ログインDi tengah konfilk penguasa pengujung Kerajaan Majapahit, marak muncul siluman-siluman pemakan daging dan darah manusia. Ada isu yang mengatakan salah satu penguasa yang ingin merebut pengaruh di Majapahit mengendalikan pasukan siluman untuk mengambil alih kekuasaan. Tentu hal ini membuat rakyat jelata takut. Di saat itulah, muncul Setho Gentala, seorang pendekar yang menerima upah untuk memburu siluman-siluman itu sampai ke akarnya. Akan tetapi, semua orang tak tahu bila Setho Gentala merupakan keturunan siluman terkuat.
もっと見るGunung-gunung mayat bertebaran di sekitar Alas Kertasana. Hujan pun turun dari langit yang menggelap. Beberapa senopati Majapahit tampak melempar mayat-mayat prajurit ke gunungan mayat yang menggunduk di bawah pohon beringin dan pohon maja, untuk selanjutnya akan mereka bakar demi menghemat tempat. Di salah satu gunungan mayat, tiga senopati Majapahit tampak tercenung ketika melihat mayat-mayat itu bergerak: seolah ada suatu energi yang menggerakkan mayat-mayat yang tertumpuk di paling bawah sampai ke deretan tengah gunungan tersebut.
“A-Apa masih ada yang hidup?” kata Senopati Sugrawa. Wajahnya tampak kuyup dan pucat. Noda darah di pakaiannya tampak banyak sekali yang sudah mengerak.
“Aku ingat sekali saat menggotong pendekar-pendekar itu, mereka semua sudah tidak bernyawa! Bahkan beberapa dari mereka tubuhnya sudah tidak utuh lagi, entah karena sabetan parang atau sabit raksasa yang dibawa oleh pasukan Ranawijaya...” ujar Senopati Wedan.
“Kita periksa,” uja satu senopati lainnya yang bernama Daksa. Ia lantas berjalan ke arah tumpukan mayat seusai meletakkan satu mayat yang semula akan dilemparnya ke tumpukan lain. Tampak saat Senopati Daksa berjalan hati-hati ke tumpukan yang masih bergerak itu, dua senopati lainnya membuntutinya. Sugrawa sudah mengeluarkan kerisnya, begitu juga Wedan yang sudah mencabut anak panahnya untuk bersiap dilontarkan melalui busur.
“Kenapa?” kata Sugrawa melihat Daksa berhenti.
“Sepertinya memang ada yang masih hidup,” ujar Daksa.
“Tidak mungkin! Mustahil! Kita semua sudah memeriksanya! Atau jangan-jangan... salah satu dari yang mati tadi telah menjadi sesosok siluman! Kau tahu, akhir-akhir ini terdengar dari warga, banyak manusia menjadi siluman Butokala yang memakan daging manusia lainnya. Mereka pasti sengaja dijadikan siluman oleh pasukan siluman yang katanya bekerja sama dengan Dyah Ranawijaya!” pekik Wedan.
“Jangan embuskan kabar yang tidak-tidak,” ujar Daksa.
“Tapi, kau mendengarnya, bukan?! Manusia yang telah menjadi Butokala masih terlihat seperti manusia pada umumnya, namun mereka tidak bisa hidup di bawah sinar matahari, seperti kebanyakan siluman lain. Tubuhnya akan mengering seperti daun yang rapuh...” ujar Wedan, tampak begitu percaya dengan isu yang sedang marak tersebar di lingkungan Majapahit saat ini.
“Itu hanyalah isu yang sengaja disebar oleh beberapa pengikuti Ranawijaya agar mereka membuat warga dan prajurit Kertabhumi lengah, dengan begitu mereka akan langsung menyerang kita dan merebut tahta Majapahit...” ujar Daksa.
Sekejap, gerakan di tumpukan mayat itu mereda. Namun, muncul suara kikikan perempuan dari arah lain. Hal itu membuat ketiga senopati itu bergidik.
“Apa kau mendengarnya?!” kata Wedan, jelas dirinya yang terlihat paling ketakutan. “M-Mungkin masih ada warga sekitar yang belum diungsikan. Ya, mungkin...” kata Senopati Wedan berusaha berpikir rasional. Akan tetapi dua temannya tampak menggeleng, terleih Senopati Daksa kini mulai mengeluarkan dua keris andalannya. Sikapnya penuh dengan kehati-hatian. Senopati Sugrawa yang berada di sampingnya pun tengah bersiap menantikan kedatangan sosok dari arah pedalaman hutan yang gelap dan lembab.
“Kalau memang warga, jelas dia tidak akan tertawa begitu... aku sudah mengiranya...” kata Senopati Sugrawa dengan suara yang agak bergetar.
“Menduga apa?!”
“Alasan pasukan kita mudah diserbu... mereka memang membawa siluman Butokala selama pertempuran tiga hari tiga malam ini... siluman-siluman pemakan daging manusia itu pasti menyamar menjadi salah satu prajurit Ranawijaya,” jelas Senopati Sugrawa berasumsi.
Tak lama, mereka mulai melihat adanya pergerakan dari arah hutan. Suara kikikan perempuan itu pun kembali terdengar lagi. Namun, kali ini suaranya datang bersamaan dengan hadirnya seorang perempuan berkain batik gelap dengan rambut terurai sampai bokong. Wajahnya begitu pucat, dan matanya berwarna merah. Perempuan itu santai saja berjalan mendekat seolah tidak takut dengan keberadaan tiga senopati yang sejak petang ditugaskan untuk merapikan mayat-mayat di bibir hutan tersebut.
“S-Siapa kau? Seharusnya kau mengungsi ke desa sebelah!” pekik Senopati Sugrawa.
“Aku bukan siapa-siapa... aku hanya ingin makan malam saja,” katanya sembari terkikik lagi.
“Sudah kuduga! Kau siluman!” pekik Sugrawa. Kakinya tampak bergetar. Begitu juga Senopati Wedan yang terlihat menggigil tatakala meletakkan anak panah di busurnya.
“Kalian sepertinya terlambat... seandainya kalian kerja lebih cepat, kalian tidak akan berjumpa denganku,” kata perempuan itu.
“Siapa kau?” kata Senopati Daksa.
“Hey, Daksa, jelas-jelas dia adalah salah satu Butokala! Dia akan memakanmu! Ayo! Sebaiknya kita lari atau mengepungnya,” bisik Senopati Sugrawa.
“Kita bunuh dia,” kata Senopati Daksa yang lantas berlari ke arah perempuan itu. Sementara Wedan kini tampak mengarahkan anak panahnya ke sosok yang diduga adalah siluman Butokala. Saat Daksa tiba dan siap menebas perempuan itu dengan salah satu krisnya, perempuan itu menghilang, lalu muncul sekejap di belakang Daksa. Sontak, anak panah yang sebelumnya sudah terarah dengan baik ke posisi perempuan itu jadi malah terkena Daksa sebab siluman itu lantas menendang punggung Daksa dengan cepat.
“URGHHH!” Daksa segera terjatuh. Ia tahu panah itu beracun, dan Wedan tentu merasa bersalah.
“D-Daksa! Tidak!”
“Ayo, Wedan! Kita lari! Kita tidak mampu melawannya! Dia bukan siluman kelas rendahan!”
“T-Tapi!”
“Lihatlah matanya. Matanya merah dengan pupil seperti hewan buas, tapi tubuhnya layaknya manusia pada umumnya. Dan lagi apakah kau pernah dengar rumornya?! Semakin siluman itu menyerupai manusia, semakin tinggi ilmu dan kedudukannya! Ayo!” pekik Sugrawa.
“T-Tapi! Daksa terkapar di sana! Dia terkena panah beracunku!”
“Dia tidak akan selamat! Ayo!”
Sementara siluman perempuan itu hanya bertolak pinggang saja seraya memiringkan kepalanya sesaat ke kiri lalu tersenyum menyeringai. “Dasar manusia rendahan... kau bahkan tak sebanding dengan kami... dan tega sekali meninggalkan kawan kalian, hihihihi...”
Wedan dan Sugrawa benar-benar lari meninggalkan Daksa yang masih bisa bangkit untuk menyerang siluman itu dari belakang.
“K-kurang ajar! Urghh! Kalian pasti bekerja sama dengan Ranawijaya untuk menghabisi kami!” pekik Daksa lantas melempar satu krisnya lagi ke arah siluman itu. Dengan deras kris segera menancap ke punggungnya, darah hitam pun segera mengalir keluar. Terlihat pula, perempuan itu menggeram ke arah Daksa karena sudah berani melukainya. Namun, seperti yang dikatakan oleh Sugrawa. Ia bukanlah siluman biasa. Luka itu sekejap menutup kembali setelah ia mencabut kris Daksa lalu membuangnya
“Ah... percuma saja aku menyerangmu... racun panah itu sudah menyebar ke peredaran darahmu... sayang sekali. Padahal aku ingin melumat jantungmu... sebaiknya aku memakan dua kawanmu saja,” kata perempuan itu lantas menghilang sekejap.
“Tidak! Jangan! Urgh!” Daksa tetap mencoba berdiri dan berjalan tunggang langgang menuju tempat penuh tumpukan mayat tadi.
Tak jauh dari tempat itu, Wedan dan Sugrawa terus berlari hingga sampai ke tempat penuh tumpukan mayat lagi, lalu berlari lagi cepat menuju arah kota dan berteriak bahwa siluman Butokala mulai menyerang. Sayang, sebelum mereka tiba di kota, siluman perempuan itu sudah muncul di hadapan mereka. Dalam sekejap kedua tangan perempuan itu lantas merengkuh kepala kedua senopati tersebut, kemudian mengangkat tubuh mereka ke udara dan sosok menyerupai manusia itu lantas meremukkan keduanya.
Darah pun berceceran.
Daksa yang sudah susah payah berjalan ke arah tempat itu lagi melihat kedua kawannya dibunuh dengan cara tragis. Tubuhnya pun bergetar, ketika mendengar perempuan itu tertawa mengikik seraya mendarat ke tanah yang kini berwarna merah.
Namun, tawa perempuan itu berhenti seketika karena melihat salah satu tumpukan mayat bergerak dan menggelinding sebagian.
“Hmm?” perempuan itu menatap tajam ke arah tumpukan mayat tersebut. “Siluman lainnya?”
Satu tangan kemudian muncul dari dalam gunungan mayat tersebut.
Asap hitam mengepul tebal dari cerobong tinggi bengkel pandai besi pusat di sektor selatan keraton Trowulan, membawa serta bau belerang yang menusuk hidung dan hawa panas yang seolah sanggup memanggang kulit.Udara malam yang dingin di luar ruangan sama sekali tidak berdaya meredam gelegar bara api jati yang terus ditiup oleh dua buah ububan raksasa di samping tungku utama.Setho Gentala berdiri bersedekap, zirah tembaganya memantulkan kilatan cahaya jingga yang melonjak-lonjak dari balik dinding bata pembakaran yang membara merah.Di sampingnya, Kalacitra mengawasi dengan pandangan mata yang tak berkedip, membiarkan jemarinya meraba seeping logam perunggu berlambang naga kembar yang kini terasa hangat akibat rambatan radiasi panas tungku agung. Langkah para pandai besi senior yang bertubuh kekar bergerak ritmis, menyendok pecahan-pecahan belati Manyar Widang yang telah retak ke dalam cawan lebur terbuat dari tanah liat hitam pilihan.Kehadiran sepasang pemburu ghaib di dalam bengkel
Matahari merayap tepat di atas bubungan atap pasar tengah Trowulan, menyengat permukaan tanah berdebu yang mulai dipadati oleh hiruk-pikuk kawula alit. Aroma ikan asin, rempah-rempah kapulaga, dan keringat kuli panggul berbaur menjadi satu di bawah naungan tenda-tenda kain goni yang bergoyang pelan ditiup angin siang yang kering.Di tengah keriuhan para pedagang kain yang menawarkan barang dagangan dari tanah seberang, Kalacitra berjalan dengan langkah yang seringan kapas, menyamar di balik kerudung usang berwarna jingga pudar.Logam perunggu berlambang naga kembar pemberian Setho Gentala tersimpan rapat di balik lipatan kemben hitamnya, sesekali bergesekan dengan belati perak yang siap dicabut dalam sekejap mata.Sepasang mata Kalacitra yang tajam terus menyisir sela-sela los pasar loak yang memajang sisa-sisa perkakas besi tua dan jimat-jimat tembaga murahan.Indra penciuman mistisnya yang terlatih sejak masa kejayaan faksi malam menangkap adanya sebersit aroma wangi pandan busuk be
Angin muson barat bertiup membawa aroma tanah basah dari arah lereng Gunung Kelud, menerpa deretan pilar jati bertoreh emas yang menyangga selasar utara Sasana Wilwatikta. Semburat fajar yang baru terbit menyinari lantai batu hitam, mempertegas barisan prajurit Bhayangkara baru yang berdiri tegak memegang tombak berpanji naga kembar.Setho Gentala melangkah dengan jubah Senopati Pengawal Dalam yang masih kaku, sesekali meraba hulu pedang pusakanya yang kini tergantung tenang di pinggang kiri. Guratan sewarna tembaga bakar di lengan kanannya terasa berdenyut halus, bukan sebagai luapan energi ghaib purba yang liar, melainkan sebagai getaran sisa kekuatan yang telah sepenuhnya tunduk di bawah kendali batin manusianya yang matang. Setiap ketukan langkah laras kulitnya memecah kesunyian selasar, mengusir sisa-sisa bayangan kecemasan politik yang sempat mengendap di sudut-sudut keraton selama berbulan-bulan.Di ujung selasar yang berbatasan langsung dengan taman keputrian, tampak berdiri s
Lembayung senja mulai turun mengulas warna keemasan yang redup di atas hamparan pasir basah Pantai Tuban, menghalau sisa-sisa ketegangan yang sempat mencengkeram rawa-rawa pesisir sejak fajar tadi. Ombak bergulung lambat, menyapu buih-buih putih ke tepian, seolah berupaya membersihkan sisa noda hitam yang sempat dimuntahkan oleh bangkai siluman rawa purba.Setho Gentala berdiri di atas gundukan batu karang yang menjorok ke laut, membiarkan angin pasat utara meniup jubah pelindungnya yang kini tampak koyak di beberapa bagian akibat sabetan senjata para bajak laut. Tangan kanannya tak lagi dibalut kain sutra, memperlihatkan garis simbol merah yang kini telah meredup sepenuhnya, menyisakan guratan sewarna tembaga bakar yang menyatu tenang di bawah pori-pori kulitnya.Dua perwira Bhayangkara tampak sibuk di bawah naungan dinding menara kuno, memastikan ruji-ruji besi yang mengikat tubuh si mata satu telah terkunci dengan paten pada pasak kereta tahanan darurat.Pimpinan kecu laut itu hany
Saat pintu dibuka tentu saja Senopati Daksa yang parasnya sudah serupa serigala liar yang amat lapar langsung menyerbu Setho Gentala dan Ki Singojadi. Dengan cekatan, Ki Singojadi segera menotok dua bahu Senopati Daksa dengan tongkat kayu galihnya, hingga kedua tangan senopati itu tidak mampu diger
Senopati Daksa sama sekali tidak sadar sebelumnya, ketika lelaki asing bernama Setho Gentala itu menggotongnya, dan kini membawanya ke sebuah gubuk tua yang entah milik siapa. Ia terbangun dalam keadaan yang amat lapar. Bahkan air liurnya hingga menetes-netes ketika mendengar suara manusia. Ia sama
“Setho Gentala?! Siapa itu! Aku tidak kenal!” pekik Nyi Jetayu sembari terkekeh-kekeh. Kini, luka terbuka di perut dan punggungnya sudah menutup, hal itu cukup membuat siluman perempuan itu percaya diri untuk melancarkan serangannya lagi ke arah Gentala. Dengan tanpa perhitungan perempuan itu berla
Mata Senopati Daksa sungguh membelalak ketika melihat kedua kawannya tercerai berai. Terutama bagian atas tubuhnya. Kepala dua kawannya—yang beberapa menit lalu masih mengobrol dengannya, kini sudah hancur diremuk oleh kedua tangan siluman perempuan itu. Tentu saja, ini pertama kalinya bagi Senopat
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.