Share

Aku Tidak Akan Mati

Penulis: Nanas20
last update Tanggal publikasi: 2026-08-21 18:05:57

Pagi hari di mansion.

Stella mengerjapkan matanya. Rasa pusing masih terasa di kepalanya.

"Selamat pagi, anda sudah bangun, Nona," ucap perawat yang berdiri di samping ranjang Stella.

Stella menatapnya lalu menatap infus di tangannya. Ia menghela nafas dalam, menyesal kenapa ia masih hidup.

Seorang pelayan datang, pelayan yang kali ini lebih tua dari biasnya.

"Selamat, Pagi, Nona Stella. Perkenalkan, nama saya Ruth. Mulai sekarang, saya yang akan melayani anda," pelayan itu memperkenalkan diri.

Stella hanya meliriknya sekilas tanpa menjawab apapun.

"Makanan sudah saya siapkan, Nona," ucap Ruth selanjutnya. "Makanlah selagi hangat."

Stella membawa pandangannya pada dinding kaca. Memperhatikan langit biru dari tempatnya. "Kenapa tidak membiarkan aku mati saja?"

Mendengar ucapan itu, Ruth melangkah mendekat. Dengan lembut ia berkata, "Justru Tuan Muda yang pertama kali mengetahui anda pingsan, Nona. Tuan juga merawat anda sebelum dokter datang."

"Cih." Stella meludah.

Pria itu ... Luke Ravenscroft. Kenapa pria itu justru merawatnya? Kenapa tidak mencekiknya saja sampai mati? Namun sedetik kemudian Stella mengerti.

Luke Ravenscroft memang tidak menginginkan kematiannya. Pria itu menginginkan penderitaannya. Ingin menyiksa tubuh dan jiwanya sedikit demi sedikit, hingga kematian terasa sebagai anugerah yang paling ia dambakan.

Senyum tipis yang sinis terbit di sudut bibir Stella. Kalau memang itu yang diinginkan Luke, maka ia tidak akan memberinya kepuasan.

'Aku tidak akan membiarkanmu menang begitu saja, Luke.'

Mulai hari ini, Stella berjanji pada dirinya sendiri. Ia tidak akan lagi menangis di hadapan Luke Ravenscroft. Ia tidak akan memohon, tidak akan menyerah, dan tidak akan membiarkan pria itu menikmati penderitaannya.

Suatu hari nanti, ketika kesempatan itu datang, Stella akan membalas semua yang telah Luke lakukan padanya. Sedikit demi sedikit, sampai rasa sakit yang sama menghancurkan pria itu.

"Aku tidak akan mati seperti keinginanmu, Luke. Tapi aku juga tidak akan menderita seperti yang kau bayangkan."

Dendam muncul di hatinya. Stella bersumpah akan membalas penghinaan ini suatu hari nanti.

Mulai saat ini ... Stella makan dengan baik. Dia bahkan berolahraga di dalam kamar ini. Dia harus menjadi wanita kuat agar bisa membalas pelecehan dan penghinaan yang Luke lakukan padanya.

Dendam tertanam kuat dalam hati Stella untuk Luke Ravenscroft.

Saat malam mulai datang, sepi yang mencekam kembali melanda. Rasa ingin berteriak keras meremas dadanya yang semakin sesak.

​Stella berdiri membeku di depan dinding kaca besar, menatap tajam ke arah kolam renang yang tenang dan taman luar yang remang. Tangannya perlahan terangkat, menyentuh permukaan kaca yang dingin.

Ia teringat dirinya yang dulu, tentang betapa sederhananya hidupnya dulu, dan bagaimana ia bisa tertawa lepas bersama Evelyn. Namun kini, ia malah berakhir tragis di dalam kamar terkutuk ini.

​"Eve... Tolong aku," gumamnya lirih, suaranya bergetar menahan pilu.

​Setetes air mata lolos jatuh di pipinya. Stella buru-buru menyekanya dengan kasar.

"Tidak, jangan menangis, Stell. Kamu harus kuat untuk menghancurkan monster bernama Luke itu."

​Mata Stella seketika berkilat dipenuhi dendam, ingatan malam laknat itu, malam saat Luke merenggut kehormatannya secara paksa dan kasar. Ia teringat bagaimana napas berat Luke berembus di kulitnya, bagaimana cengkeraman kasar pria itu mencengkeram pergelangan tangannya, serta bagaimana rasa sakit dan kehancuran itu merenggut kesuciannya tanpa belas kasihan.

Sentuhan kotor monster itu seolah masih menempel membakar kulitnya, tidak bisa dibersihkan bahkan dengan air panas sekalipun.

​Pada akhirnya, tubuh Stella luruh di atas lantai yang dingin. Di sana, di bawah remang malam, Stella menangis terisak-isak sambil memeluk dirinya sendiri yang telah hancur.

Stella tidak pernah benar-benar bisa tidur nyenyak. Pagi, siang, atau malam terasa seperti sebuah siksaan tanpa henti. Bayangan malam laknat itu selalu datang meneror.

​Tubuhnya memang ada di atas ranjang yang empuk, tapi jiwanya terus terjaga dalam mode waspada. Ia takut jika ia tertidur lelap, monster itu akan kembali datang dan merenggut sisa kehidupannya tanpa peringatan.

​Hari-hari berlalu tanpa bentuk. Stella kehilangan orientasi waktu. Cahaya matahari yang terbit dan tenggelam di balik dinding kaca hanya menjadi penanda redupnya dunia luar, sementara dunia Stella sendiri telah mati sejak ia ada di kamar ini.

​Sebenarnya... sudah berapa hari ia terkurung di sini? Seminggu? Dua minggu? Atau sudah berbulan-bulan? Stella tidak tahu pasti. Waktu seolah membeku, meninggalkannya membusuk dalam lingkar trauma, dendam, dan rasa sepi yang menggerogoti akal sehatnya sedikit demi sedikit.

🍃🍃🍃

Tiga hari berlalu.

"Makanan anda, Nona," ucap Ruth seraya meletakkan sarapan di atas meja.

Stella mengangguk pelan.

"Saya akan kembali lima belas menit lagi, Nona." Setelah mengatakan itu, Ruth keluar kamar.

Pintu kembali tertutup rapat dan akan kembali terbuka setelah lima belas menit.

Stella segera duduk di sofa dan menyendok makanannya. Makan dengan tenang, agar ia tetap hidup dengan baik. Agar ia tidak mati mengenaskan seperti yang Luke inginkan.

Baru beberapa suap, pintu kembali terbuka, suara langkah kaki itu terdengar.

Stella mengangkat wajah perlahan. Luke Ravenscroft melangkah di sana. Masuk ke dalam kamar membawa aura kejam yang melingkupi tubuhnya.

Itu yang Stella lihat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Kiki P
awalnya saling dendam, eh lama" jatuh cinta ......
goodnovel comment avatar
Lies Mulyani
makan yang banyak, olahraga juga, eh.... niat balas dendam, tapi kayanya Luke malah tambah kesemsem...............kalau badannya Ste tambah dirawat.........,
goodnovel comment avatar
Noor Sukabumi
ini mah jd saling menuntut balas nantinya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Kamar Baru 2

    Stella membuka kotak pakaian yang tadi ia dapatkan dari Ruth. ​"Apa?" Ia memekik pelan begitu melihat isinya. ​Dengan dahi berkerut, ia mengambil gaun itu. Sebuah gaun tidur seksi berpotongan minim dengan tali super tipis, berbahan satin transparan yang hampir tidak menyembunyikan apa pun. ​Sambil menggerutu pelan dan merutuki selera pilihan di mansion ini, ia terpaksa mengganti pakaiannya. Begitu selesai, ia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang mewah yang terasa begitu besar dan empuk. ​"Ah... nyaman sekali," gumam Stella seraya memejamkan mata, menenggelamkan tubuhnya di balik kenyamanan kasur mahal tersebut. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. ​Pintu besar kamar tiba-tiba terbuka begitu saja, tanpa ada ketukan sama sekali. ​Stella tersentak kaget. Ia langsung bangkit dan duduk di atas ranjang. ​"Luke?!" ia memekik terkejut saat matanya menangkap sosok tegap itu melangkah masuk. Dengan refleks cepat, ia menarik selimut tebal hingga menutupi dada, meny

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Kamar Baru

    Stella segera membersihkan diri, mengganti pakaiannya dengan dress anggun. Kaki telanjangnya menapaki lantai yang dingin menuju ruang makan. Di sana, Luke sudah duduk menunggu. Pria itu mengenakan kemeja lengan pendek yang membuatnya terlihat sangat menawan. ​Ah, sebenarnya dia memang sangat tampan... tapi juga kasar dan menyeramkan. ​'Jaga otak warasmu, Stell,' bisik Stella pada dirinya sendiri. ​Ia melangkah makin mendekat, berdiri di sisi meja. ​"Kenapa tidak memakai alas kaki?" tanya Luke datar, matanya tertuju pada kaki telanjang Stella. ​Stella mengangkat kedua bahu, ia lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan Luke. ​"Rasanya tidak nyaman memakai heels di dalam rumah," jawab Stella santai seraya mengambil porsi makanannya. ​Luke tidak berkomentar lagi. Stella pun memilih diam. Di antara gemeretak sendok dan piring, mereka menikmati hidangan dalam keheningan. Tepat setelah mereka selesai makan, Jhon izin untuk bicara. Pria kepercayaan Luke itu membungkuk

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Hadiah Yang Stella Minta

    "Aku Milikmu, Tuan Muda." ​Luke menyunggingkan senyum gelap. Ibu jarinya terulur, mengusap bibir bawah Stella seraya menatapnya penuh gairah obsesif dari atas. ​Tanpa memutuskan kontak mata, jemari Stella bergerak telaten membuka ikat pinggang Luke, membiarkan denting halus logamnya memecah kesunyian, mengunci kendali pria itu malam ini. ​Dengan kepasrahan yang dipoles sempurna, Stella menunduk perlahan, memanjakan Luke. Napas Luke seketika memburu. Jemari tangannya yang kekar merayap masuk ke sela-sela rambut Stella, meremas dan mencengkeramnya erat. Sorot matanya yang biasa dingin kini keruh oleh gairah liar yang tak tertahankan. Stella menengadah di sela aktivitasnya, menatap Luke dengan mata berembun, memastikan pria itu melihat betapa ia tunduk di bawah kendalinya. Geram rendah Luke makin tak tertahan. Dengan gairah yang membakar habis, ia menarik tubuh polos wanita itu dalam satu gerakan kuat, lalu membalikkan posisinya hingga Stella terdorong di atas sofa empuk.

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Aku Milikmu

    Mata Luke memicing, memindai setiap gestur dan mikro ekspresi di wajah Stella. Tak ada kebohongan yang terpeta di sana, perempuan ini jujur. ​"Apakah kau pernah menandatangani dokumen penting atas namamu... atas permintaan wanita itu?" tanya Luke datar. ​Stella kembali menatap Luke. Pikirannya kalut, ingin sekali bertanya kenapa ada begitu banyak pertanyaan tentang Evelyn. Apa sebenarnya yang sedang direncanakan pria itu? Namun, membayangkan amarah Luke tersulut kembali membuat Stella memilih memendam rasa ingin tahunya. ​"Luke... tolong jangan libatkan dia dalam masalah di antara kita. Dia sungguh tidak tahu apa-apa," pangkas Stella penuh kesungguhan. Matanya menatap Luke, memohon rasa iba yang tak pernah ada. ​Luke meniupkan asap rokoknya perlahan ke udara, lalu tersenyum sinis. ​"Apakah itu sebuah jawaban?" ucapnya dingin. ​Ia menurunkan kakinya yang bersilang, lalu menekan puntung rokoknya ke dasar asbak hingga padam sepenuhnya. ​Stella menatap setiap pergerakan pria i

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   Siapa Evelyn?

    "Sekarang coba jawab ... Apa kau kenal Evelyn? Atau perlu ku bantu membenamkan kepalamu agar ingatanmu lebih jelas?"Napas Stella memburu, dadanya naik turun di atas permukaan air. Ia menatap tepat ke dalam manik mata Luke yang dingin dan mencekam di bawah bayangannya sendiri. ​"Aku..." Stella mengalihkan pandangan. Ia menunduk. "Memangnya kenapa kalau aku mengenalnya?" ​Tangan Luke langsung terulur mendengar jawaban memancing itu. Tanpa peringatan, jemarinya menekan kuat kepala Stella, sungguh-sungguh menenggelamkan wanita itu ke dalam air. ​Dalam kegelapan air dingin, Stella panik mencari pasokan udara. Tangannya berusaha menggapai permukaan, tetapi tekanan tangan Luke di kepalanya begitu kuat tanpa ampun. Dadanya serasa mau meledak, ia mulai tak bisa bernapas. Gelembung-gelembung udara bermunculan dari mulutnya yang terdesak. ​'Apakah aku akan mati saat ini juga?' Batinnya teriak. 'Tidak... aku belum membalas dendam pada monster ini!' ​Sreeek! Luke menjambak rambut Stella

  • Tawanan Tuan Muda Dingin   The Onyx Pool

    Stella menuruni tangga dengan langkah anggun. Ia yakin Luke akan terpesona padanya dan mengabulkan keinginannya malam ini. Namun, saat pijakan kakinya sampai di bawah, ruangan itu kosong. Tidak ada sosok Luke yang menunggu seperti dulu. Hanya ada Gama yang berdiri tegak, sempat menoleh sedikit ke arahnya sebelum kembali menatap lurus ke depan tanpa ekspresi. ​Stella sengaja melangkah dengan gestur sensual mendekati pria itu.Gama membungkuk hormat. ​"Tuan muda ada di area kolam renang bagian The Onyx Pool, Nona. Mari saya antar," ujar Gama datar. ​Stella menghentikan langkah tepat di hadapan Gama, menatapnya intens. "Kau tidak tertarik padaku?" tanyanya manja. ​Gama membungkuk sopan sekali lagi, tanpa sedikit pun mengubah raut wajahnya. "Saya terlatih profesional, Nona, " jawabnya datar. ​"Sesekali tidak profesional boleh, kan?" goda Stella lagi, sengaja, menguji ketahanan orang kepercayaan Luke itu. ​Gama sama sekali tidak memberi reaksi. "Mari saya antar, Nona." ​St

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status