Chapter: Awal Mula Perjanjian***Di rumah Maya...Malam itu terlihat Maya yang tidak bisa tidur. Ia merasa malam ini seakan tidak seperti malam biasanya.Malam itu hawa terasa sangat gerah. Tidak seperti biasanya yang selalu dingin. Bahkan Maya sampai membuka bajunya dan hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. Karena begitu terasa panas."Ya ampun. Panas sekali hawa malam ini, tidak seperti biasanya." gumam Maya."Sudah jam 02:20, kenapa mas Dimas belum memberiku kabar ya?" batin Maya sembari ia melihat ponsel jadulnya.Wanita itu tampak gelisah, sampai ia sulit untuk tidur tak seperti biasanya.Ditambah dengan suasana hatinya yang merasa seperti ada yang aneh, namun sulit di jelaskan. Benar-benar tak seperti hari-hari biasanya.Ia mencoba menelepon Dimas, namun nomornya tidak dapat di hubungi."Hmm.. Nomor mas Dimas tak bisa di hubungi, tidak aktif. Mungkin hp-nya mati." ucapnya dalam hati.Lalu ia kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, berharap ia bisa tidur.***Di pinggiran hutan, kampung kakek tu
Last Updated: 2026-01-21
Chapter: Ku Terima Apapun Resikonya"Jika aku mengikuti apa yang kamu lakukan, apa ada resiko yang harus aku terima?" tanya Dimas sambil berpikir.Lantas Reno segera menanggapi pertanyaan Dimas. "Tentu saja, semua ada resikonya. Ingatlah, dunia ini tidak ada yang gratis Dimas." ucap Reno."Baiklah, aku terima apapun resikonya. Aku tidak peduli. Yang penting aku bisa terbebas dari segala kesulitan ini Ren." Ucap Dimas."Oke, nanti malam, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Istirahatlah dulu mumpung masih ada waktu." jawab Reno.Lalu beranjak dari duduknya dan hendak pergi ke kamarnya.Melihat itu, Dimas yang ingin mengisi waktu luangnya sembari menunggu malam tiba, ia berniat keluar rumah dan sekedar keliling area taman rumah Reno.Diluar area taman, ia melihat begitu indahnya taman rumah milik Reno. Sudah seperti area fasilitas hotel bintang 5. Dengan adanya gazebu, kolam renang, dan tempat untuk bersantai yang di kelilingi dengan aneka tumbuhan bunga."Andai aku bisa memberikan hal seperti ini untuk kalian. Tapi tenan
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: Pertemuan dan Penawaran PersekutuanKeesokan paginya.“Sayang, aku pamit berangkat dulu. Doakan aku, selain tujuanku mengambil uang pada temanku, doakan aku agar aku disana sekalian mendapatkan pekerjaan.” Ucap Dimas yang kemudian bersujud dan mencium kaki Maya, istrinya.Maya yang melihat dan mendengar perkataan Dimas, ia seketika terhenyuh oleh suasana.Ia melihat niat dan kesungguhan dari suaminya itu.“Iya mas. Aku selalu mendoakan yang terbaik buatmu. Doaku akan selalu menyertaimu mas.” Ucap Maya seraya ia meraih bahu Dimas untuk berdiri.“Terimakasih sayang. Aku titipkan anak-anak padamu ya.” Ucap Dimas.“Pak, bapak mau pergi kemana?” Tanya Wulan, anak pertamanya.“Iya bapak mau kemana?” Sahut Bayu, anak keduanya.Dimas menunduk sambil ia memeluk kedua anaknya.“Bapak mau pergi kerja, cari uang untuk kalian. Biar kalian bisa sekolah nantinya, biar kalian bisa jajan juga. Kalau bapak tidak bekerja, nanti kalian jajan dan sekolah uang dari mana?” Ucap Dimas.“Oooh begitu. Tapi bapak nanti pulang lagi kan?” Tanya Wul
Last Updated: 2024-04-26
Chapter: Hinaan Orang TuaHari sudah maghrib, Maya yang sudah terlihat rapi ala kadarnya tengah bersiap menuju rumah kedua orang tuanya.Rumah orang tuanya terletak di desa seberang yang tak terlalu jauh dari gubuknya saat ini yang berada di pelosok perkampungan dan jauh dari tetangga.Hanya saja Maya harus berjalan kaki melewati desa sebelah untuk sampai di rumah orang tuanya. Karena ia tak memiliki kendaraan pribadi apapun.“Mas, aku mau berangkat dulu ke rumah orang tuaku ya. Aku titip kedua anak kita.” Ucap Maya berpamitan.“Iya sayang. Kamu hati-hati di jalan. Maaf aku tak bisa mengantarmu.” Ucap Dimas.“Iya mas, tidak apa-apa.” Ucap Maya sambil ia memegang bahu Dimas.Lalu Dimas segera memeluk istri tercintanya itu.“Aku mencintai kamu sayang.” Ucap Dimas dalam pelukannya.“Iya mas, aku juga mencintai kamu.” Ucap Maya seraya ia menatap wajah suaminya.Dimas yang melihat ketulusan di wajah istrinya pun segera mencium kening istrinya itu.“Ya sudah mas, aku berangkat dulu ya.” Ucap Maya tersenyum.“Iya say
Last Updated: 2024-04-26
Chapter: KemiskinanSore itu. Di sebuah perkampungan di wilayah Sukabumi, terdapat satu keluarga yang hidup dalam serba kekurangan.Terlihat seorang pria yang tengah melamun duduk tersandar pada kursi, yang tengah sedang memikirkan sesuatu di kepalanya. Pria itu bernama Dimas.Di tengah lamunannya, tiba-tiba seorang perempuan keluar dari dalam rumah dan menghampiri pria itu.“Mas, sisa beras di rumah kita sudah tinggal sedikit lagi, hanya cukup untuk nanti makan malam saja.” Ucap seorang wanita bernama Maya, yang tak lain merupakan istri dari Dimas. Ia mengeluhkan pada suaminya tentang sisa stok beras yang kian hari kian menipis.Dimas tampak diam dalam lamunannya dan hanya memandang ke arah kosong seolah ia tak menggubris ucapan istrinya itu.“Mas! Bagaimana ini..” keluh Maya lagi seraya meninggikan nada suaranya.Dimas yang mendengar itu tampak terkejut dan tersadar dari lamunannya.“Eh, Maya. Maaf mas sedang memikirkan sesuatu.” Ucap Dimas.“Lalu bagaimana mas, untuk hari besok. Anak kita tak akan bis
Last Updated: 2024-04-26