author-banner
Ardianda K
Ardianda K
Author

Novels by Ardianda K

Bangkitnya Pemburu Siluman Vol.1

Bangkitnya Pemburu Siluman Vol.1

Di tengah konfilk penguasa pengujung Kerajaan Majapahit, marak muncul siluman-siluman pemakan daging dan darah manusia. Ada isu yang mengatakan salah satu penguasa yang ingin merebut pengaruh di Majapahit mengendalikan pasukan siluman untuk mengambil alih kekuasaan. Tentu hal ini membuat rakyat jelata takut. Di saat itulah, muncul Setho Gentala, seorang pendekar yang menerima upah untuk memburu siluman-siluman itu sampai ke akarnya. Akan tetapi, semua orang tak tahu bila Setho Gentala merupakan keturunan siluman terkuat.
Read
Chapter: 34. Segel yang Harus Selesai
Tiga tiang batu istana runtuh bersamaan dihantam tangan Rakryan Kala Bregma. Bongkahan-bongkahan besar melayang ke udara sebelum jatuh menghancurkan halaman yang sudah penuh retakan. Jeritan prajurit bercampur dengan lolongan Gandarwa Kubur menciptakan suara kacau yang menggema di seluruh lereng Gunung Pawitra.Kabut hitam kini menutupi hampir seluruh halaman.Api-api obor mati satu demi satu.Dan hawa dingin dari retakan besar di tengah istana terasa seperti napas kematian yang terus merayap ke kulit.Daksa melompat mundur setelah menebas dua Gandarwa sekaligus. Napasnya mulai berat, bajunya dipenuhi bercak darah hitam makhluk dunia bawah.“Kalau perang begini terus,” gerutunya kasar, “aku bisa mati sebelum sempat jadi tua.”Jayengrestu masih berdiri tegak dengan tombak merah di tangannya, namun wajahnya mulai pucat akibat terus-menerus mengeluarkan tenaga dalam.“Kita tidak bisa menahan mereka lebih lama.”Mahesa memandang retakan besar dengan mata gemetar.Rakryan Kala Bregma kini
Last Updated: 2026-05-26
Chapter: 33. Ketakutan yang Benar-Benar Nyata
Seluruh Gunung Pawitra berguncang semakin keras.Batu-batu besar runtuh dari dinding istana malam, menghantam halaman yang sudah retak seperti kulit bumi yang pecah. Pohon-pohon pinus di lereng gunung bergoyang liar diterpa hawa dingin dari bawah tanah, sementara kabut hitam terus menyembur keluar dari celah besar di tengah halaman.Tangan raksasa itu kini mencengkeram tepian retakan sepenuhnya.Kukunya yang panjang menembus batu hitam seperti tanah lumpur.Dan perlahan, sosok di bawah sana mulai menarik tubuhnya naik.Mahesa mundur setengah langkah dengan wajah pucat.“Dia bangun terlalu cepat...”Daksa memutar pedangnya dengan napas kasar.“Kalau semua orang di tempat ini berhenti bicara teka-teki, mungkin keadaan tidak akan sesial ini.”Namun tak seorang pun memedulikan keluhannya.Karena mata mereka semua tertuju pada Setho.Tubuh lelaki itu mulai diselimuti kabut hitam tipis yang bergerak pelan di sekitar kaki dan lengannya. Matanya yang biasanya tajam kini memerah samar seperti
Last Updated: 2026-05-26
Chapter: 32. Mata Kemerahan dan Kabut yang Turun
Ledakan besar dari benturan tiga tenaga tadi membuat seluruh halaman istana Gunung Pawitra terguncang seperti dihantam gempa. Batu-batu hitam beterbangan ke udara, sementara retakan besar di tengah halaman semakin melebar hingga menyerupai jurang menganga.Kabut busuk menyembur semakin deras dari bawah tanah.Dan sesuatu di dalam sana terus bergerak. Pelan. Berat.Seperti makhluk raksasa yang baru bangun setelah tidur sangat lama.Bhuta Karang mundur beberapa langkah akibat serangan Daksa, Jayengrestu, dan Kalacitra. Dada makhluk itu robek lebar hingga tulang hitamnya terlihat jelas. Namun luka tersebut justru bergerak menutup perlahan, diselimuti cairan hitam pekat yang menggeliat seperti makhluk hidup.Daksa memaki kasar sambil meludah ke tanah.“Kalau begini caranya, sampai besok pagi juga benda busuk itu tidak mati.”Jayengrestu memutar tombaknya sekali sebelum kembali memasang kuda-kuda.“Makhluk dunia bawah tidak mengenal tubuh seperti manusia.”“Ucapanmu sama tidak menyenangkan
Last Updated: 2026-05-26
Chapter: 31. Lubang Hitam yang Kosong
Retakan besar di halaman istana Gunung Pawitra terus melebar seperti mulut raksasa yang sedang membuka rahangnya perlahan dari bawah tanah. Batu-batu hitam pecah satu demi satu, jatuh ke dalam celah gelap yang tidak memperlihatkan dasar.Kabut busuk membumbung naik bersama suara tangisan perempuan yang semakin jelas terdengar.Beberapa prajurit Majapahit mulai mundur dengan wajah pucat.“Apa itu...?” gumam salah seorang di antara mereka.Belum ada yang sempat menjawab.Craakk!Tangan hitam kurus yang tadi merayap dari celah tanah kini mencengkeram tepian retakan lebih kuat. Kukunya panjang seperti pecahan tulang, sementara kulitnya tampak basah dan membusuk.Lalu satu sosok perlahan naik keluar.Makhluk itu menyerupai manusia, namun tubuhnya terlalu panjang dan kurus. Rambutnya putih kusut menutupi separuh wajah, sementara mulutnya robek hingga ke pipi.Mata kosongnya langsung tertuju pada Setho.Dan makhluk itu berbisik lirih.“Anak... darah...”Daksa langsung mengangkat pedangnya.“
Last Updated: 2026-05-25
Chapter: 30. Bukan Manusia
Kabut pekat turun semakin rendah di halaman istana malam Gunung Pawitra. Bara api dari gerbang barat yang runtuh masih menyala merah di sela puing batu, memantulkan cahaya bergelombang pada wajah-wajah tegang yang saling berhadapan.Tak ada seorang pun yang benar-benar tenang.Ucapan Ardikara tentang makam Ratih Amretasari terasa seperti tangan tak terlihat yang baru saja membuka luka lama seluruh penghuni gunung.Kalacitra berdiri diam dengan mata merah menyala samar di tengah kabut hitam yang mulai bergerak mengelilingi tubuhnya. Wajahnya tetap tenang, namun Setho bisa merasakan kemarahan dan ketakutan bercampur di balik tatapan itu.“Apa yang tersegel bersama ibuku?” tanya Setho pelan.Suara itu tidak keras.Justru terlalu tenang.Dan itu membuat Daksa perlahan memandang sahabatnya dengan khawatir.Ardikara tersenyum kecil.“Nah. Pertanyaan yang benar akhirnya keluar.”“Jawab.”Namun Ardikara tidak segera bicara. Ia justru melirik Kalacitra seolah sengaja menikmati perubahan wajah
Last Updated: 2026-05-25
Chapter: 29. Apa Itu Gerbang Arcapada?
Kabut malam semakin tebal menyelimuti halaman istana Gunung Pawitra. Bara api dari gerbang barat yang runtuh beterbangan dibawa angin, melintas di antara pasukan Lingkar Ular, prajurit Majapahit, dan para pengawal kaum malam yang kini saling menahan diri dengan tangan tetap menggenggam senjata.Tak seorang pun bergerak gegabah.Kemunculan Pangeran Ardikara membuat suasana berubah aneh.Seolah semua orang sadar bahwa pertumpahan darah berikutnya akan jauh lebih besar daripada sekadar perebutan lereng gunung.Ardikara melangkah perlahan di atas tanah yang dipenuhi abu dan darah. Jubah hitam panjangnya bergerak ringan diterpa angin malam, sementara mata kuning keemasannya terus tertuju pada Setho Gentala.Tatapan itu membuat Setho merasa seperti sedang diperiksa sampai ke dalam tulang.“Kau tumbuh jauh berbeda dari dugaan kami,” ujar Ardikara lirih.Daksa langsung mendecak.“Aku mulai muak dengan orang-orang yang bicara seperti kenal lama.”Ardikara tersenyum samar.“Karena kalian manusi
Last Updated: 2026-05-25
Digoda Suami Gaib

Digoda Suami Gaib

Budiman seorang akuntan dari sebuah bank di Semarang, baru saja dipindahkan ke cabang bank lain di Yogyakarta. Ia bersama istrinya, Wirda, menempati rumah di perumahan tua yang dikelilingi banyak rumah kosong. Namun, sejak mereka pindah ke rumah baru tersebut Budiman merasa Wirda semakin berubah. Istrinya yang semula ramah dan sopan itu perlahan menjadi pemberang dan kerap menggoda lelaki lain. Kecemburuan pun memuncak saat Wirda sering berdesah dalam tidur, dan menyebut seseorang dalam mimpinya. Hingga ia menyadari, kecemburuannya itu bukanlah pada lelaki lain melainkan pada sesosok iblis, raja genderuwo.
Read
Chapter: Bab 150: Akhir yang Nestapa
“Kau membunuh Sekar?” desakku. Diam. Meski sinyal telepati kami masih saling terhubung. “Jawab,” desakku lagi. “Kalau seandainya iya, kenapa? Lagipula, kau tidak ada urusan lagi dengannya.” “Ada. Bila ia masih hidup, aku punya kesempatan besar untuk mengembalikan kehidupanku. Mengubahnya, dan ...” “Aku membunuhnya tepat setelah kami memulai kehidupan kami... ya, di masa awal-awal, bahkan dalam duniamu, kau masih dalam persiapan pernikahan dengan Gandarakala jelek itu. Aku sudah menyusun rencana dengan memanfaatkan Budiman untuk membunuhnya.” Aku menganga. “B-Bagaimana b-bisa?!” “Mungkin aku tak bisa membunuhnya dengan kekuatanku karena itu hanya akan membunuhku. Tapi, Sekar memiliki banyak celah di hadapan manusia. Dan Budiman yang membunuhnya.” “Tidak!” “Budiman membunuhnya saat ia dan Sekar berencana melaporkan kehidupan kami kepada dokter forensik itu. Sebelum tiba di perjalanan, ia mencekiknya, memukul kepalanya dengan palu yang telah ia siapkan dari rumah.” “B-Bagaiman
Last Updated: 2023-01-30
Chapter: Bab 149: Kepastian Sekar
“Memang ada suatu hal yang mesti kau lakukan ketika memilih jalan hidupmu. Sama seperti Anakku Athania, pada akhirnya ia memilih jalan keikhlasan, karena di masa mudanya, sama sepertimu... ia memilih jalan hidupnya di sini. Bersama ayah dari Raja Gandarakala. Raja sebelumnya. Dan kini ia bisa menerima kehidupannya sendiri. Ia bisa hidup damai...” kata Ki Subadra terdengar bijak dan cukup menyesatkan. Namun, aku menggeleng, dan masih tetap berusaha mengangkat tubuhku dari atas sebuah meja altar besar di mana kitab tersebut berada di sana. Tanpa sengaja, di saat aku sedang mengendalikan tubuhku, aku menjatuhkan lilin dan api segera tersunut membakar kain yang melapisi meja altar tersebut. Dengan sigap, Ki Subadra lantas menghisap api tersebut seolah sedang menyeruput minuman saja. Sekejap, api pun hilang. Kini, jelaslah seperti apa kesaktian lelaki ini. Mataku membelalak. “Pulanglah ke kamarmu, Anakku. Ini adalah pilihanmu. Dan semua penderitaanmu merupakan akibat dari pilihanmu send
Last Updated: 2023-01-30
Chapter: Bab 148: Kenapa Hanya Aku Yang Menderita
Apa yang tak pernah terpikir olehku adalah ketika aku menemukan namaku di sebuah kitab khusus di sebuah ruangan yang hanya bisa dimasukkan oleh anggota dewan kerajaan, yang mana sekumpulan orang-orang penting pembuat keputusan, dan raja menyakralkan keputusan tersebut. Semua ini berawal dari mimpi burukku suatu malam, yang kemudian mengantarkanku pada penyelundupanku ke sebuah ruangan, usai mengelabui beberapa penjaga dengan menyuap mereka dengan emas-emas juga tubuhku. Ya, aku tidak bohong. Juga dengan tubuhku. Aku seperti wanita malam di dunia manusia. Kupikir bayaran itu setimpal untuknya, karena ruangan itu memang amatlah rahasia bahkan bagi para istri raja sebelumnya—hanya akulah yang pertama kali memasuki ruangan itu. Sebelum mimpi buruk itu datang, sehari sebelumnya aku masih mengingat kata-kata Ibu Athania yang dengan tegas—untuk ke sekian kalinya memberitahunya untuk menghapus namaku. “Sebaiknya kau tidak perlu melakukannya... sudah kubilang. Ini sangatlah berbahaya.” “Ap
Last Updated: 2023-01-30
Chapter: Bab 147: Aku Sudah Tahu
Ada rasa sepi yang tak bisa ditahan lagi. Seolah tak ada yang bisa menjelaskan padaku arti cinta itu lagi. Dan artinya semakin jauh kurasa. Apa harus begini. Harus bagaimana lagi aku menghadapi semua ini. Gandarakala agaknya belum mengetahui betapa dirinya telah menghilangkan hasratnya melalui mantera penangkal gendam dari peri itu. Setiap ia datang menghampiriku, dan menggodaku sembari menelusupkan mantera gendam tersebut. Tangannya merayap di sekujur tubuhku, dan bersama itu pula hawa dingin mengepungku. Sementara mulutku terus menggumamkan dusta. Desah dusta, lenguh dusta, erang dusta, juga desisan manja yang tersusun dari kata dusta, Dan mahluk ini masih belum bisa menyadarinya, kendati ia telah menyetubuhi istrinya hampir dua jam lamanya dalam kehidupan manusia. Sampai kakiku mengangkang, dan membiarkan batang panjangnya menghunjam keluar-masuk di selangkanganku, aku tetap berdusta. Hingga ia berkata. “Kau kering... tumben sekali?” “Entah..sssh...” Ya, tak biasanya aku banj
Last Updated: 2023-01-30
Chapter: Bab 146: Seorang Peri Pertama Kali Menangis
“Dia sama sekali tidak menujukkannya.. Dan entah kenapa kesadaran itu muncul dalam diriku, Kinanti,” kataku pada peri itu dalam telepati yang sudah jarang kami lakukan. Namun, entah apa yang terjadi, suatu hari Kinanti mengabariku, dan di saat itu pula aku menceritakan keadaanku dengan Gantarra. “Lalu, bagaimana selanjutnya?” “Buruk.” “Buruk bagaimana?” “Dia agaknya makin memberi jarak padaku, dan dia sudah dikirim bertugas ke tempat yang lebih jauh lagi,” kataku dengan nada yang lemah. Dan hawa kefrustasian kembali melingkupiku lagi. Seolah kesepian sudah menjadi takdir hidupku. Seolah tak boleh ada yang benar-benar bisa kupercaya bahwa ada orang yang mencintaiku sungguh-sungguh, tanpa embel-embel gendam dan perangkat curang yang membuatku termanipulasi pada sosok siapapun. Tapi, benarkah? Benarkah kalau Gantarra mengirimkan gendam pula padaku. Kenapa aku tidak merasakannya? Sebagaimana aku merasakan setiap mantera gendam yang berusaha dikirim oleh para demit. Tidak hanya Gandara
Last Updated: 2023-01-29
Chapter: Bab 145: Gantarra Juga!
Desahan itu terus bergulir sepanjang waktu dalam sebuah kamar kecil dan sempit—jika dibandingkan dengan kamar istana—yang selama ini menjadi tempat tinggalku, sekaligus sangkar emas yang membelengguku. Gantarra pun begitu melampiaskan rasa rindu yang sama padaku. Tubuhnya yang kekar terus melingkupiku, yang polos tanpa sehelai benangpun. Peluh kami sudah berjatuhan, membasahi ranjang, bersama itu pula ranjang kami terus berderak tanpa bosan. Bahkan ketika seorang pengurus bangsal kamar yang kerap memeriksa kamar dan membersihkan ruangan dengan seizin penyewa, kami sama sekali tidak membukakan jin itu, dan membiarkan kami terus tenggelam dalam balutan berahi rindu yang tak terahankan. Aku tahu, bila seseorang melihat dan mendengarku pastilah mereka akan melaporkannya kepada raja, itulah menjadi sebab mengapa aku tak membukakan kamar. Gantarra pun setuju akan hal itu. “Ah! Ah! Ah! Uuuh! Uuh! OOOOH!” Tubuh menggeliat dan terangkat. Desahan terus meliar. Sedangkan Gantarra terus meng
Last Updated: 2023-01-29
You may also like
Dewa Dewi Kerajaan Sanggabumi
Dewa Dewi Kerajaan Sanggabumi
Historical · Afifah Maulida
3.5K views
Perjalanan Hidup Alvira
Perjalanan Hidup Alvira
Historical · alifiamch
3.4K views
Marga Kuromori
Marga Kuromori
Historical · Suci AD
3.4K views
Alegoria
Alegoria
Historical · Red Maira
3.3K views
Mungkinkah, Aku Gila
Mungkinkah, Aku Gila
Historical · Ria Taslim
3.3K views
Petualangan Nerva
Petualangan Nerva
Historical · sidiq winiaji
3.3K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status