Home / Horor / Perjanjian Darah Iblis / Awal Mula Perjanjian

Share

Awal Mula Perjanjian

Author: Winirosa
last update Last Updated: 2026-01-21 00:17:19

***

Di rumah Maya...

Malam itu terlihat Maya yang tidak bisa tidur. Ia merasa malam ini seakan tidak seperti malam biasanya.

Malam itu hawa terasa sangat gerah. Tidak seperti biasanya yang selalu dingin. Bahkan Maya sampai membuka bajunya dan hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. Karena begitu terasa panas.

"Ya ampun. Panas sekali hawa malam ini, tidak seperti biasanya." gumam Maya.

"Sudah jam 02:20, kenapa mas Dimas belum memberiku kabar ya?" batin Maya sembari ia melihat ponsel jadulnya.

Wanita itu tampak gelisah, sampai ia sulit untuk tidur tak seperti biasanya.Ditambah dengan suasana hatinya yang merasa seperti ada yang aneh, namun sulit di jelaskan. Benar-benar tak seperti hari-hari biasanya.

Ia mencoba menelepon Dimas, namun nomornya tidak dapat di hubungi.

"Hmm.. Nomor mas Dimas tak bisa di hubungi, tidak aktif. Mungkin hp-nya mati." ucapnya dalam hati.

Lalu ia kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, berharap ia bisa tidur.

***

Di pinggiran hutan, kampung kakek tua...

"Siapa yang ada bersamamu, Reno?" tanya si kakek tua.

"Eee, dia teman saya mbah. Namanya Dimas." jawab Reno.

"Oh, begitu ya." ucap si kakek tua itu.

Dengan wajah dingin dan tatapan tajamnya, ia mengamati Dimas dengan teliti. Seolah sedang membaca sesuatu dari dirinya.

Sedangkan Dimas hanya tertunduk takut seketika ia mengetahui jika kakek tua itu sedang mengamatinya.

"Hmm. Aku tau maksud kedatanganmu dengan membawa orang ini." ucap kakek tua.

"Jadi bagaimana mbah? Karena mbah sudah tau maksud kedatangan kami, apakah mbah bisa?" tanya Reno.

Kakek tua itu hanya mengangguk-ngangguk.

Dimas yang melihat hal itu seketika berbisik dan menanyakan pada Reno.

"Bagaimana Ren? Apa dia bisa membantu?" tanya Dimas sambil berbisik di dekat telinga Reno.

Reno tak menjawab, ia hanya menganggukan kepalanya.

"Kekayaan apa yang kamu mau, Dimas?" tanya kakek tua itu secara tiba-tiba.

Reno menyenggol tangan Dimas, seolah ia memberi kode padanya untuk mengatakan saja apa yang ia mau.

"Eee, anu mbah, saya sudah lama hidup susah, sudah beberapa tahun ini sngat sulit mencari pekerjaan, jadi saya ingin menempuh semua ini sama seperti Reno, mbah." ucap Dimas.

"Hmm, baik. Tapi kamu sudah mengetahui resikonya bukan?" tanya kakek tua.

"I-iya mbah, walau hanya sedikit dan belum tau pasti tentang resikonya dari Reno." jelas Dimas.

"Memangnya, apa resikonya mbah? Mungkin mbah bisa menjelaskan lebih lengkap kepasa saya." lanjutnya lagi.

"Resikonya sangat berat, karena kamu harus memberikan nyawa manusia 3 kali dalam setahun, dan kamu harus menikmati darah perawan setiap 1 bulan sekali. Itu salah satu resikonya." ucap kakek tua itu.

"Dan untuk memulai kesepakatan itu, ada hal yang sangat mahal yang harus kamu bayar." lanjutnya lagi.

"A-apa itu mbah? Apakah uang?" tanya Dimas gugup.

"Bukan." jawab kakek tua.

"Kamu harus mengorbankan seseorang malam ini juga." lanjutnya lagi.

"Lalu bagaimana saya mencari orang itu di tengah malam seperti ini mbah?" tanya Dimas bingung.

"Tidak perlu mencari. Aku sudah menyediakan semuanya disini." jawab kakek tua.

"Maksud mbah, mbah sudah menyiapkan orang untuk di korbankan? Begitu? Tapi bukankah disini tidak ada orang lain selain kita bertiga mbah?" tanya Dimas semakin bingung.

"Sudah, kamu tidak perlu banyak tanya. Pada intinya, kamu siap atau tidak?" tanya kakek itu dengan nada yang mulai tegas.

"I-iya saya siap mbah." jawab Dimas sedikit takut.

"Baiklah. Kamu ikut aku nanti. Malam ini biarkan Reno pulang, dan kamu tinggal disini selama 7 hari 7 malam." jawab kakek itu.

Sebelum memberikan jawaban pada si kakek, Dimas yang memang merasa agak takut menanyakan pada Reno.

"Ren, bagaimana ini? Apa aku akan aman disini jika aku di tinggalkan disini?" tanya Dimas berbisik.

"Sudahlah. Kamu jangan khawatir. Tidak perlu takut. Aku sudah kenal dengan beliau ini." jawab Reno.

"Ikuti saja perintahnya, jangan pernah menolak ataupun merasa takut." lanjut Reno.

"Tapi nanti setelah 7 hari, kamu akan menjemputku lagi kan Ren?" tanya Dimas.

"Iya pasti. Setelah 7 hari selesai, aku akan datang lagi kemari untuk menjemputmu." jawab Reno.

Tak lama setelah mereka berdua berbincang, suara kakek itu kemudian mengagetkan situasi mereka.

"Bagaimana?" tanya kakek tua itu tiba-tiba, yang memecahkan suasana.

"I-iya mbah, saya bersedia." jawab Dimas gugup.

"Bagus." ucap kakek tua.

"Reno, kamu pulanglah. Biarkan temanmu ini ikut bersamaku." lanjutnya.

"Baik mbah." jawab Reno pada kakek tua itu.

"Dimas, aku harus pulang dulu. Kamu disini saja dan ikuti saja perintah beliau. Aku akan menjemputmu setelah semua selesai." ucap Reno.

"Oke Ren. Hati-hati dijalan." jawab Dimas.

Reno hanya mengangguk pada Dimas, lalu ia segera berpamitan pada sosok kakek tua itu.

"Baiklah mbah, saya ijin pamit dulu. Saya titipkan teman saya ini." ucap Reno berpamitan.

Kakek itu hanya mengangguk dengan wajah dinginnya.

Lalu ia berpesan pada Reno, "Reno, tetaplah lakukan itu. Jangan pernah terlambat."

"Baik mbah. Saya permisi." ucap Reno.

Lalu Reno pun segera keluar dari gubuk tua itu dan meninggalkan Dimas seorang diri disana hanya bersama kakek tua itu.

Dimas yang melihatnya hanya bisa terdiam sambil menahan rasa takutnya. Ia juga sempat berpikir apa maksud dari pesan terakhir kakek tua itu. Ia masih belum mengerti tentang apa yang di lakukan Reno atas perintah kakek tua itu.

"Tetap lakukan itu... jangan pernah terlambat... Apa maksudnya ya?" ucap Dimas dalam batinnya.

Seketika rasa takut dan penasarannya pun pecah ketika kakek tua itu berbicara padanya.

"Dimas, ayo ikut aku." ucap kakek tua itu mengajaknya.

Dimas hanya bisa menurut saja, "Iya mbah." ucapnya.

Lalu kakek itu mengajaknya ke barah belakang rumahnya. Sambil berjalan menuju belakang rumah, Dimas mengamati sekeliling rumah itu yang di penuhi dengan ornamen dan hiasan mengerikan di setiap sudutnya. Ada tengkorak kepala kecil yang entah itu tengkorak manusia atau tengkoran kepala monyet, Dimas tak begitu tau.

Dimas juga melihat sebuah patung menyerupai jenglot dengan badannya yang menyerupai ular, yang terletak di meja ruang tengahnya.

Lalu sampailah Dimas di bagian pintu belakang rumah, disana terdapat kolam lebar sekitar ukuran 10 meter x 20 meter, yang nampak terbentuk alami oleh alam dan beberapa aliran sungai kecil yang mengalir dari kolam mata air itu. Dengan di terangi sedikit cahaya rembulan yang menyelinap masuk dari celah pepohonan besar, ia melihat sesuatu di tengah kolam itu yang seperti terdapat beberapa batu besar di tengahnya dan di sekeliling kolam itu terdapat banyak rimbunnya pohon-pohon besar.

Dimas meneliti pemandangan sekelilingnya walau tidak tampak begitu jelas karena tak ada cahaya apapun selain cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah rindangnya pohon.

Ia nampak merinding dengan suasana sekitar. Ditambah dengan suara-suara hewan malam seperti burung hantu maupun suara hewan lain di malam itu.

"Mulai malam ini, kamu bertapalah disana, dan berpuasalah selama 3 hari di atas batu di tengah kolam ini. Kolam ini cukup dalam, karena terbentuk alami oleh mata air di bawah batu yang menjulang di tengah itu. Jadi kamu harus sedikit berenang menuju batu di tengah itu." ucap kakek tua itu.

"Baik mbah." ucap Dimas tanpa menolak. Walaupun sebenarnya ia tidak begitu pandai berenang.

"Bukalah seluruh pakaianmu. Jangan ada sehelai benangpun di tubuhmu. Kamu harus melakukannya dengan keadaan telanjang." lanjut kakek tua itu.

"B-baik mbah." ucap Dimas. Lalu ia membuka seluruh pakaiannya sembari ia merasa kedinginan.

Ia pun menceburkan dirinya, dan berusaha berenang untuk mencapai batu di tengah kolam mata air itu.

Dengan bersusah payah berenang, akhirnya ia berhasil menggapai batu besar yang terletak di tengah kolam mata air itu. Sambil menahan rasa dinginnya air pegunungan, ia berusaha naik ke permukaan batu itu dengan badan yang menggigil.

Lalu ia bersiap dengan posisi bertapanya.

Disitulah semuanya dimulai oleh Dimas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjanjian Darah Iblis   Awal Mula Perjanjian

    ***Di rumah Maya...Malam itu terlihat Maya yang tidak bisa tidur. Ia merasa malam ini seakan tidak seperti malam biasanya.Malam itu hawa terasa sangat gerah. Tidak seperti biasanya yang selalu dingin. Bahkan Maya sampai membuka bajunya dan hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. Karena begitu terasa panas."Ya ampun. Panas sekali hawa malam ini, tidak seperti biasanya." gumam Maya."Sudah jam 02:20, kenapa mas Dimas belum memberiku kabar ya?" batin Maya sembari ia melihat ponsel jadulnya.Wanita itu tampak gelisah, sampai ia sulit untuk tidur tak seperti biasanya.Ditambah dengan suasana hatinya yang merasa seperti ada yang aneh, namun sulit di jelaskan. Benar-benar tak seperti hari-hari biasanya.Ia mencoba menelepon Dimas, namun nomornya tidak dapat di hubungi."Hmm.. Nomor mas Dimas tak bisa di hubungi, tidak aktif. Mungkin hp-nya mati." ucapnya dalam hati.Lalu ia kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, berharap ia bisa tidur.***Di pinggiran hutan, kampung kakek tu

  • Perjanjian Darah Iblis   Ku Terima Apapun Resikonya

    "Jika aku mengikuti apa yang kamu lakukan, apa ada resiko yang harus aku terima?" tanya Dimas sambil berpikir.Lantas Reno segera menanggapi pertanyaan Dimas. "Tentu saja, semua ada resikonya. Ingatlah, dunia ini tidak ada yang gratis Dimas." ucap Reno."Baiklah, aku terima apapun resikonya. Aku tidak peduli. Yang penting aku bisa terbebas dari segala kesulitan ini Ren." Ucap Dimas."Oke, nanti malam, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Istirahatlah dulu mumpung masih ada waktu." jawab Reno.Lalu beranjak dari duduknya dan hendak pergi ke kamarnya.Melihat itu, Dimas yang ingin mengisi waktu luangnya sembari menunggu malam tiba, ia berniat keluar rumah dan sekedar keliling area taman rumah Reno.Diluar area taman, ia melihat begitu indahnya taman rumah milik Reno. Sudah seperti area fasilitas hotel bintang 5. Dengan adanya gazebu, kolam renang, dan tempat untuk bersantai yang di kelilingi dengan aneka tumbuhan bunga."Andai aku bisa memberikan hal seperti ini untuk kalian. Tapi tenan

  • Perjanjian Darah Iblis   Pertemuan dan Penawaran Persekutuan

    Keesokan paginya.“Sayang, aku pamit berangkat dulu. Doakan aku, selain tujuanku mengambil uang pada temanku, doakan aku agar aku disana sekalian mendapatkan pekerjaan.” Ucap Dimas yang kemudian bersujud dan mencium kaki Maya, istrinya.Maya yang melihat dan mendengar perkataan Dimas, ia seketika terhenyuh oleh suasana.Ia melihat niat dan kesungguhan dari suaminya itu.“Iya mas. Aku selalu mendoakan yang terbaik buatmu. Doaku akan selalu menyertaimu mas.” Ucap Maya seraya ia meraih bahu Dimas untuk berdiri.“Terimakasih sayang. Aku titipkan anak-anak padamu ya.” Ucap Dimas.“Pak, bapak mau pergi kemana?” Tanya Wulan, anak pertamanya.“Iya bapak mau kemana?” Sahut Bayu, anak keduanya.Dimas menunduk sambil ia memeluk kedua anaknya.“Bapak mau pergi kerja, cari uang untuk kalian. Biar kalian bisa sekolah nantinya, biar kalian bisa jajan juga. Kalau bapak tidak bekerja, nanti kalian jajan dan sekolah uang dari mana?” Ucap Dimas.“Oooh begitu. Tapi bapak nanti pulang lagi kan?” Tanya Wul

  • Perjanjian Darah Iblis   Hinaan Orang Tua

    Hari sudah maghrib, Maya yang sudah terlihat rapi ala kadarnya tengah bersiap menuju rumah kedua orang tuanya.Rumah orang tuanya terletak di desa seberang yang tak terlalu jauh dari gubuknya saat ini yang berada di pelosok perkampungan dan jauh dari tetangga.Hanya saja Maya harus berjalan kaki melewati desa sebelah untuk sampai di rumah orang tuanya. Karena ia tak memiliki kendaraan pribadi apapun.“Mas, aku mau berangkat dulu ke rumah orang tuaku ya. Aku titip kedua anak kita.” Ucap Maya berpamitan.“Iya sayang. Kamu hati-hati di jalan. Maaf aku tak bisa mengantarmu.” Ucap Dimas.“Iya mas, tidak apa-apa.” Ucap Maya sambil ia memegang bahu Dimas.Lalu Dimas segera memeluk istri tercintanya itu.“Aku mencintai kamu sayang.” Ucap Dimas dalam pelukannya.“Iya mas, aku juga mencintai kamu.” Ucap Maya seraya ia menatap wajah suaminya.Dimas yang melihat ketulusan di wajah istrinya pun segera mencium kening istrinya itu.“Ya sudah mas, aku berangkat dulu ya.” Ucap Maya tersenyum.“Iya say

  • Perjanjian Darah Iblis   Kemiskinan

    Sore itu. Di sebuah perkampungan di wilayah Sukabumi, terdapat satu keluarga yang hidup dalam serba kekurangan.Terlihat seorang pria yang tengah melamun duduk tersandar pada kursi, yang tengah sedang memikirkan sesuatu di kepalanya. Pria itu bernama Dimas.Di tengah lamunannya, tiba-tiba seorang perempuan keluar dari dalam rumah dan menghampiri pria itu.“Mas, sisa beras di rumah kita sudah tinggal sedikit lagi, hanya cukup untuk nanti makan malam saja.” Ucap seorang wanita bernama Maya, yang tak lain merupakan istri dari Dimas. Ia mengeluhkan pada suaminya tentang sisa stok beras yang kian hari kian menipis.Dimas tampak diam dalam lamunannya dan hanya memandang ke arah kosong seolah ia tak menggubris ucapan istrinya itu.“Mas! Bagaimana ini..” keluh Maya lagi seraya meninggikan nada suaranya.Dimas yang mendengar itu tampak terkejut dan tersadar dari lamunannya.“Eh, Maya. Maaf mas sedang memikirkan sesuatu.” Ucap Dimas.“Lalu bagaimana mas, untuk hari besok. Anak kita tak akan bis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status