Share

Retakan Pertama

Author: Nanas20
last update publish date: 2026-07-31 17:30:21

Keesokan harinya.

Pelayan datang mengantarkan sarapan untuk Stella.

"Aku tidak memiliki pakaian ganti. Kembalikan barang-barangku sekarang juga," ucap Stella. Dia bangkit dari duduknya.

Pelayan itu menundukkan kepala sedikit. "Saya akan mengatakan ini pada Tuan, Nona."

"Ya. Laporkan juga jika aku ingin bertemu dengannya."

"Baik, Nona."

Tanpa berkata apa-apa lagi, pelayan itu meletakkan nampan di atas meja.

"Kami akan kembali lima belas menit lagi untuk mengambil peralatan makan," ucapnya sebelum berbalik meninggalkan ruangan.

Setelah kepergian pelayan, Stella membuka tirai tebal dinding kaca ini.

Beberapa pelayan terlihat tengah membersihkan kolam renang di bawah sana. Sebagian lagi membersihkan pilar-pilar tinggi rumah ini.

Sebesar apa tempat yang ia tinggali saat ini hingga memiliki pilar yang terlihat sangat megah.

Stella segera duduk di sofa dan memakan sarapannya. Dia terpenjara di kamar ini dan entah kapan ia diizinkan keluar. Dia bahkan tidak diberikan pakaian ganti.

Semoga nanti Luke mau mendengarkan penjelasannya. Bahwa dia sungguh tidak tahu jika Carlos adalah pria yang sudah beristri.

Lima belas menit kemudian. Dua pelayan wanita masuk. Stella masih duduk di sofa saat itu.

"Ini pakaian ganti untuk anda, Nona."

Pelayan menyerahkan satu set pakaian untuk Stella. Pakaian baru yang bukan pakaian miliknya.

"Di mana Tuan kalian?" Tanya Stella. "Suruh dia kesini."

Tidak ada jawaban. Tidak ada sama sekali. Pertanyaannya layaknya angin yang tidak berbentuk. Dan sia-sia jika Stella terus bertanya, mereka akan diam.

🍂🍂🍂

Satu minggu telah berlalu sejak Stella dikurung di kamar mewah yang lebih pantas disebut penjara ini. Tidak ada cermin, tidak ada jam. Kamar ini seolah sengaja dibuat agar ia kehilangan arah dan tak mampu menghitung waktu.

Tak ada gunanya melampiaskan amarah kepada para penjaga atau pelayan. Mereka hanya menjalankan perintah.

Karena itu, Stella memilih menyimpan seluruh kemarahannya. Ia akan melampiaskannya hanya kepada satu orang, Luke Ravenscroft. Ya, pria itulah dalang di balik semua ini.

Malam ini, saat Stella bersiap untuk tidur, pintu kamar terbuka. Seseorang dengan aura gelap melangkah masuk ke dalam. Melangkah pasti mendekati Stella.

Stella bangkit setengah duduk melihatnya. Lalu segera turun dan berdiri di samping ranjang. Dia memang telah menantikan kedatangan laki-laki ini. Kini, saat Luke Ravenscroft akhirnya muncul, semua kemarahan yang ia tahan perlahan mulai mendidih. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh.

Sementara Luke menatapnya sinis, dingin tanpa belas kasihan.

"Bagaimana hidupmu selama seminggu ini, jalang kecil?" ujarnya pelan. "Sepertinya kau sangat menikmati kamar ini. Ah, aku hampir lupa. Bukankah kemewahan memang selalu menjadi incaranmu?"

"Aku--"

PLAKKK. Tamparan keras mendarat di pipi Stella. Tamparan yang langsung menghentikan kata Stella. Sudut bibirnya kembali terasa perih.

"Lancang!" Luke menatapnya tajam. "Aku tidak memintamu untuk bicara." Tatapan gelap pria itu mengunci Stella. Seolah ia sedang menatap sesuatu yang begitu hina hingga tak layak diberi kesempatan untuk membela diri.

Rahang Stella mengeras. Rasa perih di pipi dan sudut bibirnya tak mampu meredam amarah yang berkobar di dalam dada. Ia mendongak, menatap Luke tanpa sedikit pun gentar.

"Kita bahkan tidak saling mengenal! Lalu kenapa kau terus memukulku, Bajingan?!"

Namun sedetik kemudian Luke medorong tubuhnya. Membuat tubuh Stella jatuh di atas tempat tidur dengan Luke yang langsung menyusul di atasnya. Mengurung tubuh kecil Stella dengan tubuh kekarnya. Kedua lengannya bertumpu di sisi tubuh Stella. Jarak wajah mereka begitu dekat hingga Stella dapat merasakan embusan napas dingin pria itu menyentuh kulitnya.

"Jalang kecil, apa sekarang kau lupa ingatan?" Senyum seringai mengikuti akhir kalimat itu. Tangannya mengusap kening Stella pelan tapi penuh ancaman yang mencekam. Tatapannya terlampau dingin.

Stella mengambil nafas dalam. Membalas tatapan Luke tanpa takut. "Ingatanku masih sangat baik dan aku jelas tidak memiliki masalah dengan pria brengsek sepertimu." Stella semakin menatap lekat mata Luke. Sepasang bola mata hitam pekat yang terlihat menahan amarah.

Tangan Luke kini bergerak lembut, membelai pipi Stella, dan berakhir di leher gadis itu. Mencekiknya dengan sedikit tekanan.

"Jelas saja. Karena kau hanya jalang yang menginginkan uang dan kemewahan. Jika kau ingin semua itu, aku bisa memberimu lebih dari apa yang pak tua itu berikan padamu." Suaranya mencekam. Tatapannya membara. Aura gelap melingkupi tubuh kekar ini.

Stella mencoba melepaskan tangan Luke di lehernya tapi tidak bisa.

"Aku tidak tahu jika ayahmu sudah menikah. Kupikir dia adalah pria lajang." Stella sungguh berpikir jika pria di atasnya ini adalah anak angkat Carlos. "Jadi salahkan ayahmu karena mengaku seorang pria single," imbuhnya.

Luke Ravenscroft tertawa mendengar penjelasan Stella. Tawa yang menggema memenuhi ruangan luas ini. Namun sedetik kemudian ia kembali menatap wanita di bawahnya. Tatapan yang sama, dingin yang mencekam.

"Begitukah? Kau pikir aku percaya?"

Senyum seringai terbit di ujung bibir Luke. Tangannya berpindah ke pakaian Stella. Mencoba membukanya paksa.

"Tidak!! Apa yang kau lakukan?" Stella berteriak panik. Kedua tangannya memegang kerah bajunya. Namun ia kalah dengan tangan besar Luke.

"Jangan begini. Tolong jangan begini. Kita bicara baik-baik!!" Stella mencoba membujuknya. Gadis itu tetap mencoba mempertahankan pakaiannya.

Namun Luke seolah tidak mendengar jeritan itu. Dalam dirinya hanya ada dendam. Apa wanita ini berpikir bahwa dia menginginkan tubuhnya? Tidak. Luke tidak sudi memakai wanita bekas ayahnya.

Dia hanya ingin menyiksa wanita ini, menyiksa jiwa dan raganya.

"Jangan!! Ku mohon, jangan!!" Stella meronta. Berusaha keras mempertahankan dirinya. "Hukum aku apa saja, asal jangan tubuhku," teriaknya.

Kata-kata ini ... Luke berhenti sesaat. Tangannya diam di perut halus Stella. Menatap dingin pada wanita di bawahnya.

Bibir merahnya terbuka sedikit, "lucu." Hardiknya. Dan ia menunduk, mengigit leher Stella dengan kasar lalu berakhir di bibir gadis itu.

Stella menangis. Kali ini dia benar-benar takut. "Mohon jangan begini. Mohon ampuni saya, Tuan," ucap Stella pilu saat Luke menyudahi ciuman kasarnya. Ucapan yang entah kenapa bisa merubah pikiran Luke dengan sekejap. Air mata itu, permohonan itu ... Dia menginginkan gadis ini. Bagaimana bisa jalang kecil ayahnya hingga memohon untuk dilepaskan.

Luke melucuti pakaian Stella dengan kasar. Dia tidak memberikan ampun pada wanita ini. Baginya wanita ini harus menderita sepanjang hidupnya. Wanita ini harus hidup lebih mengerikan daripada neraka.

Stella berteriak saat tubuhnya mulai dikecupi dengan bringas oleh Luke. Dia meronta hingga memohon ampun. Tapi hanya sia-sia.

Sepertinya Luke semakin bahagia saat ia menangis. Ya, teriakan dan tangisan Stella sangat membuat Luke bahagia.

Inilah wanita yang menghancurkan hidup ibunya. Menghancurkan kebahagiaan keluarganya. Jadi wanita ini harus merasakan neraka bahkan sebelum kematian menjemputnya.

Dengan kasar Luke memisahkan kaki Stella dan ... itu terjadi. Dua bagain tubuh mereka bertemu, Luke menerjangnya dengan keras. Namun pria itu berhenti seketika. Saat ia mendapati darah menetes di seprei putih ranjang mewah ini.

Luke membawa pandangannya pada Stella yang manangis di bawahnya. Kali ini tatapan matanya tak lagi dingin tapi entah apa.

"Kau masih perawan?" Dia bertanya ragu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (7)
goodnovel comment avatar
ruslaini 383
Kejam Luke, salah sasaran ini Luke, apa benar stela pacar sang ayah...
goodnovel comment avatar
Noor Sukabumi
Luke jg jahat2 sama Stella nanti mlh km yg jd bucin akut
goodnovel comment avatar
Purwa Ningsih
luke kamu jahat bnget tau ga se ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Kamar Baru 2

    Stella membuka kotak pakaian yang tadi ia dapatkan dari Ruth. ​"Apa?" Ia memekik pelan begitu melihat isinya. ​Dengan dahi berkerut, ia mengambil gaun itu. Sebuah gaun tidur seksi berpotongan minim dengan tali super tipis, berbahan satin transparan yang hampir tidak menyembunyikan apa pun. ​Sambil menggerutu pelan dan merutuki selera pilihan di mansion ini, ia terpaksa mengganti pakaiannya. Begitu selesai, ia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang mewah yang terasa begitu besar dan empuk. ​"Ah... nyaman sekali," gumam Stella seraya memejamkan mata, menenggelamkan tubuhnya di balik kenyamanan kasur mahal tersebut. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. ​Pintu besar kamar tiba-tiba terbuka begitu saja, tanpa ada ketukan sama sekali. ​Stella tersentak kaget. Ia langsung bangkit dan duduk di atas ranjang. ​"Luke?!" ia memekik terkejut saat matanya menangkap sosok tegap itu melangkah masuk. Dengan refleks cepat, ia menarik selimut tebal hingga menutupi dada, meny

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Kamar Baru

    Stella segera membersihkan diri, mengganti pakaiannya dengan dress anggun. Kaki telanjangnya menapaki lantai yang dingin menuju ruang makan. Di sana, Luke sudah duduk menunggu. Pria itu mengenakan kemeja lengan pendek yang membuatnya terlihat sangat menawan. ​Ah, sebenarnya dia memang sangat tampan... tapi juga kasar dan menyeramkan. ​'Jaga otak warasmu, Stell,' bisik Stella pada dirinya sendiri. ​Ia melangkah makin mendekat, berdiri di sisi meja. ​"Kenapa tidak memakai alas kaki?" tanya Luke datar, matanya tertuju pada kaki telanjang Stella. ​Stella mengangkat kedua bahu, ia lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan Luke. ​"Rasanya tidak nyaman memakai heels di dalam rumah," jawab Stella santai seraya mengambil porsi makanannya. ​Luke tidak berkomentar lagi. Stella pun memilih diam. Di antara gemeretak sendok dan piring, mereka menikmati hidangan dalam keheningan. Tepat setelah mereka selesai makan, Jhon izin untuk bicara. Pria kepercayaan Luke itu membungkuk

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Hadiah Yang Stella Minta

    "Aku Milikmu, Tuan Muda." ​Luke menyunggingkan senyum gelap. Ibu jarinya terulur, mengusap bibir bawah Stella seraya menatapnya penuh gairah obsesif dari atas. ​Tanpa memutuskan kontak mata, jemari Stella bergerak telaten membuka ikat pinggang Luke, membiarkan denting halus logamnya memecah kesunyian, mengunci kendali pria itu malam ini. ​Dengan kepasrahan yang dipoles sempurna, Stella menunduk perlahan, memanjakan Luke. Napas Luke seketika memburu. Jemari tangannya yang kekar merayap masuk ke sela-sela rambut Stella, meremas dan mencengkeramnya erat. Sorot matanya yang biasa dingin kini keruh oleh gairah liar yang tak tertahankan. Stella menengadah di sela aktivitasnya, menatap Luke dengan mata berembun, memastikan pria itu melihat betapa ia tunduk di bawah kendalinya. Geram rendah Luke makin tak tertahan. Dengan gairah yang membakar habis, ia menarik tubuh polos wanita itu dalam satu gerakan kuat, lalu membalikkan posisinya hingga Stella terdorong di atas sofa empuk.

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Aku Milikmu

    Mata Luke memicing, memindai setiap gestur dan mikro ekspresi di wajah Stella. Tak ada kebohongan yang terpeta di sana, perempuan ini jujur. ​"Apakah kau pernah menandatangani dokumen penting atas namamu... atas permintaan wanita itu?" tanya Luke datar. ​Stella kembali menatap Luke. Pikirannya kalut, ingin sekali bertanya kenapa ada begitu banyak pertanyaan tentang Evelyn. Apa sebenarnya yang sedang direncanakan pria itu? Namun, membayangkan amarah Luke tersulut kembali membuat Stella memilih memendam rasa ingin tahunya. ​"Luke... tolong jangan libatkan dia dalam masalah di antara kita. Dia sungguh tidak tahu apa-apa," pangkas Stella penuh kesungguhan. Matanya menatap Luke, memohon rasa iba yang tak pernah ada. ​Luke meniupkan asap rokoknya perlahan ke udara, lalu tersenyum sinis. ​"Apakah itu sebuah jawaban?" ucapnya dingin. ​Ia menurunkan kakinya yang bersilang, lalu menekan puntung rokoknya ke dasar asbak hingga padam sepenuhnya. ​Stella menatap setiap pergerakan pria i

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Siapa Evelyn?

    "Sekarang coba jawab ... Apa kau kenal Evelyn? Atau perlu ku bantu membenamkan kepalamu agar ingatanmu lebih jelas?"Napas Stella memburu, dadanya naik turun di atas permukaan air. Ia menatap tepat ke dalam manik mata Luke yang dingin dan mencekam di bawah bayangannya sendiri. ​"Aku..." Stella mengalihkan pandangan. Ia menunduk. "Memangnya kenapa kalau aku mengenalnya?" ​Tangan Luke langsung terulur mendengar jawaban memancing itu. Tanpa peringatan, jemarinya menekan kuat kepala Stella, sungguh-sungguh menenggelamkan wanita itu ke dalam air. ​Dalam kegelapan air dingin, Stella panik mencari pasokan udara. Tangannya berusaha menggapai permukaan, tetapi tekanan tangan Luke di kepalanya begitu kuat tanpa ampun. Dadanya serasa mau meledak, ia mulai tak bisa bernapas. Gelembung-gelembung udara bermunculan dari mulutnya yang terdesak. ​'Apakah aku akan mati saat ini juga?' Batinnya teriak. 'Tidak... aku belum membalas dendam pada monster ini!' ​Sreeek! Luke menjambak rambut Stella

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   The Onyx Pool

    Stella menuruni tangga dengan langkah anggun. Ia yakin Luke akan terpesona padanya dan mengabulkan keinginannya malam ini. Namun, saat pijakan kakinya sampai di bawah, ruangan itu kosong. Tidak ada sosok Luke yang menunggu seperti dulu. Hanya ada Gama yang berdiri tegak, sempat menoleh sedikit ke arahnya sebelum kembali menatap lurus ke depan tanpa ekspresi. ​Stella sengaja melangkah dengan gestur sensual mendekati pria itu.Gama membungkuk hormat. ​"Tuan muda ada di area kolam renang bagian The Onyx Pool, Nona. Mari saya antar," ujar Gama datar. ​Stella menghentikan langkah tepat di hadapan Gama, menatapnya intens. "Kau tidak tertarik padaku?" tanyanya manja. ​Gama membungkuk sopan sekali lagi, tanpa sedikit pun mengubah raut wajahnya. "Saya terlatih profesional, Nona, " jawabnya datar. ​"Sesekali tidak profesional boleh, kan?" goda Stella lagi, sengaja, menguji ketahanan orang kepercayaan Luke itu. ​Gama sama sekali tidak memberi reaksi. "Mari saya antar, Nona." ​St

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status