MasukStella baru menyadari bahwa selama ini ia adalah perempuan ketiga dalam rumah tangga seorang pria bernama Carlos. Dengan hati hancur, ia memutuskan mengakhiri semuanya dan pergi ke Dubai untuk melupakan masa lalunya. Namun, belum sempat ia meninggalkan bandara, pandangannya mendadak mengabur. Tubuhnya limbung, lalu semuanya berubah menjadi gelap. Saat membuka mata, Stella mendapati dirinya telah terbaring di sebuah kamar mewah yang asing. "Apakah ini jalang kecil mainan ayahku?" Suara itu menggema di dalam kamar. Stella membeku. Jadi ... Apakah sekarang dia diculik oleh anak mantan kekasihnya. Tapi tunggu ... Kenapa pria itu terlihat seumuran dengan Carlos. Siapa pria itu sebenarnya?
Lihat lebih banyak"Bye, Sayang. Bersenang-senanglah di Dubai dan dapatkan pria mapan di sana," seru Evelyne dari dalam mobil. Ia melambai dengan senyum lebar, lalu menambahkan, "Maaf tidak bisa menunggu sampai kau berangkat, ya," lanjutnya dengan wajah menyesal.
Stella sang sahabat, seseorang yang akan berlibur ke Dubai membalas lambaiannya dengan senyum. "Tidak apa-apa. Terima kasih buat semuanya, Eve." Langkah Stella tenang dan mantap saat ia menyeret kopernya menuju ruang tunggu. Setelah boarding pass di tangan, ia duduk di kursi bandara, menatap lalu lalang orang yang hendak bepergian. "Sial, ternyata wanita ketiga itu adalah aku." Stella tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri. Ia menunduk menekuri lantai. Sudah setahun ia menjalin hubungan dengan seorang pria yang belakangan ia ketahui telah menikah. Ironis. Bagaimana bisa ia sebodoh itu? Satu tahun yang sia-sia. Stella ingin menangis meratapi nasip percintaannya tapi menahan diri. Mungkin rasa sakit yang ia rasakan ini tak seberapa, jika dibandingkan istri sah pria itu. Mereka sama-sama dibohongi. Sama-sama korban kebohongan seorang laki-laki brengsek bernama Carlos. "Jangan menangis, Stell." Stella menyemangati dirinya sendiri. Dia menunduk menatap tiket pesawat di tangannya. Jalan-jalan ke Dubai pasti menyenangkan. "Ya, ayo kita habiskan uang pemberian laki-laki brengsek itu." Untung saja, ia belum menyerahkan segalanya pada Carlos. Setidaknya, harga dirinya masih utuh. Namun belum sempat ia menenangkan diri, seseorang tiba-tiba datang. Menjabak rambut Stella begitu saja. Menariknya dengan kasar. "Wanita murahan. Keparat. Sialan. Tidak tahu malu. Perempuan hina kau." Teriak seorang wanita dengan mata penuh amarah. Caci makinya bertubi-tubi, membakar udara bandara yang semula tenang. Stella terkejut. Ia berusaha melepaskan genggaman kuat wanita itu yang semakin menggila. Rasa sakit di kulit kepalanya membuat matanya panas. Ia yakin, ini pasti istri Carlos. Rasanya rambutnya mau lepas dari kulit kepala. Cengkraman wanita ini terlalu kuat. Stella tidak bisa menghentikannya. Justru tubuhnya malah limbung. Hingga beberapa petugas keamanan datang, melerai dan memisahkan keduanya. Napas Stella tersengal, pipinya memerah, dan hatinya berantakan. Mereka berdua akhirnya di bawa ke pos keamanan bandara. 🍃🍃🍃 Di Pos keamanan bandara. "Pelakor sialan. Mati saja kamu," teriak wanita itu penuh amarah. "Wanita seperti kamu tidak pantas hidup di dunia ini. Napasmu bahkan mencemari udara. Bagaimana bisa kamu di lahirkan di dunia ini." Stella diam di tempat duduknya. Ia membiarkan wanita itu melampiaskan kemarahannya tanpa membalas sedikit pun. Dia tidak perduli. Dijelaskan sampai mulut berbusa pun, wanita itu tidak akan percaya kalau Stella benar-benar tidak tahu jika Carlos sudah menikah. Petugas keamanan mencoba menenangkan situasi. “Ibu, tolong tenang dulu. Ini tempat umum,” ucap salah satu sekuriti lembut tapi tegas. Namun amarah istri Carlos tak terbendung. "Jangan-jangan kau juga sering main dengan wanita murahan itu, ya? Kenapa kau membelanya." semprotnya, membuat petugas itu terdiam serba salah. Tak lama, langkah sepatu menggaung di ruangan. Carlos datang dengan langkah tenang, terlampau tenang untuk seseorang yang istrinya sedang mengamuk dan selingkuhannya babak belur. Wajahnya tanpa rasa bersalah sedikit pun, hanya menampilkan senyum kecil yang menjengkelkan. Bajingan memang pria itu. Tatapan matanya bertemu dengan Stella sesaat lalu beralih pada istrinya. "Itu kan selingkuhkanmu?" jerit istrinya, menunjuk Stella dengan tangan gemetar penuh kebencian. Stella mengembuskan napas pelan. Ia muak. Ia tahu dirinya salah, tapi juga tahu ia bukan satu-satunya yang berdosa. Carloslah yang berbohong, pria tampan, kaya, dan pandai merangkai kata manis. "Sayang, dengarkan dulu penjelasanku." Suara Carlos lembut mencoba menenangkan, seolah-olah dia masih pahlawan di kisah ini. Membujuk istrinya yang seperti kerasukan jin itu. Tapi Stella tidak tahan lagi. Ia bangkit dari kursinya."Maaf, maaf menyala sebentar. Pesawatku sebentar lagi akan berangkat. Jadi ku harap ini pertemuan terakhir kita." Stella melangkah mantap ke arah Carlos. Menatapnya dengan senyum. "Terima kasih untuk waktu satu tahunnya, Sayang. Selamat tinggal, tolong jaga baik-baik istri kamu." Lalu, di hadapan semua orang, Stella menjinjit dan mengecup pipi Carlos. Hening sejenak, lalu sebuah teriakan menggema di ruangan ini. “WANITA MURAHAN!” teriak istri Carlos histeris penuh amarah. Teriakan itu masih menggema sampai Stella melangkah keluar ruangan. Stella berjalan menjauh dari ruangan itu. Dia merasa sedikit terhibur karena berani mencium Carlos di depan istri sahnya. Huf anggaplah itu balasan caci maki yang ia terima tadi. Setelah ini, dia bersumpah tidak akan memiliki hubungan apapun dengan Carlos. Bahkan jika ada kehidupan selanjutnya, dia tidak mau lagi mengenal Carlos. "Stella Valerie?" Suara seorang pria menghentikan langkah Stella tepat di tikungan menuju pemeriksaan tiket. Ia menoleh. Seorang pria berpakaian rapi berdiri tak jauh darinya, dengan lencana bandara tergantung di dada. Stella mengangguk. "Benar," jawab Stella sopan. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" Pria itu tersenyum tipis. "Koper Anda ada bersama saya, Nona. Saya sudah menyimpannya untuk Anda." Stella sempat tercengang, lalu tersenyum ramah. Baik sekali pegawai ini, pikirnya. Ia memang sempat meninggalkan kopernya di ruang pemeriksaan setelah keributan tadi. "Terima kasih, Pak," ucapnya tulus. Laki-laki itu mengangguk kecil. "Mari ikut saya, Nona." Tanpa rasa curiga, Stella percaya begitu saja dan melangkah mengikuti laki-laki itu. Melangkah menjauh dari keramaian. Melewati lorong. Semakin sepi. Dia bahkan tidak tahu dibawa ke bagian mana dia ini. Semakin jauh mereka berjalan, semakin sedikit orang yang lewat. "Kenapa makin sepi, ya?" gumam Stella dalam hati. "Maaf," katanya akhirnya, mulai waspada. "Di mana Anda menyimpan koper saya?" Merasa curiga, Stella menghentikan langkah. Pria itu berhenti sejenak dan menoleh pelan. Senyum di wajahnya masih sama, tenang, tapi ada sesuatu yang aneh di matanya. "Sebentar lagi kita sampai, Nona." Naluri Stella berteriak. Ada yang tidak beres. Ia mundur satu langkah. "Maaf saya tidak bisa ikut dengan Anda lebih jauh. Tidak apa-apa jika Anda ingin koper saya. Itu hanya berisi pakaian dalam. Selamat tinggal." Namun baru beberapa langkah, seseorang membekapnya dari belakang. Dunia berputar, pandangannya buram, tubuhnya lemas seketika. Detik berikutnya Stella Valerie tidak tahu apa-apa lagi.Pagi hari di mansion. Stella mengerjapkan matanya. Rasa pusing masih terasa di kepalanya. "Selamat pagi, anda sudah bangun, Nona," ucap perawat yang berdiri di samping ranjang Stella. Stella menatapnya lalu menatap infus di tangannya. Ia menghela nafas dalam, menyesal kenapa ia masih hidup. Seorang pelayan datang, pelayan yang kali ini lebih tua dari biasnya. "Selamat, Pagi, Nona Stella. Perkenalkan, nama saya Ruth. Mulai sekarang, saya yang akan melayani anda," pelayan itu memperkenalkan diri. Stella hanya meliriknya sekilas tanpa menjawab apapun. "Makanan sudah saya siapkan, Nona," ucap Ruth selanjutnya. "Makanlah selagi hangat."Stella membawa pandangannya pada dinding kaca. Memperhatikan langit biru dari tempatnya. "Kenapa tidak membiarkan aku mati saja?" Mendengar ucapan itu, Ruth melangkah mendekat. Dengan lembut ia berkata, "Justru Tuan Muda yang pertama kali mengetahui anda pingsan, Nona. Tuan juga merawat anda sebelum dokter datang.""Cih." Stella meludah. Pria itu .
Sementara menunggu kedatangan dokter, Luke meminta pelayan membawakannya air hangat dan kompres. "Stella Valerie." Luke menyebut nama itu di ujung bibirnya. Ia bersandar di kursi dengan tatapan mata yang tetap terkunci di wajah wanita itu. 'Siapa gadis ini sebenarnya?' Batinnya. Pelayan datang membawa air hangat dan kompres. Luke bergeming, hanya memberi isyarat agar pelayan itu meletakkan wadah air hangat di atas nakas. Setelah pelayan pergi, Luke mengambil kompres air hangat. "Hanya tinggal makan setiap hari, apa susahnya," gumamnya. Ia membawa kompres itu pada Stella. Meletakkan di kening Stella dengan hati-hati. "Sekarang kau sangat menyusahkan," keluhnya. Matanya menyusuri wajah Stella yang terpejam rapat. "Saat ku perintahkan makan, maka kau harus makan. Aku tidak suka seseorang melawanku." Luke menyilangkan kakinya. Tetap diam menatap Stella yang bahkan tidak menjawab apapun. Saat kompres itu mulai dingin, ia akan menggantinya. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan pa
"Kau masih perawan?" Luke bertanya ragu. Tidak ada jawaban apapun. Stella menangis tak berdaya. Dia merasa marah pada Luke tetapi tidak bisa berbuat apapun. Di sisi lain, nafsu sedang berperang pada logika Luke. Laki-laki itu ragu tapi juga penasaran. Stella terlalu indah untuk dilewatkan malam ini. Dia ... Akhirnya harus mengakui jika ia menginginkan tubuh gadis ini. Benar-benar menginginkannya. Semua yang ada pada diri Stella benar-benar murni. Pada akhirnya, nafsu adalah pemenangnya. Ia mencari kepuasan atas tubuh Stella yang sekarang terlihat begitu indah dan begitu menggiurkan. Hingga Luke telah selesai dengan permainannya. Ia mengerang puas di atas tubuh polos Stella. Luke segera menarik diri setelah itu. Dia melemparkan selimut di atas tubuh Stella tanpa kelembutan. Pria itu duduk di sisi ranjang. Mengenakan kemejanya. Rasanya tidak mungkin jika wanita simpanan ayahnya masih perawan. Bukankah mereka sudah tinggal serumah beberapa tahun belakangan, pikirnya. Setelah kemb
Keesokan harinya. Pelayan datang mengantarkan sarapan untuk Stella. "Aku tidak memiliki pakaian ganti. Kembalikan barang-barangku sekarang juga," ucap Stella. Dia bangkit dari duduknya. Pelayan itu menundukkan kepala sedikit. "Saya akan mengatakan ini pada Tuan, Nona." "Ya. Laporkan juga jika aku ingin bertemu dengannya." "Baik, Nona." Tanpa berkata apa-apa lagi, pelayan itu meletakkan nampan di atas meja."Kami akan kembali lima belas menit lagi untuk mengambil peralatan makan," ucapnya sebelum berbalik meninggalkan ruangan.Setelah kepergian pelayan, Stella membuka tirai tebal dinding kaca ini. Beberapa pelayan terlihat tengah membersihkan kolam renang di bawah sana. Sebagian lagi membersihkan pilar-pilar tinggi rumah ini. Sebesar apa tempat yang ia tinggali saat ini hingga memiliki pilar yang terlihat sangat megah. Stella segera duduk di sofa dan memakan sarapannya. Dia terpenjara di kamar ini dan entah kapan ia diizinkan keluar. Dia bahkan tidak diberikan pakaian ganti.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan