LOGINKeesokan harinya.
Pelayan datang mengantarkan sarapan untuk Stella. "Aku tidak memiliki pakaian ganti. Kembalikan barang-barangku sekarang juga," ucap Stella. Dia bangkit dari duduknya. Pelayan itu menundukkan kepala sedikit. "Saya akan mengatakan ini pada Tuan, Nona." "Ya. Laporkan juga jika aku ingin bertemu dengannya." "Baik, Nona." Tanpa berkata apa-apa lagi, pelayan itu meletakkan nampan di atas meja. "Kami akan kembali lima belas menit lagi untuk mengambil peralatan makan," ucapnya sebelum berbalik meninggalkan ruangan. Setelah kepergian pelayan, Stella membuka tirai tebal dinding kaca ini. Beberapa pelayan terlihat tengah membersihkan kolam renang di bawah sana. Sebagian lagi membersihkan pilar-pilar tinggi rumah ini. Sebesar apa tempat yang ia tinggali saat ini hingga memiliki pilar yang terlihat sangat megah. Stella segera duduk di sofa dan memakan sarapannya. Dia terpenjara di kamar ini dan entah kapan ia diizinkan keluar. Dia bahkan tidak diberikan pakaian ganti. Semoga nanti Luke mau mendengarkan penjelasannya. Bahwa dia sungguh tidak tahu jika Carlos adalah pria yang sudah beristri. Lima belas menit kemudian. Dua pelayan wanita masuk. Stella masih duduk di sofa saat itu. "Ini pakaian ganti untuk anda, Nona." Pelayan menyerahkan satu set pakaian untuk Stella. Pakaian baru yang bukan pakaian miliknya. "Di mana Tuan kalian?" Tanya Stella. "Suruh dia kesini." Tidak ada jawaban. Tidak ada sama sekali. Pertanyaannya layaknya angin yang tidak berbentuk. Dan sia-sia jika Stella terus bertanya, mereka akan diam. 🍂🍂🍂 Satu minggu telah berlalu sejak Stella dikurung di kamar mewah yang lebih pantas disebut penjara ini. Tidak ada cermin, tidak ada jam. Kamar ini seolah sengaja dibuat agar ia kehilangan arah dan tak mampu menghitung waktu. Tak ada gunanya melampiaskan amarah kepada para penjaga atau pelayan. Mereka hanya menjalankan perintah. Karena itu, Stella memilih menyimpan seluruh kemarahannya. Ia akan melampiaskannya hanya kepada satu orang, Luke Ravenscroft. Ya, pria itulah dalang di balik semua ini. Malam ini, saat Stella bersiap untuk tidur, pintu kamar terbuka. Seseorang dengan aura gelap melangkah masuk ke dalam. Melangkah pasti mendekati Stella. Stella bangkit setengah duduk melihatnya. Lalu segera turun dan berdiri di samping ranjang. Dia memang telah menantikan kedatangan laki-laki ini. Kini, saat Luke Ravenscroft akhirnya muncul, semua kemarahan yang ia tahan perlahan mulai mendidih. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh. Sementara Luke menatapnya sinis, dingin tanpa belas kasihan. "Bagaimana hidupmu selama seminggu ini, jalang kecil?" ujarnya pelan. "Sepertinya kau sangat menikmati kamar ini. Ah, aku hampir lupa. Bukankah kemewahan memang selalu menjadi incaranmu?" "Aku--" PLAKKK. Tamparan keras mendarat di pipi Stella. Tamparan yang langsung menghentikan kata Stella. Sudut bibirnya kembali terasa perih. "Lancang!" Luke menatapnya tajam. "Aku tidak memintamu untuk bicara." Tatapan gelap pria itu mengunci Stella. Seolah ia sedang menatap sesuatu yang begitu hina hingga tak layak diberi kesempatan untuk membela diri. Rahang Stella mengeras. Rasa perih di pipi dan sudut bibirnya tak mampu meredam amarah yang berkobar di dalam dada. Ia mendongak, menatap Luke tanpa sedikit pun gentar. "Kita bahkan tidak saling mengenal! Lalu kenapa kau terus memukulku, Bajingan?!" Namun sedetik kemudian Luke medorong tubuhnya. Membuat tubuh Stella jatuh di atas tempat tidur dengan Luke yang langsung menyusul di atasnya. Mengurung tubuh kecil Stella dengan tubuh kekarnya. Kedua lengannya bertumpu di sisi tubuh Stella. Jarak wajah mereka begitu dekat hingga Stella dapat merasakan embusan napas dingin pria itu menyentuh kulitnya. "Jalang kecil, apa sekarang kau lupa ingatan?" Senyum seringai mengikuti akhir kalimat itu. Tangannya mengusap kening Stella pelan tapi penuh ancaman yang mencekam. Tatapannya terlampau dingin. Stella mengambil nafas dalam. Membalas tatapan Luke tanpa takut. "Ingatanku masih sangat baik dan aku jelas tidak memiliki masalah dengan pria brengsek sepertimu." Stella semakin menatap lekat mata Luke. Sepasang bola mata hitam pekat yang terlihat menahan amarah. Tangan Luke kini bergerak lembut, membelai pipi Stella, dan berakhir di leher gadis itu. Mencekiknya dengan sedikit tekanan. "Jelas saja. Karena kau hanya jalang yang menginginkan uang dan kemewahan. Jika kau ingin semua itu, aku bisa memberimu lebih dari apa yang pak tua itu berikan padamu." Suaranya mencekam. Tatapannya membara. Aura gelap melingkupi tubuh kekar ini. Stella mencoba melepaskan tangan Luke di lehernya tapi tidak bisa. "Aku tidak tahu jika ayahmu sudah menikah. Kupikir dia adalah pria lajang." Stella sungguh berpikir jika pria di atasnya ini adalah anak angkat Carlos. "Jadi salahkan ayahmu karena mengaku seorang pria single," imbuhnya. Luke Ravenscroft tertawa mendengar penjelasan Stella. Tawa yang menggema memenuhi ruangan luas ini. Namun sedetik kemudian ia kembali menatap wanita di bawahnya. Tatapan yang sama, dingin yang mencekam. "Begitukah? Kau pikir aku percaya?" Senyum seringai terbit di ujung bibir Luke. Tangannya berpindah ke pakaian Stella. Mencoba membukanya paksa. "Tidak!! Apa yang kau lakukan?" Stella berteriak panik. Kedua tangannya memegang kerah bajunya. Namun ia kalah dengan tangan besar Luke. "Jangan begini. Tolong jangan begini. Kita bicara baik-baik!!" Stella mencoba membujuknya. Gadis itu tetap mencoba mempertahankan pakaiannya. Namun Luke seolah tidak mendengar jeritan itu. Dalam dirinya hanya ada dendam. Apa wanita ini berpikir bahwa dia menginginkan tubuhnya? Tidak. Luke tidak sudi memakai wanita bekas ayahnya. Dia hanya ingin menyiksa wanita ini, menyiksa jiwa dan raganya. "Jangan!! Ku mohon, jangan!!" Stella meronta. Berusaha keras mempertahankan dirinya. "Hukum aku apa saja, asal jangan tubuhku," teriaknya. Kata-kata ini ... Luke berhenti sesaat. Tangannya diam di perut halus Stella. Menatap dingin pada wanita di bawahnya. Bibir merahnya terbuka sedikit, "lucu." Hardiknya. Dan ia menunduk, mengigit leher Stella dengan kasar lalu berakhir di bibir gadis itu. Stella menangis. Kali ini dia benar-benar takut. "Mohon jangan begini. Mohon ampuni saya, Tuan," ucap Stella pilu saat Luke menyudahi ciuman kasarnya. Ucapan yang entah kenapa bisa merubah pikiran Luke dengan sekejap. Air mata itu, permohonan itu ... Dia menginginkan gadis ini. Bagaimana bisa jalang kecil ayahnya hingga memohon untuk dilepaskan. Luke melucuti pakaian Stella dengan kasar. Dia tidak memberikan ampun pada wanita ini. Baginya wanita ini harus menderita sepanjang hidupnya. Wanita ini harus hidup lebih mengerikan daripada neraka. Stella berteriak saat tubuhnya mulai dikecupi dengan bringas oleh Luke. Dia meronta hingga memohon ampun. Tapi hanya sia-sia. Sepertinya Luke semakin bahagia saat ia menangis. Ya, teriakan dan tangisan Stella sangat membuat Luke bahagia. Inilah wanita yang menghancurkan hidup ibunya. Menghancurkan kebahagiaan keluarganya. Jadi wanita ini harus merasakan neraka bahkan sebelum kematian menjemputnya. Dengan kasar Luke memisahkan kaki Stella dan ... itu terjadi. Dua bagain tubuh mereka bertemu, Luke menerjangnya dengan keras. Namun pria itu berhenti seketika. Saat ia mendapati darah menetes di seprei putih ranjang mewah ini. Luke membawa pandangannya pada Stella yang manangis di bawahnya. Kali ini tatapan matanya tak lagi dingin tapi entah apa. "Kau masih perawan?" Dia bertanya ragu.Pagi hari di mansion. Stella mengerjapkan matanya. Rasa pusing masih terasa di kepalanya. "Selamat pagi, anda sudah bangun, Nona," ucap perawat yang berdiri di samping ranjang Stella. Stella menatapnya lalu menatap infus di tangannya. Ia menghela nafas dalam, menyesal kenapa ia masih hidup. Seorang pelayan datang, pelayan yang kali ini lebih tua dari biasnya. "Selamat, Pagi, Nona Stella. Perkenalkan, nama saya Ruth. Mulai sekarang, saya yang akan melayani anda," pelayan itu memperkenalkan diri. Stella hanya meliriknya sekilas tanpa menjawab apapun. "Makanan sudah saya siapkan, Nona," ucap Ruth selanjutnya. "Makanlah selagi hangat."Stella membawa pandangannya pada dinding kaca. Memperhatikan langit biru dari tempatnya. "Kenapa tidak membiarkan aku mati saja?" Mendengar ucapan itu, Ruth melangkah mendekat. Dengan lembut ia berkata, "Justru Tuan Muda yang pertama kali mengetahui anda pingsan, Nona. Tuan juga merawat anda sebelum dokter datang.""Cih." Stella meludah. Pria itu .
Sementara menunggu kedatangan dokter, Luke meminta pelayan membawakannya air hangat dan kompres. "Stella Valerie." Luke menyebut nama itu di ujung bibirnya. Ia bersandar di kursi dengan tatapan mata yang tetap terkunci di wajah wanita itu. 'Siapa gadis ini sebenarnya?' Batinnya. Pelayan datang membawa air hangat dan kompres. Luke bergeming, hanya memberi isyarat agar pelayan itu meletakkan wadah air hangat di atas nakas. Setelah pelayan pergi, Luke mengambil kompres air hangat. "Hanya tinggal makan setiap hari, apa susahnya," gumamnya. Ia membawa kompres itu pada Stella. Meletakkan di kening Stella dengan hati-hati. "Sekarang kau sangat menyusahkan," keluhnya. Matanya menyusuri wajah Stella yang terpejam rapat. "Saat ku perintahkan makan, maka kau harus makan. Aku tidak suka seseorang melawanku." Luke menyilangkan kakinya. Tetap diam menatap Stella yang bahkan tidak menjawab apapun. Saat kompres itu mulai dingin, ia akan menggantinya. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan pa
"Kau masih perawan?" Luke bertanya ragu. Tidak ada jawaban apapun. Stella menangis tak berdaya. Dia merasa marah pada Luke tetapi tidak bisa berbuat apapun. Di sisi lain, nafsu sedang berperang pada logika Luke. Laki-laki itu ragu tapi juga penasaran. Stella terlalu indah untuk dilewatkan malam ini. Dia ... Akhirnya harus mengakui jika ia menginginkan tubuh gadis ini. Benar-benar menginginkannya. Semua yang ada pada diri Stella benar-benar murni. Pada akhirnya, nafsu adalah pemenangnya. Ia mencari kepuasan atas tubuh Stella yang sekarang terlihat begitu indah dan begitu menggiurkan. Hingga Luke telah selesai dengan permainannya. Ia mengerang puas di atas tubuh polos Stella. Luke segera menarik diri setelah itu. Dia melemparkan selimut di atas tubuh Stella tanpa kelembutan. Pria itu duduk di sisi ranjang. Mengenakan kemejanya. Rasanya tidak mungkin jika wanita simpanan ayahnya masih perawan. Bukankah mereka sudah tinggal serumah beberapa tahun belakangan, pikirnya. Setelah kemb
Keesokan harinya. Pelayan datang mengantarkan sarapan untuk Stella. "Aku tidak memiliki pakaian ganti. Kembalikan barang-barangku sekarang juga," ucap Stella. Dia bangkit dari duduknya. Pelayan itu menundukkan kepala sedikit. "Saya akan mengatakan ini pada Tuan, Nona." "Ya. Laporkan juga jika aku ingin bertemu dengannya." "Baik, Nona." Tanpa berkata apa-apa lagi, pelayan itu meletakkan nampan di atas meja."Kami akan kembali lima belas menit lagi untuk mengambil peralatan makan," ucapnya sebelum berbalik meninggalkan ruangan.Setelah kepergian pelayan, Stella membuka tirai tebal dinding kaca ini. Beberapa pelayan terlihat tengah membersihkan kolam renang di bawah sana. Sebagian lagi membersihkan pilar-pilar tinggi rumah ini. Sebesar apa tempat yang ia tinggali saat ini hingga memiliki pilar yang terlihat sangat megah. Stella segera duduk di sofa dan memakan sarapannya. Dia terpenjara di kamar ini dan entah kapan ia diizinkan keluar. Dia bahkan tidak diberikan pakaian ganti.
Stella mengerjapkan matanya perlahan. "Ough." Dia merasakan sakit di kepalanya. Benar-benar pusing. Dia mencoba membuka mata lebih lebar lalu memperhatikan langit-langit ruangan di mana ia berada. Langit-langit tinggi dengan lukisan klasik yang membentang megah. Sebuah lampu kristal berukuran besar menggantung tepat di atasnya, memancarkan cahaya keemasan yang membuat seluruh ruangan berkilau. Stella mengerjap sekali lagi, mencoba mencerna keindahan yang baru saja ia lihat. "Aku di mana?" Gumamnya. Belum sempat Stella mencerna dengan baik atas keberadaannya, suara berat dan dingin memecah kesunyian. "Baguslah jika kau sudah bangun." Suara itu terdengar sangat datar dan dingin, mengandung tekanan yang membuat Stella spontan menoleh, membawa pandangan pada pemilik suara. Seorang pria berdiri tak jauh darinya, tubuh tinggi tegap, mengenakan kemeja hitam berpotongan rapi yang jatuh sempurna di tubuhnya. Sepasang manik mata gelap yang seolah tak memiliki dasar. Wajahnya dingi
"Bye, Sayang. Bersenang-senanglah di Dubai dan dapatkan pria mapan di sana," seru Evelyne dari dalam mobil. Ia melambai dengan senyum lebar, lalu menambahkan, "Maaf tidak bisa menunggu sampai kau berangkat, ya," lanjutnya dengan wajah menyesal. Stella sang sahabat, seseorang yang akan berlibur ke Dubai membalas lambaiannya dengan senyum. "Tidak apa-apa. Terima kasih buat semuanya, Eve." Langkah Stella tenang dan mantap saat ia menyeret kopernya menuju ruang tunggu. Setelah boarding pass di tangan, ia duduk di kursi bandara, menatap lalu lalang orang yang hendak bepergian. "Sial, ternyata wanita ketiga itu adalah aku." Stella tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri. Ia menunduk menekuri lantai. Sudah setahun ia menjalin hubungan dengan seorang pria yang belakangan ia ketahui telah menikah. Ironis. Bagaimana bisa ia sebodoh itu? Satu tahun yang sia-sia. Stella ingin menangis meratapi nasip percintaannya tapi menahan diri. Mungkin rasa sakit yang ia rasakan ini tak seberapa, j







