Compartilhar

Tawanan

Autor: Nanas20
last update Data de publicação: 2026-07-31 16:16:08

Stella mengerjapkan matanya perlahan.

"Ough." Dia merasakan sakit di kepalanya. Benar-benar pusing. Dia mencoba membuka mata lebih lebar lalu memperhatikan langit-langit ruangan di mana ia berada.

Langit-langit tinggi dengan lukisan klasik yang membentang megah. Sebuah lampu kristal berukuran besar menggantung tepat di atasnya, memancarkan cahaya keemasan yang membuat seluruh ruangan berkilau.

Stella mengerjap sekali lagi, mencoba mencerna keindahan yang baru saja ia lihat.

"Aku di mana?" Gumamnya.

Belum sempat Stella mencerna dengan baik atas keberadaannya, suara berat dan dingin memecah kesunyian.

"Baguslah jika kau sudah bangun."

Suara itu terdengar sangat datar dan dingin, mengandung tekanan yang membuat Stella spontan menoleh, membawa pandangan pada pemilik suara.

Seorang pria berdiri tak jauh darinya, tubuh tinggi tegap, mengenakan kemeja hitam berpotongan rapi yang jatuh sempurna di tubuhnya. Sepasang manik mata gelap yang seolah tak memiliki dasar.

Wajahnya dingin, rahangnya tegas, dan memiliki aura yang membuat Stella tahu, pria ini bukan orang biasa. Elegan, berkuasa, dan berbahaya.

Stella buru-buru bangkit setengah duduk. “Siapa kamu?” tanyanya.

Pria itu tidak menjawab pertanyaan, hanya melangkah lebih dekat. Tatapannya menusuk tajam.

“Kamu yang bernama Stella Valerie?”

Stella menelan ludah. Ia mengangguk perlahan. “Benar.”

Pria itu melangkah tegas ke arah Stella. Aura kekuasaan terpancar dari setiap gerakannya. Ia berhenti hanya sejengkal di hadapan Stella. Tatapan tajamnya menusuk lurus ke arah mata wanita itu. Suara napasnya pelan, tapi sarat amarah yang tertahan.

Plakk. Tamparan keras mendarat begitu saja di pipi Stella. Laki-laki itulah pelakunya. Laki-laki itu menampar Stella dengan keras. Tamparan yang membuat wajah Stella hingga berpaling. Darah segar merembes di sudut bibir Stella.

Sakit, begitu perih. Wanita itu menyekanya dengan bingung.

"Kenapa kau menamparku? Laki-laki bajingan." Stella bangkit dan ingin memukul keras wajah laki-laki itu sebagai balasan tapi kepalan tangannya tertangkap begitu saja oleh laki-laki itu.

"Berani juga kau. Kau tahu berapa banyak masalah yang kau sebabkan?" Ucap Pria itu lalu melempar Stella ke kasur dengan keras dan kasar.

Tubuh Stella terkapar di sana.

Tanpa menyentuh, pria itu mencondongkan tubuh, tepat di hadapan wajah Stella. “Apakah jalang kecil seperti ini yang disukai ayahku."

Kata-katanya seperti cambuk yang menampar harga diri Stella. Ia terpaku, menatap pria di depannya dengan bingung dan marah sekaligus.

Sebelum Stella sempat menjawab, seseorang masuk ke dalam dan melangkah mendekat.

"Selamat malam, Tuan muda Luke Ravenscroft. Maaf mengganggu, Nyonya besar sudah siuman dan menanyakan keberadaan Anda, Tuan."

Pria itu—Luke Ravenscroft—menoleh sebentar, lalu kembali menatap Stella dengan dingin.

"Jangan biarkan jalang ini keluar dari kamar ini. Aku belum selesai dengannya."

"Baik, Tuan." jawab asistennya patuh

"Apa maksudmu?" Seru Stella. Dia bergegas menghampiri Luke Ravenscroft yang perlahan pergi meninggalkan kamar ini.

Pintu tertutup tepat sebelum Stella berhasil menggapai pintu. Stella mencoba berteriak dan menggedor-gedor pintu.

“Hei! Keluarkan aku dari sini! Kalian tidak punya hak menahanku! Buka pintunya, Sialan!!"

Namun hingga suaranya habis, pintu itu tidak terbuka sama sekali.

Stella akhirnya duduk di sofa. Dia memijit keningnya pelan. Mengingat ucapan Luke yang tadi ia dengar.

"Jalang kecil kesayangan ayahnya?" Kalimat itu terus terngiang di kepala Stella. Ia mencoba mencerna arti kata-kata Luke.

"Apakah Luke adalah putra Carlos?" pikirnya dengan bingung. Tapi kemudian ia menggeleng pelan. "Tidak mungkin."

Luke terlihat hanya sedikit lebih muda dari Carlos. Selisih usia mereka mungkin hanya dua atau tiga tahun. Jadi rasanya mustahil kalau Luke adalah putranya.

Lalu siapa Luke sebenarnya? Saudara? Anak angkat? Atau … sesuatu yang lebih rumit lagi?

Helaan napas panjang keluar dari bibir Stella. Kepalanya masih terasa berat, tapi rasa ingin tahunya lebih kuat dari rasa sakit itu.

Satu hal yang pasti, ia tidak akan membiarkan siapa pun menuduhnya seenaknya. Ia bukan wanita penggoda, bukan perebut suami orang seperti yang dituduhkan semua orang. Ia hanya mencintai pria yang ternyata sudah beristri, dan ketika ia tahu kebenarannya, ia memilih pergi. Dalam hal ini ... Dia tidak salah kan?

Ia tak pernah berniat menghancurkan rumah tangga siapa pun. Carlos-lah yang berbohong, yang mempermainkan semuanya.

"Sial, jadi sekarang aku di tawan oleh putra angkat Carlos?"

Ya, mungkin Luke adalah putra angkat Carlos. Itu lebih masuk akal, pikir Stella.

🍂🍂🍂

Dua pelayan wanita datang membawa makan dan minuman untuk Stella. Dua pelayan itu meletakkan makanan Stella di atas meja.

"Segera makan atau tidak sama sekali. Kami akan mengambil ini lima belas menit yang akan datang." Salah satu pelayan berkata dengan tegas.

Stella menatapnya sinis. "Jam berapa sekarang?" Tanyanya.

"Pukul 19.00, Nona."

"Di mana barang-barangku?" Tanya Stella.

"Barang-barang Anda ada bersama Tuan muda Luke, Nona."

Stella tersenyum sinis. "Sebenernya siapa Luke Ravenscroft itu?"

"Tolong jaga ucapan Anda, Nona" Pelayan menegur keras.

"Apa yang salah dengan ucapanku?" Sahut Stella.

"Anda hanya menyebut nama Tuan saja."

"Aku bukan pelayannya jadi tidak ada urusan apakah aku harus memanggilnya Tuan atau namanya. Jadi siapa dia?"

"Kami tidak punya wewenang untuk menjelaskan siapa beliau. Jika Anda mau, Anda bisa bertanya langsung dengan beliau."

"Ya, suruh dia kesini."

Tidak ada jawaban dari pelayan tentang itu. "Kami akan kembali lima belas menit lagi untuk mengambil makanan Anda."

Pelayan pergi setelah itu, pintu tertutup rapat.

Stella melirik makanan yang tersaji di meja. Dia tidak boleh kelaparan. Dia harus sehat agar nanti bisa mencabik-cabik pria bernama Luke Ravenscroft itu.

Di dunia ini. Stella tidak memiliki siapapun kecuali sahabatnya Evelyne. Wanita itu adalah keluarga satu-satunya. Evelyne pasti tidak mencarinya karena yang Evelyne tahu dia tengah berlibur ke Dubai saat ini.

Tiket pesawat itu bahkan hadiah dari Evelyne untuknya. Ini karena Evelyne prihatin dengan kisah cinta Stella. Evelyne ingin Stella bahagia dan segera move on dari kisah cinta dengan Carlos. Tapi siapa sangka dia malah terjebak di ruangan ini. Yang mungkin adalah milik putra Carlos.

"Huff." Stella meniup poninya merasa putus asa. Dia kemudian memakan makanannya sampai habis.

Lima belas menit kemudian. Pelayan sungguh datang untuk mengambil piring dan gelas.

"Aku ingin ke kamar mandi, tolong biarkan aku keluar dari sini," ucap Stella.

"Ada kamar mandi di kamar ini, Nona," jawab salah satu pelayan.

"Ya, aku tahu tapi airnya mati dan juga saluran airnya mampet." Stella memberikan alasan.

Satu pelayan melangkah menuju kamar mandi. Kini hanya tinggal satu pelayan yang ada di ruangan ini.

Pelan dan tanpa aba-aba ... Stella menonjok wajah pelayan itu dengan keras lalu berlari kabur menuju pintu kamar. Dari tempatnya dia bisa melihat bahwa di luar sana terlihat begitu megah. Pilar-pilar menjulang tinggi.

"Dia mencoba kabur," teriak pelayan.

Beberapa penjaga muncul begitu saja di depan pintu. Membuat Stella terkejut bukan main.

TAP. Seorang penjaga pria menangkap Stella begitu saja bahkan sebelum Stella berhasil keluar dari pintu itu. Lalu membawa Stella kembali masuk ke dalam.

Sial, di luar banyak penjaga. Dia ini sudah seperti penjahat kelas kakap yang harus dijaga sedemikian ketat.

"Tolong bersikaplah dengan baik, Nona atau kami tidak akan segan dengan Anda," ucap pelayan pria dengan ancaman.

Stella diam tidak menjawabnya. Dia membiarkan para pelayan itu meninggalkan ruangan. Bunyi kunci yang diputar dari luar menegaskan satu hal bahwa kini ia benar-benar menjadi tawanan.

Stella terduduk di sisi ranjang. Dia memikirkan tentang Carlos. Sehebat inikah Carlos hingga memiliki banyak anak buah. Ya, dia tahu jika Carlos adalah pria kaya tapi dia tidak menyangka jika Carlos sekaya ini dah bahkan seorang Taun muda.

Semalaman Stella tidak bisa memejamkan matanya. Pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang Luke dan Carlos. Siapa sebenarnya kedua pria itu? Mengapa mereka terhubung dengannya?

Merasa semakin pusing, ia berjalan mendekati jendela lalu menyingkap gorden tebal yang menutupinya. Pemandangan di luar membuatnya terdiam. Cahaya lampu menerangi halaman yang begitu luas, menyoroti taman yang tertata rapi dan kolam renang yang berkilauan bak cermin di bawah langit malam.

🍂🍂🍂

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Comentários (5)
goodnovel comment avatar
Noor Sukabumi
owh ternyata galak juga Stella yah.........
goodnovel comment avatar
Purwa Ningsih
siapa sebenarnya luke ..??? Stella si pemberani..
goodnovel comment avatar
Lies Mulyani
anak Carlos atau Luke salah tangkap...............
VER TODOS OS COMENTÁRIOS

Último capítulo

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Kamar Baru 2

    Stella membuka kotak pakaian yang tadi ia dapatkan dari Ruth. ​"Apa?" Ia memekik pelan begitu melihat isinya. ​Dengan dahi berkerut, ia mengambil gaun itu. Sebuah gaun tidur seksi berpotongan minim dengan tali super tipis, berbahan satin transparan yang hampir tidak menyembunyikan apa pun. ​Sambil menggerutu pelan dan merutuki selera pilihan di mansion ini, ia terpaksa mengganti pakaiannya. Begitu selesai, ia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang mewah yang terasa begitu besar dan empuk. ​"Ah... nyaman sekali," gumam Stella seraya memejamkan mata, menenggelamkan tubuhnya di balik kenyamanan kasur mahal tersebut. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. ​Pintu besar kamar tiba-tiba terbuka begitu saja, tanpa ada ketukan sama sekali. ​Stella tersentak kaget. Ia langsung bangkit dan duduk di atas ranjang. ​"Luke?!" ia memekik terkejut saat matanya menangkap sosok tegap itu melangkah masuk. Dengan refleks cepat, ia menarik selimut tebal hingga menutupi dada, meny

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Kamar Baru

    Stella segera membersihkan diri, mengganti pakaiannya dengan dress anggun. Kaki telanjangnya menapaki lantai yang dingin menuju ruang makan. Di sana, Luke sudah duduk menunggu. Pria itu mengenakan kemeja lengan pendek yang membuatnya terlihat sangat menawan. ​Ah, sebenarnya dia memang sangat tampan... tapi juga kasar dan menyeramkan. ​'Jaga otak warasmu, Stell,' bisik Stella pada dirinya sendiri. ​Ia melangkah makin mendekat, berdiri di sisi meja. ​"Kenapa tidak memakai alas kaki?" tanya Luke datar, matanya tertuju pada kaki telanjang Stella. ​Stella mengangkat kedua bahu, ia lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan Luke. ​"Rasanya tidak nyaman memakai heels di dalam rumah," jawab Stella santai seraya mengambil porsi makanannya. ​Luke tidak berkomentar lagi. Stella pun memilih diam. Di antara gemeretak sendok dan piring, mereka menikmati hidangan dalam keheningan. Tepat setelah mereka selesai makan, Jhon izin untuk bicara. Pria kepercayaan Luke itu membungkuk

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Hadiah Yang Stella Minta

    "Aku Milikmu, Tuan Muda." ​Luke menyunggingkan senyum gelap. Ibu jarinya terulur, mengusap bibir bawah Stella seraya menatapnya penuh gairah obsesif dari atas. ​Tanpa memutuskan kontak mata, jemari Stella bergerak telaten membuka ikat pinggang Luke, membiarkan denting halus logamnya memecah kesunyian, mengunci kendali pria itu malam ini. ​Dengan kepasrahan yang dipoles sempurna, Stella menunduk perlahan, memanjakan Luke. Napas Luke seketika memburu. Jemari tangannya yang kekar merayap masuk ke sela-sela rambut Stella, meremas dan mencengkeramnya erat. Sorot matanya yang biasa dingin kini keruh oleh gairah liar yang tak tertahankan. Stella menengadah di sela aktivitasnya, menatap Luke dengan mata berembun, memastikan pria itu melihat betapa ia tunduk di bawah kendalinya. Geram rendah Luke makin tak tertahan. Dengan gairah yang membakar habis, ia menarik tubuh polos wanita itu dalam satu gerakan kuat, lalu membalikkan posisinya hingga Stella terdorong di atas sofa empuk.

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Aku Milikmu

    Mata Luke memicing, memindai setiap gestur dan mikro ekspresi di wajah Stella. Tak ada kebohongan yang terpeta di sana, perempuan ini jujur. ​"Apakah kau pernah menandatangani dokumen penting atas namamu... atas permintaan wanita itu?" tanya Luke datar. ​Stella kembali menatap Luke. Pikirannya kalut, ingin sekali bertanya kenapa ada begitu banyak pertanyaan tentang Evelyn. Apa sebenarnya yang sedang direncanakan pria itu? Namun, membayangkan amarah Luke tersulut kembali membuat Stella memilih memendam rasa ingin tahunya. ​"Luke... tolong jangan libatkan dia dalam masalah di antara kita. Dia sungguh tidak tahu apa-apa," pangkas Stella penuh kesungguhan. Matanya menatap Luke, memohon rasa iba yang tak pernah ada. ​Luke meniupkan asap rokoknya perlahan ke udara, lalu tersenyum sinis. ​"Apakah itu sebuah jawaban?" ucapnya dingin. ​Ia menurunkan kakinya yang bersilang, lalu menekan puntung rokoknya ke dasar asbak hingga padam sepenuhnya. ​Stella menatap setiap pergerakan pria i

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Siapa Evelyn?

    "Sekarang coba jawab ... Apa kau kenal Evelyn? Atau perlu ku bantu membenamkan kepalamu agar ingatanmu lebih jelas?"Napas Stella memburu, dadanya naik turun di atas permukaan air. Ia menatap tepat ke dalam manik mata Luke yang dingin dan mencekam di bawah bayangannya sendiri. ​"Aku..." Stella mengalihkan pandangan. Ia menunduk. "Memangnya kenapa kalau aku mengenalnya?" ​Tangan Luke langsung terulur mendengar jawaban memancing itu. Tanpa peringatan, jemarinya menekan kuat kepala Stella, sungguh-sungguh menenggelamkan wanita itu ke dalam air. ​Dalam kegelapan air dingin, Stella panik mencari pasokan udara. Tangannya berusaha menggapai permukaan, tetapi tekanan tangan Luke di kepalanya begitu kuat tanpa ampun. Dadanya serasa mau meledak, ia mulai tak bisa bernapas. Gelembung-gelembung udara bermunculan dari mulutnya yang terdesak. ​'Apakah aku akan mati saat ini juga?' Batinnya teriak. 'Tidak... aku belum membalas dendam pada monster ini!' ​Sreeek! Luke menjambak rambut Stella

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   The Onyx Pool

    Stella menuruni tangga dengan langkah anggun. Ia yakin Luke akan terpesona padanya dan mengabulkan keinginannya malam ini. Namun, saat pijakan kakinya sampai di bawah, ruangan itu kosong. Tidak ada sosok Luke yang menunggu seperti dulu. Hanya ada Gama yang berdiri tegak, sempat menoleh sedikit ke arahnya sebelum kembali menatap lurus ke depan tanpa ekspresi. ​Stella sengaja melangkah dengan gestur sensual mendekati pria itu.Gama membungkuk hormat. ​"Tuan muda ada di area kolam renang bagian The Onyx Pool, Nona. Mari saya antar," ujar Gama datar. ​Stella menghentikan langkah tepat di hadapan Gama, menatapnya intens. "Kau tidak tertarik padaku?" tanyanya manja. ​Gama membungkuk sopan sekali lagi, tanpa sedikit pun mengubah raut wajahnya. "Saya terlatih profesional, Nona, " jawabnya datar. ​"Sesekali tidak profesional boleh, kan?" goda Stella lagi, sengaja, menguji ketahanan orang kepercayaan Luke itu. ​Gama sama sekali tidak memberi reaksi. "Mari saya antar, Nona." ​St

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status