganti. Kembalikan barang-barangku sekarang juga," ucap Stella. Dia bangkit dari duduknya. Pelayan itu menundukkan kepala sedikit. "Saya akan mengatakan ini pada Tuan, Nona." "Ya. Laporkan juga jika aku ingin bertemu dengannya." "Baik, Nona." Tanpa berkata apa-apa lagi, pelayan itu meletakkan nampan di atas meja."Kami akan kembali lima belas menit lagi untuk mengambil peralatan makan," ucapnya sebelum berbalik meninggalkan ruangan.Setelah kepergian pelayan, Stella membuka tirai tebal dinding kaca ini. Beberapa pelayan terlihat tengah membersihkan kolam renang di bawah sana. Sebagian lagi membersihkan pilar-pilar tinggi rumah ini. Sebesar apa tempat yang ia tinggali saat ini hingga memiliki pilar yang terlihat sangat megah. Stella segera duduk di sofa dan memakan sarapannya. Dia terpenjara di kamar ini dan entah kapan ia diizinkan keluar. Dia bahkan tidak diberikan pakaian ganti.
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Chapter: Tawanan
Stella mengerjapkan matanya perlahan. "Ough." Dia merasakan sakit di kepalanya. Benar-benar pusing. Dia mencoba membuka mata lebih lebar lalu memperhatikan langit-langit ruangan di mana ia berada. Langit-langit tinggi dengan lukisan klasik yang membentang megah. Sebuah lampu kristal berukuran besar menggantung tepat di atasnya, memancarkan cahaya keemasan yang membuat seluruh ruangan berkilau. Stella mengerjap sekali lagi, mencoba mencerna keindahan yang baru saja ia lihat. "Aku di mana?" Gumamnya. Belum sempat Stella mencerna dengan baik atas keberadaannya, suara berat dan dingin memecah kesunyian. "Baguslah jika kau sudah bangun." Suara itu terdengar sangat datar dan dingin, mengandung tekanan yang membuat Stella spontan menoleh, membawa pandangan pada pemilik suara. Seorang pria berdiri tak jauh darinya, tubuh tinggi tegap, mengenakan kemeja hitam berpotongan rapi yang jatuh sempurna di tubuhnya. Sepasang manik mata gelap yang seolah tak memiliki dasar. Wajahnya dingi
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Chapter: Bandara
"Bye, Sayang. Bersenang-senanglah di Dubai dan dapatkan pria mapan di sana," seru Evelyne dari dalam mobil. Ia melambai dengan senyum lebar, lalu menambahkan, "Maaf tidak bisa menunggu sampai kau berangkat, ya," lanjutnya dengan wajah menyesal. Stella sang sahabat, seseorang yang akan berlibur ke Dubai membalas lambaiannya dengan senyum. "Tidak apa-apa. Terima kasih buat semuanya, Eve." Langkah Stella tenang dan mantap saat ia menyeret kopernya menuju ruang tunggu. Setelah boarding pass di tangan, ia duduk di kursi bandara, menatap lalu lalang orang yang hendak bepergian. "Sial, ternyata wanita ketiga itu adalah aku." Stella tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri. Ia menunduk menekuri lantai. Sudah setahun ia menjalin hubungan dengan seorang pria yang belakangan ia ketahui telah menikah. Ironis. Bagaimana bisa ia sebodoh itu? Satu tahun yang sia-sia. Stella ingin menangis meratapi nasip percintaannya tapi menahan diri. Mungkin rasa sakit yang ia rasakan ini tak seberapa, j
Terakhir Diperbarui: 2026-07-31
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status