LOGIN"Jika aku mengikuti apa yang kamu lakukan, apa ada resiko yang harus aku terima?" tanya Dimas sambil berpikir.
Lantas Reno segera menanggapi pertanyaan Dimas. "Tentu saja, semua ada resikonya. Ingatlah, dunia ini tidak ada yang gratis Dimas." ucap Reno.
"Baiklah, aku terima apapun resikonya. Aku tidak peduli. Yang penting aku bisa terbebas dari segala kesulitan ini Ren." Ucap Dimas.
"Oke, nanti malam, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Istirahatlah dulu mumpung masih ada waktu." jawab Reno.
Lalu beranjak dari duduknya dan hendak pergi ke kamarnya.
Melihat itu, Dimas yang ingin mengisi waktu luangnya sembari menunggu malam tiba, ia berniat keluar rumah dan sekedar keliling area taman rumah Reno.
Diluar area taman, ia melihat begitu indahnya taman rumah milik Reno. Sudah seperti area fasilitas hotel bintang 5. Dengan adanya gazebu, kolam renang, dan tempat untuk bersantai yang di kelilingi dengan aneka tumbuhan bunga.
"Andai aku bisa memberikan hal seperti ini untuk kalian. Tapi tenanglah, aku akan meraih semua ini untuk kalian nantinya, apapun yang terjadi aku akan membahagiakan kalian nanti." ucap Dimas dalam hatinya, sembari ia membayangkan anak dan istrinya.
Malam harinya...
Pukul 20:45 WIB...
"Sudah siap Dimas?" tanya Reno di depan pintu kamar yang di tempati Dimas.
"Ya. Aku sudah siap." jawab Dimas sembari ia menyelesaikan penampilannya.
"Kita mau kemana malam ini Ren?" tanyanya lagi.
"Ah sudahlah, nanti kamu juga akan tau kemana kita akan pergi." jawab Reno membiarkan Dimas penasaran.
"Ayo, kita langsung berangkat saja." ajak Reno.
Lalu mereka segera menuju ke mobil.
Reno menyalakan mobilnya, dan segera meluncur meninggalkan rumah istananya itu.
Tepat pukul 21:00 malam mereka berangkat menuju tempat yang dimaksudkan oleh Reno.
"Hati-hati dijalan pak Reno." ucap salah satu security yang menjaga di pos rumahnya.
Reno hanya membalasnya dengan senyum ramah pada securitynya itu.
"Gila kamu Ren, kamu seperti seorang pejabat. Rumah mewah, megah, besar, ada securitynya pula. Dulu saja dimasa jayaku, aku tidak sampai seperti ini Ren." ucap Dimas terkagum.
Reno hanya tersenyum, "Nanti kamu juga akan bisa sepertiku Mas, mungkin akan melebihi aku." ucapnya sambil melajukan mobilnya.
"Ah bisa saja kamu, mana mungkin aku bisa melebihi kamu. Intinya, minimalnya aku bisa kembali seperti dulu saja aku sudah senang Ren." ucap Dimas.
"Tidak ada yang tidak mungkin Mas, apalagi jika kamu menempuh jalan sepertiku." lanjut Reno.
"Oh ya, ngomong-ngomong berapa lama perjalanan yang akan kita tempuh sekarang Ren?" tanya Dimas.
"Kurang lebih 3 sampai 4 jam perjalanan, karena lokasiku berada di kota, dan tujuan kita berada di kampung." jawab Reno.
"Tapi nanti kita akan menempuh via tol untuk mempersingkat perjalanan, semoga saja tidak ada kemacetan." lanjutnya lagi.
"Memangnya kita akan pergi ke daerah mana Ren?" tanya Dimas.
"Kita akan menuju wilayah Cianjur kidul. Agak pelosok tempatnya." jawab Reno.
Lalu mereka melanjutkan perjalanannya, sembari mengobrol kesana kemari.
Reno memilih melewati jalur tol untuk mempersingkat waktu perjalanannya melalui tol Bogor.
Ditengah perjalanan, Reno menepikan mobilnya di rest area untu sekedar membeli sesuatu.
Di rest area, ia masuk ke dalam toserba yang ada di area itu. Ia memesan 1 slop rokok Dji Sam Soe kretek yang hendak ia tujukan untuk seseorang.
Lalu ia memesan 1 slop lagi rokok Djarum untuk ia berikan pada Dimas.
Tak lupa ia membeli juga beberapa botol minuman dan makanan untuknya dan juga Dimas guna bekal selama di perjalanan.
Setelah selesai melakukan semua pembayaran pada kasir, ia bergegas kembali pada mobilnya.
"Ini, rokok untukmu Mas." ucap Reno sembari memberikan 1 slop rokok yang sudah di pesannya.
"Wah, banyak sekali Ren? Padahal aku 1 bungkus saja sudah cukup." ucap Dimas.
"Tidak apa-apa, itung-itung buat stok rokokmu untuk beberapa hari ke depan. Dan ini minumannya, jika kamu ingin ngemil, ambil saja makanan ini." ucap Reno.
"Wah, terimakasih banyak Ren. Aku akan membalas kebaikan dan perhatianmu." ucap Dimas.
"Ah sudah, tidak usah di pikirkan, yang penting selama kamu bersamaku segala kebutuhanmu bisa tercukupi." jawab Reno.
Kemudian Reno kembali menyalakan mobilnya dan segera bergegas kembali menempuh perjalanan yang memang masih jauh dan masih butuh beberapa jam lagi.
Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam, sampailah mereka berdua di sebuah tempat, area perkampungan yang sepi.
Dengan memasuki sebuah gapura tua yang terlihat sudah rapuh dari segi pondasinya dan di selimuti lumut-lumut. Menandakan betapa lembabnya suhu di wilayah itu.
Terlihat hanya beberapa rumah saja yang nampak berjejer saling agak berjauhan.
Dan nampak banyak pekarangan dengan pohon-pohon yang lebat menyerupai hutan. Karena perkampungan itu memang terletak tidak jauh dari hutan di kaki gunung.
Reno melajukan mobilnya lebih masuk ke wilayah perkampungan itu.
Tak lama setelahnya, Reno memarkirkan mobil mewahnya itu di bawah rimbunnya pohon bambu yang lebat.
Ia mematikan lampu mobil dan mesin mobilnya.
"Kita sudah sampai. Ayo turun." ajak Reno.
Lalu mereka berdua segera turun dari mobil.
"Menyeramkan sekali tempatnya Ren." ucap Dimas.
Lalu Reno memberikan Dimas sepucuk senter untuk penerangan.
"Tidak perlu takut. Ini, gunakan senter ini untuk penerangan." ucap Reno.
Merekapun berjalan menyusuri hutan bambu itu.
Samar-samar sesekali terdengar suara-suara hewan malam yang membuat suasana semakin mencekam.
Ditambah hembusan angin malam yang terasa lembab, membuat bulu kuduk Dimas semakin berdiri.
Tetapi Reno yang memang sudah terbiasa dengan hal itu, jadi ia sama sekali tak merasa takut sedikitpun.
Tak lama dari itu, mereka berdua melihat sebuah rumah kecil yang hanya di terangi oleh cahaya dari api obor di depan rumahnya. Rumah itu tampak sama sekali tidak menggunakan listrik.
Terlebih memang area itu belum sepenuhnya di jangkau oleh listrik.
Rumah yang terlihat seperti gubuk tua, namun di selimuti aura mistis yang kuat disekitarnya.
Terlihat juga di depan rumah itu terdapat 2 patung manusia dengan kepala harimau di sisi kanan dan kiri.
Dengan hanya membawa senter di tangan mereka, akhirnya mereka tiba di depan rumah tua itu.
"I-ini rumah siapa Ren?" tanya Dimas gugup.
"Sama sekali tak ada penerangan dan listrik disini kecuali api obor." lanjutnya.
"Ini rumah seseorang yang akan membantumu untuk mengubah kehidupanmu sama sepertiku." jelas Reno.
"Hah? Orang yang akan mengubah hidupku? Bagaimana mungkin? Dari rumahnya saja terlihat seperti ini Ren, tidak seperti rumah orang pintar pada umumnya." ucap Dimas seolah menyepelekan hanya karena melihat dari rumah tua itu.
"Sssstttt!! Kamu jangan bicara seperti itu! Kamu belum tau saja siapa penghuni rumah ini." jelas Reno.
Tanpa banyak bicara lagi lalu Reno segera mengetuk pintu rumah itu, sambil ia melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 01:18.
Tak lama terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah itu di sertai suara ketukan tongkat di lantai tanah.
Lalu terbukalah pintu rumah itu untuk mereka berdua, dan terlihat seorang kakek tua dengan rambut putih panjang, jenggot putih panjang, serta tubuh yang membungkuk, keluar dari rumah itu sambil menggunakan tongkat untuk menyangga tubuhnya.
Kakek tua itu terlihat sangat renta, namun sorot matanya dari tubuh yang membungkuk itu sangat di penuhi aura yang menyeramkan.
Terlihat usianya sudah seperti 1 abad.
Dengan wajah dinginnya, ia menyambut kedua laki-laki itu.
"Sudah ku duga. Akhirnya kamu datang juga." ucap kakek tua itu menyambut kedua tamunya.
***Di rumah Maya...Malam itu terlihat Maya yang tidak bisa tidur. Ia merasa malam ini seakan tidak seperti malam biasanya.Malam itu hawa terasa sangat gerah. Tidak seperti biasanya yang selalu dingin. Bahkan Maya sampai membuka bajunya dan hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. Karena begitu terasa panas."Ya ampun. Panas sekali hawa malam ini, tidak seperti biasanya." gumam Maya."Sudah jam 02:20, kenapa mas Dimas belum memberiku kabar ya?" batin Maya sembari ia melihat ponsel jadulnya.Wanita itu tampak gelisah, sampai ia sulit untuk tidur tak seperti biasanya.Ditambah dengan suasana hatinya yang merasa seperti ada yang aneh, namun sulit di jelaskan. Benar-benar tak seperti hari-hari biasanya.Ia mencoba menelepon Dimas, namun nomornya tidak dapat di hubungi."Hmm.. Nomor mas Dimas tak bisa di hubungi, tidak aktif. Mungkin hp-nya mati." ucapnya dalam hati.Lalu ia kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, berharap ia bisa tidur.***Di pinggiran hutan, kampung kakek tu
"Jika aku mengikuti apa yang kamu lakukan, apa ada resiko yang harus aku terima?" tanya Dimas sambil berpikir.Lantas Reno segera menanggapi pertanyaan Dimas. "Tentu saja, semua ada resikonya. Ingatlah, dunia ini tidak ada yang gratis Dimas." ucap Reno."Baiklah, aku terima apapun resikonya. Aku tidak peduli. Yang penting aku bisa terbebas dari segala kesulitan ini Ren." Ucap Dimas."Oke, nanti malam, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Istirahatlah dulu mumpung masih ada waktu." jawab Reno.Lalu beranjak dari duduknya dan hendak pergi ke kamarnya.Melihat itu, Dimas yang ingin mengisi waktu luangnya sembari menunggu malam tiba, ia berniat keluar rumah dan sekedar keliling area taman rumah Reno.Diluar area taman, ia melihat begitu indahnya taman rumah milik Reno. Sudah seperti area fasilitas hotel bintang 5. Dengan adanya gazebu, kolam renang, dan tempat untuk bersantai yang di kelilingi dengan aneka tumbuhan bunga."Andai aku bisa memberikan hal seperti ini untuk kalian. Tapi tenan
Keesokan paginya.“Sayang, aku pamit berangkat dulu. Doakan aku, selain tujuanku mengambil uang pada temanku, doakan aku agar aku disana sekalian mendapatkan pekerjaan.” Ucap Dimas yang kemudian bersujud dan mencium kaki Maya, istrinya.Maya yang melihat dan mendengar perkataan Dimas, ia seketika terhenyuh oleh suasana.Ia melihat niat dan kesungguhan dari suaminya itu.“Iya mas. Aku selalu mendoakan yang terbaik buatmu. Doaku akan selalu menyertaimu mas.” Ucap Maya seraya ia meraih bahu Dimas untuk berdiri.“Terimakasih sayang. Aku titipkan anak-anak padamu ya.” Ucap Dimas.“Pak, bapak mau pergi kemana?” Tanya Wulan, anak pertamanya.“Iya bapak mau kemana?” Sahut Bayu, anak keduanya.Dimas menunduk sambil ia memeluk kedua anaknya.“Bapak mau pergi kerja, cari uang untuk kalian. Biar kalian bisa sekolah nantinya, biar kalian bisa jajan juga. Kalau bapak tidak bekerja, nanti kalian jajan dan sekolah uang dari mana?” Ucap Dimas.“Oooh begitu. Tapi bapak nanti pulang lagi kan?” Tanya Wul
Hari sudah maghrib, Maya yang sudah terlihat rapi ala kadarnya tengah bersiap menuju rumah kedua orang tuanya.Rumah orang tuanya terletak di desa seberang yang tak terlalu jauh dari gubuknya saat ini yang berada di pelosok perkampungan dan jauh dari tetangga.Hanya saja Maya harus berjalan kaki melewati desa sebelah untuk sampai di rumah orang tuanya. Karena ia tak memiliki kendaraan pribadi apapun.“Mas, aku mau berangkat dulu ke rumah orang tuaku ya. Aku titip kedua anak kita.” Ucap Maya berpamitan.“Iya sayang. Kamu hati-hati di jalan. Maaf aku tak bisa mengantarmu.” Ucap Dimas.“Iya mas, tidak apa-apa.” Ucap Maya sambil ia memegang bahu Dimas.Lalu Dimas segera memeluk istri tercintanya itu.“Aku mencintai kamu sayang.” Ucap Dimas dalam pelukannya.“Iya mas, aku juga mencintai kamu.” Ucap Maya seraya ia menatap wajah suaminya.Dimas yang melihat ketulusan di wajah istrinya pun segera mencium kening istrinya itu.“Ya sudah mas, aku berangkat dulu ya.” Ucap Maya tersenyum.“Iya say
Sore itu. Di sebuah perkampungan di wilayah Sukabumi, terdapat satu keluarga yang hidup dalam serba kekurangan.Terlihat seorang pria yang tengah melamun duduk tersandar pada kursi, yang tengah sedang memikirkan sesuatu di kepalanya. Pria itu bernama Dimas.Di tengah lamunannya, tiba-tiba seorang perempuan keluar dari dalam rumah dan menghampiri pria itu.“Mas, sisa beras di rumah kita sudah tinggal sedikit lagi, hanya cukup untuk nanti makan malam saja.” Ucap seorang wanita bernama Maya, yang tak lain merupakan istri dari Dimas. Ia mengeluhkan pada suaminya tentang sisa stok beras yang kian hari kian menipis.Dimas tampak diam dalam lamunannya dan hanya memandang ke arah kosong seolah ia tak menggubris ucapan istrinya itu.“Mas! Bagaimana ini..” keluh Maya lagi seraya meninggikan nada suaranya.Dimas yang mendengar itu tampak terkejut dan tersadar dari lamunannya.“Eh, Maya. Maaf mas sedang memikirkan sesuatu.” Ucap Dimas.“Lalu bagaimana mas, untuk hari besok. Anak kita tak akan bis







