Chapter: Serpihan Jawaban Amy masih berdiri di tengah-tengah ruangan, area yang semula terang mendadak menjadi redup. Sekitar mereka hanya diterangi oleh cahaya lilin yang berkelap-kelip di dinding. Di hadapannya, terhampar sembilan boneka cantik dengan penampilan dan gaya yang berbeda. Setiap boneka entah bagaimana tampak bersinar dengan cahaya aneh, seolah-olah menyimpan rahasia yang tersembunyi di dalamnya. Gadis kecil yang mudah marah maupun tertawa itu berdiri di sisi lain ruangan, matanya yang tajam mengawasi setiap gerakan Amy.Gadis aneh itu tersenyum miring, wajahnya berubah-ubah antara kegelapan dan kegilaan. "Pilihlah, tuan putri," katanya dengan suara yang menggema di ruangan itu. "Tapi dengan satu syarat.""Apa itu?""Salah satu boneka ini memiliki benda yang Anda cari. Pil keabadian. Tuan putri hanya boleh memilih satu kali dan ingat, setiap pilihan memiliki konsekuensi."Amy merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Dia melangkah mendekati boneka-boneka itu, tangannya gemetar saat dia m
Last Updated: 2024-07-12
Chapter: Penghuni Pintu MerahDi tepi danau yang tenang, sinar bulan menerobos melalui dedaunan, menciptakan bayangan yang indah di permukaan air. Di tengah hutan yang sunyi, Amy dan Rain bertemu setelah berpisah selama beberapa waktu.Amy dengan rambut panjangnya yang tergerai indah, duduk di sebuah batu besar yang menghadap ke danau. Rain mendekatinya dengan langkah mantap. Mereka saling bertatapan, lalu Amy memulai percakapan."Dari mana kamu tahu aku alergi jahe?""Aku tahu semua tentangmu.""Tapi bagaimana ... sudahlah, kemarin, kamu pergi begitu saja," alih Amy dengan suara yang terdengar sedih.Rain terdiam sejenak, mencoba mengingat-ingat. "Maaf, aku tidak ingat. Apa yang terjadi kemarin?"Amy merasa kesal. "Kamu tidak ingat? Kamu datang ke kamarku lalu pergi begitu saja tanpa kata-kata. Aku menunggumu, tapi kamu tidak kembali."Rain menggelengkan kepala. "Maafkan aku, aku benar-benar tidak ingat."Amy bangkit dari tempat duduknya, wajahnya memancarkan kekecewaan. "Kamu selalu begitu, Rain. Selalu datang
Last Updated: 2024-04-02
Chapter: Tiba di Penginapan Permukaan danau yang tenang menarik perhatian Rain selama sesaat. Pria itu menatap datar sembari bersandar pada pilar bangunan penginapan yang berbahan kayu solid. Di belakangnya, beberapa pria muda berbicara dengan nada sedikit bercanda. Meski tak berniat menguping, Rain mampu mendengar mereka sesekali menyebut-nyebut pil keabadian."Apa menurutmu benda itu benar-benar ada?""Yang benar saja. Jika bukan karena Nona Emilia menawarkan bayaran fantastis, aku tidak akan mau repot-repot datang kemari," timpal pria dengan rambut cepak diikuti gelak kecil."Cuma uang yang ada dipikiranmu," seloroh yang lain."Memangnya kau tidak? Realistis saja. Dunia peri dan semacamnya tak lebih dari dongeng pengantar tidur. Omong kosong.""Kau terlalu berani. Ck, ck ....""Kita ikuti saja sampai mana nona muda itu mau bersikeras."Seseorang menepuk pundak Rain yang membuat kepala pria itu sedikit menoleh. Gideon kini berdiri di sampingnya, ikut menatap lurus pada permukaan danau yang cantik nan misterius
Last Updated: 2024-03-07
Chapter: Bertemu AmethystDua wanita berdiri berhadapan bagaikan bercermin. Rambut hitam panjang yang sama, juga irish mata ungu gelap yang senada."Siapa kamu? Di mana teman-temanku?" Amy memeluk lengan ketika Amethyst berjalan mendekat. Ketenangan yang wanita itu tunjukkan tak ayal membuatnya tidak nyaman."Mereka baik-baik saja. Seharusnya kau lebih mengkhawatirkan keadaanmu sendiri," balas Amethyst.Jarak mereka tidak sampai satu meter sekarang. Amy masih memberikan tatapan was-was. Ia melirik kamar luas itu, tak menyadari tatapan simpati milik Amethyst."Apa tanda itu sudah muncul?" Amethyst mengangkat tangan seakan ingin menyentuh sosok yang serupa dengannya itu."Tanda apa yang kamu maksud?" tanya Amy, tangannya refleks menyentuh perut. Ia paham makna pertanyaan itu tapi masih berharap semua hanya kesalahan."Lebih awal dari semestinya." Amethyst tersenyum tipis.Bukannya menjawab, Amy memandangi wanita cantik dengan dress putih menutup mata kaki itu. Terpancar jelas kesedihan di matanya. Tak lama berse
Last Updated: 2023-09-03
Chapter: Kembali ke VillaVelia mengaduk sup jamur, memastikan rasa dan mematikan kompor tak lama kemudian. Ketika memasuki ruang tengah, tangannya telah membawa nampan berisi dua mangkuk sup yang masih mengepul."Kita makan dulu," ujarnya pada Amy yang fokus membolak-balik halaman buku bersampul hitam."Terimakasih, Vel. Tapi aku belum lapar," tolak Amy tanpa menoleh sama sekali.Mendengarnya Velia hanya mampu menghela napas kasar. Ia letakkan nampan di atas meja lalu ikut duduk tepat di samping Amy. Amy terlihat tidak terganggu, ia masih terlihat fokus.Percuma sedari tadi ia membuka buku untuk ke sekian kali. Tulisan dalam buku sama sekali tak ia mengerti. Amy mendengkus frustasi. Tangannya meletakkan buku dengan asal di sofa samping lalu ujung secarik kertas tampak menyembul."Kita tidak tahu siapa wanita aneh tadi. Bagaimana kalau dia cuma mau nipu?" Velia yang khawatir hendak menyentuh lengan sahabatnya. Namun ia harus mengurungkan karena Amy saat itu juga berdiri."Villa Putih. Aku harus ke sana sekaran
Last Updated: 2023-08-17
Chapter: Tanda Sisa Usia"Ayo naik!" ajak Tora ketika berhasil menyusul Amy.Amy menatapnya sejenak. Tertegun. Ia sudah ingin membuka suara tapi Tora berucap kembali."Katamu ini tentang nyawa seseorang. Mau naik apa tidak?" Dengan segera Amy menuruti. Pikirannya kembali fokus pada Rain. Meski itu hanya gambaran tidak nyata dari kabut merah, tak dipungkiri rasa khawatir kini menjalari seluruh tubuhnya."Ke mana kita?" tanya Tora lagi sebelum menjalankan kendaraan roda duanya."Rumah kontrakanku, tolong cepat ya," pesan Amy masih dengan wajah kalut.Tora tidak bertanya lagi. Tak berapa lama, mereka pun sampai. Namun bukannya menuju tempat tinggalnya selama beberapa bulan belakangan, Amy justru dengan cepat menghampiri halaman rumah Pak Tino. Tampak Gideon sedang mengutak-atik jam tangan tua di toko barang antik itu."Gideon," panggil Amy yang langsung membuat pria berkacamata mata itu menoleh."Hm? Oh, hai, ada yang bisa kubantu?" tanya pria itu dengan senyum mengembang."Di mana Rain? Aku ingin bertemu denga
Last Updated: 2023-07-20
Chapter: Akhir Tak TerencanaVinn melangkah ringan menuruni tangga. Perbincangan dengan Kakek Richard tak terasa telah menghabiskan waktu hampir satu jam lamanya. Sedikit banyak kakeknya memberi petuah akan apa yang harus ia lakukan sesaat lagi. Terkait perusahaan maupun tampuk kekuasaan klub Black Circle yang sementara kosong.Mood pria muda itu sedang sangat baik. Senyumnya tak jarang muncul ketika berpapasan dengan pelayan atau kerabat di koridor."Apa kalian melihat Nona Clara?" tanyanya pada dua pelayan yang bertugas mematikan penerangan di lantai dua."Beberapa saat lalu nona memasuki kamar, Tuan," jawab pelayan dengan rambut digelung.Vinn mengangguk, memberi isyarat jika mereka sudah boleh pergi. Tanpa berpikiran buruk sedikitpun ia melanjutkan langkah menuju kamarnya yang kini telah menjadi kamar pengantin. Ia bahkan sempat menyentuh hiasan pada pintu sebelum mengetuk.Tok. Tok. Tok."Princess?"Hening. Vinn menurunkan kenop pintu, mengira sang istri tengah berada di kamar mandi atau mungkin telah terle
Last Updated: 2023-07-31
Chapter: Tenang Sebelum BadaiVinn membuka matanya, mengerjap dalam kebingungan saat mengedarkan pandangan pada sekitar. Ruangan serba putih, aroma steril dan juga suara dengungan statis nan rendah dari alat-alat medis yang terpasang pada tubuhnya. Jantungnya berpacu tapi ia kesulitan untuk menggerakkan tubuh. Terasa sangat lemah.Sesaat setelah pandangannya lebih jelas, ia melihat dua wajah yang tidak asing. Netra mereka menunjukkan ekspresi kelegaan yang tak terkira. Senyum lelah Vinn segera terbentuk."Paman Bara ... A-ayah?" Vinn bersuara dengan serak."Vinn, kau sadar! Syukurlah, kau kembali pada kami." Darren Alfredo mendekati ranjang, sudut matanya sedikit basah."Kami sangat mengkhawatirkanmu, Vinn. Kau telah mengalami koma selama empat bulan." Tuan Bara menepuk bahu Vinn dengan lembut."Koma? Jadi aku belum mati? Lalu ayah?" Vinn masih memandangi pria paruh baya yang sangat mirip dengannya itu."Ceritanya cukup panjang. Tapi kini tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Semua telah selesai." Darren tersenyu
Last Updated: 2023-07-27
Chapter: Saat Kehancuran"Satu, dua, tiga! Jangan sampai tertangkap!" seru Jade saat akhirnya pertahanan mereka luruh dan para penjaga berhasil merangsek masuk.Edward mencebik ringan lalu tertawa menghadapi candaan Jade di tengah situasi kritis. Sedang Daniel, pria itu juga ikut mengeluarkan pistol meski awalnya kebingungan.Ketiganya saling melindungi dan menembak sambil berusaha meninggalkan ruang penyimpanan. Suara tembakan nampaknya mengundang penjaga lebih banyak untuk datang."Tugas kita hanya mengambil benda itu, bukan menembak para penjaga!" desis Daniel yang punggungnya saling menempel dengan Edward."Protes saja padanya," balas Edward sembari menunjuk Jade dengan gerakan kepala.Jade menikmati kegiatannya menumbangkan para penjaga satu persatu. Gerakan tubuhnya pun luwes saat menghindari peluru. Entah karena ia menganggap serius taruhan atau pekerjaan ini terasa menyenangkan baginya.Akan tetapi, senyum Jade menghilang saat satu tembakan lolos dan mengenai bahu kanannya. Wanita itu meringis merasak
Last Updated: 2023-07-24
Chapter: Tim 'Pencuri'"Singkirkan dia dari hadapanku!" perintah Tuan Ronald usai meminta dua penjaga masuk ke ruangannya.Mereka saling pandang sekilas sebelum mengangkat tubuh Redo yang sepertinya tinggal jasad. Tuan mereka memang tidak bisa ditebak. Siapa yang mengira jika Redo yang selama ini selalu mendampingi pria tua itu ke mana pun akhirnya berakhir tragis di tangan sang majikan.Genangan darah segar masih tercetak pada karpet hijau tua. Tuan Ronald telah kembali ke kursinya, berkutat santai mengelap pisau yang sempat menancap pada dada Redo."Ke mana kami harus membuangnya, Tuan?" tanya salah satu penjaga."Ke mana saja. Ini bukan pertama kali, jangan bertingkah seperti anak baru," ucap Tuan Ronald tanpa menoleh sama sekali.Tidak ada pertanyaan lagi. Berikutnya dua orang itu telah berkendara. Malam semakin larut dan mobil mereka gunakan sudah hampir sampai di sekitaran bekas taman wisata yang telah lama ditinggalkan."Kau yakin di sini aman?" Bruno, salah satu dari mereka bertanya dengan was-was.
Last Updated: 2023-07-22
Chapter: Rencana yang Gagal?Esoknya, pukul sepuluh pagi.Jade telah sampai di tempat yang disepakati bersama seseorang beberapa menit lalu. Semalam ia tidak mendapat informasi memuaskan dari Jason. Pemuda itu cenderung diam seolah memikirkan sesuatu, tatapannya juga tidak fokus. Beruntung salah seorang temannya ternyata mengenal klub yang sedang ia amati.Baru saja Jade duduk, seorang pria seusianya berbicara dengan nada serius nan rendah."Kuperingatkan sebaiknya kau berhenti mencari tahu tentang Klub Black Circle.""Kenapa memangnya?" tanya Jade dengan gaya casual. "Mereka bukan klub biasa, percaya padaku. Tak hanya mafia, klub itu juga dihuni pembunuh bayaran dan juga kolektor benda dari black market," terang pria dengan cardigan biru tua. "Aku sudah mendengar tentang itu. Tak bisakah kau memberiku informasi yang lain. Tentang mendaftar atau keluar? Oh, apa mereka merekrut anggota baru akhir-akhir ini?" Jade mengambil pemantik guna menyalakan rokok. "Kau ingin masuk ke sana? Sudah gila? Kudengar mereka tid
Last Updated: 2023-07-10
Chapter: Tangan Kanan dan Sang AyahDrap. Drap.Sembari menuruni tangga, Jason memijat tengkuk yang terasa pegal. Tubuhnya tampak sehat tapi beban berat seolah memenuhi rongga kepalanya seusai pembicaraan dengan Harris beberapa saat lalu.Tidak sampai satu purnama, ia akan dilantik menjadi ketua klub. Tapi yang berbahagia justru anggota yang lain. Sedangkan Jason merasa hal sebaliknya. Selain kosong, ia ingin berlari menjauh. Tuan Ronald dan Black Circle ternyata bukanlah rumah baginya. Senyum dan kepedulian mereka bermotif mengerikan."Kau harus ingat, Jason. Pada saatnya nanti, Tuan Ronald akan meminta bukti kesetiaanmu.""Bukankah kehadiranku seperti sekarang sudah bentuk kesetiaan?""Tidak, anak muda. Tidak sesederhana itu. Aku tidak sedang membicarakan waktu, tapi nyawamu."Itulah sepenggal percakapannya dengan Harris sebelum ia undur diri belasan menit lalu.Langkah Jason semakin cepat begitu melewati karpet merah di tengah lorong dengan penerangan redup. Sesuai perintah Tuan Ronald, ia harus datang ke galeri seni
Last Updated: 2023-06-29
Chapter: Dalam Helai RahasiaMalam harinya, di ruang kerja pribadinya, Arthur menatap arsip pelayan yang sudah ia simpan sejak beberapa hari lalu. Tangannya berhenti pada nama.IVORY (12 Oktober 2000) (Jalan Nusa Elok No. 21)Pemilik rumah : Ratna Soedharsono (Perawat senior)Kini Arthur mendalami identitas dan informasi tambahan tentang wanita paruh baya bernama Ratna itu. Melalui informan suruhannya, data dengan mudah masuk."Bu Ratna tidak mempunyai anak kandung hingga suaminya meninggal. Dia mengadopsi anak perempuan sejak setahun lalu, Tuan," terang anak buahnya dari seberang sana. 'Tahuh 2000? Sama dengan tahun kelahiran Irish. Cara tertawa, tersentak, bahkan bersedih—semuanya, terlalu mirip,' batin Arthur. Ia letakkan buku arsip itu dan berjalan ke arah jendela dengan tirai yang tersibak angin.“Siapa kau sebenarnya, Ivory?”**Keesokan harinya. Langit sore di kota mulai kelabu ketika Arthur tiba di apartemennya. Bukan mansion keluarga Cornell yang mewah dan sibuk itu, tapi apartemen dengan perabotan sim
Last Updated: 2025-06-23
Chapter: Bukti dalam SunyiSiang itu, matahari tergantung redup di langit. Seolah ikut menyimpan rahasia, sembunyi di balik awan yang menggumpal pekat. Hawa lembap menyusupi sela-sela jendela tua ketika Ivory melangkah ke dalam kamar Thea.Ia mendapat tugas dari kepala pelayan untuk membersihkan ruangan itu, menggantikan pelayan pribadi Thea yang sedang izin. Kesempatan langka seperti ini jelas tak akan ia sia-siakan. Bukan karena Ivory suka mengusik privasi seseorang, tapi karena dalam hatinya, ia tahu: monster tak pernah menaruh kebenaran di ruang tamu. Mereka menyembunyikannya—di balik laci, di balik senyum.Dengan gerakan hati-hati, Ivory menutup pintu perlahan dan menguncinya dari dalam. Hening. Napasnya berbaur dengan aroma parfum mahal yang menyengat dan wewangian bunga palsu. Ia mulai bekerja, atau berpura-pura bekerja. Tangannya mengusap permukaan meja rias, tapi matanya menyapu seisi ruangan seperti pemburu kelaparan.Laci-laci rias. Koleksi lipstik. Botol-botol parfum dari Prancis. Lingerie mahal dal
Last Updated: 2025-06-23
Chapter: Benih Retak di Balik Gaun MewahLangit pagi itu seperti turut berkabung. Awan kelabu menggantung rendah, menumpahkan gerimis tipis yang tak kunjung reda. Hening menyelimuti mansion, seolah waktu pun enggan bergerak.Ivory memperhatikan Arthur dari jauh. Pria itu mengenakan jas hitam pekat dan kemeja putih tanpa motif. Rapi. Formal. Tapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Ivory tak sanggup menatap terlalu lama—semacam kehilangan yang tak selesai.Di tangannya tergenggam buket bunga peony putih dan baby's breath, dibalut kain renda kelabu pucat.Tidak ada yang tahu ia akan pergi hari itu. Bahkan Darren pun tak diberitahu. Ia hanya menyelipkan pesan singkat ke asistennya, 'Hari ini aku cuti. Jangan hubungi.'Area makam Irish terletak di dataran tinggi, tersembunyi di balik perkebunan teh yang nyaris tak terjamah. Arthur berdiri diam di depan sebuah batu nisan marmer krem.Irish Magnolia2000-2023Belahan jiwaku, bahkan setelah dunia memisahkan kita.Tangannya gemetar saat meletakkan buket di depan nisan. Udar
Last Updated: 2025-06-22
Chapter: Hukuman dan Martabat yang TerkoyakKeesokan harinya Ivory telah kembali pada kegiatan dapur. Ia membuat sup merah atas pesanan Arthur. Salah satu pelayan membantunya menabur kacang polong berwarna cerah dan hanya tinggal menunggu hingga sup matang.Ivory mengira paginya akan tenang. Sayangnya Thea tiba-tiba memasuki dapur sembari memanggil namanya lantang. "Ivory!!""Nona Thea, apa ada yang Anda inginkan?" Kepala pelayan yang kebetulan berada di dapur menyambutnya."Di mana Ivory? Kenapa kau menerima bawahan bodoh sepertinya? Huh?!"Merasa namanya dipanggil, Ivory segera maju menampakkan diri. Ia menghadapi Thea dengan senyum sopan khas pelayan lainnya."Ada apa Nona mencari saya?""Tidak perlu bersikap manis. Kau yang membuat jus melon untukku? Lihat, apa ini?!" Thea mengangkat gelas panjang yang isinya tersisa setengah. Terdapat seekor serangga yang mengambang. Mati."Saya yakin telah memastikan semuanya bersih," Ivory menjawab tanpa takut."Kau! Ini buktinya! Bagaimana jika aku keracunan?! Kau mau bertanggungjawab?"
Last Updated: 2025-06-22
Chapter: Darren TertarikMalam belumlah larut, tapi suasana di mansion cukup sepi. Darren memijat tengkuk yang terasa pegal. Netranya terfokus pada laptop. Karena deadline singkat yang diberikan sang ibu, mau tak mau Darren membawa pekerjaannya ke rumah meski tak menyukai ide tersebut.Tap. Tap. Tap.Terdengar langkah kaki mendekat. Darren melirik guna memastikan siapa yang masih berkeliaran di sekitarnya. Ia tidak suka ada yang mengganggu di ruang kerja pribadinya yang bernuansa putih dan abu-abu."Tuan, silahkan," Ivory berujar seraya meletakkan secangkir kopi hitam yang masih mengepul."Aku tidak meminta kopi. Siapa yang menyuruhmu?" Darren menatap kopi dan wajah pelayan itu secara bergantian."Nyonya Wina, Tuan. Beliau khawatir melihat Anda begitu sibuk akhir-akhir ini." Ivory berbohong, nyatanya membuat dan mengantar kopi adalah idenya sendiri."Baiklah."Darren sudah bersiap mengetik saat tanpa diduga langkah Ivory melambat dan hampir pingsan. Gerakan cepat Darren menangkapnya sehingga kepala Ivory tid
Last Updated: 2025-06-22
Chapter: Mata yang Pernah DicintaiUdara siang itu terasa lebih padat dari biasanya. Langit menggantung abu-abu, dan burung-burung enggan bersuara.Di halaman depan mansion keluarga Cornell, sebuah mobil hitam berhenti perlahan. Dari dalamnya, seorang pria tinggi dengan jas abu dan aura tenang turun dengan langkah mantap. Rambutnya sedikit lebih panjang dari terakhir kali ia terlihat, dan wajahnya yang dulu hangat kini terlihat seperti dipahat dingin oleh waktu dan luka yang belum sembuh.Arthur William Cornell.Pulang, setelah hampir lima bulan menghilang tanpa kabar.Begitu ia memasuki mansion, seseorang bergegas menyambutnya dengan senyum lebar dan gaya yang terlalu dibuat-buat.“Arthur!” seru Selina, sepupunya—gadis muda dengan rambut pirang lembut yang mengilau, dan aroma parfum manis yang terlalu kuat.Ia langsung memeluk lengan Arthur, membiarkan tubuhnya sedikit bersandar.“Senang sekali kamu akhirnya kembali. Aku hampir bosan karena tak ada teman mengobrol di sini!” ujarnya manja.Arthur tak menarik diri, tapi
Last Updated: 2025-06-22