MasukVincent, pewaris Orion Group telah kehilangan Clara, calon istri yang sangat ia cintai. Ia yang sempat mengira Clara berkhianat hendak menghancurkan keluarga wanita itu. Namun nyatanya Clara telah menjadi jaminan atas sebuah kesepakatan. Wanita itu harus menjadi korban dari dendam masa lalu. Perlahan tapi pasti Vincent menemukan benang merah antara hilangnya Clara dan juga kematian kedua orang tuanya tiga tahun silam. Kini ia harus menghadapi pertikaian dua keluarga yang sempat terhenti selama dua puluh lima tahun. Apa yang akan Vincent lakukan saat mengetahui musuh terbesarnya adalah orang yang ia percaya? Mampukah Vincent menyelamatkan Clara?
Lihat lebih banyakMaya’s POV
“She is two months pregnant.”
“I can’t believe it,” Mason’s voice carried through the cracked boardroom door, low and reverent, the way he used to speak to me only in our earliest days before the miscarriages, before the silence grew between us like frost on glass.
“Two months?”
My fingers tightened on the door handle until my knuckles bleached white. I’d come to drop off the revised merger documents myself instead of sending my assistant. A small gesture. A wife’s gesture. Now I couldn’t move
Dr. Hargrove answered, calm and clinical as always. “Yes, Mr. Mason. The hCG levels and ultrasound are conclusive. She’s eight weeks pregnant.”
A soft exhale, almost a laugh slipped from Selina.
My Selina. My best friend since college, the one who’d held my hair back while I vomited through fertility drugs, who’d brought lavender candles to the hospital after each D&C, who’d whispered “next time” like a prayer every time my body failed me again.
Silence stretched, thick and intimate
Then the unmistakable sound: lips against skin. Slow. Tender. Celebratory.
My knees nearly buckled.
I slid sideways, pressing my back to the marble wall beside the double doors, hidden by the tall fiddle-leaf fig that Mason insisted on keeping in every executive space because “it looks expensive.” My silk blouse stuck to my spine with sudden sweat.
“How do you feel, love?” Mason asked her, his voice dropping to that velvet register he reserved for boardroom victories and bedroom promises he no longer kept with me.
“Terrified,” Selina admitted, a tremor beneath her usual confidence. “But happy. So happy. We’ve waited so long for this”
Waited….
The word sliced clean through me.
Mason My husband has been having an affair with my bestfriend….
Mason chuckled softly, indulgent, the sound I hadn’t heard directed at me in years. “Every time she lost one, I told myself maybe we weren’t meant to have children together. But you…” His voice lowered further, almost worshipful. “You were always the one”
I clamped my hand over my mouth so hard my teeth bit into my palm.
Almost Eight years.
Eight years of basal body thermometers at 5 a.m., of scheduled sex that felt like clinical appointments, of negative pregnancy tests that landed like verdicts. Eight years of watching his jaw tighten with every doctor’s “I’m sorry.” Eight years of believing, if I just tried harder, sacrificed more, loved deeper…. he would finally look at me the way he once promised he would
And through every loss, Selina had been my rock
She’d sat with me on cold bathroom tiles at 3 a.m., rubbing my back while I sobbed that my body hated me. She’d fielded calls from nosy relatives so I wouldn’t have to explain another failure. She’d told me Mason adored me, that men just didn’t know how to show it when they were hurting too…
Lies.
All of it
I remembered the night I introduced them, my twenty-third birthday, rooftop bar overlooking the harbor. Selina had arrived in a crimson dress that clung like sin, hair tumbling loose, skin glowing under the string lights. Mason’s gaze had snagged on her and stayed. I’d laughed, looped my arm through hers, said, “Isn’t she stunning?” like a fool proud of her beautiful friend.
He’d never denied it
Not once.
Our marriage had never been about romance. Our fathers…. best friends since boarding school, had engineered it when both family empires teetered on collapse. Mason’s shipping conglomerate needed my father’s logistics network and capital. My father needed Mason’s ruthless expansion strategy to survive. Together they became untouchable
I became the bride in white lace who smiled for the cameras and signed the prenup without complaint.
I told myself convenience could grow into love. That if I poured enough of myself into the company, learning the routes, memorizing the ledgers, charming the Chinese investors at 2 a.m. conference calls…..he would see my devotion and choose me anyway.
He never did.
He looked at me with polite tolerance at best, quiet disdain at worst.
And all the while, he looked at her.
Then thr boardroom door opened
I shrank deeper into the shadow of the plant, heart slamming against my ribs.
“I’ll walk you down,” Mason said. “We have to be discreet. No one can know yet.”
“Of course.” Selina’s voice was soft, conspiratorial.
The word landed like a guillotine.
Their footsteps approached, his measured, commanding; hers lighter, confident. They passed within arm’s reach. I smelled her jasmine perfume tangled with his cedar-and-bergamot cologne, the same scent that used to cling to his shirts when he came home after “late meetings.”
They didn’t glance my way….
Why would they? I’d spent years making myself small enough to disappear.
As their voices faded toward the private elevator, I stayed frozen, breath shallow.
My phone vibrated, my assistant, probably wondering why I hadn’t appeared for the branding presentation. I ignored it.
Tears burned tracks down my cheeks, but I didn’t sob. Not here. Not where someone might hear or see me.
I waited until the corridor was silent, then slipped away, tiptoeing like a thief in my own husband’s empire.
The service elevator carried me to the underground garage. No one used it except the maintenance staff. No cameras. No witnesses.
In the dim fluorescent light, I leaned against the cold concrete wall and finally let the sobs come out ugly, wrenching, soundless gasps that shook my whole body.
Almost eight years of loyalty to a marriage not built on love but hope.
Ten years of friendship to Selina.
Both of them thrown away like yesterday’s financials.
I thought of the pale-yellow nursery I’d painted in secret after our second pregnancy, the crib still boxed in storage because I’d been too afraid to assemble it after the third loss.
I thought of every time Selina hugged me and promised, “You’ll have your miracle”
She’d been planning her own, to snatch my husband…
The elevator dinged at the garage level. I stepped out, heels echoing in the empty space.
I needed silence. I needed air. I needed to think.
Because this wasn’t the end of my story.
This was the moment their fairy tale cracked open.
Vinn melangkah ringan menuruni tangga. Perbincangan dengan Kakek Richard tak terasa telah menghabiskan waktu hampir satu jam lamanya. Sedikit banyak kakeknya memberi petuah akan apa yang harus ia lakukan sesaat lagi. Terkait perusahaan maupun tampuk kekuasaan klub Black Circle yang sementara kosong.Mood pria muda itu sedang sangat baik. Senyumnya tak jarang muncul ketika berpapasan dengan pelayan atau kerabat di koridor."Apa kalian melihat Nona Clara?" tanyanya pada dua pelayan yang bertugas mematikan penerangan di lantai dua."Beberapa saat lalu nona memasuki kamar, Tuan," jawab pelayan dengan rambut digelung.Vinn mengangguk, memberi isyarat jika mereka sudah boleh pergi. Tanpa berpikiran buruk sedikitpun ia melanjutkan langkah menuju kamarnya yang kini telah menjadi kamar pengantin. Ia bahkan sempat menyentuh hiasan pada pintu sebelum mengetuk.Tok. Tok. Tok."Princess?"Hening. Vinn menurunkan kenop pintu, mengira sang istri tengah berada di kamar mandi atau mungkin telah terle
Vinn membuka matanya, mengerjap dalam kebingungan saat mengedarkan pandangan pada sekitar. Ruangan serba putih, aroma steril dan juga suara dengungan statis nan rendah dari alat-alat medis yang terpasang pada tubuhnya. Jantungnya berpacu tapi ia kesulitan untuk menggerakkan tubuh. Terasa sangat lemah.Sesaat setelah pandangannya lebih jelas, ia melihat dua wajah yang tidak asing. Netra mereka menunjukkan ekspresi kelegaan yang tak terkira. Senyum lelah Vinn segera terbentuk."Paman Bara ... A-ayah?" Vinn bersuara dengan serak."Vinn, kau sadar! Syukurlah, kau kembali pada kami." Darren Alfredo mendekati ranjang, sudut matanya sedikit basah."Kami sangat mengkhawatirkanmu, Vinn. Kau telah mengalami koma selama empat bulan." Tuan Bara menepuk bahu Vinn dengan lembut."Koma? Jadi aku belum mati? Lalu ayah?" Vinn masih memandangi pria paruh baya yang sangat mirip dengannya itu."Ceritanya cukup panjang. Tapi kini tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Semua telah selesai." Darren tersenyu
"Satu, dua, tiga! Jangan sampai tertangkap!" seru Jade saat akhirnya pertahanan mereka luruh dan para penjaga berhasil merangsek masuk.Edward mencebik ringan lalu tertawa menghadapi candaan Jade di tengah situasi kritis. Sedang Daniel, pria itu juga ikut mengeluarkan pistol meski awalnya kebingungan.Ketiganya saling melindungi dan menembak sambil berusaha meninggalkan ruang penyimpanan. Suara tembakan nampaknya mengundang penjaga lebih banyak untuk datang."Tugas kita hanya mengambil benda itu, bukan menembak para penjaga!" desis Daniel yang punggungnya saling menempel dengan Edward."Protes saja padanya," balas Edward sembari menunjuk Jade dengan gerakan kepala.Jade menikmati kegiatannya menumbangkan para penjaga satu persatu. Gerakan tubuhnya pun luwes saat menghindari peluru. Entah karena ia menganggap serius taruhan atau pekerjaan ini terasa menyenangkan baginya.Akan tetapi, senyum Jade menghilang saat satu tembakan lolos dan mengenai bahu kanannya. Wanita itu meringis merasak
"Singkirkan dia dari hadapanku!" perintah Tuan Ronald usai meminta dua penjaga masuk ke ruangannya.Mereka saling pandang sekilas sebelum mengangkat tubuh Redo yang sepertinya tinggal jasad. Tuan mereka memang tidak bisa ditebak. Siapa yang mengira jika Redo yang selama ini selalu mendampingi pria tua itu ke mana pun akhirnya berakhir tragis di tangan sang majikan.Genangan darah segar masih tercetak pada karpet hijau tua. Tuan Ronald telah kembali ke kursinya, berkutat santai mengelap pisau yang sempat menancap pada dada Redo."Ke mana kami harus membuangnya, Tuan?" tanya salah satu penjaga."Ke mana saja. Ini bukan pertama kali, jangan bertingkah seperti anak baru," ucap Tuan Ronald tanpa menoleh sama sekali.Tidak ada pertanyaan lagi. Berikutnya dua orang itu telah berkendara. Malam semakin larut dan mobil mereka gunakan sudah hampir sampai di sekitaran bekas taman wisata yang telah lama ditinggalkan."Kau yakin di sini aman?" Bruno, salah satu dari mereka bertanya dengan was-was.
Clara memandang pantulannya saat duduk di depan cermin. Polesan make up tipis makin membuat wajahnya tampak menawan. Rambutnya tergerai indah, terlihat pas dengan dress putih lengan panjang yang saat ini ia kenakan.Siang ini ia setuju untuk makan siang bersama Martin.
Sinar mentari memasuki kamar mewah bernuansa putih dan emas melalui celah tirai jendela. Hari menjelang siang namun si penghuni kamar seakan enggan untuk membuka mata.Pintu berukir terbuka usai terdengar ketukan, memunculkan wanita paruh baya berpakaian p
Penat. Satu kata itu yang kini Vinn rasakan. Ia telah kembali pada rutinitasnya, memimpin sebuah perusahaan besar. Usai meeting siang tadi, Vinn memutuskan untuk pulang ke mansion. Bukan tanpa alasan, ia harus mencari file lama perusahaan yang sepertinya tersimpan di ruang kerja kak
Musik bergenre techno yang dimainkan oleh seorang DJ papan atas mengisi pendengaran Vinn tatkala ia memasuki club malam elite yang terkenal di kota D. Pria itu duduk di meja bar dan memesan segelas cocktail berbasis whiskey.Malam ini ia ingin menyendiri setelah tadi se
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak