Share

Awal Sebuah Keraguan

Author: Nanas20
last update publish date: 2026-07-31 18:12:37

"Kau masih perawan?" Luke bertanya ragu.

Tidak ada jawaban apapun. Stella menangis tak berdaya. Dia merasa marah pada Luke tetapi tidak bisa berbuat apapun.

Di sisi lain, nafsu sedang berperang pada logika Luke. Laki-laki itu ragu tapi juga penasaran. Stella terlalu indah untuk dilewatkan malam ini.

Dia ... Akhirnya harus mengakui jika ia menginginkan tubuh gadis ini. Benar-benar menginginkannya. Semua yang ada pada diri Stella benar-benar murni.

Pada akhirnya, nafsu adalah pemenangnya. Ia mencari kepuasan atas tubuh Stella yang sekarang terlihat begitu indah dan begitu menggiurkan.

Hingga Luke telah selesai dengan permainannya. Ia mengerang puas di atas tubuh polos Stella.

Luke segera menarik diri setelah itu. Dia melemparkan selimut di atas tubuh Stella tanpa kelembutan. Pria itu duduk di sisi ranjang. Mengenakan kemejanya.

Rasanya tidak mungkin jika wanita simpanan ayahnya masih perawan. Bukankah mereka sudah tinggal serumah beberapa tahun belakangan, pikirnya.

Setelah kembali mengenakan pakaian. Luke Ravenscroft kembali ke ruangannya. Duduk tenang di kursi dibalik meja besar.

Ia menyalakan rokok. Di depannya berdiri asisten pribadinya. Luke menunduk sedikit memperhatikan barang-barang berserakan milik Stella di atas meja.

"Apakah perempuan yang ada di rumah ini adalah benar, Stella Valerie?" Tanyanya tanpa ekspresi.

"Benar, Tuan." Sang asisten, Jhon, dengan segera mengambil dompet warna merah di atas meja lalu menyerahkan kartu Identitas Stella pada Luke.

Luke membaca namanya. Benar. Nama dan alamatnya benar. Tanda pengenal ini juga sama dengan apa yang ia temukan di rumah mewah itu. Rumah mewah yang ia yakini sebagai tempat tinggal wanita simpanan mendiang ayahnya.

Saat ia datang, rumah mewah itu sudah tidak berpenghuni lagi. Hanya ada foto kopi kartu identitas Stella Valerie. Sama persis dengan tanda pengenal yang saat ini Luke pegang.

Stella Valerie, nama itu juga yang ia dengar dari bibir ibunya saat pertengkaran besar itu terjadi.

Tapi, kenapa Stella masih perawan. Sungguhkah tidak terjadi sesuatu antara jalang kecil itu dengan ayahnya.

Rasanya mustahil.

🍂🍂🍂

Luke Ravenscroft kembali ke kamar itu. Kamar di mana Stella berada. Wanita itu masih meringkuk menangis di atas tempat tidur. Memegangi selimut putih erat-erat.

Luke melangkah mendekatinya.

"Segera bersihkan dirimu," katanya. Suaranya masih dingin tapi tatapan matanya menyimpan sedikit ragu.

Tidak ada jawaban apapun dari Stella, dia diam dalam luka yang perih dan menyakitkan.

"Apakah kau menungguku untuk menyambuni seluruh tubuhmu, heh?" Sengak Luke.

Stella bergerak pelan tapi tidak menatapnya. Gadis itu masih meringkuk.

"Apakah kau membawa pistol saat ini? Bunuh aku sekarang juga." Suaranya bergetar.

Luke terkesiap sesaat tapi kemudian ia tertawa sinis.

"Membunuh jalang kecil sepertimu sangat mudah. Namun aku tidak ingin kau mati dengan mudah. Kau harus merasakan bahwa kematian adalah hal yang sangat kau impikan. Jadi nikmatilah dulu sebelum aku benar-benar menembak kepalamu."

"Ya, aku sudah mendambakan kematian itu, berikanlah kematian itu saat ini juga padaku. Aku tidak mau hidup lagi dengan tubuh yang kotor ini."

Luke terawa sinis. Dia menatap tubuh Stella lekat. Memasukkan kedua tangannya ke saku.

"Jalang kecil sepertimu masih merasa suci setelah tinggal satu atap dengan pria tua, hmm. Lucu."

"Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan. Tapi kau harus tahu, bahwa aku tidak pernah tinggal satu atap dengan pria manapun, temasuk Ayahmu. Jika ingin balas dendam, bunuh saja Carlos bajingan itu, dia mengaku tidak memiliki istri saat berkenalan denganku."

Luke Ravenscroft terdiam. Carlos? Carlos siapa? Dia bahkan tidak tahu siapa Carlos. Keningnya berkerut.

"Jadi apakah kau membawa pistol saat ini?" Perlahan, Stella bangkit dari tidurnya. Dia menutup tubuh polosnya dengan selimut putih. Lalu melangkah, berdiri di depan Luke Ravenscroft tanpa rasa takut.

"Bukankah kau ingin aku mati? Lakukanlah sekarang."

Dia menatap Luke dengan sorot mata yang tajam tetapi penuh dengan kesedihan yang luar biasa. Matanya berlinang air mata yang begitu pilu. Luke bisa melihatnya.

Pria itu terdiam. Menatap Stella dan juga mencoba mencerna baik-baik ucapan Stella.

"Siapa Carlos?" Dia bertanya. Namun belum sempat pertanyaan itu terjawab Stella jatuh di depannya. Reflek, Luke segera menahan tubuh Stella. Memeluk Stella sebentar sebelum akhirnya ia mengangkat tubuh Stella dan merebahkannya di atas ranjang dengan hati-hati.

🍂🍂🍂

Setlla terbangun di pagi hari. Dia diam dengan kedipan mata yang lambat. Apakah yang semalam itu mimpi?

Tidak. Laki-laki bernama Luke Ravenscroft itu jelas mengambil kegadisannya dengan paksa. Melecehkan dirinya dengan begitu keji.

Stella menunduk. Sadar jika dia telah mengenakan pakaian. Dia bangkit dari tempat tidur dengan tertatih. Ia melangkah masuk ke kamar mandi. Berdiri diam di sana.

Dia tidak pernah menyangka jika hubungannya dengan Carlos akan menjadi neraka untuknya saat ini. Namun bukankah ia sudah mundur dan tidak akan memiliki hubungan dengan Carlos lagi tapi kenapa dia masih harus menanggung ini. Atau apakah ini adalah resiko dari hubungan dengan pria beristri.

Setlla merasa jijik dengan dirinya sendiri. Dia menatap seluruh kamar mandi ini. Mencari kaca yang bisa ia pecahkan lalu mengiris nadinya. Tapi tidak ada apapun di kamar mandi ini. Kosong.

Saat Setlla keluar dari kamar mandi, sudah ada dua pelayan di dalam kamar ini. Dan beberapa menu sarapan untuknya.

Stella tidak ingin menyentuhnya sama sekali. Untuk apa dia makan. Tidak ada gunanya. Dia bahkan ingin segera mati saja dari pada merasa jijik dengan tubuhnya sendiri.

Lima belas menit, pelayan itu datang lagi. Menatap makanan yang masih itu di atas meja.

"Anda tidak memakannya?" Tanya pelayan itu.

Tidak ada jawaban dari Stella. Dia diam. Menatap dinding putih yang bisu dan dingin.

"Baik, jika kau tidak mau memakannya." Pelayan itu membawa makanan keluar.

Hingga makan malam, pelayan yang sama datang mengantar makanan. Meletakkan makanan dan minuman diatas meja lalu berkata seperti yang sudah-sudah.

Lima belas menit kemudian, pelayan itu masuk lagi. Menatap makanan yang masih utuh di atas meja.

"Kenapa Anda tidak memakannya, Nona? Tuan mengatakan jika Anda harus makan," ucap pelayan.

Stella tersenyum sinis. "Bukankah dia ingin aku mati?" Katanya. "Aku hanya membantu mempercepat keinginan dia."

Pelayan hanya diam. Lalu mengambil makanan dan membawanya pergi.

🍂🍂🍂

Hampir satu minggu Stella meratapi nasibnya. Malam terasa sangat panjang. Pagi dan siang terasa begitu lama. Kenapa nyawanya masih saja tinggal?

Satu minggu itu juga Luke tidak datang ke mansion ini.

Hingga pagi ini, semuanya menjadi gelap dalam pandangan Stella. Padahal, Luke sudah berada di depan pintu kamarnya.

Luke yang mendapati Stella tak sadarkan diri di lantai yang dingin. Segera mengangkat tubuh itu, mendekapnya dalam dada lalu merebahkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur.

"Jhon, bawa dokter kemari," Perintahnya.

Jhon membungkuk hormat. "Baik, Tuan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Noor Sukabumi
siapa sebenarnya Luke dan gmn ceritanya dia bisa salah paham sama stella
goodnovel comment avatar
Purwa Ningsih
penasaran siapa sebenarnya luke ,dan Siapa ayahnya luke , siapa yg d maksud Stella yg selingkuh dg ayahnya luke..???
goodnovel comment avatar
Lies Mulyani
tuhhhh kan kayanya si Luke ini salah paham deh, tapi ya kebangetan udah nyiksa Stella dan mengambil kehormatannya🥲
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Aku Tidak Akan Mati

    Pagi hari di mansion. Stella mengerjapkan matanya. Rasa pusing masih terasa di kepalanya. "Selamat pagi, anda sudah bangun, Nona," ucap perawat yang berdiri di samping ranjang Stella. Stella menatapnya lalu menatap infus di tangannya. Ia menghela nafas dalam, menyesal kenapa ia masih hidup. Seorang pelayan datang, pelayan yang kali ini lebih tua dari biasnya. "Selamat, Pagi, Nona Stella. Perkenalkan, nama saya Ruth. Mulai sekarang, saya yang akan melayani anda," pelayan itu memperkenalkan diri. Stella hanya meliriknya sekilas tanpa menjawab apapun. "Makanan sudah saya siapkan, Nona," ucap Ruth selanjutnya. "Makanlah selagi hangat."Stella membawa pandangannya pada dinding kaca. Memperhatikan langit biru dari tempatnya. "Kenapa tidak membiarkan aku mati saja?" Mendengar ucapan itu, Ruth melangkah mendekat. Dengan lembut ia berkata, "Justru Tuan Muda yang pertama kali mengetahui anda pingsan, Nona. Tuan juga merawat anda sebelum dokter datang.""Cih." Stella meludah. Pria itu .

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Menginginkannya Sekali Lagi

    Sementara menunggu kedatangan dokter, Luke meminta pelayan membawakannya air hangat dan kompres. "Stella Valerie." Luke menyebut nama itu di ujung bibirnya. Ia bersandar di kursi dengan tatapan mata yang tetap terkunci di wajah wanita itu. 'Siapa gadis ini sebenarnya?' Batinnya. Pelayan datang membawa air hangat dan kompres. Luke bergeming, hanya memberi isyarat agar pelayan itu meletakkan wadah air hangat di atas nakas. Setelah pelayan pergi, Luke mengambil kompres air hangat. "Hanya tinggal makan setiap hari, apa susahnya," gumamnya. Ia membawa kompres itu pada Stella. Meletakkan di kening Stella dengan hati-hati. "Sekarang kau sangat menyusahkan," keluhnya. Matanya menyusuri wajah Stella yang terpejam rapat. "Saat ku perintahkan makan, maka kau harus makan. Aku tidak suka seseorang melawanku." Luke menyilangkan kakinya. Tetap diam menatap Stella yang bahkan tidak menjawab apapun. Saat kompres itu mulai dingin, ia akan menggantinya. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan pa

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Awal Sebuah Keraguan

    "Kau masih perawan?" Luke bertanya ragu. Tidak ada jawaban apapun. Stella menangis tak berdaya. Dia merasa marah pada Luke tetapi tidak bisa berbuat apapun. Di sisi lain, nafsu sedang berperang pada logika Luke. Laki-laki itu ragu tapi juga penasaran. Stella terlalu indah untuk dilewatkan malam ini. Dia ... Akhirnya harus mengakui jika ia menginginkan tubuh gadis ini. Benar-benar menginginkannya. Semua yang ada pada diri Stella benar-benar murni. Pada akhirnya, nafsu adalah pemenangnya. Ia mencari kepuasan atas tubuh Stella yang sekarang terlihat begitu indah dan begitu menggiurkan. Hingga Luke telah selesai dengan permainannya. Ia mengerang puas di atas tubuh polos Stella. Luke segera menarik diri setelah itu. Dia melemparkan selimut di atas tubuh Stella tanpa kelembutan. Pria itu duduk di sisi ranjang. Mengenakan kemejanya. Rasanya tidak mungkin jika wanita simpanan ayahnya masih perawan. Bukankah mereka sudah tinggal serumah beberapa tahun belakangan, pikirnya. Setelah kemb

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Retakan Pertama

    Keesokan harinya. Pelayan datang mengantarkan sarapan untuk Stella. "Aku tidak memiliki pakaian ganti. Kembalikan barang-barangku sekarang juga," ucap Stella. Dia bangkit dari duduknya. Pelayan itu menundukkan kepala sedikit. "Saya akan mengatakan ini pada Tuan, Nona." "Ya. Laporkan juga jika aku ingin bertemu dengannya." "Baik, Nona." Tanpa berkata apa-apa lagi, pelayan itu meletakkan nampan di atas meja."Kami akan kembali lima belas menit lagi untuk mengambil peralatan makan," ucapnya sebelum berbalik meninggalkan ruangan.Setelah kepergian pelayan, Stella membuka tirai tebal dinding kaca ini. Beberapa pelayan terlihat tengah membersihkan kolam renang di bawah sana. Sebagian lagi membersihkan pilar-pilar tinggi rumah ini. Sebesar apa tempat yang ia tinggali saat ini hingga memiliki pilar yang terlihat sangat megah. Stella segera duduk di sofa dan memakan sarapannya. Dia terpenjara di kamar ini dan entah kapan ia diizinkan keluar. Dia bahkan tidak diberikan pakaian ganti.

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Tawanan

    Stella mengerjapkan matanya perlahan. "Ough." Dia merasakan sakit di kepalanya. Benar-benar pusing. Dia mencoba membuka mata lebih lebar lalu memperhatikan langit-langit ruangan di mana ia berada. Langit-langit tinggi dengan lukisan klasik yang membentang megah. Sebuah lampu kristal berukuran besar menggantung tepat di atasnya, memancarkan cahaya keemasan yang membuat seluruh ruangan berkilau. Stella mengerjap sekali lagi, mencoba mencerna keindahan yang baru saja ia lihat. "Aku di mana?" Gumamnya. Belum sempat Stella mencerna dengan baik atas keberadaannya, suara berat dan dingin memecah kesunyian. "Baguslah jika kau sudah bangun." Suara itu terdengar sangat datar dan dingin, mengandung tekanan yang membuat Stella spontan menoleh, membawa pandangan pada pemilik suara. Seorang pria berdiri tak jauh darinya, tubuh tinggi tegap, mengenakan kemeja hitam berpotongan rapi yang jatuh sempurna di tubuhnya. Sepasang manik mata gelap yang seolah tak memiliki dasar. Wajahnya dingi

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Bandara

    "Bye, Sayang. Bersenang-senanglah di Dubai dan dapatkan pria mapan di sana," seru Evelyne dari dalam mobil. Ia melambai dengan senyum lebar, lalu menambahkan, "Maaf tidak bisa menunggu sampai kau berangkat, ya," lanjutnya dengan wajah menyesal. Stella sang sahabat, seseorang yang akan berlibur ke Dubai membalas lambaiannya dengan senyum. "Tidak apa-apa. Terima kasih buat semuanya, Eve." Langkah Stella tenang dan mantap saat ia menyeret kopernya menuju ruang tunggu. Setelah boarding pass di tangan, ia duduk di kursi bandara, menatap lalu lalang orang yang hendak bepergian. "Sial, ternyata wanita ketiga itu adalah aku." Stella tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri. Ia menunduk menekuri lantai. Sudah setahun ia menjalin hubungan dengan seorang pria yang belakangan ia ketahui telah menikah. Ironis. Bagaimana bisa ia sebodoh itu? Satu tahun yang sia-sia. Stella ingin menangis meratapi nasip percintaannya tapi menahan diri. Mungkin rasa sakit yang ia rasakan ini tak seberapa, j

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status