Under His Darkness
Nayla Moretti terjerat dalam permainan berbahaya milik Damian Bellucci.
Setelah suaminya mengusulkan pernikahan terbuka, Nayla bersumpah tak akan lagi membuka hatinya untuk cinta. Namun, segalanya berubah saat dia melangkahkan kaki ke dalam klub malam milik Damian.
Dia adalah sahabat kakaknya. Sosok penuh kuasa dan misteri. Pria yang tak memberi ruang untuk penolakan.
Apa yang awalnya hanya pelarian sesaat, perlahan berubah menjadi obsesi yang mencekik.
Damian tak sekadar menginginkannya. Dia ingin memilikinya sepenuhnya. Tubuh, pikiran, dan jiwa. Dan semakin Nayla mencoba menjauh, semakin kuat Damian menariknya kembali.
Kini, di antara hasrat dan kehancuran, Nayla dihadapkan pada pilihan. Menyerah pada kegelapan, atau memperjuangkan versi dirinya yang bahkan tak lagi dia kenali?
Karena satu hal yang pasti, Damian Bellucci tak pernah melepaskan apa yang telah menjadi miliknya.
Baca
Chapter: 190. PasukanBengkel tua itu berbau oli dan besi. Dari celah pintu gudang, suara pelabuhan Genova terdengar samar. Derit derek, sirene kapal barang, dan mesin forklift tak pernah benar-benar berhenti beroperasi.Ada satu lampu gantung yang berayun pelan setiap kali angin pelabuhan menggeser pintu gudang. Damian berdiri di depan meja kerja yang penuh peta, kertas, ponsel, dan secangkir kopi yang sudah lama kehilangan panasnya. Dia nyaris tidak tidur sejak kabar penyerangan di Piacenza. Bahu kirinya masih kaku setiap kali dia mengangkat tangan, tapi rasa itu begitu saja diabaikan.Otaknya terus berputar memikirkan serangan balik yang akan Damian gencarkan dua atau tiga hari ke depan. Jonathan jelas akan menjadi lebih beringas jika Damian masih saja menunda. Jumlah orang dan senjata masih memadai, tapi dia memiliki satu pertanyaan yang belum punya jawaban, yaitu, seberapa kuat Jonathan sekarang?"Kamu belum tidur," kata Enzo dari ambang pintu, membawa dua gelas kopi baru.Damian yang terduduk di kurs
Terakhir Diperbarui: 2026-10-15
Chapter: 189. KematianPonsel itu bergetar berulang kali. Bukan nada getar biasa, tapi pola panjang-pendek yang hanya dipakai untuk satu nomor. Andy.“Halo.”“Damian.”Nada suara Andy terdengar panik. Ada bunyi napas yang belum kembali normal di sela-sela kata-katanya. Damian yang semula duduk bersandar seketika meluruskan punggungnya.“Salah satu markas kita diserang. Piacenza. Tempat yang kalian gunakan untuk pertemuan minggu lalu.”Damian bangkit begitu cepat hingga kursinya bergeser ke belakang. Enzo, yang berada tidak jauh darinya, langsung menoleh. Satu tangan Damian terangkat memberi isyarat agar Enzo mendekat, sementara tangannya yang lain mencengkeram ponsel lebih erat."Kapan?" tanya Damian."Baru saja. Aku dapat kabar dari salah satu jalur cadangan, bukan dari orangmu langsung. Orang yang di sana bahkan sudah tidak bisa dihubungi."Damian berjalan menuju meja, menyingkirkan beberapa lembar catatan yang menutupi layar tabletnya. "Apa saja yang dia laporkan?""Hanya itu. Panggilan terputus di tenga
Terakhir Diperbarui: 2026-10-12
Chapter: 188. Hal yang BerbedaHari-hari setelah itu berlalu dengan pola yang mulai Nayla hapal di luar kepala. Tidak ada jadwal pasti, tetapi setiap beberapa hari, biasanya menjelang malam, Andy akan muncul dengan sebuah ponsel di tangan. Layar perangkat itu hampir selalu sudah menyala sebelum sampai kepadanya, menandakan bahwa panggilan video telah lebih dulu tersambung, dan Andy tidak perlu menjelaskan siapa yang menunggu di ujung sana.Nayla pun tidak lagi terburu-buru seperti pada malam pertama. Dia cukup mengangkat kepala, menerima ponsel itu, lalu mencari posisi yang nyaman sebelum wajah Damian muncul dengan penampilan terbaru yang hampir selalu berbeda dari sebelumnya. Terkadang, perubahan itu hanya berupa warna rambut atau model potongan, tapi beberapa kali Damian juga menggunakan piercing. Suatu kali ada tambahan kecil di telinga kanan, beberapa hari kemudian letaknya bergeser ke telinga kiri.Bukan hanya wajah Damian yang terus berubah. Kota-kota yang disebutnya dalam percakapan juga berganti dengan cepa
Terakhir Diperbarui: 2026-10-06
Chapter: 187. NaifMalam berikutnya datang tanpa membawa banyak perubahan.Setelah menyelesaikan mandi, Nayla keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sepenuhnya basah. Dia sedang memeras bagian ujung ketika terdengar ketukan pelan dari pintu. Hingga dua kali suara itu berulang, dia akhirnya menjawab. Tanpa mengulang ketukan ketiga, daun pintu pun akhirnya terbuka.Andy berdiri di ambang pintu. Tidak seperti biasanya, kali ini dia tidak membawa tablet atau dokumen kerja. Sebuah ponsel berada di tangannya dengan layar perangkat yang sudah menyala dan menampilkan wajah seseorang dalam sambungan video.“Damian.” Hanya satu kata yang meluncur dari mulutnya sebelum akhirnya Andy berbalik pergi.Nayla buru-buru meraih ponsel yang Andy taruh begitu saja di atas nakas. Handuk yang tadi berada di atas kepalanya hampir saja terlepas. Dia bahkan harus menangkapnya kembali sebelum benda itu jatuh ke lantai.“Damian?”Tidak ada jawaban langsung.Nayla mengusap rambutnya yang basah, lalu merapikan seadanya se
Terakhir Diperbarui: 2026-09-30
Chapter: 186. Tidak Ada KabarBeberapa hari sudah berlalu sejak malam itu, dan rumah ini perlahan mulai terasa seperti miliknya sendiri. Nayla hapal suara pintu dapur yang berderit setiap pagi, tahu jam berapa sinar matahari mulai menembus jendela-jendela besar di ruang depan, bahkan sudah punya tempat duduk favorit di teras belakang.Nayla masih membawa kehangatan dari telepon terakhir mereka. Cara suara Damian turun satu oktaf, cara mata Damian menyorot dengan tajam nan hangat, semua sering muncul begitu saja di benaknya. Kadang, di tengah aktivitas paling biasa sekalipun, Nayla bisa tiba-tiba tersenyum sendiri tanpa sebab.Sudah beberapa hari berlalu sejak malam terakhir Damian menghubunginya. Tidak ada panggilan baru, tidak ada pesan yang tiba-tiba muncul di layar, bahkan tidak ada kabar singkat yang bisa membuat Nayla berhenti menebak-nebak keadaan di seberang sana. Namun, setiap kali pikirannya mulai bergerak ke arah yang tidak dia inginkan, Nayla selalu memaksanya kembali pada satu hal yang paling sederhana
Terakhir Diperbarui: 2026-09-29
Chapter: 185. Celah JendelaEnzo beranjak ke arah jendela, sementara Damian masih memperhatikan layar tablet. Satu jari Enzo menyingkap tirai selebar tak lebih dari dua sentimeter. Dia bisa melihat keluar dari celah sempit itu, tapi tetap tidak terlihat dari luar."Ada orang di seberang," katanya denan suara rendah.Damian mendekat, berdiri di sisi lain jendela yang sama. Di bawah sana, seorang pria berdiri di depan toko yang sudah tutup. Kedua tangannya masuk ke dalam saku jaket, diam, dan selama beberapa saat, pria itu tetap tidak melakukan apa-apa selain berdiri. .Enzo menggeser posisinya sedikit, lalu menoleh ke arah layar gawai. "Sekarang ada dua lagi. Di ujung jalan."Sorot mata Damian langsung jatuh ke titik yang Enzo sebut. Dua sosok pria tengah berjalan pelan. Posisi mereka sedikit berjarak, tapi arah mereka sama. Keduanya menuju losmen ini."Ada tiga," gumam Damian."Bersenjata?" tanya Enzo."Tidak kelihatan," jawab Damian, "tapi anggap saja iya."Damian lantas mundur dari jendela, lalu memeriksa isi
Terakhir Diperbarui: 2026-09-23
Chapter: 69. Di Balik Tirai Rumah SakitAzura memeluk dirinya sendiri. Penolakan tegas dari Darren cukup menampar dan bisa membuatnya sadar. Dia sudah terlalu gegabah.Ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan membuat Azura terlalu ingin cepat menemukan Gavin. Dia terkesan terlalu memaksakan diri. Sampai-sampai, dia lupa kalau dirinya mulai menjadi egois dan tidak rasional."Maaf," ucap Azura lirih. "Aku yang seharusnya minta maaf."Ada rasa sakit yang tak bisa dijelaskan ketika menyadari bahwa setiap langkah yang dia ambil mungkin akan menyeret Darren dan Laura ke jurang yang tak seharusnya. Ini salah. Ini terlalu jauh.Azura tidak ingin membuat siapa pun masuk ke dalam luka yang pada awalnya hanya miliknya sendiri.“Aku….” Suara Azura pelan, hampir tak terdengar. “Aku nggak ingin ada yang dirugikan karena aku. Termasuk kalian berdua.”“Azura—”Suara dari ponsel kembali terdengar. Darren belum menutup sambungan. Nada bicaranya masih terdengar berat, tapi juga tidak sekeras sebelumnya.“Aku bisa mengerti posisimu,” kata Da
Terakhir Diperbarui: 2025-04-17
Chapter: 68. Antara Hidup dan MatiCahaya.Begitu silau, tapi tak menghangatkan.Begitu dekat, tapi tak bisa digapai.Gavin mencoba mengangkat kelopak matanya, tapi tubuhnya tak merespons. Raganya seolah masih tertinggal di tempat yang gelap, jauh di kedalaman yang tak bernama.Lamat-lamat, dia lantas mendengar suara. Pelan. Samar. Namun, jelas menusuk ke dalam kesadarannya yang rapuh.“Tingkatkan dosisnya. Dia belum boleh sadar. Belum sekarang.”Ada desis perintah. Ada langkah-langkah yang tergesa.Suara alat medis berdenting halus, monoton, seperti detak waktu yang terus berbunyi tanpa empati.Gavin ingin bertanya. Dia ingin tahu di mana dia, kenapa dia di sini, dan siapa yang sedang berbicara. Namun, semua pertanyaan itu hanya menggema di dalam pikirannya sendiri.Satu-satunya hal yang bisa dia rasakan hanyalah dingin. Dingin yang menjalari tulang, memeluk nyawanya erat-erat. Dalam kegelapan yang kembali menelannya, satu nama lantas melintas.Azura.Nama itu muncul seperti bisikan paling jujur di tengah kekacauan. M
Terakhir Diperbarui: 2025-04-15
Chapter: 67. Kehabisan WaktuWarna senja sudah menjilat tepian cakrawala saat Laura mengulirkan jari di layar ponselnya. Dia sedang mencari sebuah nama di daftar kontak yang saat ini mungkin bisa membawanya ke jalan keluar. Rowan Stewart, kakak laki-laki Gavin.“Aku nggak tahu dia masih pakai nomor ini atau nggak,” gumam Laura pelan, nyaris seperti minta izin untuk merasa gugup.David mengangguk. “Coba saja. Kita nggak punya banyak pilihan.”Azura tak ikut berkomentar. Namun, tatapan penuh harap darinya sudah cukup untuk memberikan Laura dukungan, atau bisa disebut juga dengan permohonan. Sungguh, wajahnya senada dengan langit mendung yang hanya sedikit disiram dengan rona jingga yang murung."Semoga tersambung," ucap Laura kemudian.Setelah mengembuskan napas panjang, Laura menekan tombol hijau. Tak lupa, dia juga membiarkan telepon berada pada mode loud speaker. Hanya butuh jeda satu detik hingga suara nada sambung berhasil mempercepat laju detak jantung.Sekali.Dua kali.Tiga kali.Lalu terdengar jawaban lela
Terakhir Diperbarui: 2025-04-15
Chapter: 66. Keluarga GavinAzura tak ingat kapan terakhir kali dirinya merasa begitu lelah. Bukan sekadar kelelahan fisik, tapi sesuatu yang lebih dalam. Seperti tersesat di tempat yang seharusnya familiar, mencari seseorang yang seharusnya mudah ditemukan, tapi semakin dikejar, semakin jauh bayangannya.Tentu ada seberkas rasa ingin menyerah. Hari-hari yang selama ini Azura lewati bukanlah masa yang mudah. Untungnya, Azura masih menemukan satu nama yang mungkin bisa membantunya bangun dari kubangan lumpur.Laura datang. Langkahnya mantap dan cepat. Mantel panjangnya berkibar tertiup angin, menampakkan tubuh yang tampak lebih berisi. Di sebelahnya, David berjalan lebih pelan sambil mendorong stroller bayi."Azura." Suara Laura pelan, nyaris tenggelam dalam kebisuan.Sejenak, mereka hanya berdiri berhadapan. Dua orang yang dulu saling terikat dalam simpul yang rumit, kini kembali bertemu dalam keadaan yang sama sekali berbeda."Kamu baik-baik saja?" tanya Laura. Dia sadar kalau itu adalah pertanyaan bodoh yang t
Terakhir Diperbarui: 2025-03-26
Chapter: 65. Telepon Laura"Azura? Itu kamu, 'kan?"Tidak ada sapaan terburu-buru. Nada suara Laura memang terdengar terkejut. Mungkin dia tidak menyangka kalau Azura tiba-tiba menghubunginya. Namun, kalimat kedua darinya sudah meluncur dengan lebih tenang."Ra? Are you there?""Iya, ini aku," timpal Azura. "Hai, Laura."Azura menutup mata sejenak, meresapi kenyataan bahwa akhirnya mereka berbicara lagi setelah sekian lama tidak ada kontak. Ada perasaan aneh di dadanya. Bukan hanya canggung, tapi juga sedikit rindu.Laura pernah menjadi cahaya di tengah kegelapan yang hampir menelan Azura. Sebagai seorang pengacara, Laura tidak hanya menyelamatkan hidupnya dalam arti hukum, tapi juga dalam makna yang lebih dalam. Wanita itu pernah berhasil membebaskan Azura dari jerat yang hampir membunuh dirinya. Azura mengingat hari itu dengan jelas, bagaimana Laura berdiri di depan, berani melawan badai yang nyaris meruntuhkan.Hubungan mereka pun tidak sesederhana itu. Selain interaksi profesional antara klien dan pengacara
Terakhir Diperbarui: 2025-03-19
Chapter: 64. Menyusuri Setiap Sudut BarntonAzura masih diam pada pijak yang sama.Ada sesuatu.Bahu dan tengkuknya menegang. Bukan karena lelah, tapi lebih seperti ada sesuatu yang menariknya. Kepalanya seolah dipaksa untuk tetap menoleh ke lantai dua.Sejak beberapa detik yang lalu, ruangan itu sudah gelap. Cahaya dari luar hanya menyisakan kilasan samar di balik kaca besar. Semua kosong. Tak ada siapa pun.Namun, … tunggu dulu. Masih ada seseorang di atas sana.Azura menajamkan pandangan, tapi gelap di sana terlalu pekat. Sosok lelaki itu terbungkus dalam siluet yang buram. Namun, meski samar, Azura tetap bisa mengenalinya. Cara lelaki itu berdiri, garis bahunya yang kokoh, kemiringan kepalanya, dan satu tangannya yang diselipkan ke dalam saku, semua terasa begitu akrab."Gavin?" Azura berbisik pada dirinya sendiri.Udara yang semula bisa Azura hirup dengan bebas, kini berubah jadi beban yang menghimpit. Sebelum dia bisa mencari kepastian, sebelum otaknya mampu memproses lebih jauh, sosok itu lantas bergerak. Tak sampai tiga
Terakhir Diperbarui: 2025-03-17