LOGINSUMIRAH perempuan cantik pribumi yang lahir di era penjajahan Belanda mengalami pelecehan seksual oleh pria-pria di desa tempat dia tinggal. Ironisnya hal itu terjadi setelah mendapati suaminya yang suka main tangan berselingkuh dengan seorang penari. Dendam membawanya pada ritual mengerikan yang menjanjikan kecantikan abadi. SUMIRAH..... Dendam membuatnya bersekutu dengan iblis yang menelan kehidupannya, menjadikannya Perempuan tercantik di massanya... Akankah cinta sejati menyelamatkan kembali kehidupannya. Atau sama sekali tak ada cinta sejati untuknya... Ikuti kisah Sumirah dalam cerita " SUSUK TERATAI PUTIH"
View MoreDi saat Kyai Ibrahim sedang berjuang keras membantu Seruni, bahkan baru saja menemukan jalan keluar bagi penderitaan gadis itu, sesuatu yang tak terduga terjadi di luar sana.Pak Ahmad, ayah Seruni, masih berdiri di tengah jalan desa yang sepi. Angin malam berhembus dingin, membawa aroma tanah basah bercampur bau anyir yang samar-samar menusuk hidung. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, seperti sedang menunggu seseorang.Dan benar saja—tiba-tiba matanya menangkap sosok yang begitu ia kenal.Seorang lelaki tua muncul dari arah jalan setapak. Tubuhnya kurus namun tegap, wajahnya keras dan berkerut dalam, matanya tajam menyorot dari balik kerlip lampu sentir yang dibawanya. Ia mengenakan baju lurik yang sudah lusuh, celana cokrang hitam, dan sebuah blangkon menutupi kepalanya. Di tangan kirinya tergenggam erat buntalan kain hitam, seolah menyembunyikan sesuatu di dalamnya.“Mbah Bejo...?” suara Pak Ahmad tercekat, namun segera berubah menjadi lega. Ia segera menghampiri sosok itu dengan waj
“Sepertinya Bapak ingin mencoba sesuatu dulu, Bu. Tolong ambilkan air putih di dapur,” ujar Kyai Ibrahim pelan namun tegas.Bu Nyai Ambar tidak membantah sedikit pun. Ia segera menuruti perintah suaminya, melangkah cepat ke dapur meski dadanya masih berdebar melihat keadaan Seruni.Kini, di dalam kamar sederhana yang tak terlalu luas itu, hanya tersisa Kyai Ibrahim, Nur, dan Seruni yang masih terikat di ranjang.“Nur, ke belakang. Ambil wudhu. Suruh juga ibumu berwudhu. Kita akan berdoa di sini,” perintah Kyai Ibrahim lagi.“Baik, Pak...” Nur mengangguk, lalu mengikuti jejak ibunya menuju belakang rumah.Kesunyian seketika menyelimuti ruangan. Hanya terdengar suara napas Seruni yang teratur namun terasa berat. Gadis itu tampak tenang setelah tadi ditampar Nur—atau mungkin karena muntahan kelopak bunga yang keluar dari mulutnya.Kyai Ibrahim menatapnya tajam dari kejauhan. Sorot matanya menyelidik, mencoba menembus tirai kegelapan yang masih melingkupi tubuh Seruni.“Seruni...” panggil
Seruni akhirnya benar-benar diikat. Tangan kanan dan kirinya diikat pada sudut ranjang, sementara kedua kakinya diikat menjadi satu. Posisi Seruni duduk bersandar pada kepala ranjang. Matanya tertutup, nafasnya teratur, namun hawa dingin aneh masih menyelimuti kamar itu. Seolah, meskipun tubuhnya terkurung, jiwa di dalamnya masih berkeliaran bebas. Pak Ahmad duduk di sisi tempat tidur, menatap wajah putrinya yang pucat dan dingin. Hatinya perih. “Maafkan Bapak, Nak...” gumamnya lirih, menggenggam ujung kain yang menutupi kaki Seruni. Bu Nyai Ambar berdiri di depan pintu, masih memegang tasbih, sementara Kyai Ibrahim berdzikir dalam hati. Wajahnya tegang, namun tatapannya tetap tenang. Ia tahu, ini belum berakhir. Bahkan mungkin, ini baru permulaan dari badai yang lebih besar. Tiba-tiba, Seruni menggeliat pelan. Matanya masih terpejam, tapi bibirnya mulai bergerak. “Dia datang...” bisiknya lirih, nyaris tak terdengar. “Dia marah...” Pak Ahmad menegang. “Siapa, Nak? Siapa yan
"Tenang, Pak Ahmad." Kyai Ibrahim, yang juga melihat apa yang dilihat oleh Pak Ahmad, berusaha menenangkan tamunya itu, padahal dirinya sendiri tidak dalam keadaan baik-baik saja."A'udzu billahi minasy-syaithanir rajim."Kyai Ibrahim segera melafalkan doa, suaranya tegas dan penuh keyakinan. Seketika, sosok gelap di sudut rumah itu menjerit keras, suaranya melengking menusuk telinga.Pak Ahmad dan yang lainnya refleks menutup telinga mereka, kecuali Kyai Ibrahim yang terus melanjutkan doanya tanpa gentar. Suara jeritan semakin menggema, hingga tiba-tiba...Ckkkrrsshhh...Bau gosong menyengat memenuhi ruangan, bersamaan dengan lenyapnya sosok hitam itu.Bu Nyai Ambar masih terisak di sudut ruangan, tubuhnya bergetar hebat. Tangannya mencengkeram gamis yang dipakainya, mencoba menenangkan diri setelah menyaksikan kejadian yang begitu mengerikan.Seruni terduduk di lantai dengan tatapan kosong. Napasnya memburu, tangannya yang terluka masih meneteskan darah akibat goresan keris Wulu Ire
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore