Home / Horor / Perjanjian Darah Iblis / Hinaan Orang Tua

Share

Hinaan Orang Tua

Author: Winirosa
last update Last Updated: 2024-04-26 19:58:07

Hari sudah maghrib, Maya yang sudah terlihat rapi ala kadarnya tengah bersiap menuju rumah kedua orang tuanya.

Rumah orang tuanya terletak di desa seberang yang tak terlalu jauh dari gubuknya saat ini yang berada di pelosok perkampungan dan jauh dari tetangga.

Hanya saja Maya harus berjalan kaki melewati desa sebelah untuk sampai di rumah orang tuanya. Karena ia tak memiliki kendaraan pribadi apapun.

“Mas, aku mau berangkat dulu ke rumah orang tuaku ya. Aku titip kedua anak kita.” Ucap Maya berpamitan.

“Iya sayang. Kamu hati-hati di jalan. Maaf aku tak bisa mengantarmu.” Ucap Dimas.

“Iya mas, tidak apa-apa.” Ucap Maya sambil ia memegang bahu Dimas.

Lalu Dimas segera memeluk istri tercintanya itu.

“Aku mencintai kamu sayang.” Ucap Dimas dalam pelukannya.

“Iya mas, aku juga mencintai kamu.” Ucap Maya seraya ia menatap wajah suaminya.

Dimas yang melihat ketulusan di wajah istrinya pun segera mencium kening istrinya itu.

“Ya sudah mas, aku berangkat dulu ya.” Ucap Maya tersenyum.

“Iya sayang, hati-hati di jalan.” Jawab Dimas.

Maya segera melangkahkan kakinya dan bergegas menuju rumah kedua orang tuanya.

Ia hanya berbekal senter yang menemaninya selama perjalanan sebagai penerang pada gelapnya malam.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, sampailah Maya di depan pintu rumah orang tuanya.

Segera Maya mengetuk pintu rumah orang tuanya itu.

Tokkk… Tokkk… Tokkk…

“Assalamualaikum..” ucap Maya.

“Waalaikumsalam. Siapa ya?” Jawab seorang wanita dari dalam rumah yang tak lain itu adalah ibu dari Maya yang bernama Rustini.

“Ini aku bu. Maya.” Balas Maya.

Lalu Rustini pun segera membukakan pintu untuk anaknya itu.

“Oh, kamu May. Tumben malam-malam datang kesini. Ada apa?” Tanya Rustini.

“Emm. Aku ada perlu bu. Sama ibu atau bapak.” Jawab Maya gugup sembari ia merasa takut.

“Ada perlu apa memangnya? Sudah ayo masuk dulu.” Jawab Rustini.

Mereka berdua segera masuk menuju ruang tamu.

Setelah mereka duduk, Maya kemudian memberanikan diri untuk mengatakan tujuannya datang kemari.

“Emm, anu bu. Aku ada perlu sesuatu. Emmm, aku ingin meminta beras dan meminjam uang bu.” Ucap Maya sambil ia menundukkan kepalanya.

“Apa? Suami kamu yang miskin itu sampai sekarang belum ada niatan untuk bekerja? Dasar pemalas sekali. Kerjaannya hanya minta-minta melulu.” Ucap Rustini ketus

“Bukan begitu bu. Mas Dimas sudah berusaha mencari pekerjaan, tapi sampai sekarang belum ada yang menerimanya bekerja. Kan namanya berusaha bu.” Jawab Maya.

“Iya. Berusaha. Tapi apa iya dia akan diam terus di rumah? Tidak berusaha pergi ke kota mencari kerja?” Jawab Rustini.

“Sudah benar ibu menyuruh kamu untuk cerai dari Dimas yang miskin dan menikah dengan anak pak Roni si DPR itu. Sudah kaya, punya segala macam, sudah jelas kamu tidak akan hidup susah, toh soal anak juga dia berani mengurus.” Lanjutnya lagi.

Seketika telinga Maya mulai panas dengan segala ocehan yang di lanturkan ibunya yang keras itu.

“Iya bu. Karena itulah aku datang kesini untuk meminjam uang sekalian meminta beras untuk makan anak-anakku. Besok mas Dimas mau pergi ke kota, dia mau menemui teman lamanya. Siapa tau disana ada pekerjaan. Makanya aku datang untuk pinjam uang ke ibu atau ayah.” Ucap Maya menjelaskan.

“Hm! Memangnya pergi ke kota cari kerja bisa langsung dapat kerja? Lalu kalau kamu pinjam lagi mau kapan mengembalikannya? Bukan ibu perhitungan pada anak. Ini ibu ajarkan biar kalian yang sudah berumah tangga bisa mandiri!” Ucap Rustini tegas.

Tak lama setelah pembicaraan mereka berdua, datanglah pria bertubuh gempal yang merupakan ayah dari Maya, yang bernama Sukiman.

Di tengah pembicaraan ibu dan anak, Sukiman yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka memutuskan menyela.

“Memangnya suamimu mau kerja apa di kota?” Ucap Sukiman yang kemudian duduk di samping Rustini.

“Aku tidak tau pak. Dia bilang hanya ingin menemui teman lamanya yang sudah sukses di kota, siapa tau temannya itu bisa membantu. Jadi aku ingin pinjam uang untuk ongkos mas Dimas.” Ucap Maya.

“Pekerjaan saja belum jelas begitu mau kerja apa, kok mau pergi ke kota. Terus disana kalau belum bekerja mau makan dari mana? Mau jadi apa? Pulang lagi pakai apa? Mau jadi gembel?” Ucap Sukiman merendahkan.

Maya yang mulai geram dengan sikap kedua orang tuanya pun mulai menegaskan pada mereka.

“Pak, bu! Sudahlah cukup merendahkan mas Dimas dan keadaanku yang memang miskin! Aku datang kesini baik-baik, meminta bantuan kalian selaku orang tuaku! Jika kalian tidak mau membantuku pun tidak apa! Tak perlu menghina keluargaku!” Ucap Maya meninggikan suaranya seraya matanya yang mulai berkaca-kaca.

“Hm! Bilang sana sama bapakmu! Dia yang pegang uang!” Ucap Rustini ketus yang kemudian pergi meninggalkan Maya.

Dengan mata yang berkaca-kaca, Maya memohon pada bapaknya meminta belas kasihan.

“Pak, tolonglah aku. Jika aku tidak begini anakku, selaku cucumu juga, tidak bisa makan.” Ucap Maya.

Mendengar hal itu seketika hati Sukiman luluh, membayangkan tentang bagaimana cucunya satu-satunya dan Maya selaku anak satu-satunya juga.

“Hmm. Baik. Bapak akan bantu kamu. Tapi ini terakhir kalinya bapak bantu kamu. Karena bapak juga bukan orang kaya. Sawah juga sudah tidak bisa panen. Jadi selebihnya kamu berpikir dan bertahanlah sendiri dengan suamimu.” Ucap Sukiman.

“Iya pak. Terimakasih.” Ucap Maya dengan wajah sedih.

“Berapa uang yang ingin kamu pinjam?” Tanya Sukiman.

“500 ribu pak.” Ucap Maya.

“Baik, tunggu bapak ambilkan uang dulu.” Ucap Sukiman sambil ia beranjak menuju kamarnya.

Tak lama setelahnya, Sukiman kembali ke ruang tamu sambil ia membawa lipatan uang untuk Maya.

Di tangan kirinya pun terlihat ia membawa sekantong sesuatu untuk di berikan pada Maya.

“Ini uangnya. Dan ini bapak kasih beras 5 kilo. Untuk kamu dan anak-anakmu makan.” Ucap Sukiman sambil meletakkan sekantong beras di atas meja.

“Iya pak. Terimakasih banyak. Aku janji kalau mas Dimas sudah bekerja akan aku kembalikan semuanya.” Ucap Maya sembari ia tersenyum bahagia dengan air matanya.

“Iya. Selebihnya, kamu berusahalah sendiri.” Ucap Sukiman.

“Iya pak. Ya sudah, aku langsung pamit pulang. Aku takut terlalu malam.” Ucap Maya sambil ia mengambil uang dan berasnya.

“Aku pamit pulang dulu ya pak, terimakasih sudah mau membantuku. Pamitkan aku pada ibu.” Ucap Maya sembari ia mencium tangan ayahnya.

“Assalamualaikum pak.” Maya kemudian berjalan keluar sambil mengusap air matanya.

“Waalaikumsalam.” Ucap Sukiman sembari ia melihat dan memperhatikan anaknya yang kian berjalan menjauh.

Sesampainya di rumah, ia melihat Dimas yang masih duduk di bale depan rumahnya yang memang sambil menunggu kepulangan Maya.

“Assalamualaikum mas.” Ucap Maya sembari ia meraih tangan Dimas dan mencium tangannya.

“Waalaikumsalam. Bagaimana sayang? Apa kamu berhasil?” Tanya Dimas.

Dengan mata yang kembali berkaca-kaca, Maya memberikan uang dan sekantong beras di hadapan Dimas tanpa berkata suatu apapun.

Dimas yang melihat istrinya itu nampak heran dan bertanya-tanya dalam hatinya.

“Sayang, kamu kenapa menangis? Ada apa? Apa mereka kembali memarahimu?” Tanya Dimas.

Maya pun hanya mengangguk dan seketika memeluk tubuh Dimas.

“Sudah ya sayang. Jangan menangis.” Ucap Dimas menenangkan.

Sambil menangis, Maya berkata pada Dimas, “Mas, mas harus semangat cari kerja ya. Mas harus kerja dan harus bisa merubah hidup kita. Aku capek mas di rendahkan orang lain bahkan aku selalu di maki orang tuaku sendiri.” Ucap Maya.

Dimas yang melihat istrinya menangis atas semua keadaan mereka saat ini pun berjanji akan membalas semuanya.

“Sayang, aku berjanji padamu. Aku akan membalas orang-orang yang merendahkan kita. Aku akan bekerja, dan akan sukses untuk merubah keadaan hidup kita dan anak-anak kita. Aku meminta doa restumu sayang.” Ucap Dimas.

Maya hanya mengangguk sambil ia sesenggukan.

Sambil tetap memeluk istrinya, Dimas sudah bertekad bulat untuk menemui Reno dan mempertanyakan apa maksud dari tawaran perkataannya kala itu.

“Apapun jalan yang Reno tawarkan, aku akan mengambilnya. Haram atau halal, aku tidak peduli. Yang penting aku dapat membahagiakan istri dan anakku tanpa mereka harus di hina lagi orang lain. Apapun akan aku lakukan. Sekalipun aku harus menyembah dan memuja iblis jika Tuhan hanya diam padaku. Jika aku buta karena hal dunia, itu karena Tuhan yang buta dan menutup mata terhadapku.” Ucap Dimas dalam hatinya dengan tekad yang sangat kuat untuk menempuh segala cara agar merubah hidupnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjanjian Darah Iblis   Awal Mula Perjanjian

    ***Di rumah Maya...Malam itu terlihat Maya yang tidak bisa tidur. Ia merasa malam ini seakan tidak seperti malam biasanya.Malam itu hawa terasa sangat gerah. Tidak seperti biasanya yang selalu dingin. Bahkan Maya sampai membuka bajunya dan hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. Karena begitu terasa panas."Ya ampun. Panas sekali hawa malam ini, tidak seperti biasanya." gumam Maya."Sudah jam 02:20, kenapa mas Dimas belum memberiku kabar ya?" batin Maya sembari ia melihat ponsel jadulnya.Wanita itu tampak gelisah, sampai ia sulit untuk tidur tak seperti biasanya.Ditambah dengan suasana hatinya yang merasa seperti ada yang aneh, namun sulit di jelaskan. Benar-benar tak seperti hari-hari biasanya.Ia mencoba menelepon Dimas, namun nomornya tidak dapat di hubungi."Hmm.. Nomor mas Dimas tak bisa di hubungi, tidak aktif. Mungkin hp-nya mati." ucapnya dalam hati.Lalu ia kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, berharap ia bisa tidur.***Di pinggiran hutan, kampung kakek tu

  • Perjanjian Darah Iblis   Ku Terima Apapun Resikonya

    "Jika aku mengikuti apa yang kamu lakukan, apa ada resiko yang harus aku terima?" tanya Dimas sambil berpikir.Lantas Reno segera menanggapi pertanyaan Dimas. "Tentu saja, semua ada resikonya. Ingatlah, dunia ini tidak ada yang gratis Dimas." ucap Reno."Baiklah, aku terima apapun resikonya. Aku tidak peduli. Yang penting aku bisa terbebas dari segala kesulitan ini Ren." Ucap Dimas."Oke, nanti malam, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Istirahatlah dulu mumpung masih ada waktu." jawab Reno.Lalu beranjak dari duduknya dan hendak pergi ke kamarnya.Melihat itu, Dimas yang ingin mengisi waktu luangnya sembari menunggu malam tiba, ia berniat keluar rumah dan sekedar keliling area taman rumah Reno.Diluar area taman, ia melihat begitu indahnya taman rumah milik Reno. Sudah seperti area fasilitas hotel bintang 5. Dengan adanya gazebu, kolam renang, dan tempat untuk bersantai yang di kelilingi dengan aneka tumbuhan bunga."Andai aku bisa memberikan hal seperti ini untuk kalian. Tapi tenan

  • Perjanjian Darah Iblis   Pertemuan dan Penawaran Persekutuan

    Keesokan paginya.“Sayang, aku pamit berangkat dulu. Doakan aku, selain tujuanku mengambil uang pada temanku, doakan aku agar aku disana sekalian mendapatkan pekerjaan.” Ucap Dimas yang kemudian bersujud dan mencium kaki Maya, istrinya.Maya yang melihat dan mendengar perkataan Dimas, ia seketika terhenyuh oleh suasana.Ia melihat niat dan kesungguhan dari suaminya itu.“Iya mas. Aku selalu mendoakan yang terbaik buatmu. Doaku akan selalu menyertaimu mas.” Ucap Maya seraya ia meraih bahu Dimas untuk berdiri.“Terimakasih sayang. Aku titipkan anak-anak padamu ya.” Ucap Dimas.“Pak, bapak mau pergi kemana?” Tanya Wulan, anak pertamanya.“Iya bapak mau kemana?” Sahut Bayu, anak keduanya.Dimas menunduk sambil ia memeluk kedua anaknya.“Bapak mau pergi kerja, cari uang untuk kalian. Biar kalian bisa sekolah nantinya, biar kalian bisa jajan juga. Kalau bapak tidak bekerja, nanti kalian jajan dan sekolah uang dari mana?” Ucap Dimas.“Oooh begitu. Tapi bapak nanti pulang lagi kan?” Tanya Wul

  • Perjanjian Darah Iblis   Hinaan Orang Tua

    Hari sudah maghrib, Maya yang sudah terlihat rapi ala kadarnya tengah bersiap menuju rumah kedua orang tuanya.Rumah orang tuanya terletak di desa seberang yang tak terlalu jauh dari gubuknya saat ini yang berada di pelosok perkampungan dan jauh dari tetangga.Hanya saja Maya harus berjalan kaki melewati desa sebelah untuk sampai di rumah orang tuanya. Karena ia tak memiliki kendaraan pribadi apapun.“Mas, aku mau berangkat dulu ke rumah orang tuaku ya. Aku titip kedua anak kita.” Ucap Maya berpamitan.“Iya sayang. Kamu hati-hati di jalan. Maaf aku tak bisa mengantarmu.” Ucap Dimas.“Iya mas, tidak apa-apa.” Ucap Maya sambil ia memegang bahu Dimas.Lalu Dimas segera memeluk istri tercintanya itu.“Aku mencintai kamu sayang.” Ucap Dimas dalam pelukannya.“Iya mas, aku juga mencintai kamu.” Ucap Maya seraya ia menatap wajah suaminya.Dimas yang melihat ketulusan di wajah istrinya pun segera mencium kening istrinya itu.“Ya sudah mas, aku berangkat dulu ya.” Ucap Maya tersenyum.“Iya say

  • Perjanjian Darah Iblis   Kemiskinan

    Sore itu. Di sebuah perkampungan di wilayah Sukabumi, terdapat satu keluarga yang hidup dalam serba kekurangan.Terlihat seorang pria yang tengah melamun duduk tersandar pada kursi, yang tengah sedang memikirkan sesuatu di kepalanya. Pria itu bernama Dimas.Di tengah lamunannya, tiba-tiba seorang perempuan keluar dari dalam rumah dan menghampiri pria itu.“Mas, sisa beras di rumah kita sudah tinggal sedikit lagi, hanya cukup untuk nanti makan malam saja.” Ucap seorang wanita bernama Maya, yang tak lain merupakan istri dari Dimas. Ia mengeluhkan pada suaminya tentang sisa stok beras yang kian hari kian menipis.Dimas tampak diam dalam lamunannya dan hanya memandang ke arah kosong seolah ia tak menggubris ucapan istrinya itu.“Mas! Bagaimana ini..” keluh Maya lagi seraya meninggikan nada suaranya.Dimas yang mendengar itu tampak terkejut dan tersadar dari lamunannya.“Eh, Maya. Maaf mas sedang memikirkan sesuatu.” Ucap Dimas.“Lalu bagaimana mas, untuk hari besok. Anak kita tak akan bis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status