Mengejar Cinta Puteri Bangsawan

Mengejar Cinta Puteri Bangsawan

last updateÚltima atualização : 2025-04-28
Por:  Enday HidayatEm andamento
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
10 classificações. 10 avaliações
96Capítulos
2.9Kvisualizações
Ler
Adicionar à biblioteca

Compartilhar:  

Denunciar
Visão geral
Catálogo
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP

"Aku butuh bapakmu! Bukan mahar sekeranjang!" Arjuna pusing diminta datang bersama ayahnya sebagai persyaratan untuk melamar puteri dari klan bangsawan. Padahal ia tidak tahu di mana ayahnya berada. Arjuna berusaha mencari ayahnya dengan berbekal kujang emas yang tertinggal di malam terkutuk itu. Satu peristiwa membawa Arjuna ke zaman kerajaan di mana situasi sedang kacau, ia mendapat warisan ilmu kuno untuk menguasai dunia. Dapatkah Arjuna menemukan bapaknya dan hidup bersanding dengan puteri bangsawan?

Ver mais

Capítulo 1

Bab 1. Siapa Sebenarnya Ayahku?

“Aku tidak tahu siapa bapakmu!”

Suara Dewi Priti meledak, memecah keheningan ruang tamu yang luas dan mewah itu. Nada bicaranya bercampur amarah, lelah, dan kepedihan yang sudah dipendam selama lebih dari dua puluh lima tahun. Di hadapannya, Arjuna—putra satu-satunya yang kini menjabat sebagai CEO perusahaan keluarga yang bernilai triliunan rupiah—hanya bisa menunduk.

Pertanyaan itu bukan hal baru bagi mereka; pertanyaan yang sama dari masa kanak-kanak hingga kini saat ia berada di ambang pintu menuju masa depan yang gemilang.

Sejak usia dini, Arjuna mulai sadar ada yang berbeda dalam hidupnya. Saat teman-teman TK-nya diantar jemput oleh sosok laki-laki yang mereka sebut ayah, ia hanya melihat sosok ibunya yang selalu datang sendirian.

Ia sering bertanya, “Bu, di mana ayahku? Kenapa dia tidak pernah datang?”

Namun jawaban yang diterimanya hanya diam, pandangan kosong, atau penjelasan samar yang tidak pernah memuaskan rasa ingin tahunya. Seiring bertambahnya usia, pertanyaan itu tidak memudar, justru tumbuh semakin besar, menjadi luka batin yang perlahan menganga.

Kini, persoalan itu jadi masalah yang mendesak. Arjuna hendak melamar Citrangada, gadis yang dicintainya selama lima tahun terakhir sejak mereka sama-sama menempuh persiapan pendidikan magister di Boston. Ia adalah pewaris tunggal dinasti Angada, salah satu keluarga pengusaha paling berpengaruh dan dihormati di Jakarta.

Ketika Arjuna datang untuk menyampaikan lamaran, mereka tidak menolak secara terang-terangan, Angada mengajukan satu syarat yang sederhana namun terasa mustahil:

"Datanglah kembali bersama ayahmu," ujarnya, "agar kami bisa mengenal calon besan dan memastikan latar belakang keluarga dengan jelas."

Kata-kata Nyonya Angada bahkan terasa menyakitkan. "Aku butuh bapakmu! Bukan mahar sekeranjang!"

Maka, acara lamaran pun ditunda hingga bulan depan. Bagi keluarga Angada, kehormatan dan asal-usul adalah hal yang tidak bisa ditawar.

“Aku tidak pernah bertemu lagi sejak malam terkutuk itu,” suara Dewi Priti terdengar lirih, seolah terlempar ke masa silam yang kelam.

Dua puluh lima tahun silam, saat itu usianya baru menginjak delapan belas tahun. Ia baru saja lulus sekolah menengah atas dan merayakannya bersama sekelompok teman di sebuah diskotek mewah yang terhubung dengan hotel bintang lima di pusat kota.

Malam itu, suasana riang berubah menjadi mimpi buruk. Tanpa sepengetahuannya, minuman yang ia terima telah dicampuri obat perangsang. Dalam kesadaran yang mulai mengabur dan tubuh yang terasa lepas kendali, ia berjalan terhuyung-huyung menuju koridor hotel.

"Tolonglah aku, Tuan!"

Di depan pintu kamar, ia bertemu seorang pria berpakaian rapi, terlihat sebagai eksekutif muda yang baru pulang dari rapat bisnis. Dalam keadaan yang tidak terkendali, ia masuk kamar dan meluapkan hasrat yang menguasai dirinya. Ia tidak ingat dengan jelas wajah pria itu, hanya sekilas bayangan sosok yang terlihat terkejut, dan terjadi percakapan singkat yang tidak tertangkap ingatannya.

Cinta satu malam itu berubah menjadi bencana besar bagi masa depannya. Beberapa minggu kemudian, ia menyadari dirinya hamil. Di tengah tekanan norma keluarga dan kehormatan nama besar keluarga Kartawirya, ia tidak punya pilihan.

"Tinggallah di bungalow yang baru dibangun olehku," kata ayahnya. "Aku tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan kehormatan keluarga."

Ia dikirim ke sebuah desa terpencil di kaki gunung, dijauhkan dari lingkungan sosial, agar rahasia itu tetap terkubur. Bertahun-tahun ia tinggal di sana, melahirkan dan membesarkan Arjuna dengan bantuan beberapa pelayan setia.

Begitu kondisi memungkinkan, ia kembali ke Jakarta, membangun usaha dari nol hingga menjadi pengusaha sukses yang dihormati banyak orang. Namun satu hal yang tak pernah berubah: ia terus mencari jejak pria yang menjadi asal mula kehamilannya.

Ia mendatangi kembali hotel itu, bertanya kepada setiap pegawai yang bekerja saat itu, memeriksa daftar tamu, melacak alamat yang tertera di buku pendaftaran, namun semuanya sia-sia. Sosok pria itu seolah tidak pernah ada, meninggalkan jejak yang hilang tanpa bekas.

“Carilah calon istri yang tidak peduli siapa ayahmu!” bentak Dewi Priti, matanya berkaca-kaca karena frustasi. “Perempuan di dunia ini tidak hanya anak ningrat bernama Citra saja!”

Arjuna terduduk lemas di sofa beludru cokelat tua. Tubuhnya terasa berat, seolah memikul beban yang tak terlihat tapi sangat nyata. Ia mencoba memahami logika ibunya, namun semakin dipikirkan, semakin banyak tanda tanya yang muncul.

Ibunya memiliki jaringan luas dan kekayaan yang cukup untuk menyelesaikan berbagai urusan, namun gagal menemukan satu orang saja selama seperempat abad! Keraguan mulai merayap masuk ke dalam hatinya. Ia mulai berpikir apakah ibunya terlibat dalam pesta bebas, sehingga sulit menentukan siapa pria yang bertanggung jawab.

Saat ia mengusulkan untuk tes DNA agar bisa melacak silsilah, ibunya menolak dengan tegas. “Aku hanya berhubungan dengan satu orang saja malam itu, tidak ada pria lain. Mungkin pria itu sengaja mendaftar dengan nama palsu, atau pegawai yang sudah dipecat dan biodatanya sudah dihapus.”

Arjuna melakukan tes DNA secara diam-diam, namun tidak ada yang cocok dengan database global.

“Citra adalah cintaku,” ujar Arjuna dengan suara penuh kepedihan. “Kalau aku tidak bisa hidup bersamanya, lebih baik aku jadi bujang lapuk selamanya.”

Cinta mereka telah teruji selama lima tahun. Di Regis Residences, mereka saling mendukung, berbagi mimpi, dan merencanakan masa depan. Kini, ketika mimpi itu hampir terwujud, sebuah tembok besar menghadang.

Keluarga Angada tidak meminta mahar yang melampaui batas, mereka hanya meminta kepastian asal-usul. Bagi keluarga bangsawan, kehormatan lebih berharga daripada sekeranjang uang.

“Jangan jadi laki-laki bodoh yang mempertaruhkan masa depan hanya karena satu perempuan,” tegur Dewi Priti. “Masih banyak gadis lain yang berasal dari keluarga terhormat yang akan menerima dirimu apa adanya.”

Arjuna menatap ibunya dalam-dalam, lalu mengajukan pertanyaan yang selama ini terpendam di hatinya. “Kenapa Ibu sendiri tidak menikah lagi? Selama ini banyak pria yang datang melamar, bahkan ada yang lebih terhormat daripada siapa pun yang menjadi ayahku. Mengapa Ibu tetap memilih hidup sendirian?”

Pertanyaan itu menusuk tepat ke jantung Dewi Priti. Ia terdiam, napasnya terasa sesak.

“Karena aku bersumpah pada diriku sendiri,” jawabnya perlahan. “Aku ingin memastikan kau memiliki identitas yang jelas. Aku ingin suatu hari kau bisa diakui sebagai bagian dari klan Kartawirya, bukan dipandang sebelah mata. Aku tidak ingin kau merasakan rasa malu yang pernah aku rasakan saat dikucilkan keluarga sendiri.”

Namun kenyataannya, usahanya selama bertahun-tahun hanya berujung pada ketidakpastian. Pria itu seperti debu yang tertiup angin, hilang tanpa jejak.

“Tidak ada cinta antara aku dan bapakmu,” lanjutnya dengan nada getir. “Kau lahir bukan dari hubungan yang direncanakan, melainkan dari sebuah kesalahan yang menyakitkan.”

“Aku tidak membenci Ibu meskipun cerita ini terasa aneh,” jawab Arjuna tenang. “Aku hanya ingin satu kejelasan. Aku mencarinya bukan hanya demi melamar Citra, tapi demi diriku sendiri. Aku ingin tahu siapa diriku sebenarnya, agar aku bisa diakui oleh keluarga besarku, klan Kartawirya, yang hingga kini masih memandangku sebagai anak di luar nikah.”

Kata-kata itu sangat menusuk hati Dewi Priti.

“Jangan menghina ibumu dengan kecurigaan yang tidak berdasar!” serunya dengan nada tinggi. “Aku tidak pernah disentuh pria lain selain lelaki malam itu! Kau harus percaya padaku!”

“Bagaimana aku bisa percaya kalau namanya saja tidak pernah disebutkan?” balas Arjuna, suaranya mulai meninggi karena emosi yang memuncak. “Beruntung kita punya harta dan kekuasaan, sehingga orang-orang masih bersikap hormat. Coba bayangkan jika kita miskin, mungkin aku tidak bisa memiliki KTP untuk mendapatkan tempat tinggal secara layak.”

“Katakan saja pada mereka ayahmu sudah meninggal dunia, supaya tidak menimbulkan pertanyaan lagi,” keluh Dewi Priti dengan nada putus asa.

“Aku memilih menghadapi kerumitan masalah, daripada hidup dalam kebohongan yang akan menghantui seumur hidup,” jawab Arjuna tegas.

Maka itu Arjuna meminta waktu tambahan sebulan kepada keluarga Angada. Ia beralasan bahwa ayahnya sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis yang sangat mendesak dan baru bisa pulang pada bulan depan. Kebohongan itu ia ucapkan dengan berat hati, namun itu satu-satunya cara agar ia punya waktu untuk mencari jawaban.

“Mereka mungkin mengira ayahmu adalah agen rahasia atau pejabat penting yang identitasnya harus dijaga,” kata Dewi Priti sambil menggelengkan kepala.

“Yang penting aku punya waktu,” jawab Arjuna. “Aku telah mempertaruhkan kepercayaan Citra dan keluarganya. Jika dalam waktu sebulan ini aku tidak menemukan apa pun, bukan hanya lamaran yang gagal, nama baikku juga akan tercemar.”

“Bagaimana pendapat Citra sendiri?” tanya Dewi Priti. “Apakah dia bersedia menerima dirimu jika nanti terbukti ayahmu tidak pernah ditemukan dan kita tidak bisa memberikan kepastian apa pun?”

“Citra bilang ia hanya melihat cintaku,” jawab Arjuna, seperti ingin meyakinkan dirinya sendiri. Ia tahu, meskipun cinta itu tulus, tekanan dari lingkungan keluarga dan masyarakat sering kali lebih kuat daripada perasaan semata.

“Kalau begitu, bawa Lukas saja nanti,” usul Dewi Priti tiba-tiba.

Arjuna mengernyitkan dahi. Lukas adalah manajer rumah yang sudah bekerja sejak sebelum ia lahir. Pria tua itu setia dan jujur, bahkan pernah menjadi 'suami pura-pura' ibunya saat masa pengasingan di desa terpencil itu.

Ia sempat memiliki kecurigaan di masa remajanya, bahwa Lukas sebenarnya ayah kandungnya dan ibunya menutupi rahasia itu. Namun tes DNA membuktikan dugaan itu salah.

“Haruskah aku berbohong lagi demi membangun rumah tangga yang seharusnya dibangun di atas kejujuran?” gumam Arjuna.

“Kau sudah memulai dengan satu kebohongan, lanjutkan saja agar tidak hancur semuanya,” kata ibunya. “Atau kau punya rencana lain untuk mencari ayahmu?”

Arjuna berdiri dan melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota yang mulai berkelap-kelip lampu malam. Di luar sana, jutaan orang hidup dengan cerita dan rahasia masing-masing.

Ia merasakan jantungnya berdegup kencang, menyadari bahwa tantangan yang ia hadapi tidaklah mudah. Waktu hanya tersisa dua puluh enam hari. Ia tidak tahu harus mulai dari mana, apakah pria itu masih hidup, atau mungkin telah lama meninggal dunia, membawa rahasia itu ke liang kubur.

Ia memandang bayangannya sendiri di kaca jendela, lalu menoleh ke arah ibunya yang duduk termenung dengan tatapan kosong. Ada begitu banyak keraguan yang tergantung di udara.

"Ke mana aku harus mencari ayahku?"

Expandir
Próximo capítulo
Baixar

Último capítulo

Mais capítulos

Para os leitores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

avaliaçõesMais

Enday Hidayat
Enday Hidayat
Actually, writing a story like this is not my style, I'm afraid I'll lose my way if you let me.
2025-04-29 00:06:54
2
0
Enday Hidayat
Enday Hidayat
I don't ask much from you, because I don't give much to you. I'm just waiting for positive comments and criticisms, as well as other things that can be given, to ignite the spirit in writing this story.
2025-04-29 00:03:42
1
0
Enday Hidayat
Enday Hidayat
The writer lacks energy, but his fingers continue to tell the story even though they are faltering.
2025-04-21 11:13:56
1
0
Enday Hidayat
Enday Hidayat
Hari ini dan esok gak update
2025-03-11 17:19:24
1
0
Enday Hidayat
Enday Hidayat
Maaf ya kalau namanya bikin galfok.
2025-03-05 01:58:27
1
0
96 Capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status