Share

Perjanjian Darah Iblis
Perjanjian Darah Iblis
Author: Winirosa

Kemiskinan

Author: Winirosa
last update Last Updated: 2024-04-26 19:57:28

Sore itu. Di sebuah perkampungan di wilayah Sukabumi, terdapat satu keluarga yang hidup dalam serba kekurangan.

Terlihat seorang pria yang tengah melamun duduk tersandar pada kursi, yang tengah sedang memikirkan sesuatu di kepalanya. Pria itu bernama Dimas.

Di tengah lamunannya, tiba-tiba seorang perempuan keluar dari dalam rumah dan menghampiri pria itu.

“Mas, sisa beras di rumah kita sudah tinggal sedikit lagi, hanya cukup untuk nanti makan malam saja.” Ucap seorang wanita bernama Maya, yang tak lain merupakan istri dari Dimas. Ia mengeluhkan pada suaminya tentang sisa stok beras yang kian hari kian menipis.

Dimas tampak diam dalam lamunannya dan hanya memandang ke arah kosong seolah ia tak menggubris ucapan istrinya itu.

“Mas! Bagaimana ini..” keluh Maya lagi seraya meninggikan nada suaranya.

Dimas yang mendengar itu tampak terkejut dan tersadar dari lamunannya.

“Eh, Maya. Maaf mas sedang memikirkan sesuatu.” Ucap Dimas.

“Lalu bagaimana mas, untuk hari besok. Anak kita tak akan bisa makan.” Ucap Maya dengan raut wajah sedih.

“Entahlah sayang. Mas belum mendapatkan solusi. Hutang kita sudah banyak di warung dan di orang-orang. Jika mas meminjam lagi, pasti tidak akan di kasih.” Balasnya.

“Memangnya mas belum ada kabar lagi tentang pekerjaan?” Ucap Maya.

“Belum. Sampai sekarang belum ada lagi panggilan kerja buat mas.” Balas Dimas lesu.

Ternyata, Dimas sudah lama hidup menganggur setelah ia di pecat dari perusahaan sebelumnya tempat ia bekerja. Dulu ia dan keluarganya sempat hidup tanpa kekurangan apapun secara ekonomi.

Setelah perusahaannya bangkrut, ia kebingungan dalam mencari pekerjaan baru. Sekedar untuk menyambung hidup dan menghidupi keluarganya, terkadang ia bekerja serabutan pada orang yang mengajaknya bekerja.

Ia pun sudah tidak lagi memiliki orang tua, sebagai anak tunggal, ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.

Segala yang ia punya sudah habis terjual untuk biaya hidup. Mobil, motor, tanah, serta rumah pribadi pun habis terjual.

Pernah ia membuka usaha sendiri kecil-kecilan selama menganggur dengan modal yang ia dapatkan dari hasil menjual rumah. Namun semua itu gagal.

Hingga pada akhirya ia dan anak istrinya harus menumpang di sebuah rumah gubuk yang hanya berbilik bambu yang merupakan milik dari seorang Kyai kaya yang baik hati di wilayah itu.

“Oh ya sayang, cobalah kamu pinjam dulu uang pada orang tuamu, atau kamu minta dulu beras pada mereka. Nanti kalau mas dapat pekerjaan, barulah mas akan ganti.” Ucap Dimas setelah beberapa saat berpikir.

“Tidak mas. Aku tidak berani. Terlebih dari sejak terakhir aku meminjam uang pada mereka, ibu dan ayahku tampak marah dan kesal. Karena mereka pun bukan orang kaya dan tidak selalu ada.” Jawab Maya.

“Ayolah sayang, terakhir ini saja. Kamu rayu mereka, kamu mohon pada mereka. Masa iya pada anaknya sendiri mereka tidak mau membantu anaknya yang sedang kesulitan.” Balas Dimas.

“Mas. Aku anaknya, aku yang lebih paham bagaimana sifat kedua orang tuaku.” Jawab Maya.

“Sayang, sekali ini saja. Mas sudah tidak punya jalan lain. Setidaknya jika mereka mau membantu, mas bisa memiliki sedikit ketenangan untuk kembali berpikir untuk hari esoknya lagi.” Ucap Dimas memaksa.

Sejenak pun Maya berpikir, dan merasa kasihan pada suaminya. Dengan terpaksa dan mau tidak mau, ia menuruti dan memberanikan diri untuk menemui orang tuanya.

“Ya sudah mas, nanti sore sehabis maghrib aku ke rumah orang tuaku.” Ucap Maya.

Dimas tersenyum lega mendengar istrinya yang bersedia menuruti kemauannya.

“Terimakasih ya sayang. Maaf jika mas tidak bisa lagi mencari solusi untuk hal ini.” Ucap Dimas.

Maya tersenyum. “Iya mas, tidak apa-apa. Aku juga akan berusaha membantu untuk keluarga kita.” Ucapnya.

“Ya sudah mas, aku dan anak-anak mau mandi dulu, sudah sore.” Ucapnya lagi.

Dimas hanya mengangguk.

Lalu Maya pun bergegas mengajak kedua anaknya untuk mandi di sungai yang berada tak jauh dari rumah gubuk mereka.

“Wulan! Bayu! Sudh sore, ayo kita mandi nak.” Teriak Maya memanggil kedua anaknya.

“Iya bu!” Ucap mereka berdua dari dalam rumah.

Setelah siap membawa beberapa perlengkapan mandi, mereka pun segera pergi menuju sungai untuk mandi.

Dimas yang melihat mereka hendak pergi pun melanjutkan kembali lamunannya.

Sambil berpikir mencari cara apa lagi yang harus ia lakukan untuk anak dan istrinya di kemudian hari.

Seketika ia teringat dan terbayang sosok laki-laki yang dulu pernah menjadi rekan kerjanya selama di perusahaan lama. Pria itu bernama Reno Aditya.

Ia teringat tentang dulu bagaimana kehidupan temannya itu setelah ia sama-sama di pecat dari perusahaan tempat ia bekerja bersama. Yang hidup susah, bahkan jauh lebih susah dari hidupnya Dimas sendiri. Namun yang ia heran, dalam waktu singkat keadaan ekonomi Reno mampu bangkit secara pesat dan mampu membeli segala apapun yang di inginkannya.

Untuk orang normal secara umum kekayaan Reno itu tidaklah bisa di raih dalam waktu hanya beberapa bulan saja. Yang seharusnya butuh waktu bertahun-tahun lamanya bahkan belasan tahun untuk memperoleh semua itu.

Seketika pun ia terbayang dan teringat akan perkataan Reno sejak terakhir Dimas bertemu dengannya yang dimana Reno berkata pada Dimas, “Kamu masih hidup miskin Dim? Kalau kamu tidak mau hidup miskin, datangi aku. Aku punya cara untuk merubah hidupmu agar sama sepertiku.” Ucap Reno kala itu pada Dimas.

Namun Dimas yang kala itu tak mengerti akan arti ucapan dari Reno, hanya bisa terdiam saja tanpa merespon apapun.

“Kenapa aku jadi teringat orang itu ya. Aku jadi penasaran arti dari perkataannya waktu itu. Apa aku datangi dia saja ya? Itung-itung aku pinjam uang pada dia.” Gumam Dimas.

“Ah iya. Lebih baik aku datangi saja dia. Aku akan cari informasi kontaknya dan alamatnya.” Gumamnya lagi.

Lalu ia segera masuk ke dalam rumah, mengambil handphone jadulnya dan mencari kontak Reno.

Setelah ia mencari, ia kemudian mendapatkan nomor telepon dari Reno, temannya itu.

Dimas pun segera menghubunginya.

Tuuuttt… Tuuuttt… Tuuuttt…

Terdengar di telinga Dimas jika teleponnya tersambung pada nomor Reno.

“Hallo.. Selamat sore, dengan Reno disini. Dengan siapa saya berbicara dan apa ada yang bisa saya bantu?” Terdengar suara Reno yang mengangkat telepon dari Dimas.

“Hallo, Reno. Ini aku Dimas.” Jawab Dimas.

“Ohhh, Dimas! Bagaimana kabarmu? Akhirnya kamu menghubungiku. Sudah lama sekali kita tidak bertemu.” Ucap Reno dalam suara telepon selulernya.

“Kabarku baik, Ren. Bagaimana kabarmu juga? Semakin sukses ya sekarang.” Jawab Dimas.

“Hahaha, kabarku baik. Ya beginilah, alhamdullilah semakin lancar. Oh ya, ada apa kamu tumben menghubungiku? Ada yang bisa aku bantu?” Jawab Reno.

“Emm, begini Ren, aku dan istriku sedang dalam kesulitan ekonomi, apakah boleh aku ingin meminta bantuanmu?” Ucap Dimas tanpa basa basi.

“Oh begitu. Apa yang bisa aku bantu untukmu Dimas?” Tanya Reno.

“Emm, langsung saja, aku sedang membutuhkan uang Ren, untuk anak istriku. Aku masih belum bekerja sampai saat ini. Bolehkah aku meminjam uang padamu? Nanti jika aku sudah bekerja aku akan kembalikan.” Jawab Dimas.

“Oh begitu ya. Baiklah Dim, berapa yang ingin kamu pinjam?” Tanya Reno.

“Tidak besar kok, jika boleh, aku ingin pinjam 1 juta saja.” Jawab Dimas.

“Baiklah. Aku kasih. Kamu tak perlu mengembalikannya padaku.” Jawab Reno.

Mendengar hal itu, seketika Dimas pun sangat merasa senang. Itu artinya ia hanya di beri uang cuma-cuma oleh Reno tanpa berpikir bagaimana dan kapan ia harus mengembalikannya.

“Se-Serius Ren?” Ucap Dimas gugup sekaligus senang.

“Iya. Aku serius. Aku akan membantumu. Lagipula jika kamu meminjam, kamu harus berpikir cara mengembalikannya padaku bukan? Dan itu akan menambah beban tanggunganmu. Jadi aku berikan itu secara cuma-cuma saja.” Jawab Reno.

“Aduh. Terimakasih banyak Reno. Aku tidak tau harus apa selain berterimakasih padamu.” Jawab Dimas senang.

“Tidak apa-apa, jangan di pikirkan. Oh ya, berikan nomor rekeningmu agar aku bisa mentranfer sekarang juga padamu.” Ucap Reno.

Seketika Dimas terdiam, karena ia tau. Dia dan istrinya tidak lagi memiliki rekening bank.

“Emm, aku tidak ada rekening Ren. Kalau boleh, aku ambil saja ke tempatmu. Bagaimana? Sekalian aku ingin bertemu denganmu. Sudah lama kita tidak bertemu.” Jawab Dimas.

“Oh. Ide bagus. Boleh saja jika kamu ingin datang kemari. Tapi sekarang aku tinggal di Jakarta Utara. Mungkin lokasiku sangat jauh dari daerahmu tinggal.” Ucap Reno.

“Tidak apa-apa Ren. Besok aku usahakan untuk biaya ongkos ketempatmu. Berikan saja alamatmu.” Jawab Dimas.

“Baiklah, nanti aku tuliskan alamatku lewat pesan.” Jawab Reno.

“Oke Ren. Terimakasih banyak sudah mau membantuku.” Jawab Dimas.

Lalu ia pun menutup percakapan teleponnya.

Ia menunggu Reno mengirimkan alamat rumahnya.

Tak lama berselang, terdengar bunyi pesan masuk pada handphonenya.

Pesan itu dari Reno yang menuliskan alamat lengkap rumahnya.

Disisi lain, Maya yang baru saja selesai mandi dari sungai datang bersama kedua anaknya.

“Mas! Kenapa kok senyum-senyum sendiri begitu.” Tanya Maya yang heran melihat Dimas yang tersenyum sendiri sembari ia melihat layar handphonenya.

“Ini sayang, aku dapat kabar baik. Aku baru saja menghubungi teman lamaku yang bernama Reno, dia sudak sukses di kota, aku berniat meminjam uang pada dia, tapi dia secara cuma-cuma hanya memberikan uang itu padaku.” Ucap Dimas menjelaskan.

“Wah! Benarkah mas? Memangnya berapa yang akan dia kasih ke kita?” Tanya Maya.

“Tidak besar sih, hanya 1 juta saja. Tapi aku harus mendatanginya untuk mengambil uangnya, karena kamu tau sendiri kita tidak ada rekening.” Ucap Dimas.

“Oh ya, nanti saat kamu datang ke orang tuamu, selain minta beras, tolong pinjamkan aku uang 500 ribu ya sayang, untuk ongkosku ke alamat Reno.” Sambungnya lagi.

“Ia mas, nanti aku usahakan merayu orang tuaku ya. Aku mau siap-siap dulu ganti baju.” Ucap Maya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjanjian Darah Iblis   Awal Mula Perjanjian

    ***Di rumah Maya...Malam itu terlihat Maya yang tidak bisa tidur. Ia merasa malam ini seakan tidak seperti malam biasanya.Malam itu hawa terasa sangat gerah. Tidak seperti biasanya yang selalu dingin. Bahkan Maya sampai membuka bajunya dan hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. Karena begitu terasa panas."Ya ampun. Panas sekali hawa malam ini, tidak seperti biasanya." gumam Maya."Sudah jam 02:20, kenapa mas Dimas belum memberiku kabar ya?" batin Maya sembari ia melihat ponsel jadulnya.Wanita itu tampak gelisah, sampai ia sulit untuk tidur tak seperti biasanya.Ditambah dengan suasana hatinya yang merasa seperti ada yang aneh, namun sulit di jelaskan. Benar-benar tak seperti hari-hari biasanya.Ia mencoba menelepon Dimas, namun nomornya tidak dapat di hubungi."Hmm.. Nomor mas Dimas tak bisa di hubungi, tidak aktif. Mungkin hp-nya mati." ucapnya dalam hati.Lalu ia kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, berharap ia bisa tidur.***Di pinggiran hutan, kampung kakek tu

  • Perjanjian Darah Iblis   Ku Terima Apapun Resikonya

    "Jika aku mengikuti apa yang kamu lakukan, apa ada resiko yang harus aku terima?" tanya Dimas sambil berpikir.Lantas Reno segera menanggapi pertanyaan Dimas. "Tentu saja, semua ada resikonya. Ingatlah, dunia ini tidak ada yang gratis Dimas." ucap Reno."Baiklah, aku terima apapun resikonya. Aku tidak peduli. Yang penting aku bisa terbebas dari segala kesulitan ini Ren." Ucap Dimas."Oke, nanti malam, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Istirahatlah dulu mumpung masih ada waktu." jawab Reno.Lalu beranjak dari duduknya dan hendak pergi ke kamarnya.Melihat itu, Dimas yang ingin mengisi waktu luangnya sembari menunggu malam tiba, ia berniat keluar rumah dan sekedar keliling area taman rumah Reno.Diluar area taman, ia melihat begitu indahnya taman rumah milik Reno. Sudah seperti area fasilitas hotel bintang 5. Dengan adanya gazebu, kolam renang, dan tempat untuk bersantai yang di kelilingi dengan aneka tumbuhan bunga."Andai aku bisa memberikan hal seperti ini untuk kalian. Tapi tenan

  • Perjanjian Darah Iblis   Pertemuan dan Penawaran Persekutuan

    Keesokan paginya.“Sayang, aku pamit berangkat dulu. Doakan aku, selain tujuanku mengambil uang pada temanku, doakan aku agar aku disana sekalian mendapatkan pekerjaan.” Ucap Dimas yang kemudian bersujud dan mencium kaki Maya, istrinya.Maya yang melihat dan mendengar perkataan Dimas, ia seketika terhenyuh oleh suasana.Ia melihat niat dan kesungguhan dari suaminya itu.“Iya mas. Aku selalu mendoakan yang terbaik buatmu. Doaku akan selalu menyertaimu mas.” Ucap Maya seraya ia meraih bahu Dimas untuk berdiri.“Terimakasih sayang. Aku titipkan anak-anak padamu ya.” Ucap Dimas.“Pak, bapak mau pergi kemana?” Tanya Wulan, anak pertamanya.“Iya bapak mau kemana?” Sahut Bayu, anak keduanya.Dimas menunduk sambil ia memeluk kedua anaknya.“Bapak mau pergi kerja, cari uang untuk kalian. Biar kalian bisa sekolah nantinya, biar kalian bisa jajan juga. Kalau bapak tidak bekerja, nanti kalian jajan dan sekolah uang dari mana?” Ucap Dimas.“Oooh begitu. Tapi bapak nanti pulang lagi kan?” Tanya Wul

  • Perjanjian Darah Iblis   Hinaan Orang Tua

    Hari sudah maghrib, Maya yang sudah terlihat rapi ala kadarnya tengah bersiap menuju rumah kedua orang tuanya.Rumah orang tuanya terletak di desa seberang yang tak terlalu jauh dari gubuknya saat ini yang berada di pelosok perkampungan dan jauh dari tetangga.Hanya saja Maya harus berjalan kaki melewati desa sebelah untuk sampai di rumah orang tuanya. Karena ia tak memiliki kendaraan pribadi apapun.“Mas, aku mau berangkat dulu ke rumah orang tuaku ya. Aku titip kedua anak kita.” Ucap Maya berpamitan.“Iya sayang. Kamu hati-hati di jalan. Maaf aku tak bisa mengantarmu.” Ucap Dimas.“Iya mas, tidak apa-apa.” Ucap Maya sambil ia memegang bahu Dimas.Lalu Dimas segera memeluk istri tercintanya itu.“Aku mencintai kamu sayang.” Ucap Dimas dalam pelukannya.“Iya mas, aku juga mencintai kamu.” Ucap Maya seraya ia menatap wajah suaminya.Dimas yang melihat ketulusan di wajah istrinya pun segera mencium kening istrinya itu.“Ya sudah mas, aku berangkat dulu ya.” Ucap Maya tersenyum.“Iya say

  • Perjanjian Darah Iblis   Kemiskinan

    Sore itu. Di sebuah perkampungan di wilayah Sukabumi, terdapat satu keluarga yang hidup dalam serba kekurangan.Terlihat seorang pria yang tengah melamun duduk tersandar pada kursi, yang tengah sedang memikirkan sesuatu di kepalanya. Pria itu bernama Dimas.Di tengah lamunannya, tiba-tiba seorang perempuan keluar dari dalam rumah dan menghampiri pria itu.“Mas, sisa beras di rumah kita sudah tinggal sedikit lagi, hanya cukup untuk nanti makan malam saja.” Ucap seorang wanita bernama Maya, yang tak lain merupakan istri dari Dimas. Ia mengeluhkan pada suaminya tentang sisa stok beras yang kian hari kian menipis.Dimas tampak diam dalam lamunannya dan hanya memandang ke arah kosong seolah ia tak menggubris ucapan istrinya itu.“Mas! Bagaimana ini..” keluh Maya lagi seraya meninggikan nada suaranya.Dimas yang mendengar itu tampak terkejut dan tersadar dari lamunannya.“Eh, Maya. Maaf mas sedang memikirkan sesuatu.” Ucap Dimas.“Lalu bagaimana mas, untuk hari besok. Anak kita tak akan bis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status