FAZER LOGINSementara menunggu kedatangan dokter, Luke meminta pelayan membawakannya air hangat dan kompres.
"Stella Valerie." Luke menyebut nama itu di ujung bibirnya. Ia bersandar di kursi dengan tatapan mata yang tetap terkunci di wajah wanita itu. 'Siapa gadis ini sebenarnya?' Batinnya. Pelayan datang membawa air hangat dan kompres. Luke bergeming, hanya memberi isyarat agar pelayan itu meletakkan wadah air hangat di atas nakas. Setelah pelayan pergi, Luke mengambil kompres air hangat. "Hanya tinggal makan setiap hari, apa susahnya," gumamnya. Ia membawa kompres itu pada Stella. Meletakkan di kening Stella dengan hati-hati. "Sekarang kau sangat menyusahkan," keluhnya. Matanya menyusuri wajah Stella yang terpejam rapat. "Saat ku perintahkan makan, maka kau harus makan. Aku tidak suka seseorang melawanku." Luke menyilangkan kakinya. Tetap diam menatap Stella yang bahkan tidak menjawab apapun. Saat kompres itu mulai dingin, ia akan menggantinya. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan pada wanita manapun. "Aku hanya tidak ingin kau cepat mati," ucapnya. Mengambil helaian rambut Stella lalu mengurainya. "Karena ada yang harus kau ungkap." Luke Ravenscroft tahu ... jika Stella yang ada di depannya ini bukanlah Stella yang ingin ia bunuh dengan tangannya sendiri. Namun sepertinya gadis ini mengetahui sesuatu. Luke keluar saat dokter datang. Dia hanya meminta Jhon untuk menunggu pemeriksaan itu. Dia bukan pria berhati lembut yang sudi menunggu hal semacam itu. Namun Tuan Luke ... Tidakkah kau sadar bahwa kau bahkan menunggu dan merawatnya dengan tanganmu sendiri. 🍂🍂🍂 Luke Ravenscroft duduk di ruangan yang menghadap ke pegunungan. Menyalakan rokok dan menyesapnya perlahan. Cuaca hari ini begitu menawan. "Apakah pemeriksaannya sudah?" Tanya Luke saat menyadari Jhon datang. "Sudah, Tuan," jawab Jhon penuh hormat. "Nona Valerie lemah karena tidak mau makan dengan benar. Lambungnya bermasalah, tapi dokter sudah menanganinya." Luke tersenyum sinis. Itu salah Stella sendiri kan? Salah sendiri tidak mau makan. Padahal ia menyediakan makanan. Andai gadis itu mau makan, dia tidak akan sakit. "Bagaimana dengan Carlos?" Tanya Luke. "Tuan Carlos sedang dalam perjalanan untuk menemui anda, Tuan." Luke mengangguk. Dia mematikan rokok. Lalu berdiri, pergi meninggalkan mansion ini bersama Jhon. 🍂🍂🍂 Di sebuah ruangan privat di salah satu bar ternama. Carlos duduk santai, bersandar di sofa, kakinya menyilang dan dengan gelas alkohol di tangannya. Ia tersenyum sambil menatap pelayan bar yang melayaninya. Ada apa gerangan Tuan Muda Luke ingin bertemu dengannya. Ingin menjalani kerja samakah? Menarik juga. "Oh, Sayang. Tuangkan lagi untukku," ujar Carlos. Pelayan wanita itu segera menuangkan untuknya dengan patuh. Tak lama, pintu ruangan terbuka, aura mendominasi langsung menguar begitu saja. Pria tinggi berjas hitam dengan tatapan dingin masuk ke dalam dengan langkah tenang. Carlos berdiri, membungkuk memberinya salam. "Suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda, Tuan Luke Ravenscroft." Katanya sopan. Luke memberi isyarat agar Carlos duduk. Pelayan wanita menuangkan anggur untuk dua pria itu. Lalu pergi setelah Jhon memberinya isyarat. "Apa yang bisa saya bantu, Tuan Luke Ravenscroft? Saya merasa tersanjung jika bisa memberi bantuan untuk anda, Tuan." Luke memberi isyarat pada Jhon. Asisten pribadi itu mengeluarkan selembar foto dari jasnya lalu meletakkan didepan Carlos. Carlos membawa pandangan pada foto itu. Matanya membelalak sebentar, sebelum bibirnya tersenyum samar. "Stell," gumamnya. Mantan kekasih hatinya yang masih ia rindukan. "Kau mengenalnya?" Tanya Luke. Suaranya datar dengan tatapan dingin khas miliknya. Carlos segera mengangguk. "Ya, saya mengenalnya, Tuan. Dia adalah gadis cantik mantan pacar saya," kata Carlos dengan bangga. Dia menatap Luke. Luke bersandar di sofa. "Bukankah kau sudah beristri?" Carlos mendadak gugup. Ia tersenyum canggung. Mengusap tengkuknya karena gugup. "Ah, Tuan pasti tahu bagaimana jiwa petualang seorang laki-laki. Saya hanya ingin bersenang-senang. Siapa yang tidak tertarik dengan gadis cantik seperti Stella." Bibir merah Luke terbuka sedikit, "lucu," gumamnya. Suaranya pelan, tapi mencekam. Ia bangkit berdiri dan langsung melayangkan pukulan keras di wajah Carlos tanpa aba-aba. "Kau mengotori tanganku," katanya tenang. Lalu pergi begitu saja. Sementara Carlos terkapar di sofa dengan darah yang menetes di hidungnya. Matanya berkunang-kunang. Belum sempat ia berpikir kenapa Luke memukulnya, Jhon melangkah mendekat. Ia membungkuk dan meletakkan amplop berisi uang. "Bayaran untuk pukulan yang kau dapatkan, Tuan Carlos," ujar Jhon. "Saya masih harus bertanya beberapa hal pada anda, Tuan Carlos. Mohon kerja samanya." Di sana. Luke duduk tenang di dalam mobil. Ucapan Carlos tadi menunjukkan bahwa Stella yang ada di mansionnya berkata benar. Wanita itu tidak berbohong tentang hubungannya dengan Carlos. Tatapan matanya dimalam itu, permohonan lirih itu dan air matanya ... Stella Valerie. Luke merasa buruk memikirkannya. Wajah pucat Stella yang terpejam ... "Shit." Luke memukul keras kaca mobil. Kenapa dia harus memikirkan wanita itu. Tentang kesucian yang ia ambil, dia akan membayarnya lebih banyak dari yang wanita itu kira. Gadis mana yang tidak suka dengan uang. Ya, dia akan membayar kesucian Stella yang telah ia ambil. Namun ... bayangan tubuh Stella malah hinggap di otaknya. Tubuh indah, putih berkilauan dibawah lampu kristal. Bunga teratai merah muda yang baru mekar. "Stella Valerie." Nama gadis itu terujar di ujung bibirnya. Dia menginginkan gadis itu. Ya, setidaknya sekali lagi sebelum ia melepaskannya. Luke Ravenscroft bukan pria baik hati yang akan mengasihi seorang gadis hanya karena tangisan. Sekali lagi, ingat, dia bukan pria baik hati ....Stella membuka kotak pakaian yang tadi ia dapatkan dari Ruth. "Apa?" Ia memekik pelan begitu melihat isinya. Dengan dahi berkerut, ia mengambil gaun itu. Sebuah gaun tidur seksi berpotongan minim dengan tali super tipis, berbahan satin transparan yang hampir tidak menyembunyikan apa pun. Sambil menggerutu pelan dan merutuki selera pilihan di mansion ini, ia terpaksa mengganti pakaiannya. Begitu selesai, ia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang mewah yang terasa begitu besar dan empuk. "Ah... nyaman sekali," gumam Stella seraya memejamkan mata, menenggelamkan tubuhnya di balik kenyamanan kasur mahal tersebut. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Pintu besar kamar tiba-tiba terbuka begitu saja, tanpa ada ketukan sama sekali. Stella tersentak kaget. Ia langsung bangkit dan duduk di atas ranjang. "Luke?!" ia memekik terkejut saat matanya menangkap sosok tegap itu melangkah masuk. Dengan refleks cepat, ia menarik selimut tebal hingga menutupi dada, meny
Stella segera membersihkan diri, mengganti pakaiannya dengan dress anggun. Kaki telanjangnya menapaki lantai yang dingin menuju ruang makan. Di sana, Luke sudah duduk menunggu. Pria itu mengenakan kemeja lengan pendek yang membuatnya terlihat sangat menawan. Ah, sebenarnya dia memang sangat tampan... tapi juga kasar dan menyeramkan. 'Jaga otak warasmu, Stell,' bisik Stella pada dirinya sendiri. Ia melangkah makin mendekat, berdiri di sisi meja. "Kenapa tidak memakai alas kaki?" tanya Luke datar, matanya tertuju pada kaki telanjang Stella. Stella mengangkat kedua bahu, ia lalu duduk di kursi yang berseberangan dengan Luke. "Rasanya tidak nyaman memakai heels di dalam rumah," jawab Stella santai seraya mengambil porsi makanannya. Luke tidak berkomentar lagi. Stella pun memilih diam. Di antara gemeretak sendok dan piring, mereka menikmati hidangan dalam keheningan. Tepat setelah mereka selesai makan, Jhon izin untuk bicara. Pria kepercayaan Luke itu membungkuk
"Aku Milikmu, Tuan Muda." Luke menyunggingkan senyum gelap. Ibu jarinya terulur, mengusap bibir bawah Stella seraya menatapnya penuh gairah obsesif dari atas. Tanpa memutuskan kontak mata, jemari Stella bergerak telaten membuka ikat pinggang Luke, membiarkan denting halus logamnya memecah kesunyian, mengunci kendali pria itu malam ini. Dengan kepasrahan yang dipoles sempurna, Stella menunduk perlahan, memanjakan Luke. Napas Luke seketika memburu. Jemari tangannya yang kekar merayap masuk ke sela-sela rambut Stella, meremas dan mencengkeramnya erat. Sorot matanya yang biasa dingin kini keruh oleh gairah liar yang tak tertahankan. Stella menengadah di sela aktivitasnya, menatap Luke dengan mata berembun, memastikan pria itu melihat betapa ia tunduk di bawah kendalinya. Geram rendah Luke makin tak tertahan. Dengan gairah yang membakar habis, ia menarik tubuh polos wanita itu dalam satu gerakan kuat, lalu membalikkan posisinya hingga Stella terdorong di atas sofa empuk.
Mata Luke memicing, memindai setiap gestur dan mikro ekspresi di wajah Stella. Tak ada kebohongan yang terpeta di sana, perempuan ini jujur. "Apakah kau pernah menandatangani dokumen penting atas namamu... atas permintaan wanita itu?" tanya Luke datar. Stella kembali menatap Luke. Pikirannya kalut, ingin sekali bertanya kenapa ada begitu banyak pertanyaan tentang Evelyn. Apa sebenarnya yang sedang direncanakan pria itu? Namun, membayangkan amarah Luke tersulut kembali membuat Stella memilih memendam rasa ingin tahunya. "Luke... tolong jangan libatkan dia dalam masalah di antara kita. Dia sungguh tidak tahu apa-apa," pangkas Stella penuh kesungguhan. Matanya menatap Luke, memohon rasa iba yang tak pernah ada. Luke meniupkan asap rokoknya perlahan ke udara, lalu tersenyum sinis. "Apakah itu sebuah jawaban?" ucapnya dingin. Ia menurunkan kakinya yang bersilang, lalu menekan puntung rokoknya ke dasar asbak hingga padam sepenuhnya. Stella menatap setiap pergerakan pria i
"Sekarang coba jawab ... Apa kau kenal Evelyn? Atau perlu ku bantu membenamkan kepalamu agar ingatanmu lebih jelas?"Napas Stella memburu, dadanya naik turun di atas permukaan air. Ia menatap tepat ke dalam manik mata Luke yang dingin dan mencekam di bawah bayangannya sendiri. "Aku..." Stella mengalihkan pandangan. Ia menunduk. "Memangnya kenapa kalau aku mengenalnya?" Tangan Luke langsung terulur mendengar jawaban memancing itu. Tanpa peringatan, jemarinya menekan kuat kepala Stella, sungguh-sungguh menenggelamkan wanita itu ke dalam air. Dalam kegelapan air dingin, Stella panik mencari pasokan udara. Tangannya berusaha menggapai permukaan, tetapi tekanan tangan Luke di kepalanya begitu kuat tanpa ampun. Dadanya serasa mau meledak, ia mulai tak bisa bernapas. Gelembung-gelembung udara bermunculan dari mulutnya yang terdesak. 'Apakah aku akan mati saat ini juga?' Batinnya teriak. 'Tidak... aku belum membalas dendam pada monster ini!' Sreeek! Luke menjambak rambut Stella
Stella menuruni tangga dengan langkah anggun. Ia yakin Luke akan terpesona padanya dan mengabulkan keinginannya malam ini. Namun, saat pijakan kakinya sampai di bawah, ruangan itu kosong. Tidak ada sosok Luke yang menunggu seperti dulu. Hanya ada Gama yang berdiri tegak, sempat menoleh sedikit ke arahnya sebelum kembali menatap lurus ke depan tanpa ekspresi. Stella sengaja melangkah dengan gestur sensual mendekati pria itu.Gama membungkuk hormat. "Tuan muda ada di area kolam renang bagian The Onyx Pool, Nona. Mari saya antar," ujar Gama datar. Stella menghentikan langkah tepat di hadapan Gama, menatapnya intens. "Kau tidak tertarik padaku?" tanyanya manja. Gama membungkuk sopan sekali lagi, tanpa sedikit pun mengubah raut wajahnya. "Saya terlatih profesional, Nona, " jawabnya datar. "Sesekali tidak profesional boleh, kan?" goda Stella lagi, sengaja, menguji ketahanan orang kepercayaan Luke itu. Gama sama sekali tidak memberi reaksi. "Mari saya antar, Nona." St







