MasukPalermo. Setelah meninggalkan satu jejak di Roma, Damian langsung berpindah ke kota ini. Kota yang bukan tempat kelahiran, pun bukan kampung halaman. Namun, di sini Damian selalu merasa pulang ke rumah.Orang-orang Damian tersebar dalam lapisan-lapisan yang nyaris tak terlihat. Yang paling luar adalah petani-petani sungguhan yang menggarap ladang di sekitar bukit. Sebagian dari mereka memang hanya petani, sebagian lagi adalah mata dan telinga yang dibayar untuk melaporkan siapa pun yang lewat lebih dari sekali dalam seminggu. Lapisan berikutnya adalah orang-orang di kota, di pelabuhan, di kantor notaris, di balai kota, dan sejenisnya. Orang-orang yang tak pernah memegang senjata, tapi tahu persis kapan harus mengeluarkan surat izin atau melenyapkan sebuah dokumen.“Selamat datang kembali,” ucap Enzo, pria yang Damian percaya kedua setelah Andy.“Ciao, Enzo.” Damian memeluknya singkat sambil menatap bangunan yang bertahun lamanya tidak dia pijak.Villa itu berdiri di punggung bukit seb
Beberapa saat sebelum berangkat, dokter sempat memeriksa lukanya dengan cepat. Perban baru sudah diganti tanpa perlu obrolan berlebihan. Begitu pesawat mulai bergerak di taxiway, Damian segera menyandarkan kepala ke kursi dan menutup mata. Obat tidur dosis aman yang dia telan memaksanya untuk terlelap meski yang dia cari bukan sekadar istirahat fisik.Dokter di sampingnya sesekali tetap membangunkan Damian untuk sekadar minum banyak air. Sayangnya, efek obat tidak berdampak lama. Begitu gelap datang, dia justru terjaga.Malam penyerbuan Saeed kembali teringat dengan jelas. Ratusan peperangan serupa memang sudah Damian alami. Namun, kejadian malam tadi adalah hal yang berbeda. Setiap detik seperti mengukir jejak trauma.Dia mendengar lagi bunyi kaca pecah yang tajam, seperti suara yang tidak pernah benar-benar hilang dari telinga. Teriakan Nayla yang terdengar panik dan penuh ketakutan pun ikut muncul juga. Lalu, dentuman pistol yang meledak seperti meningg
Damian memutuskan untuk berjalan melewati lelaki itu, tidak menghindari, tetapi juga tidak mendekat terlalu cepat. Dia berjalan dengan ritme yang tetap, menjaga tangannya tetap santai meski setiap saraf di tubuhnya bersiaga.Saat jaraknya tinggal beberapa meter, lelaki itu tiba-tiba tersenyum."Damian?" panggilnya dengan nada yang akrab.Damian berhenti. Dia menatap lelaki itu lebih jelas sekarang. Wajahnya benar-benar familiar, dan jelas-jelas Damian tidak hanya pernah bertemu dengannya satu atau dua kali saja. Tak sampai dua detik kemudian, ingatannya saling berkesinambungan.Vincent. Dia adalah salah seorang pelanggan VIP di beach club miliknya. Pengusaha properti dari Jakarta yang sering datang ke Bali untuk berlibur dan selalu memesan area VIP di beach club Damian.
Petugas mengulurkan tangan, sementara Damian menyerahkan boarding pass dan paspor tanpa banyak bicara. Seorang pria paruh baya dengan seragam rapi memindai barcode di boarding pass dengan alat scanner. Bunyi beep pendek terdengar, lalu layar menyala hijau.Saat membuka halaman paspor, tangannya berhenti di halaman foto. Matanya turun ke lembaran di tangan, lalu naik menatap wajah Damian. Tidak ada ekspresi khusus di wajah petugas itu, hanya pandangan datar yang profesional. Namun, waktu itu terasa melambat. Tiga detik terasa ratusan kali lipat lebih lama dari seharusnya.Damian menahan napas tanpa sadar. Dia tidak mengalihkan pandangan, tidak mengubah ekspresi, tidak pula melakukan apa pun yang bisa dianggap mencurigakan. Seolah dia hanya seorang penumpang biasa yang akan terbang ke negara lain dengan alasan yang biasa pula.Petugas lantas menutup paspor. "Silakan."Damian menerimanya dengan tenang, meski ada kelegaan luar biasa yang mengalir di dadanya. Dia menghela napas pelan. Rint
Nayla.Nama itu kembali muncul di benaknya. Tajam, tapi dipaksa untuk jangan sampai mengganggu fokus pikiran. Damian tidak mau membiarkannya tinggal terlalu lama di dalam benak. Sayangnya, bayangan wajah Nayla masih saja menyusup setiap kali dia bernapas.Damian membuka ponsel dengan sedikit gusar. Tak ada pesan baru dari Andy. Pria itu pasti sedang sibuk memindahkan Nayla ke rumah aman. Selama beberapa menit, Damian terus menimang-nimang nomor ponsel itu. Namun, pada akhirnya dia tetap memutuskan tidak menekan tombol panggil.Seolah bisa membaca pikiran Damian, telepon dari Andy tiba-tiba muncul. Tanpa mengurangi fokus dalam berkendara, Damian langsung menggeser ikon hijau. “Halo. Bagaimana?”“Tetap gunakan rute yang sama.” Andy membuka percakapan dengan suara rendah dan bernada terburu. “Setelah sampai By Pass Ngurah Rai, kamu masuk jalur lewat peta yang aku kirim.” “Okay.”Tidak ada ucapan lagi yang keluar dari mulut Damian. Namun, panggilan masih tersambung dan menciptakan hen
Damian menajamkan pandangan ke sekitar. Semakin ramai, semakin baik. Keramaian adalah kabut, dan kabut adalah tempat paling aman bagi seseorang yang ingin menghilang.Tak berselang lama sejak panggilan dengan Andy berakhir, kini ponselnya bergetar lagi. Alih-alih langsung menjawab, Damian justru terlebih dahulu menyesap kopi. Entah untuk mempersiapkan diri untuk informasi yang menegangkan, atau sekadar tak ingin tampak gusar. “Halo, Andy”, ucap Damian yang seketika setelah mengangkat panggilan.“Damian, kami sudah menangkap pergerakan mereka.”“Okay,” jawab Damian tanpa sedikit pun mengubah posisi duduk. “Sudah kamu pastikan?”“Sudah.” Kali ini nada suara Andy terkesan semakin tegang. “Ciri-ciri mobilnya cocok. Plat nomor sama dengan yang sudah kita catat. Dia mulai bergerak ke arah kota.”Damian mengangkat pandangan ke jalan di luar pagar. Matanya menyipit sedikit, bukan karena panik, melainkan karena semua perhitungannya terbukti tepat. Kini, segala kemungkinan yang semula hanya ad
Damian memejamkan mata sesaat ketika suara Andy terdengar dari seberang telepon. Ada bunyi-bunyi samar dari ujung sana. Gesekan kain, deru mesin mobil, dan sesuatu yang terdengar seperti pintu mobil ditutup pelan.“Tim medis sudah menangani. Sekarang kondisi Nayla stabil,” ucap Andy.Damian tidak m
“Tetaplah merapat,” perintah Andy kepada orang-orang di kanan dan kiri.Satu tembakan dengan suara teredam lantas terdengar. Nayla tersentak saat menyaksikan satu tubuh asing terjungkal di depannya dengan darah yang memercik ke lantai batu. Kakinya sempat mundur setengah langka
Permukaan patung yang semula bersih kini sudah ternodai darah. Damian bersandar di baliknya sambil merasakan tetes hangat yang beradu dengan bau anyir. Namun, seolah tak terjadi apa-apa, Damian tetap tegak seraya bersiaga dengan senjatanya.Dua orang dari timnya sempat mendekat, memberi ko
Damian berdiri di teras, membiarkan lampu-lampu taman menerangi garis rahangnya yang mengeras. Tangannya bersandar pada pagar kayu. Cengkeraman jari-jarinya mengerat, seolah dengan itu dia bisa menahan diri untuk tidak kembali masuk.Di kejauhan, suara mesin kendaraan melintas di jalan utama, lalu







