FAZER LOGIN"Aku butuh bapakmu! Bukan mahar sekeranjang!" Arjuna pusing diminta datang bersama ayahnya sebagai persyaratan untuk melamar puteri dari klan bangsawan. Padahal ia tidak tahu di mana ayahnya berada. Arjuna berusaha mencari ayahnya dengan berbekal kujang emas yang tertinggal di malam terkutuk itu. Satu peristiwa membawa Arjuna ke zaman kerajaan di mana situasi sedang kacau, ia mendapat warisan ilmu kuno untuk menguasai dunia. Dapatkah Arjuna menemukan bapaknya dan hidup bersanding dengan puteri bangsawan?
Ver mais“Aku tidak tahu siapa bapakmu!”
Suara Dewi Priti meledak, memecah keheningan ruang tamu yang luas dan mewah itu. Nada bicaranya bercampur amarah, lelah, dan kepedihan yang sudah dipendam selama lebih dari dua puluh lima tahun. Di hadapannya, Arjuna—putra satu-satunya yang kini menjabat sebagai CEO perusahaan keluarga yang bernilai triliunan rupiah—hanya bisa menunduk. Pertanyaan itu bukan hal baru bagi mereka; pertanyaan yang sama dari masa kanak-kanak hingga kini saat ia berada di ambang pintu menuju masa depan yang gemilang. Sejak usia dini, Arjuna mulai sadar ada yang berbeda dalam hidupnya. Saat teman-teman TK-nya diantar jemput oleh sosok laki-laki yang mereka sebut ayah, ia hanya melihat sosok ibunya yang selalu datang sendirian. Ia sering bertanya, “Bu, di mana ayahku? Kenapa dia tidak pernah datang?” Namun jawaban yang diterimanya hanya diam, pandangan kosong, atau penjelasan samar yang tidak pernah memuaskan rasa ingin tahunya. Seiring bertambahnya usia, pertanyaan itu tidak memudar, justru tumbuh semakin besar, menjadi luka batin yang perlahan menganga. Kini, persoalan itu jadi masalah yang mendesak. Arjuna hendak melamar Citrangada, gadis yang dicintainya selama lima tahun terakhir sejak mereka sama-sama menempuh persiapan pendidikan magister di Boston. Ia adalah pewaris tunggal dinasti Angada, salah satu keluarga pengusaha paling berpengaruh dan dihormati di Jakarta. Ketika Arjuna datang untuk menyampaikan lamaran, mereka tidak menolak secara terang-terangan, Angada mengajukan satu syarat yang sederhana namun terasa mustahil: "Datanglah kembali bersama ayahmu," ujarnya, "agar kami bisa mengenal calon besan dan memastikan latar belakang keluarga dengan jelas." Kata-kata Nyonya Angada bahkan terasa menyakitkan. "Aku butuh bapakmu! Bukan mahar sekeranjang!" Maka, acara lamaran pun ditunda hingga bulan depan. Bagi keluarga Angada, kehormatan dan asal-usul adalah hal yang tidak bisa ditawar. “Aku tidak pernah bertemu lagi sejak malam terkutuk itu,” suara Dewi Priti terdengar lirih, seolah terlempar ke masa silam yang kelam. Dua puluh lima tahun silam, saat itu usianya baru menginjak delapan belas tahun. Ia baru saja lulus sekolah menengah atas dan merayakannya bersama sekelompok teman di sebuah diskotek mewah yang terhubung dengan hotel bintang lima di pusat kota. Malam itu, suasana riang berubah menjadi mimpi buruk. Tanpa sepengetahuannya, minuman yang ia terima telah dicampuri obat perangsang. Dalam kesadaran yang mulai mengabur dan tubuh yang terasa lepas kendali, ia berjalan terhuyung-huyung menuju koridor hotel. "Tolonglah aku, Tuan!" Di depan pintu kamar, ia bertemu seorang pria berpakaian rapi, terlihat sebagai eksekutif muda yang baru pulang dari rapat bisnis. Dalam keadaan yang tidak terkendali, ia masuk kamar dan meluapkan hasrat yang menguasai dirinya. Ia tidak ingat dengan jelas wajah pria itu, hanya sekilas bayangan sosok yang terlihat terkejut, dan terjadi percakapan singkat yang tidak tertangkap ingatannya. Cinta satu malam itu berubah menjadi bencana besar bagi masa depannya. Beberapa minggu kemudian, ia menyadari dirinya hamil. Di tengah tekanan norma keluarga dan kehormatan nama besar keluarga Kartawirya, ia tidak punya pilihan. "Tinggallah di bungalow yang baru dibangun olehku," kata ayahnya. "Aku tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan kehormatan keluarga." Ia dikirim ke sebuah desa terpencil di kaki gunung, dijauhkan dari lingkungan sosial, agar rahasia itu tetap terkubur. Bertahun-tahun ia tinggal di sana, melahirkan dan membesarkan Arjuna dengan bantuan beberapa pelayan setia. Begitu kondisi memungkinkan, ia kembali ke Jakarta, membangun usaha dari nol hingga menjadi pengusaha sukses yang dihormati banyak orang. Namun satu hal yang tak pernah berubah: ia terus mencari jejak pria yang menjadi asal mula kehamilannya. Ia mendatangi kembali hotel itu, bertanya kepada setiap pegawai yang bekerja saat itu, memeriksa daftar tamu, melacak alamat yang tertera di buku pendaftaran, namun semuanya sia-sia. Sosok pria itu seolah tidak pernah ada, meninggalkan jejak yang hilang tanpa bekas. “Carilah calon istri yang tidak peduli siapa ayahmu!” bentak Dewi Priti, matanya berkaca-kaca karena frustasi. “Perempuan di dunia ini tidak hanya anak ningrat bernama Citra saja!” Arjuna terduduk lemas di sofa beludru cokelat tua. Tubuhnya terasa berat, seolah memikul beban yang tak terlihat tapi sangat nyata. Ia mencoba memahami logika ibunya, namun semakin dipikirkan, semakin banyak tanda tanya yang muncul. Ibunya memiliki jaringan luas dan kekayaan yang cukup untuk menyelesaikan berbagai urusan, namun gagal menemukan satu orang saja selama seperempat abad! Keraguan mulai merayap masuk ke dalam hatinya. Ia mulai berpikir apakah ibunya terlibat dalam pesta bebas, sehingga sulit menentukan siapa pria yang bertanggung jawab. Saat ia mengusulkan untuk tes DNA agar bisa melacak silsilah, ibunya menolak dengan tegas. “Aku hanya berhubungan dengan satu orang saja malam itu, tidak ada pria lain. Mungkin pria itu sengaja mendaftar dengan nama palsu, atau pegawai yang sudah dipecat dan biodatanya sudah dihapus.” Arjuna melakukan tes DNA secara diam-diam, namun tidak ada yang cocok dengan database global. “Citra adalah cintaku,” ujar Arjuna dengan suara penuh kepedihan. “Kalau aku tidak bisa hidup bersamanya, lebih baik aku jadi bujang lapuk selamanya.” Cinta mereka telah teruji selama lima tahun. Di Regis Residences, mereka saling mendukung, berbagi mimpi, dan merencanakan masa depan. Kini, ketika mimpi itu hampir terwujud, sebuah tembok besar menghadang. Keluarga Angada tidak meminta mahar yang melampaui batas, mereka hanya meminta kepastian asal-usul. Bagi keluarga bangsawan, kehormatan lebih berharga daripada sekeranjang uang. “Jangan jadi laki-laki bodoh yang mempertaruhkan masa depan hanya karena satu perempuan,” tegur Dewi Priti. “Masih banyak gadis lain yang berasal dari keluarga terhormat yang akan menerima dirimu apa adanya.” Arjuna menatap ibunya dalam-dalam, lalu mengajukan pertanyaan yang selama ini terpendam di hatinya. “Kenapa Ibu sendiri tidak menikah lagi? Selama ini banyak pria yang datang melamar, bahkan ada yang lebih terhormat daripada siapa pun yang menjadi ayahku. Mengapa Ibu tetap memilih hidup sendirian?” Pertanyaan itu menusuk tepat ke jantung Dewi Priti. Ia terdiam, napasnya terasa sesak. “Karena aku bersumpah pada diriku sendiri,” jawabnya perlahan. “Aku ingin memastikan kau memiliki identitas yang jelas. Aku ingin suatu hari kau bisa diakui sebagai bagian dari klan Kartawirya, bukan dipandang sebelah mata. Aku tidak ingin kau merasakan rasa malu yang pernah aku rasakan saat dikucilkan keluarga sendiri.” Namun kenyataannya, usahanya selama bertahun-tahun hanya berujung pada ketidakpastian. Pria itu seperti debu yang tertiup angin, hilang tanpa jejak. “Tidak ada cinta antara aku dan bapakmu,” lanjutnya dengan nada getir. “Kau lahir bukan dari hubungan yang direncanakan, melainkan dari sebuah kesalahan yang menyakitkan.” “Aku tidak membenci Ibu meskipun cerita ini terasa aneh,” jawab Arjuna tenang. “Aku hanya ingin satu kejelasan. Aku mencarinya bukan hanya demi melamar Citra, tapi demi diriku sendiri. Aku ingin tahu siapa diriku sebenarnya, agar aku bisa diakui oleh keluarga besarku, klan Kartawirya, yang hingga kini masih memandangku sebagai anak di luar nikah.” Kata-kata itu sangat menusuk hati Dewi Priti. “Jangan menghina ibumu dengan kecurigaan yang tidak berdasar!” serunya dengan nada tinggi. “Aku tidak pernah disentuh pria lain selain lelaki malam itu! Kau harus percaya padaku!” “Bagaimana aku bisa percaya kalau namanya saja tidak pernah disebutkan?” balas Arjuna, suaranya mulai meninggi karena emosi yang memuncak. “Beruntung kita punya harta dan kekuasaan, sehingga orang-orang masih bersikap hormat. Coba bayangkan jika kita miskin, mungkin aku tidak bisa memiliki KTP untuk mendapatkan tempat tinggal secara layak.” “Katakan saja pada mereka ayahmu sudah meninggal dunia, supaya tidak menimbulkan pertanyaan lagi,” keluh Dewi Priti dengan nada putus asa. “Aku memilih menghadapi kerumitan masalah, daripada hidup dalam kebohongan yang akan menghantui seumur hidup,” jawab Arjuna tegas. Maka itu Arjuna meminta waktu tambahan sebulan kepada keluarga Angada. Ia beralasan bahwa ayahnya sedang berada di luar negeri untuk urusan bisnis yang sangat mendesak dan baru bisa pulang pada bulan depan. Kebohongan itu ia ucapkan dengan berat hati, namun itu satu-satunya cara agar ia punya waktu untuk mencari jawaban. “Mereka mungkin mengira ayahmu adalah agen rahasia atau pejabat penting yang identitasnya harus dijaga,” kata Dewi Priti sambil menggelengkan kepala. “Yang penting aku punya waktu,” jawab Arjuna. “Aku telah mempertaruhkan kepercayaan Citra dan keluarganya. Jika dalam waktu sebulan ini aku tidak menemukan apa pun, bukan hanya lamaran yang gagal, nama baikku juga akan tercemar.” “Bagaimana pendapat Citra sendiri?” tanya Dewi Priti. “Apakah dia bersedia menerima dirimu jika nanti terbukti ayahmu tidak pernah ditemukan dan kita tidak bisa memberikan kepastian apa pun?” “Citra bilang ia hanya melihat cintaku,” jawab Arjuna, seperti ingin meyakinkan dirinya sendiri. Ia tahu, meskipun cinta itu tulus, tekanan dari lingkungan keluarga dan masyarakat sering kali lebih kuat daripada perasaan semata. “Kalau begitu, bawa Lukas saja nanti,” usul Dewi Priti tiba-tiba. Arjuna mengernyitkan dahi. Lukas adalah manajer rumah yang sudah bekerja sejak sebelum ia lahir. Pria tua itu setia dan jujur, bahkan pernah menjadi 'suami pura-pura' ibunya saat masa pengasingan di desa terpencil itu. Ia sempat memiliki kecurigaan di masa remajanya, bahwa Lukas sebenarnya ayah kandungnya dan ibunya menutupi rahasia itu. Namun tes DNA membuktikan dugaan itu salah. “Haruskah aku berbohong lagi demi membangun rumah tangga yang seharusnya dibangun di atas kejujuran?” gumam Arjuna. “Kau sudah memulai dengan satu kebohongan, lanjutkan saja agar tidak hancur semuanya,” kata ibunya. “Atau kau punya rencana lain untuk mencari ayahmu?” Arjuna berdiri dan melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota yang mulai berkelap-kelip lampu malam. Di luar sana, jutaan orang hidup dengan cerita dan rahasia masing-masing. Ia merasakan jantungnya berdegup kencang, menyadari bahwa tantangan yang ia hadapi tidaklah mudah. Waktu hanya tersisa dua puluh enam hari. Ia tidak tahu harus mulai dari mana, apakah pria itu masih hidup, atau mungkin telah lama meninggal dunia, membawa rahasia itu ke liang kubur. Ia memandang bayangannya sendiri di kaca jendela, lalu menoleh ke arah ibunya yang duduk termenung dengan tatapan kosong. Ada begitu banyak keraguan yang tergantung di udara. "Ke mana aku harus mencari ayahku?"Srikandi perang tergolek lemas di atas rumput. Matanya tampak sayu. Ia mengalami guncangan hebat setelah menyadari apa yang terjadi. Mengapa ia sampai berhalusinasi bercinta dengan seorang ksatria gagah dan tampan? Padahal ksatria pemburu saja enggan bercinta dengannya kalau tak diiming-imingi ringgit. Kemarahan membakar hati srikandi perang. Namun ia sulit bergerak untuk membunuh kingkong yang berdiri penuh kepuasan itu. Tenaganya habis terkuras melayani nafsu binatang itu, ia mungkin sudah mati kalau saja tak mengalir energi aneh dari persenggamaan itu. "Berisik!" sergah Arjuna saat Kong belum berhenti juga dengan erangannya. "Binatang saja muak mendengar eranganmu! Kau ingin membuat kupingku pekak?" Kong berhenti mengerang. Kemudian merapikan jubah dan mendatangi Arjuna yang duduk menunggu di akar besar. "Wangsit palsu itu sungguh memanjakan dirimu," gerutu Arjuna jengkel. "Aku tidak melihat perubahan pada dirimu, selain basah di bawah." "Kau...perhatikan...
Permainan pedang srikandi perang sangat hebat, dikombinasikan dengan tendangan dewa yang mengandung chi penuh. Tapi musuh yang dihadapi bukan makhluk bumi, tokoh sakti dari langit yang terkena kutukan. Dalam satu kesempatan Kong berhasil menangkap kaki srikandi perang, ia memutar kaki gempal itu dan mendorongnya. Srikandi perang jatuh terhempas. Kong segera menotok saraf motoriknya, komandan pasukan pemburu itu merasa seluruh ototnya lemas, tak kuasa bangun. "Bedebah!" geram srikandi perang. "Lepaskan totokanmu!" Kong segera membawa srikandi perang ke bawah pohon rindang. Pimpinan ksatria pemburu itu mendelik tanpa kuasa untuk melepaskan diri. Srikandi perang sulit melepaskan diri dari totokan, ia curiga kingkong itu binatang dari langit, totokannya sangat berbeda. Kong membaringkan srikandi perang di atas daun mati. Wanita bertubuh gembrot itu semakin deras memaki. "Jahanam! Apa yang hendak kau lakukan?" Kong segera mempreteli rok zirah srikandi perang. "Antara melaksanakan
Pasukan pemburu bertumbangan kena amuk naga sakti. Pedang mereka tidak mempan untuk melukai, kulit naga seakan membal. Para ksatria itu jadi bulan-bulanan naga sakti. Kematian adalah akhir dari perlawanan mereka, tak satu pun tersisa. Ksatria berjubah biru yang sedang menghadapi Arjuna tampak gentar menyaksikan semua kawannya tewas secara mengenaskan. "Jadi kau pewaris pedang mustika manik?" tanya ksatria berjubah biru. "Bagaimana manusia seperti dirimu terpilih jadi ksatria perang? Kau lebih cocok jadi pangeran dengan dikelilingi puteri cantik jelita, gerakanmu terlalu lembut untuk memainkan pedang." Keunikan ilmu pedang kuno yang dimiliki Arjuna adalah laksana penari memainkan pita, terlihat kurang bertenaga, menitikberatkan pada keseimbangan energi, selaras dengan ilmu tai chi yang dipelajarinya. Sekali terkena pukulan, organ tubuh dalam akan remuk. Pedang di tangan musuh akan terbabat putus dengan aliran chi lebih besar. Ksatria berjubah biru tidak menyadari bahaya itu
"Aku ada masalah dengan kejujuran perempuan." Arjuna ingin menyindir Dara Hiti. Empat Iblis Hitam tidak ada maksud jahat kepada dirinya. Mereka hanya ingin mencari perlindungan. Kong seakan siap jadi pelindung mereka, padahal Arjuna mesti turun tangan kalau ia mendapat kesulitan. Mereka ingin memanfaatkan dirinya lewat binatang murah hati itu. Kong takkan mampu mengatasi pasukan pemburu meski dibantu Empat Iblis Hitam. Kemampuan lawan sangat tinggi. Ilmu dewa yang tersisa hanya kemampuan berlari yang luar biasa. "Kapan aku pernah berbohong kepadamu?" tanya Dara Hiti. "Aku pergi ke timur bukan ingin kabur, aku mengambil jalan memutar untuk pergi ke kastil selatan." "Mengambil jalan memutar itu ke tenggara bukan ke timur." Empat Iblis Hitam sebetulnya ingin pergi ke perbatasan Jepara, mereka ingin menunggu perkembangan di Batulayang. Kampung itu jadi daerah paling bergejolak setelah istri Bairawa terbunuh oleh pasukan Senopati Aryaseta. Penyerbuan ke kasti
Empat Iblis Hitam siap menjalankan perintah Arjuna untuk membebaskan tawanan wanita di kastil selatan. Mereka juga bersedia memenuhi permintaan ksatria itu untuk jadi istri kingkong. "Barangkali sudah takdir kami," kata Dara Hiti. "Aku menganggap ucapanmu adalah lamaran bagi kami." Arjuna terkejut
Arjuna berkelebat maju. Pedang mustika manik meliuk-liuk mengincar titik kelemahan Kalapati, tokoh sakti istana itu berusaha menangkis dengan celurit. Trang! Trang! Bunga api berhamburan dari bentrokan senjata, mewarnai siluet kebiruan dan kemerahan laksana kembang api. Kalapati terkejut merasaka
Dara Hiti berkata, "Aku harus mempercayai teman seperjalanan. Maka itu aku bercerita kepadamu." Setelah bertemu dengan penghubung nanti, mereka akan melakukan perjalanan ke Jepara. Arjuna mencari pintu dimensi untuk pulang ke masa depan, Dara Hiti mencari rumah untuk tinggal sebagai warga J
Arjuna merasa kepalanya pening. Ia sulit menerima kenyataan itu. Ia curiga ibunya sudah mengetahui siapa ayahnya, karena seorang pembesar maka dirahasiakan. Pria yang dicari selama puluhan tahun ada di depan mata. Arjuna sering melihatnya di media elektronik. "Aku mesti segera pulang,"


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliaçõesMais