Kudeta Sang Bodyguard
"Dulu kau membuangku seperti sampah. Kini, aku kembali untuk mengambil takhtamu."
Dua puluh lima tahun lalu, Mirna Kusuma diusir dengan keji oleh keluarga konglomerat Winata. Hasil tes DNA kandungannya dirobek dan dibuang ke kubangan air di bawah guyuran hujan lebat. Antoni Winata, sang ayah biologis, memilih memalingkan wajah demi harta dan takhta.
Kini, benih yang terlantar itu telah tumbuh menjadi pria sedingin es yang mematikan—Harlan Kusuma.
Bukannya datang mengemis pengakuan, Harlan menyusup ke dalam Winata Group sebagai seorang satpam biasa. Namun, berkat ketangguhan dan kecerdasannya, dia dengan cepat merangkak naik menjadi bodyguard kepercayaan Brian Winata, putra sah Antoni yang arogan tapi bodoh.
Di balik seragamnya, Harlan adalah dalang yang lihai. Dia menjadikan Brian boneka pribadinya, memanipulasi setiap keputusan, dan perlahan menghancurkan dinasti Winata dari dalam
Read
Chapter: 45. Pemimpin Tanujaya Group yang Sesungguhnya Bukan AkuAgnes berjalan mendekati meja kayu di tengah ruangan, menyandarkan kedua tangannya di tepi meja sembari menunduk dalam. Keheningan merayap di antara mereka berdua sebelum Agnes kembali mendongak dengan tatapan mata penuh keputusasaan."Besok adalah hari pernikahanku dengan Brian Winata," ujar Agnes dengan nada suara datar namun menyimpan beban yang teramat berat.Harlan menatap Agnes tanpa berkedip, membiarkan kalimat tersebut menggantung di udara malam yang dingin. Rencana pernikahan politik antara keluarga Tanuwijaya dan keluarga Winata memang sudah dirancang jauh-jauh hari untuk memperkuat dominasi bisnis kedua belah pihak."Tapi aku bersumpah, bahwa aku tidak akan menghadiri altar itu," lanjut Agnes, menyunggingkan senyum tipis yang dingin dan sarat akan penolakan. "Aku memutuskan melarikan diri dari pernikahan konyol ini besok pagi."Harlan mencerutkan keningnya, melangkah satu pijakan mendekati Agnes."Jika kau kabur, posisimu di Tanuwijaya Group akan hancur dalam sekejap.""Aku
Last Updated: 2026-10-11
Chapter: 44. Kenapa Kau yang Datang?Harlan menyandarkan punggungnya di kursi kayu, menatap layar ponselnya yang memancarkan pendar cahaya di dalam kamar yang remang. Panggilan video terhubung, menampilkan wajah Clara yang tersenyum manis dengan latar belakang kamar rumah susunnya.Hubungan jarak jauh ini menjadi jembatan tipis di antara kesibukan mereka, mengobati rasa rindu yang tertahan di dada Harlan."Aku merindukanmu, Harlan," bisik Clara lembut dari balik layar."Aku juga, Clara," sahut Harlan dengan suara bariton yang hangat dan dalam. "Bagaimana pekerjaanmu di supermarket minggu ini?""Lancar seperti biasa, hanya saja sepi tanpa kehadiranmu yang sering menjemputku sore hari," jawab Clara sembari terkekeh pelan. "Tenang saja, akhir pekan ini aku libur dan janji akan datang menyusulmu ke selatan Bandung."Harlan menyunggingkan senyum lega, membayangkan kepedihan pengasingan ini akan terobati oleh kedatangan wanita yang sangat dicintainya itu. Mereka mengakhiri panggilan malam itu dengan janji manis yang menggantun
Last Updated: 2026-10-07
Chapter: 43. Apakah Akan Berbalik ArahHarlan mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih, menatap pemandangan perbukitan yang membisu dari jendela rumah kecilnya di selatan Bandung.Kekesalan membakar dadanya, menyadari bahwa pengasingannya ke kota kecil ini secara drastis mempersempit ruang geraknya untuk memantau pergerakan keluarga Winata.Harlan sangat yakin Rinka dan Damian Soerja kini sedang melancarkan eksekusi tahap akhir untuk melemahkan posisi Antoni Soerja di rumah sakit secara perlahan.Jarak yang jauh dari ibu kota membuat tangannya seolah terikat untuk mengintervensi konspirasi berdarah yang makin memuncak tersebut.Suara derum mesin kendaraan memecah keheningan sore, disusul suara pintu mobil yang ditutup dengan hentakan pelan di halaman depan.Randy melangkah masuk ke dalam rumah sederhana itu, meletakkan ransel hitam tebalnya di atas meja dengan napas terengah-engah.Randy melangkah ke jendela samping, menyapu pandangannya ke arah hamparan lahan luas yang tersembunyi di balik pepoh
Last Updated: 2026-10-06
Chapter: 42. Pengasingan HarlanBunyi moniter detak jantung di dalam ruang perawatan intensif berbunyi bip berulang kali dengan nada yang makin lemah. Antoni terbaring kaku di atas tempat tidur medis dengan pelbagai selang menancap di tubuhnya, memperlihatkan kondisi kesehatannya yang kembali kritis secara mendadak.Brian berdiri di samping ranjang dengan raut wajah pucat pasi dan mata yang memerah akibat kurang tidur. Sesekali, pria muda itu berjalan bolak-balik di lantai marmer, jemarinya memegang kepala yang terasa pening dihantam rentetan masalah.Teror dari kelompok suruhan keluarga Santoso, sub-keluarga mafia berbahaya di bawah naungan keluarga Sandekala, membuat paranoia Brian mencapai titik tertinggi. Brian makin senewen dan murka setiap kali menyadari Harlan tidak berdiri tepat di samping tubuhnya untuk mengawal."Kau dari mana saja, Harlan?!" bentak Brian dengan suara melengking saat Harlan melangkah masuk ke dalam ruang perawatan. "Di saat bajingan-bajingan mafia itu mengincarku, kamu malah sering menghi
Last Updated: 2026-10-05
Chapter: 41. Tanda Tanya Besar ClaraAroma lantai yang baru dipel dan denting samar musik latar melingkupi udara retail supermarket tempat Clara bekerja. Pelanggan berlalu-lalang menuntun troli, sementara barisan lampu neon memantulkan cahaya terang ke atas rak-rak produk yang tertata rapi.Di lorong bagian makanan kemasan, Randy berjalan pelan bersama kekasihnya, Lidya, sembari mendorong troli belanjaan. Harlan sengaja belum pernah mempertemukan Clara dengan Randy secara langsung, membuat penyamaran kecil ini berjalan sangat mulus tanpa memicu kecurigaan."Yang itu pegawai kasirnya, kan?" bisik Lidya berpura-pura mengambil kotak sereal dari rak tinggi.Randy menoleh tipis, matanya melirik ke arah lorong kasir tempat seorang perempuan berseragam retail sedang melayani pembeli. Clara tersenyum ramah, mengoperasikan mesin pemindai harga dengan gerakan cekatan dan menyapa setiap pelanggan dengan kehangatan murni.Lidya mengambil dua kaleng minuman, berpura-pura membandingkan nutrisi di label belakangnya. "Dia kelihatan mani
Last Updated: 2026-10-04
Chapter: 40. Saat Tabir Rahasia TerungkapHarlan memilih membisu, menyimpan rapat-rapat keraguan di dadanya tanpa pernah melontarkan satu pertanyaan pun kepada Clara. Pria itu menolak merusak kehangatan manis yang selama ini menjadi satu-satunya tempat bersandar di tengah kejamnya perang konspirasi.Hari-hari berikutnya berjalan seolah tidak terjadi apa pun di antara mereka berdua. Harlan tetap setia menjemput Clara di depan gedung kantor tempat perempuan itu bekerja setiap sore hari.Rintik hujan dan hembusan angin malam sering kali membawa mereka kembali ke kamar rumah susun yang remang dan tenang.Di atas ranjang yang sama, Harlan dan Clara kembali menumpahkan seluruh rasa lelah, saling mendekap erat dalam balutan gairah yang intens. Cumbuan mereka begitu panas dan terus membangkitkan berahi cinta yang selalu menunjukkan keinginan untuk saling melindungi.Namun, di balik kehangatan setiap sentuhan dan tatapan mata Clara, pikiran Harlan terus berkecamuk membayangkan sekelompok pria berjas yang tunduk patuh hari itu. Tak ha
Last Updated: 2026-10-03
Digoda Suami Gaib
Budiman seorang akuntan dari sebuah bank di Semarang, baru saja dipindahkan ke cabang bank lain di Yogyakarta. Ia bersama istrinya, Wirda, menempati rumah di perumahan tua yang dikelilingi banyak rumah kosong. Namun, sejak mereka pindah ke rumah baru tersebut Budiman merasa Wirda semakin berubah.
Istrinya yang semula ramah dan sopan itu perlahan menjadi pemberang dan kerap menggoda lelaki lain. Kecemburuan pun memuncak saat Wirda sering berdesah dalam tidur, dan menyebut seseorang dalam mimpinya. Hingga ia menyadari, kecemburuannya itu bukanlah pada lelaki lain melainkan pada sesosok iblis, raja genderuwo.
Read
Chapter: Bab 150: Akhir yang Nestapa“Kau membunuh Sekar?” desakku. Diam. Meski sinyal telepati kami masih saling terhubung. “Jawab,” desakku lagi. “Kalau seandainya iya, kenapa? Lagipula, kau tidak ada urusan lagi dengannya.” “Ada. Bila ia masih hidup, aku punya kesempatan besar untuk mengembalikan kehidupanku. Mengubahnya, dan ...” “Aku membunuhnya tepat setelah kami memulai kehidupan kami... ya, di masa awal-awal, bahkan dalam duniamu, kau masih dalam persiapan pernikahan dengan Gandarakala jelek itu. Aku sudah menyusun rencana dengan memanfaatkan Budiman untuk membunuhnya.” Aku menganga. “B-Bagaimana b-bisa?!” “Mungkin aku tak bisa membunuhnya dengan kekuatanku karena itu hanya akan membunuhku. Tapi, Sekar memiliki banyak celah di hadapan manusia. Dan Budiman yang membunuhnya.” “Tidak!” “Budiman membunuhnya saat ia dan Sekar berencana melaporkan kehidupan kami kepada dokter forensik itu. Sebelum tiba di perjalanan, ia mencekiknya, memukul kepalanya dengan palu yang telah ia siapkan dari rumah.” “B-Bagaiman
Last Updated: 2023-01-30
Chapter: Bab 149: Kepastian Sekar“Memang ada suatu hal yang mesti kau lakukan ketika memilih jalan hidupmu. Sama seperti Anakku Athania, pada akhirnya ia memilih jalan keikhlasan, karena di masa mudanya, sama sepertimu... ia memilih jalan hidupnya di sini. Bersama ayah dari Raja Gandarakala. Raja sebelumnya. Dan kini ia bisa menerima kehidupannya sendiri. Ia bisa hidup damai...” kata Ki Subadra terdengar bijak dan cukup menyesatkan. Namun, aku menggeleng, dan masih tetap berusaha mengangkat tubuhku dari atas sebuah meja altar besar di mana kitab tersebut berada di sana. Tanpa sengaja, di saat aku sedang mengendalikan tubuhku, aku menjatuhkan lilin dan api segera tersunut membakar kain yang melapisi meja altar tersebut. Dengan sigap, Ki Subadra lantas menghisap api tersebut seolah sedang menyeruput minuman saja. Sekejap, api pun hilang. Kini, jelaslah seperti apa kesaktian lelaki ini. Mataku membelalak. “Pulanglah ke kamarmu, Anakku. Ini adalah pilihanmu. Dan semua penderitaanmu merupakan akibat dari pilihanmu send
Last Updated: 2023-01-30
Chapter: Bab 148: Kenapa Hanya Aku Yang MenderitaApa yang tak pernah terpikir olehku adalah ketika aku menemukan namaku di sebuah kitab khusus di sebuah ruangan yang hanya bisa dimasukkan oleh anggota dewan kerajaan, yang mana sekumpulan orang-orang penting pembuat keputusan, dan raja menyakralkan keputusan tersebut. Semua ini berawal dari mimpi burukku suatu malam, yang kemudian mengantarkanku pada penyelundupanku ke sebuah ruangan, usai mengelabui beberapa penjaga dengan menyuap mereka dengan emas-emas juga tubuhku. Ya, aku tidak bohong. Juga dengan tubuhku. Aku seperti wanita malam di dunia manusia. Kupikir bayaran itu setimpal untuknya, karena ruangan itu memang amatlah rahasia bahkan bagi para istri raja sebelumnya—hanya akulah yang pertama kali memasuki ruangan itu. Sebelum mimpi buruk itu datang, sehari sebelumnya aku masih mengingat kata-kata Ibu Athania yang dengan tegas—untuk ke sekian kalinya memberitahunya untuk menghapus namaku. “Sebaiknya kau tidak perlu melakukannya... sudah kubilang. Ini sangatlah berbahaya.” “Ap
Last Updated: 2023-01-30
Chapter: Bab 147: Aku Sudah TahuAda rasa sepi yang tak bisa ditahan lagi. Seolah tak ada yang bisa menjelaskan padaku arti cinta itu lagi. Dan artinya semakin jauh kurasa. Apa harus begini. Harus bagaimana lagi aku menghadapi semua ini. Gandarakala agaknya belum mengetahui betapa dirinya telah menghilangkan hasratnya melalui mantera penangkal gendam dari peri itu. Setiap ia datang menghampiriku, dan menggodaku sembari menelusupkan mantera gendam tersebut. Tangannya merayap di sekujur tubuhku, dan bersama itu pula hawa dingin mengepungku. Sementara mulutku terus menggumamkan dusta. Desah dusta, lenguh dusta, erang dusta, juga desisan manja yang tersusun dari kata dusta, Dan mahluk ini masih belum bisa menyadarinya, kendati ia telah menyetubuhi istrinya hampir dua jam lamanya dalam kehidupan manusia. Sampai kakiku mengangkang, dan membiarkan batang panjangnya menghunjam keluar-masuk di selangkanganku, aku tetap berdusta. Hingga ia berkata. “Kau kering... tumben sekali?” “Entah..sssh...” Ya, tak biasanya aku banj
Last Updated: 2023-01-30
Chapter: Bab 146: Seorang Peri Pertama Kali Menangis“Dia sama sekali tidak menujukkannya.. Dan entah kenapa kesadaran itu muncul dalam diriku, Kinanti,” kataku pada peri itu dalam telepati yang sudah jarang kami lakukan. Namun, entah apa yang terjadi, suatu hari Kinanti mengabariku, dan di saat itu pula aku menceritakan keadaanku dengan Gantarra. “Lalu, bagaimana selanjutnya?” “Buruk.” “Buruk bagaimana?” “Dia agaknya makin memberi jarak padaku, dan dia sudah dikirim bertugas ke tempat yang lebih jauh lagi,” kataku dengan nada yang lemah. Dan hawa kefrustasian kembali melingkupiku lagi. Seolah kesepian sudah menjadi takdir hidupku. Seolah tak boleh ada yang benar-benar bisa kupercaya bahwa ada orang yang mencintaiku sungguh-sungguh, tanpa embel-embel gendam dan perangkat curang yang membuatku termanipulasi pada sosok siapapun. Tapi, benarkah? Benarkah kalau Gantarra mengirimkan gendam pula padaku. Kenapa aku tidak merasakannya? Sebagaimana aku merasakan setiap mantera gendam yang berusaha dikirim oleh para demit. Tidak hanya Gandara
Last Updated: 2023-01-29
Chapter: Bab 145: Gantarra Juga!Desahan itu terus bergulir sepanjang waktu dalam sebuah kamar kecil dan sempit—jika dibandingkan dengan kamar istana—yang selama ini menjadi tempat tinggalku, sekaligus sangkar emas yang membelengguku. Gantarra pun begitu melampiaskan rasa rindu yang sama padaku. Tubuhnya yang kekar terus melingkupiku, yang polos tanpa sehelai benangpun. Peluh kami sudah berjatuhan, membasahi ranjang, bersama itu pula ranjang kami terus berderak tanpa bosan. Bahkan ketika seorang pengurus bangsal kamar yang kerap memeriksa kamar dan membersihkan ruangan dengan seizin penyewa, kami sama sekali tidak membukakan jin itu, dan membiarkan kami terus tenggelam dalam balutan berahi rindu yang tak terahankan. Aku tahu, bila seseorang melihat dan mendengarku pastilah mereka akan melaporkannya kepada raja, itulah menjadi sebab mengapa aku tak membukakan kamar. Gantarra pun setuju akan hal itu. “Ah! Ah! Ah! Uuuh! Uuh! OOOOH!” Tubuh menggeliat dan terangkat. Desahan terus meliar. Sedangkan Gantarra terus meng
Last Updated: 2023-01-29
Chapter: 69. Bara Sisa di Perapian AgungAsap hitam mengepul tebal dari cerobong tinggi bengkel pandai besi pusat di sektor selatan keraton Trowulan, membawa serta bau belerang yang menusuk hidung dan hawa panas yang seolah sanggup memanggang kulit.Udara malam yang dingin di luar ruangan sama sekali tidak berdaya meredam gelegar bara api jati yang terus ditiup oleh dua buah ububan raksasa di samping tungku utama.Setho Gentala berdiri bersedekap, zirah tembaganya memantulkan kilatan cahaya jingga yang melonjak-lonjak dari balik dinding bata pembakaran yang membara merah.Di sampingnya, Kalacitra mengawasi dengan pandangan mata yang tak berkedip, membiarkan jemarinya meraba seeping logam perunggu berlambang naga kembar yang kini terasa hangat akibat rambatan radiasi panas tungku agung. Langkah para pandai besi senior yang bertubuh kekar bergerak ritmis, menyendok pecahan-pecahan belati Manyar Widang yang telah retak ke dalam cawan lebur terbuat dari tanah liat hitam pilihan.Kehadiran sepasang pemburu ghaib di dalam bengkel
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: 68. Jejak Sungsang di Pasar TengahMatahari merayap tepat di atas bubungan atap pasar tengah Trowulan, menyengat permukaan tanah berdebu yang mulai dipadati oleh hiruk-pikuk kawula alit. Aroma ikan asin, rempah-rempah kapulaga, dan keringat kuli panggul berbaur menjadi satu di bawah naungan tenda-tenda kain goni yang bergoyang pelan ditiup angin siang yang kering.Di tengah keriuhan para pedagang kain yang menawarkan barang dagangan dari tanah seberang, Kalacitra berjalan dengan langkah yang seringan kapas, menyamar di balik kerudung usang berwarna jingga pudar.Logam perunggu berlambang naga kembar pemberian Setho Gentala tersimpan rapat di balik lipatan kemben hitamnya, sesekali bergesekan dengan belati perak yang siap dicabut dalam sekejap mata.Sepasang mata Kalacitra yang tajam terus menyisir sela-sela los pasar loak yang memajang sisa-sisa perkakas besi tua dan jimat-jimat tembaga murahan.Indra penciuman mistisnya yang terlatih sejak masa kejayaan faksi malam menangkap adanya sebersit aroma wangi pandan busuk be
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: 67. Riak Senyap di Selasar UtaraAngin muson barat bertiup membawa aroma tanah basah dari arah lereng Gunung Kelud, menerpa deretan pilar jati bertoreh emas yang menyangga selasar utara Sasana Wilwatikta. Semburat fajar yang baru terbit menyinari lantai batu hitam, mempertegas barisan prajurit Bhayangkara baru yang berdiri tegak memegang tombak berpanji naga kembar.Setho Gentala melangkah dengan jubah Senopati Pengawal Dalam yang masih kaku, sesekali meraba hulu pedang pusakanya yang kini tergantung tenang di pinggang kiri. Guratan sewarna tembaga bakar di lengan kanannya terasa berdenyut halus, bukan sebagai luapan energi ghaib purba yang liar, melainkan sebagai getaran sisa kekuatan yang telah sepenuhnya tunduk di bawah kendali batin manusianya yang matang. Setiap ketukan langkah laras kulitnya memecah kesunyian selasar, mengusir sisa-sisa bayangan kecemasan politik yang sempat mengendap di sudut-sudut keraton selama berbulan-bulan.Di ujung selasar yang berbatasan langsung dengan taman keputrian, tampak berdiri s
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: 66. Kidung Damai di Ujung PasisirLembayung senja mulai turun mengulas warna keemasan yang redup di atas hamparan pasir basah Pantai Tuban, menghalau sisa-sisa ketegangan yang sempat mencengkeram rawa-rawa pesisir sejak fajar tadi. Ombak bergulung lambat, menyapu buih-buih putih ke tepian, seolah berupaya membersihkan sisa noda hitam yang sempat dimuntahkan oleh bangkai siluman rawa purba.Setho Gentala berdiri di atas gundukan batu karang yang menjorok ke laut, membiarkan angin pasat utara meniup jubah pelindungnya yang kini tampak koyak di beberapa bagian akibat sabetan senjata para bajak laut. Tangan kanannya tak lagi dibalut kain sutra, memperlihatkan garis simbol merah yang kini telah meredup sepenuhnya, menyisakan guratan sewarna tembaga bakar yang menyatu tenang di bawah pori-pori kulitnya.Dua perwira Bhayangkara tampak sibuk di bawah naungan dinding menara kuno, memastikan ruji-ruji besi yang mengikat tubuh si mata satu telah terkunci dengan paten pada pasak kereta tahanan darurat.Pimpinan kecu laut itu hany
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: 65. Amuk Segara KelabuBau garam yang pekat bercampur aroma pembusukan akar bakau menusuk rongga hidung saat rombongan kecil itu menembus batas vegetasi Alas Tarik.Rawa-rawa pesisir utara membentang luas di hadapan mereka, rona kelabu air mati memantulkan sisa langit fajar yang pucat laksana pipi mayat. Menara pengawas kuno milik Kadipaten Tuban tua berdiri kaku di atas gundukan tanah cadas, fondasi batunya telah menghitam akibat kikisan air laut yang bergolak konstan selama ratusan tahun.Setho Gentala memperketat genggaman tangannya pada hulu pedang pusaka, merasakan rembesan hawa dingin lautan mencoba menyusup ke dalam sela-sela zirah tembaganya yang masih menyimpan sisa panas api purba.Dua perwira Bhayangkara yang tersisa segera mengambil posisi lambung, tameng besi mereka ditinggikan hingga sebatas dada untuk melindungi jalur tengah setapak yang kian becek oleh lumpur asin.Di tempat sesunyi ini, setiap deru kepakan sayap burung camar laut terdengar menyerupai kibasan jubah sutra para telik sandi yan
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: 64. Bara Ghaib di Alas TarikRembulan yang terbebas dari gerhana kini bersinar teramat benderang, memantulkan cahaya perak yang dingin pada permukaan daun-daun jati yang meranggas di sepanjang jalur tikus menuju Alas Tarik.Sisa-sisa hawa pertempuran di menara air Trowulan masih meninggalkan bau sangit belerang yang samar pada jubah pelindung yang dikenakan oleh rombongan kecil ksatria Bhayangkara.Setho Gentala berjalan di sela kerapatan pohon purba dengan tangan kanan yang dibalut kain sutra putih, menahan denyutan ghaib dari simbol merah yang kian memanas pasca runtuhnya inti batin Malika Tantrayani.Langkah kakinya yang berbalut zirah tembaga tidak lagi sekencang biasanya, setiap pijakannya di atas ranting kering memicu getaran hawa hangat yang merembes langsung dari pori-pori kulitnya yang melepuh halus.Kalacitra berjalan dua tindak di sebelah kirinya, jemari lentiknya sesekali meraba batang-batang pohon jati yang mereka lewati, mendeteksi jalinan sisa mantra pelari yang sengaja ditinggalkan oleh sisa-sisa
Last Updated: 2026-07-05