LOGINStella mengerjapkan matanya perlahan.
"Ough." Dia merasakan sakit di kepalanya. Benar-benar pusing. Dia mencoba membuka mata lebih lebar lalu memperhatikan langit-langit ruangan di mana ia berada. Langit-langit tinggi dengan lukisan klasik yang membentang megah. Sebuah lampu kristal berukuran besar menggantung tepat di atasnya, memancarkan cahaya keemasan yang membuat seluruh ruangan berkilau. Stella mengerjap sekali lagi, mencoba mencerna keindahan yang baru saja ia lihat. "Aku di mana?" Gumamnya. Belum sempat Stella mencerna dengan baik atas keberadaannya, suara berat dan dingin memecah kesunyian. "Baguslah jika kau sudah bangun." Suara itu terdengar sangat datar dan dingin, mengandung tekanan yang membuat Stella spontan menoleh, membawa pandangan pada pemilik suara. Seorang pria berdiri tak jauh darinya, tubuh tinggi tegap, mengenakan kemeja hitam berpotongan rapi yang jatuh sempurna di tubuhnya. Sepasang manik mata gelap yang seolah tak memiliki dasar. Wajahnya dingin, rahangnya tegas, dan memiliki aura yang membuat Stella tahu, pria ini bukan orang biasa. Elegan, berkuasa, dan berbahaya. Stella buru-buru bangkit setengah duduk. “Siapa kamu?” tanyanya. Pria itu tidak menjawab pertanyaan, hanya melangkah lebih dekat. Tatapannya menusuk tajam. “Kamu yang bernama Stella Valerie?” Stella menelan ludah. Ia mengangguk perlahan. “Benar.” Pria itu melangkah tegas ke arah Stella. Aura kekuasaan terpancar dari setiap gerakannya. Ia berhenti hanya sejengkal di hadapan Stella. Tatapan tajamnya menusuk lurus ke arah mata wanita itu. Suara napasnya pelan, tapi sarat amarah yang tertahan. Plakk. Tamparan keras mendarat begitu saja di pipi Stella. Laki-laki itulah pelakunya. Laki-laki itu menampar Stella dengan keras. Tamparan yang membuat wajah Stella hingga berpaling. Darah segar merembes di sudut bibir Stella. Sakit, begitu perih. Wanita itu menyekanya dengan bingung. "Kenapa kau menamparku? Laki-laki bajingan." Stella bangkit dan ingin memukul keras wajah laki-laki itu sebagai balasan tapi kepalan tangannya tertangkap begitu saja oleh laki-laki itu. "Berani juga kau. Kau tahu berapa banyak masalah yang kau sebabkan?" Ucap Pria itu lalu melempar Stella ke kasur dengan keras dan kasar. Tubuh Stella terkapar di sana. Tanpa menyentuh, pria itu mencondongkan tubuh, tepat di hadapan wajah Stella. “Apakah jalang kecil seperti ini yang disukai ayahku." Kata-katanya seperti cambuk yang menampar harga diri Stella. Ia terpaku, menatap pria di depannya dengan bingung dan marah sekaligus. Sebelum Stella sempat menjawab, seseorang masuk ke dalam dan melangkah mendekat. "Selamat malam, Tuan muda Luke Ravenscroft. Maaf mengganggu, Nyonya besar sudah siuman dan menanyakan keberadaan Anda, Tuan." Pria itu—Luke Ravenscroft—menoleh sebentar, lalu kembali menatap Stella dengan dingin. "Jangan biarkan jalang ini keluar dari kamar ini. Aku belum selesai dengannya." "Baik, Tuan." jawab asistennya patuh "Apa maksudmu?" Seru Stella. Dia bergegas menghampiri Luke Ravenscroft yang perlahan pergi meninggalkan kamar ini. Pintu tertutup tepat sebelum Stella berhasil menggapai pintu. Stella mencoba berteriak dan menggedor-gedor pintu. “Hei! Keluarkan aku dari sini! Kalian tidak punya hak menahanku! Buka pintunya, Sialan!!" Namun hingga suaranya habis, pintu itu tidak terbuka sama sekali. Stella akhirnya duduk di sofa. Dia memijit keningnya pelan. Mengingat ucapan Luke yang tadi ia dengar. "Jalang kecil kesayangan ayahnya?" Kalimat itu terus terngiang di kepala Stella. Ia mencoba mencerna arti kata-kata Luke. "Apakah Luke adalah putra Carlos?" pikirnya dengan bingung. Tapi kemudian ia menggeleng pelan. "Tidak mungkin." Luke terlihat hanya sedikit lebih muda dari Carlos. Selisih usia mereka mungkin hanya dua atau tiga tahun. Jadi rasanya mustahil kalau Luke adalah putranya. Lalu siapa Luke sebenarnya? Saudara? Anak angkat? Atau … sesuatu yang lebih rumit lagi? Helaan napas panjang keluar dari bibir Stella. Kepalanya masih terasa berat, tapi rasa ingin tahunya lebih kuat dari rasa sakit itu. Satu hal yang pasti, ia tidak akan membiarkan siapa pun menuduhnya seenaknya. Ia bukan wanita penggoda, bukan perebut suami orang seperti yang dituduhkan semua orang. Ia hanya mencintai pria yang ternyata sudah beristri, dan ketika ia tahu kebenarannya, ia memilih pergi. Dalam hal ini ... Dia tidak salah kan? Ia tak pernah berniat menghancurkan rumah tangga siapa pun. Carlos-lah yang berbohong, yang mempermainkan semuanya. "Sial, jadi sekarang aku di tawan oleh putra angkat Carlos?" Ya, mungkin Luke adalah putra angkat Carlos. Itu lebih masuk akal, pikir Stella. 🍂🍂🍂 Dua pelayan wanita datang membawa makan dan minuman untuk Stella. Dua pelayan itu meletakkan makanan Stella di atas meja. "Segera makan atau tidak sama sekali. Kami akan mengambil ini lima belas menit yang akan datang." Salah satu pelayan berkata dengan tegas. Stella menatapnya sinis. "Jam berapa sekarang?" Tanyanya. "Pukul 19.00, Nona." "Di mana barang-barangku?" Tanya Stella. "Barang-barang Anda ada bersama Tuan muda Luke, Nona." Stella tersenyum sinis. "Sebenernya siapa Luke Ravenscroft itu?" "Tolong jaga ucapan Anda, Nona" Pelayan menegur keras. "Apa yang salah dengan ucapanku?" Sahut Stella. "Anda hanya menyebut nama Tuan saja." "Aku bukan pelayannya jadi tidak ada urusan apakah aku harus memanggilnya Tuan atau namanya. Jadi siapa dia?" "Kami tidak punya wewenang untuk menjelaskan siapa beliau. Jika Anda mau, Anda bisa bertanya langsung dengan beliau." "Ya, suruh dia kesini." Tidak ada jawaban dari pelayan tentang itu. "Kami akan kembali lima belas menit lagi untuk mengambil makanan Anda." Pelayan pergi setelah itu, pintu tertutup rapat. Stella melirik makanan yang tersaji di meja. Dia tidak boleh kelaparan. Dia harus sehat agar nanti bisa mencabik-cabik pria bernama Luke Ravenscroft itu. Di dunia ini. Stella tidak memiliki siapapun kecuali sahabatnya Evelyne. Wanita itu adalah keluarga satu-satunya. Evelyne pasti tidak mencarinya karena yang Evelyne tahu dia tengah berlibur ke Dubai saat ini. Tiket pesawat itu bahkan hadiah dari Evelyne untuknya. Ini karena Evelyne prihatin dengan kisah cinta Stella. Evelyne ingin Stella bahagia dan segera move on dari kisah cinta dengan Carlos. Tapi siapa sangka dia malah terjebak di ruangan ini. Yang mungkin adalah milik putra Carlos. "Huff." Stella meniup poninya merasa putus asa. Dia kemudian memakan makanannya sampai habis. Lima belas menit kemudian. Pelayan sungguh datang untuk mengambil piring dan gelas. "Aku ingin ke kamar mandi, tolong biarkan aku keluar dari sini," ucap Stella. "Ada kamar mandi di kamar ini, Nona," jawab salah satu pelayan. "Ya, aku tahu tapi airnya mati dan juga saluran airnya mampet." Stella memberikan alasan. Satu pelayan melangkah menuju kamar mandi. Kini hanya tinggal satu pelayan yang ada di ruangan ini. Pelan dan tanpa aba-aba ... Stella menonjok wajah pelayan itu dengan keras lalu berlari kabur menuju pintu kamar. Dari tempatnya dia bisa melihat bahwa di luar sana terlihat begitu megah. Pilar-pilar menjulang tinggi. "Dia mencoba kabur," teriak pelayan. Beberapa penjaga muncul begitu saja di depan pintu. Membuat Stella terkejut bukan main. TAP. Seorang penjaga pria menangkap Stella begitu saja bahkan sebelum Stella berhasil keluar dari pintu itu. Lalu membawa Stella kembali masuk ke dalam. Sial, di luar banyak penjaga. Dia ini sudah seperti penjahat kelas kakap yang harus dijaga sedemikian ketat. "Tolong bersikaplah dengan baik, Nona atau kami tidak akan segan dengan Anda," ucap pelayan pria dengan ancaman. Stella diam tidak menjawabnya. Dia membiarkan para pelayan itu meninggalkan ruangan. Bunyi kunci yang diputar dari luar menegaskan satu hal bahwa kini ia benar-benar menjadi tawanan. Stella terduduk di sisi ranjang. Dia memikirkan tentang Carlos. Sehebat inikah Carlos hingga memiliki banyak anak buah. Ya, dia tahu jika Carlos adalah pria kaya tapi dia tidak menyangka jika Carlos sekaya ini dah bahkan seorang Taun muda. Semalaman Stella tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang Luke dan Carlos. Siapa sebenarnya kedua pria itu? Mengapa mereka terhubung dengannya? Merasa semakin pusing, ia berjalan mendekati jendela lalu menyingkap gorden tebal yang menutupinya. Pemandangan di luar membuatnya terdiam. Cahaya lampu menerangi halaman yang begitu luas, menyoroti taman yang tertata rapi dan kolam renang yang berkilauan bak cermin di bawah langit malam. 🍂🍂🍂Pagi hari di mansion. Stella mengerjapkan matanya. Rasa pusing masih terasa di kepalanya. "Selamat pagi, anda sudah bangun, Nona," ucap perawat yang berdiri di samping ranjang Stella. Stella menatapnya lalu menatap infus di tangannya. Ia menghela nafas dalam, menyesal kenapa ia masih hidup. Seorang pelayan datang, pelayan yang kali ini lebih tua dari biasnya. "Selamat, Pagi, Nona Stella. Perkenalkan, nama saya Ruth. Mulai sekarang, saya yang akan melayani anda," pelayan itu memperkenalkan diri. Stella hanya meliriknya sekilas tanpa menjawab apapun. "Makanan sudah saya siapkan, Nona," ucap Ruth selanjutnya. "Makanlah selagi hangat."Stella membawa pandangannya pada dinding kaca. Memperhatikan langit biru dari tempatnya. "Kenapa tidak membiarkan aku mati saja?" Mendengar ucapan itu, Ruth melangkah mendekat. Dengan lembut ia berkata, "Justru Tuan Muda yang pertama kali mengetahui anda pingsan, Nona. Tuan juga merawat anda sebelum dokter datang.""Cih." Stella meludah. Pria itu .
Sementara menunggu kedatangan dokter, Luke meminta pelayan membawakannya air hangat dan kompres. "Stella Valerie." Luke menyebut nama itu di ujung bibirnya. Ia bersandar di kursi dengan tatapan mata yang tetap terkunci di wajah wanita itu. 'Siapa gadis ini sebenarnya?' Batinnya. Pelayan datang membawa air hangat dan kompres. Luke bergeming, hanya memberi isyarat agar pelayan itu meletakkan wadah air hangat di atas nakas. Setelah pelayan pergi, Luke mengambil kompres air hangat. "Hanya tinggal makan setiap hari, apa susahnya," gumamnya. Ia membawa kompres itu pada Stella. Meletakkan di kening Stella dengan hati-hati. "Sekarang kau sangat menyusahkan," keluhnya. Matanya menyusuri wajah Stella yang terpejam rapat. "Saat ku perintahkan makan, maka kau harus makan. Aku tidak suka seseorang melawanku." Luke menyilangkan kakinya. Tetap diam menatap Stella yang bahkan tidak menjawab apapun. Saat kompres itu mulai dingin, ia akan menggantinya. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan pa
"Kau masih perawan?" Luke bertanya ragu. Tidak ada jawaban apapun. Stella menangis tak berdaya. Dia merasa marah pada Luke tetapi tidak bisa berbuat apapun. Di sisi lain, nafsu sedang berperang pada logika Luke. Laki-laki itu ragu tapi juga penasaran. Stella terlalu indah untuk dilewatkan malam ini. Dia ... Akhirnya harus mengakui jika ia menginginkan tubuh gadis ini. Benar-benar menginginkannya. Semua yang ada pada diri Stella benar-benar murni. Pada akhirnya, nafsu adalah pemenangnya. Ia mencari kepuasan atas tubuh Stella yang sekarang terlihat begitu indah dan begitu menggiurkan. Hingga Luke telah selesai dengan permainannya. Ia mengerang puas di atas tubuh polos Stella. Luke segera menarik diri setelah itu. Dia melemparkan selimut di atas tubuh Stella tanpa kelembutan. Pria itu duduk di sisi ranjang. Mengenakan kemejanya. Rasanya tidak mungkin jika wanita simpanan ayahnya masih perawan. Bukankah mereka sudah tinggal serumah beberapa tahun belakangan, pikirnya. Setelah kemb
Keesokan harinya. Pelayan datang mengantarkan sarapan untuk Stella. "Aku tidak memiliki pakaian ganti. Kembalikan barang-barangku sekarang juga," ucap Stella. Dia bangkit dari duduknya. Pelayan itu menundukkan kepala sedikit. "Saya akan mengatakan ini pada Tuan, Nona." "Ya. Laporkan juga jika aku ingin bertemu dengannya." "Baik, Nona." Tanpa berkata apa-apa lagi, pelayan itu meletakkan nampan di atas meja."Kami akan kembali lima belas menit lagi untuk mengambil peralatan makan," ucapnya sebelum berbalik meninggalkan ruangan.Setelah kepergian pelayan, Stella membuka tirai tebal dinding kaca ini. Beberapa pelayan terlihat tengah membersihkan kolam renang di bawah sana. Sebagian lagi membersihkan pilar-pilar tinggi rumah ini. Sebesar apa tempat yang ia tinggali saat ini hingga memiliki pilar yang terlihat sangat megah. Stella segera duduk di sofa dan memakan sarapannya. Dia terpenjara di kamar ini dan entah kapan ia diizinkan keluar. Dia bahkan tidak diberikan pakaian ganti.
Stella mengerjapkan matanya perlahan. "Ough." Dia merasakan sakit di kepalanya. Benar-benar pusing. Dia mencoba membuka mata lebih lebar lalu memperhatikan langit-langit ruangan di mana ia berada. Langit-langit tinggi dengan lukisan klasik yang membentang megah. Sebuah lampu kristal berukuran besar menggantung tepat di atasnya, memancarkan cahaya keemasan yang membuat seluruh ruangan berkilau. Stella mengerjap sekali lagi, mencoba mencerna keindahan yang baru saja ia lihat. "Aku di mana?" Gumamnya. Belum sempat Stella mencerna dengan baik atas keberadaannya, suara berat dan dingin memecah kesunyian. "Baguslah jika kau sudah bangun." Suara itu terdengar sangat datar dan dingin, mengandung tekanan yang membuat Stella spontan menoleh, membawa pandangan pada pemilik suara. Seorang pria berdiri tak jauh darinya, tubuh tinggi tegap, mengenakan kemeja hitam berpotongan rapi yang jatuh sempurna di tubuhnya. Sepasang manik mata gelap yang seolah tak memiliki dasar. Wajahnya dingi
"Bye, Sayang. Bersenang-senanglah di Dubai dan dapatkan pria mapan di sana," seru Evelyne dari dalam mobil. Ia melambai dengan senyum lebar, lalu menambahkan, "Maaf tidak bisa menunggu sampai kau berangkat, ya," lanjutnya dengan wajah menyesal. Stella sang sahabat, seseorang yang akan berlibur ke Dubai membalas lambaiannya dengan senyum. "Tidak apa-apa. Terima kasih buat semuanya, Eve." Langkah Stella tenang dan mantap saat ia menyeret kopernya menuju ruang tunggu. Setelah boarding pass di tangan, ia duduk di kursi bandara, menatap lalu lalang orang yang hendak bepergian. "Sial, ternyata wanita ketiga itu adalah aku." Stella tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri. Ia menunduk menekuri lantai. Sudah setahun ia menjalin hubungan dengan seorang pria yang belakangan ia ketahui telah menikah. Ironis. Bagaimana bisa ia sebodoh itu? Satu tahun yang sia-sia. Stella ingin menangis meratapi nasip percintaannya tapi menahan diri. Mungkin rasa sakit yang ia rasakan ini tak seberapa, j







