author-banner
Enday Hidayat
Enday Hidayat
Author

Romane von Enday Hidayat

Pendekar Pedang Mirabilis

Pendekar Pedang Mirabilis

TragediFantasi TimurDewasaKesatriaBeraniLuar BiasaPembalasan DendamKerajaanLemah jadi Kuat
Banga Adikara diperintahkan ibunya untuk kabur karena ibunya tidak rela ia dijadikan selir oleh Ratu Nayaka yang kejam dan bengis. Akibatnya sungguh mengerikan. Klan Adikara dimusnahkan dengan cara yang keji, membangkitkan amarah dan dendam di hati Banga. Dengan berbekal pedang tertua di muka bumi, Banga melakukan pembalasan kepada semua pendukung Ratu Nayaka. Kemarahannya tidak bisa dihentikan. Tahta terancam. Ratu Nayaka mengirim puteri mahkota untuk membinasakan Banga, di mana kecantikannya jauh lebih berbahaya daripada kesaktiannya. Dapatkan ia menghentikan Banga?
Lesen
Chapter: BAB 43. Pengakuan yang Tidak Membatalkan Kesalahan
Setelah kapaknya terlepas dan kekuatannya terbukti kalah jauh, Komandan Rendra berdiri diam di tempatnya, napasnya memburu dan pandangannya tidak lagi berani menatap lurus ke arah Banga. Ia tahu bahwa perlawanan lebih lanjut hanya akan membawa kematian yang sia-sia, dan kebenaran tidak bisa lagi disembunyikan. Dengan suara yang lebih rendah dan tidak sekeras sebelumnya, ia mulai berbicara, seolah membebani hatinya yang selama ini menyimpan rasa tidak tenang. “Benar… aku ikut serta dalam penyerangan itu. Ketika perintah resmi datang dari pusat, aku diminta mengerahkan pasukanku untuk memblokir semua jalan keluar dari wilayah Klan Adikara, memastikan tidak ada seorang pun yang bisa melarikan diri.” Ia mengangkat wajahnya sebentar, lalu segera menunduk lagi seolah menghindari tatapan yang tajam. “Namun perlu kau dengar, aku hanya menjalankan tugas yang diberikan. Jika aku menolak perintah istana, maka bukan hanya aku yang akan dihukum, tapi juga seluruh keluargaku dan anak buahku. Ka
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-07
Chapter: BAB 42. Satu Bayangan Melawan Seluruh Pasukan
Saat malam beranjak dini hari, Banga bangkit dan melangkah masuk melewati pagar kayu di bagian belakang markas. Tanpa suara, ia mendarat di atas tanah basah yang berbau garam dan lumpur. Cahaya remang dari obor-obor itu hanya cukup untuk membayangi sosoknya, bukan menampakkannya.Namun gerakan itu tidak luput dari pengawasan terakhir. Dua penjaga yang sedang memeriksa muara sungai segera berteriak keras, “Ada penyusup! Tangkap dia!”Suara itu menggema, dan dalam hitungan detik seluruh markas bergemuruh. Pintu bangunan utama terbuka lebar, dan keluar puluhan prajurit bersenjata tombak, pedang, serta perisai. Di depan mereka berdiri seorang lelaki bertubuh tegap, berambut pendek, mengenakan baju besi lapisan tebal dan memegang kapak perang yang besar. Komandan Rendra, pemimpin pasukan pesisir yang dikenal kejam dan bengis.“Siapa yang berani menyusup ke tempat ini?” bentak Rendra, suaranya menggelegar menutupi suara ombak. “Kau sendirian? Apa kau tidak tahu tempat ini dijaga lebih dari
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-06
Chapter: BAB 41. Menuju Markas di Tepi Laut
BAB 41. Menuju Markas di Tepi Laut Setelah menyelesaikan urusan di perkampungan dan memastikan warga menerima bagian yang menjadi hak mereka, Banga tidak berlama-lama di sana. Ia tahu bahwa pasukan istana akan segera menyebar ke seluruh jalan utama, sehingga ia harus memilih jalur yang lebih jauh namun lebih aman. Pilihannya jatuh ke arah pesisir pantai — wilayah yang jarang dilalui orang, menjadi tempat berdirinya markas besar pasukan yang bertugas mengawasi seluruh pergerakan penduduk dan arus barang masuk ke daerah itu. Perjalanan memakan waktu dua hari penuh. Ia menyusuri jalan setapak di tepi hutan, melintasi sungai dangkal, dan bergerak hanya saat malam tiba agar tidak terlihat oleh patroli yang mulai bertebaran. Di siang hari, ia bersembunyi di gua-gua kecil atau di balik rimbunnya semak belukar, menggunakan tenaga dalamnya untuk menenangkan napas dan memulihkan kekuatan tanpa perlu banyak istirahat. Malam itu ia mulai mencium bau garam dan mendengar suara deburan ombak yan
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-06
Chapter: BAB 40. Janji Lama yang Terpanggil Kembali
Jauh di seberang pegunungan, di lembah yang lebih sejuk dan tertutup kabut, berdiri Akademi Han Barat — tempat ilmu pengobatan, strategi, dan seni bela diri yang lebih halus diajarkan. Di sanalah Mahira menghabiskan tujuh tahun terakhir, mengasah ketajaman pikiran dan kepekaan hati yang menjadi ciri khas keluarganya.Ia sedang merapikan gulungan catatan tanaman obat saat seekor merpati pos terbang masuk lewat celah jendela, sayapnya sedikit lelah setelah perjalanan jauh. Begitu melihat tanda lilin di kaki burung itu, jantungnya berdegup kencang — itu adalah lambang yang hanya digunakan oleh keluarga besar Klan Adikara dan kerabat dekatnya.Setelah membuka dan membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Abiyasa, wajah Mahira memucat perlahan. Kata-kata yang tertulis jelas menyebutkan nasib klan, kebangkitan satu-satunya keturunan yang tersisa, dan panggilan bagi siapa saja yang masih memiliki ikatan darah dan janji.Nama Banga terlintas seketika di benaknya.Sejak kecil, mereka tumbuh b
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-06
Chapter: BAB 39. Pesan yang Membangkitkan Semangat Lama
Setelah meninggalkan Akademi Han Timur, Abiyasa tidak hanya bergerak sendirian. Sebelum melintasi pegunungan menuju wilayah barat, ia mengirimkan beberapa ekor merpati pos yang terlatih—yang biasa digunakan klan untuk berkomunikasi secara rahasia selama seratus tahun terakhir. Setiap burung itu membawa gulungan kecil yang disegel dengan lilin berukir lambang Klan Adikara, ditujukan kepada teman-teman dan kerabat dekat yang juga sedang menuntut ilmu atau menetap di berbagai daerah.Pesan yang tertulis di dalamnya singkat, tidak berlebihan namun menyampaikan maksud yang jelas: “Darah kita telah tumpah, nama kita diinjak-injak, dan janji seratus tahun telah gugur. Jika kau masih menganggap bagian dari klan ini, kembalilah. Kita tidak datang untuk memulai perang, tapi untuk menegakkan kembali harga diri yang telah dirampas.”Surat pertama sampai ke tangan Kala, seorang pemuda tangguh yang tinggal di desa pertanian di daerah selatan. Ia sedang memeriksa ladang saat merpati itu mendarat di
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-06
Chapter: BAB 38. Kabar yang Menggema ke Negeri Seberang
Jauh di timur, di sebuah lembah tersembunyi yang dikelilingi pegunungan tinggi, berdiri Akademi Han Timur — tempat para pemuda dari berbagai daerah datang untuk mengasah ilmu, kekuatan, dan kebijaksanaan. Di sanalah Abiyasa, sepupu sekaligus saudara seklan Banga, menghabiskan waktu selama tiga tahun terakhir untuk mendalami ajaran leluhur dan seni bela diri tingkat tinggi.Suatu sore, saat ia sedang beristirahat setelah berlatih, seorang pengembara yang baru tiba dari daerah barat menceritakan kabar yang mengejutkan. Di tengah percakapan santai, disebutkan tentang peristiwa di wilayah Kadipaten: kebangkitan sosok yang membawa lambang Klan Adikara, pembalasan terhadap pengkhianat, dan pergerakan kekuasaan istana yang semakin ketat.Nama klan itu langsung membuat telinga Abiyasa terasa lebih tajam. Selama ini, ia hanya mendengar kabar samar bahwa keluarganya hidup dalam damai dan tetap menjaga sumpah yang diwariskan turun-temurun — untuk tidak mencampuri urusan politik dan menahan diri
Zuletzt aktualisiert: 2026-07-06
Mengejar Cinta Puteri Bangsawan

Mengejar Cinta Puteri Bangsawan

DramaBangsawanKerajaanPria DominanPerjalanan WaktuMenguasai DuniaDewa Perang
"Datanglah kembali bersama ayahmu, agar kami bisa mengenal calon besan...." Arjuna, seorang CEO sukses, ditolak melamar Citrangada hanya karena tak bisa menunjukkan siapa ayahnya. Satu-satunya petunjuk adalah sebilah kujang emas yang ditinggalkan di malam terkutuk itu. Kujang itu membawanya melintasi waktu ke masa pasca runtuhnya Kerajaan Pajajaran di mana situasi sedang kacau-balau, memberinya warisan ilmu kuno, dan mempertemukannya dengan pemilik asli. Kini Arjuna dihadapkan pada pilihan sulit, membantu ayahnya merebut kembali kekuasaan, atau membawa dia pulang demi memenuhi syarat lamaran?
Lesen
Chapter: Bab 96. Kemesraan Terpanas
Srikandi perang tergolek lemas di atas rumput. Matanya tampak sayu. Ia mengalami guncangan hebat setelah menyadari apa yang terjadi. Mengapa ia sampai berhalusinasi bercinta dengan seorang ksatria gagah dan tampan? Padahal ksatria pemburu saja enggan bercinta dengannya kalau tak diiming-imingi ringgit. Kemarahan membakar hati srikandi perang. Namun ia sulit bergerak untuk membunuh kingkong yang berdiri penuh kepuasan itu. Tenaganya habis terkuras melayani nafsu binatang itu, ia mungkin sudah mati kalau saja tak mengalir energi aneh dari persenggamaan itu. "Berisik!" sergah Arjuna saat Kong belum berhenti juga dengan erangannya. "Binatang saja muak mendengar eranganmu! Kau ingin membuat kupingku pekak?" Kong berhenti mengerang. Kemudian merapikan jubah dan mendatangi Arjuna yang duduk menunggu di akar besar. "Wangsit palsu itu sungguh memanjakan dirimu," gerutu Arjuna jengkel. "Aku tidak melihat perubahan pada dirimu, selain basah di bawah." "Kau...perhatikan...
Zuletzt aktualisiert: 2025-04-28
Chapter: Bab 95. Percuma Keluar Keringat Bertarung
Permainan pedang srikandi perang sangat hebat, dikombinasikan dengan tendangan dewa yang mengandung chi penuh. Tapi musuh yang dihadapi bukan makhluk bumi, tokoh sakti dari langit yang terkena kutukan. Dalam satu kesempatan Kong berhasil menangkap kaki srikandi perang, ia memutar kaki gempal itu dan mendorongnya. Srikandi perang jatuh terhempas. Kong segera menotok saraf motoriknya, komandan pasukan pemburu itu merasa seluruh ototnya lemas, tak kuasa bangun. "Bedebah!" geram srikandi perang. "Lepaskan totokanmu!" Kong segera membawa srikandi perang ke bawah pohon rindang. Pimpinan ksatria pemburu itu mendelik tanpa kuasa untuk melepaskan diri. Srikandi perang sulit melepaskan diri dari totokan, ia curiga kingkong itu binatang dari langit, totokannya sangat berbeda. Kong membaringkan srikandi perang di atas daun mati. Wanita bertubuh gembrot itu semakin deras memaki. "Jahanam! Apa yang hendak kau lakukan?" Kong segera mempreteli rok zirah srikandi perang. "Antara melaksanakan
Zuletzt aktualisiert: 2025-04-23
Chapter: Bab 94. Jadi Raja Sungguh Enak
Pasukan pemburu bertumbangan kena amuk naga sakti. Pedang mereka tidak mempan untuk melukai, kulit naga seakan membal. Para ksatria itu jadi bulan-bulanan naga sakti. Kematian adalah akhir dari perlawanan mereka, tak satu pun tersisa. Ksatria berjubah biru yang sedang menghadapi Arjuna tampak gentar menyaksikan semua kawannya tewas secara mengenaskan. "Jadi kau pewaris pedang mustika manik?" tanya ksatria berjubah biru. "Bagaimana manusia seperti dirimu terpilih jadi ksatria perang? Kau lebih cocok jadi pangeran dengan dikelilingi puteri cantik jelita, gerakanmu terlalu lembut untuk memainkan pedang." Keunikan ilmu pedang kuno yang dimiliki Arjuna adalah laksana penari memainkan pita, terlihat kurang bertenaga, menitikberatkan pada keseimbangan energi, selaras dengan ilmu tai chi yang dipelajarinya. Sekali terkena pukulan, organ tubuh dalam akan remuk. Pedang di tangan musuh akan terbabat putus dengan aliran chi lebih besar. Ksatria berjubah biru tidak menyadari bahaya itu
Zuletzt aktualisiert: 2025-04-22
Chapter: Bab 93. Kutunggu Janjimu
"Aku ada masalah dengan kejujuran perempuan." Arjuna ingin menyindir Dara Hiti. Empat Iblis Hitam tidak ada maksud jahat kepada dirinya. Mereka hanya ingin mencari perlindungan. Kong seakan siap jadi pelindung mereka, padahal Arjuna mesti turun tangan kalau ia mendapat kesulitan. Mereka ingin memanfaatkan dirinya lewat binatang murah hati itu. Kong takkan mampu mengatasi pasukan pemburu meski dibantu Empat Iblis Hitam. Kemampuan lawan sangat tinggi. Ilmu dewa yang tersisa hanya kemampuan berlari yang luar biasa. "Kapan aku pernah berbohong kepadamu?" tanya Dara Hiti. "Aku pergi ke timur bukan ingin kabur, aku mengambil jalan memutar untuk pergi ke kastil selatan." "Mengambil jalan memutar itu ke tenggara bukan ke timur." Empat Iblis Hitam sebetulnya ingin pergi ke perbatasan Jepara, mereka ingin menunggu perkembangan di Batulayang. Kampung itu jadi daerah paling bergejolak setelah istri Bairawa terbunuh oleh pasukan Senopati Aryaseta. Penyerbuan ke kasti
Zuletzt aktualisiert: 2025-04-21
Chapter: Bab 92. Bermasalah Dengan Perempuan Cantik
Dara Hiti melompat ke udara dan berguling beberapa kali lalu mendarat di dekat Arjuna. Dara Hiti bertanya untuk memastikan, "Kau serius?" Arjuna balik bertanya, "Bukankah kau sudah menyatakan bersedia jadi wanita penghibur? Alangkah baiknya ada pembuktian terlebih dahulu." Dara Hiti tersenyum manis. "Kau keliru kalau ingin menguji diriku dengan melepas kegadisan ku. Siapa pikirmu yang sudi menolak permintaan ksatria tertampan di muka bumi?" Srikandi perang membentak Arjuna, "Siapa kau? Jangan meminta Dara Hiti untuk melakukan perbuatan yang dikecam para dewata! Empat Iblis Hitam bukan ditakdirkan untuk dirimu!" "Nah, aku menginginkan dirimu jadi budak nafsu sahabatku!" "Raja Langit pasti murka! Aku lebih-lebih!" Kong keluar dari arena pertarungan dengan jungkir balik di udara, lalu berdiri di hadapan Arjuna. Dengan bahasa isyarat Kong bertanya, apa maksud Arjuna meminta srikandi perang menjadi budak nafsu? Ia menolak memberi pertunjukan spektakuler secara gratis
Zuletzt aktualisiert: 2025-04-21
Chapter: Bab 91. Tidak Tahu Berterima Kasih
Arjuna memuji kecerdikan Dara Hiti memancing emosi srikandi perang. Ia memanfaatkan dirinya untuk mengeksploitasi suasana. "Aku tahu kau tak pernah berniat menjadi guifei," kata Arjuna pelan. "Kau kira segampang itu berdusta padaku." Arjuna sebenarnya menginginkan Empat Iblis Hitam jadi istri Kong. Barangkali kerelaan mereka jadi istri akan membebaskan dewa kelamin dari kutukan. Satu-satunya cara untuk membebaskan kutukan abadi dengan membuat murka pencipta kutukan itu, di mana terjadi perkawinan manusia dengan binatang. Dewi cinta pasti didesak untuk mencabut kutukannya. Kong bukan pembangkang Raja Langit, ia terjebak situasi akibat kelalaian istrinya. "Ironis sekali," keluh Arjuna. "Dewi cinta sibuk mengatur asmara di bumi tapi asmaranya sendiri ambyar." Kong berusaha keluar dari situasi rumit dengan cara biasa di bumi tapi luar biasa di langit. Ia mencoba memahami situasi lewat asmara dewi lain. Kong terlibat cinta segitiga dengan dewi kelamin, dan banyak berbuat sk
Zuletzt aktualisiert: 2025-04-19
Perjanjian Leluhur

Perjanjian Leluhur

DramaKesatriaPetaniLuar BiasaHaremKekuatan SuperKerajaan
Kisah tentang anak muda yang harus menikah dengan puteri mahkota dari dunia berbeda karena perjanjian leluhur. Segala upaya dilakukan untuk menghindari perjanjian, namun peristiwa demi peristiwa menempanya jadi seorang ksatria, dan semakin mengukuhkan bahwa perjanjian leluhur adalah takdir.
Lesen
Chapter: 397. Puri Abadi
Raden Manggala bersama beberapa pembantu dekatnya mengadakan perjamuan makan malam yang dihadiri dua ratus istrinya. Perempuan-perempuan muda dan cantik itu pergi ke Puri Abadi secara sukarela tanpa sepengetahuan suami atau orang tua sehingga dikabarkan diculik. Kebiasaan jelek warga kampung Luhan adalah menyebarkan berita tanpa menyaring dahulu kebenaran berita itu. Memicu kegaduhan dengan berbagai modus diakui sebagai hak asasi bangsa Luhan. Mereka bangsa yang bodoh. Bangsa yang mencontek sepenuhnya kebebasan dengan mengangkangi norma yang ada. Bangsa Luhan terlihat maju padahal sesungguhnya tengah menuju kehancuran hakikat kebebasan. "Perjuangan takkan pernah padam laksana api abadi," kata Raden Manggala. "Kita tinggalkan para pecundang yang menginginkan imbalan semata. Aku akan berusaha memberikan kehidupan yang lebih baik bagi kalian." Semua wanita yang menghadiri perjamuan tidak tahu kalau hidangan mewah di hadapan mereka adalah hasil rampokan. Mereka mengira semua i
Zuletzt aktualisiert: 2025-03-02
Chapter: 396. Menolak Ampunan
Cakra banyak memiliki waktu senggang. Ia sudah memantau keadaan di jazirah tirta dan jazirah bentala dengan ilmu Tembus Pandang Paripurna dengan kekuatan intisari roh, situasi cukup kondusif. Kelompok pergerakan di perbukitan Luhan bukan ancaman serius secara global, skalanya kecil, dan semakin hilang gemanya setelah harta karun disita untuk negara. Maka itu Cakra tidak keberatan ketika istana mengadakan pesta tujuh hari tujuh malam untuk merayakan ikatan janji suci mereka. "Pesta itu untuk rakyat," kata Nawangwulan. "Kita tidak perlu hadir sepanjang waktu." Mereka meninggalkan kemeriahan pesta dan memilih beristirahat di kamar pengantin. "Adakah kearifan lokal di jazirah tirta yang terlewati?" tanya Cakra. "Di jazirah bentala, malam pertama disaksikan oleh ayah dan ibu mertua." "Di jazirah tirta malam pertama dihabiskan putera mahkota di pesanggrahan ibu mertua, untuk menerima hadiah perkawinan." Sebuah tradisi yang sangat memanjakan Cakra. Ibu Suri terlihat menawan dan
Zuletzt aktualisiert: 2025-03-02
Chapter: 395. Ratu Pengantin
Dengan bantuan energi intisari roh, Cakra berhasil memindahkan harta di kediaman adipati ke rumah Adinda yang kini kosong. "Aku butuh kereta barang untuk mengangkut ke istana," kata Cakra. "Warga kampung Luhan pasti curiga kalau aku sewa kereta barang. Apakah aku minta bantuan Nawangwulan saja?" Ratu Kencana muncul di kamar tirakat. Cakra tersenyum senang. "Kebetulan." "Kebetulan apa?" sergah Ratu Kencana. "Kebetulan kau ingin ditampar?" "Aku butuh kereta barang untuk mengangkut harta karun ke istana. Dapatkah kau menciptakan binatang penarik bertenaga super?" "Tidak ada ilmu yang bisa menciptakan makhluk hidup, kau bisa menciptakan tiruannya." "Lalu kau datang untuk apa?" Plak! Plak! "Aku datang untuk menamparmu!" geram Ratu Kencana. "Aku menjadi gunjingan di langit dan bumi gara-gara dirimu!" Pasti soal bercinta lagi, batin Cakra kecut. Ratu Kencana sangat jengkel dibilang mentransfer ilmu lewat kemesraan. "Kau harusnya memberi klarifikasi
Zuletzt aktualisiert: 2025-03-02
Chapter: 394. Generasi Nasi Bungkus
Kampung Luhan gempar. Penggerebekan rumah Adinda oleh pasukan elit Kotaraja sangat mengejutkan. Gelombang protes muncul secara sporadis. Mereka menganggap penangkapan lima puluh wanita dan beberapa petugas keamanan sangat beraroma politis. Adipati Butong laksana kebakaran jenggot, padahal tidak berjenggot. Ia bukan meredam massa yang berdemo di depan kantor kadipaten, malah semakin membangkitkan amarah. "Tenang! Tenang! Beri saya kesempatan untuk berbicara!" Warga berusaha diam, kebanyakan orang tua perempuan yang ditangkap. Mereka bingung anaknya pergi pesta dansa dicurigai anggota pergerakan. "Saya tidak tahu apa-apa dalam peristiwa itu! Istana tidak berkoordinasi dengan saya! Saya akan mengajukan protes keras pada istana!" "Bukan protes! Bebaskan anak kami! Mereka tidak bersalah!" "Pasukan elit sudah berbuat sewenang-wenang! Mereka membawa anak kami ke Kotaraja untuk mempertanggungjawabkan perbuatan yang tidak mereka lakukan!" "Bebaskan anak kami!" "Bebaskan istri
Zuletzt aktualisiert: 2025-03-02
Chapter: 393. Tuan Khong
"Selamat pagi, Tuan Khong!" Seluruh pelayan di dapur mengangguk hormat menyambut kedatangan kepala koki di pintu masuk. Tuan Khong sangat dihormati di pantry. Ia sangat perhatian pada pegawai. Ia menginginkan kesempurnaan dalam pekerjaan. "Ada yang sakit pagi ini?" "Tidak ada, Tuan Khong." "Bagus." Khong mendatangi Chan Xian yang tengah menyiapkan minuman hangat di dapur minuman. Gadis itu ahli meracik minuman. "Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Khong. "Pagi terindah bagiku," jawab Chan Xian. "Kau pasti mendapat gift universe lagi." Pelayanan kamar yang memuaskan akan menerima uang tip besar dari tamu. Chan Xian adalah primadona di penginapan termewah di Butong dengan tamu kaum bangsawan. Chan Xian terlihat sangat ceria, padahal hatinya menderita. Ia ingin menciptakan citra yang baik di penginapan untuk kelancaran misinya. "Aku dapat sepuluh gift universe pagi ini. Entah karena pelayanan yang memuaskan atau karena kecantikan diriku." "Perempuan cantik selal
Zuletzt aktualisiert: 2025-02-28
Chapter: 392. Bukan Hanya Milik Puteri Mahkota
Hari sudah pagi. Cakra bangun dan pergi mandi, kemudian berpakaian. Jie masih tertidur pulas di bawah selimut di pembaringan. Cakra menghubungi Nawangwulan lewat Sambung Kalbu. "Sayang!" pekik puteri mahkota Segara gembira. "Ada apa menghubungi aku?" "Biasanya panggil kang mas." "Aku merasa ada jarak, formil banget, padahal sebentar lagi kita tanpa jarak." Cakra sepakat, panggilan tidak mengurangi rasa hormat kepada pasangan, tergantung bagaimana menempatkan diri. "Aku ada informasi penting," kata Cakra. "Lima puluh istri Manggala akan mengadakan pertemuan rahasia di rumah Adinda, kepala front office kastil Teratai, dengan modus party dance." "Sayang ... kau berada di kampung Luhan?" "Ikan paus membawa diriku ke mari." "Ia ratu siluman paus. Ia sering menolong kesatria yang ingin berkunjung ke negeriku." "Tapi jutek banget." Nawangwulan tertawa lembut. "Ratu Paus biasanya minta upah ... barangkali ia sungkan karena kau calon garwaku, ia jadi bete." "Da
Zuletzt aktualisiert: 2025-02-28
Das könnte dir auch gefallen
The Shadow: Rahasia Abadi
The Shadow: Rahasia Abadi
Pendekar · Shofi Nur Hidayah
2.1K Aufrufe
Raja Agung Nayaka Manggala
Raja Agung Nayaka Manggala
Pendekar · Maulana Yuandra
2.1K Aufrufe
Sang Gula Kelapa di Langit Kahuripan
Sang Gula Kelapa di Langit Kahuripan
Pendekar · Tiara Triangelina
2.1K Aufrufe
Pendekar Spirit Naga
Pendekar Spirit Naga
Pendekar · Cici aremanita
2.0K Aufrufe
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status