Home / Horor / Perjanjian Darah Iblis / Pertemuan dan Penawaran Persekutuan

Share

Pertemuan dan Penawaran Persekutuan

Author: Winirosa
last update Last Updated: 2024-04-26 19:58:37

Keesokan paginya.

“Sayang, aku pamit berangkat dulu. Doakan aku, selain tujuanku mengambil uang pada temanku, doakan aku agar aku disana sekalian mendapatkan pekerjaan.” Ucap Dimas yang kemudian bersujud dan mencium kaki Maya, istrinya.

Maya yang melihat dan mendengar perkataan Dimas, ia seketika terhenyuh oleh suasana.

Ia melihat niat dan kesungguhan dari suaminya itu.

“Iya mas. Aku selalu mendoakan yang terbaik buatmu. Doaku akan selalu menyertaimu mas.” Ucap Maya seraya ia meraih bahu Dimas untuk berdiri.

“Terimakasih sayang. Aku titipkan anak-anak padamu ya.” Ucap Dimas.

“Pak, bapak mau pergi kemana?” Tanya Wulan, anak pertamanya.

“Iya bapak mau kemana?” Sahut Bayu, anak keduanya.

Dimas menunduk sambil ia memeluk kedua anaknya.

“Bapak mau pergi kerja, cari uang untuk kalian. Biar kalian bisa sekolah nantinya, biar kalian bisa jajan juga. Kalau bapak tidak bekerja, nanti kalian jajan dan sekolah uang dari mana?” Ucap Dimas.

“Oooh begitu. Tapi bapak nanti pulang lagi kan?” Tanya Wulan.

“Iya. Pasti bapak akan pulang lagi untuk kalian.” Ucap Dimas tersenyum.

“Ya sudah, bapak pamit berangkat dulu ya. Wulan dan Bayu tidak boleh nakal sama ibu. Harus nurut sama ibu ya.” Ucapnya lagi.

Wulan dan Bayu pun mengangguk. “Iya pak. Kita pasti nurut kok. Aku akan menjaga adikku juga.” Ucap Wulan.

Dimas tersenyum senang mendengar jawaban Wulan anaknya.

Lalu ia kembali mengarah pada Maya.

“Sayang, aku pergi dulu ya. Kamu jaga diri baik-baik. Entah aku akan kembali atau tidak, nanti aku akan mengabarimu. Jika aku tidak kembali dan langsung bekerja disana, aku akan mengirimkan uang melalui kantor Pos.” Ucap Dimas.

“Iya sayang. Kamu juga berhati-hati disana. Baik-baik. Kalau kamu langsung bisa bekerja dimanapun itu, kamu jangan nakal! Jangan selingkuh! Ingat aku dan anak kita mas.” Ucap Maya.

“Iya sayang. Aku pasti akan menjaga hubungan rumah tangga kita.” Ucap Dimas.

Lalu tak lama datanglah seorang pria dengan motornya yang tak lain itu adalah tukang ojek yang sebelumnya sudah Maya pesankan untuk mengantar Dimas ke terminal bus Sukabumi yang letaknya memang jauh dari rumah mereka.

“Sudah siap pak?” Tanya tukang ojek.

“Iya sudah.” Jawab Dimas.

“Ya sudah aku pergi dulu ya sayang.” Ucap Dimas sambil memeluk dan mencium Maya, serta kedua anaknya.

“Kabari aku mas kalau sudah sampai ya.” Ucap Maya.

Dimas mengangguk, lalu Dimas pun pergi.

Dengan penuh harapan dan doa, Maya terus memandangi kepergian Dimas, hingga motor ojek yang membawa Dimas perlahan tak terlihat lagi dari kejauhan oleh Maya.

Setelah menempuh perjalanan dari ojek rumahnya hingga menaiki bus dari terminal Sukabumi, sampailah Dimas di terminal Kampung Rambutan, Jakarta.

Yang kemudian ia kembali memesan bus untuk sampai di lokasi tujuan.

Sudah 4 jam perjalanan yang ia tempuh dengan bus, karena banyaknya kemacetan di kota itu.

Sampailah ia di titik lokasi penjemputan.

Lalu ia menghubungi Reno dan memberikan kabar jika ia sudah sampai di lokasi wilayahnya.

Setelah lama menunggu, tibalah sebuah mobil sedan Mercedez Bens berwarna putih yang berhenti tepat di depannya.

Dari mobil mewah itu turunlah pria yang berpakaian rapi menggunakan jas hitam yang tak lain itu adalah Reno Aditya, temannya.

“Hey! Dimas! Sudah lama menunggu ya? Maaf membuatmu menunggu. Ada beberapa kemacetan di jalan.” Ucap Reno.

Dimas yang melihat hal itu hanya diam terpaku dan sedikit pangling dengan penampilan teman lamanya itu.

Sangat jauh berbeda dengan penampilan Dimas saat ini yang hanya mengenakan kemeja kotak-kotak dengan warna yang lusuh dan tas ransel yang sudah sedikit robek di beberapa jahitannya.

“Reno?” Tanya Dimas.

“Iya. Ini aku. Biasa saja lah jangan pasang wajah begitu.” Ucap Reno sambil menepuk bahu Dimas.

“Ya ampun. Aku pangling Ren. Sudah lama sekali kita tidak ketemu ya.” Ucap Dimas.

“I-itu, mobil mewah itu mobilmu?” Tanya Dimas.

“Ya iya lah. Itu mobilku.” Jawab Reno sembari ia melihat Dimas yang terbelalak melihat mobil pribadinya itu.

“Sudahlah! Nanti kamu juga akan bisa mendapatkan mobil seperti itu.” Ucap Reno lagi.

“Ah. Mimpi. Mana mungkin aku bisa membeli mobil semewah ini dengan harga milyaran.” Jawab Dimas.

“Di dunia ini tak ada yang tak mungkin kawan. Sudahlah, ayo kita naik ke mobil. Panas sekali diluar sini.” Ajak Reno.

Mereka pun berjalan ke arah mobil dan menaikinya.

Di tengah perjalanan, banyak yang mereka berdua bicarakan layaknya orang yang sudah lama sekali tidak bertemu.

“Oh ya, apa kamu sudah makan? Kalau belum kita cari makan dulu di restoran.” Tanya Reno.

“Belum. Makan apa juga jika di rumah tidak ada apa-apa.” Jawab Dimas.

“Ya ampun Dimas. Kasihan sekali hidup kamu ya. Berarti selama ini kamu serba kekurangan.” Ucap Reno.

“Ya. Begitulah. Dulu sewaktu aku menjadi atasanmu di perusahaan lama, tidak separah ini hidupku. Roda kehidupan memang berputar.” Jawab Dimas

Ternyata di ketahui, selama Dimas dulu bekerja di perusahaan, Reno adalah teman yang pernah menjadi bawahan Dimas kala itu.

Namun siapa sangka jika keadaan sekarang sudah jauh berbalik.

“Ya sudah. Ayo kita cari makan. Nanti di restoran, kamu makanlah sepuasmu.” Ucap Reno.

Mereka berdua pun segera melesat menuju restoran yang menjadi tempat langganan Reno yang berada di wilayah kawasan Kelapa Gading.

Sesampainya di restoran itu, Dimas nampak gugup.

Karena ia sudah lama sekali bertahun-tahun tidak lagi mengunjungi tempat elit seperti ini.

Terlebih dengan penampilannya saat ini yang terlihat lusuh. Tidak seperti tamu-tamu restoran disana.

“Ayo, jangan gugup. Santailah saja. Pesanlah makananmu.” Ucap Reno sambil menunjukkan buku menu pada Dimas.

Dimas yang memang dari awal sudah lapar pun tak mau tau diri. Mumpung free payment pikirnya.

Ia memesan banyak menu makanan enak disana.

Reno yang melihat banyaknya pesanan Dimas pun hanya melongo.

Sedangkan Reno hanya memesan 2 porsi makanan.

“Mas, kamu serius? Bisa menghabiskan makanan sebanyak itu yang kamu pesan?” Tanya Reno heran.

“Iya. Aku sangat lapar Ren.” Jawab Dimas.

“Hahaha. Ya sudah. Tidak masalah.” Ucap Reno.

Tak lama setelah mereka memesan, datanglah waiters yang mengantarkan pesanan makanan mereka.

“Silahkan pak.” Ucap salah satu waiters.

“Ayo mas. Makanlah. Kita makan dulu, setelah ini baru aku akan mengajakmu ke rumahku.” Ucap Reno.

Lalu mereka berdua pun makan dengan Dimas yang sangat lahap memakan satu per satu makanan yang sudah ia pesan.

Saat Dimas sedang menyantap makanannya, ia teringat akan istri dan anaknya.

“Kali ini aku menikmati makanan mewah nan lezat ini sendirian tanpa kalian, suatu nanti, aku akan memberikan hal yang sama seperti ini untuk kalian, agar kalian merasakan kehidupan seperti ini, istriku dan anakku.” Ucap Dimas dalam hatinya.

Setelah mereka berdua selesai makan, Reno pun kembali melanjutkan perjalanan dan mengajak Dimas untuk ke rumahnya.

Sesampainya di rumah Reno, Dimas nampak terbelalak melihat kemewahan dan besarnya rumah Reno.

“Reno. Darimana kamu bisa mendapatkan semua ini? Sebesar apapun dulu gajiku saja tidak mampu untuk mendapatkan rumah sebesar dan semewah ini.” Ucap Dimas sambil melihat sekeliling rumah.

“Sudah. Diam dulu. Nanti aku ceritakan dan akan ku beri tahu tentang bagaimana aku bisa seperti ini. Asal kamu mau saja menerima syaratnya. Semudah itu.” Jawab Reno.

“Baiklah. Itu juga alasan tujuanku datang kemari. Aku ingin tau tentang perkataan yang dulu sempat kamu katakan. Bahkan sekarang, kamu mengatakannya lagi. Aku penasaran.” Jawab Dimas.

“Ya sudah. Ayo kita masuk dulu. Nanti akan aku ceritakan rahasiaku padamu mas.” Jawab Reno sembari ia masuk rumahnya bersama Dimas.

“Duduklah dulu. Jika kamu ingin merokok, merokoklah saja. Aku akan menyuruh pembantuku membuatkan kopi untukmu.” Ucap Reno.

Tak lama kemudian datanglah pembantu rumah Reno yang membawakan secangkir kopi untuk Dimas.

“Silahkan kopinya pak.” Ucap pembantu itu.

“Terimakasih.” Jawab Dimas.

Sambil menunggu Reno, ia mengeluarkan bungkusan rokok yang di belinya di jalan tadi dan menyalakannya.

Tak lama setelahnya, datanglah Reno dan duduk di depan Dimas sambil mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya.

“Dimas, ini uang yang aku janjikan kemarin. Ambillah. Kamu tidak perlu mengembalikannya padaku.” Ucap Reno.

“Iya. Terimakasih banyak atas bantuanmu.” Jawab Dimas sambil meraih uang di atas meja itu.

“Oh ya. Jika aku boleh tau, lalu bagaimana tentang maksud dari perkataanmu itu?” Tanya Dimas yang masih penasaran.

“Hmm. Kamu masih penasaran ya? Sebenarnya ini adalah rahasia terbesarku atas semua yang ku dapat ini. Aku harap, setelah aku menceritakannya dan menawarkannya padamu, kamu tidak memberitahu siapapun tentang hal ini.” Jawab Reno.

“Iya. Aku tidak akan menceritakan pada siapapun.” Jawab Dimas.

“Tentunya kamu pasti sudah merasakan tentang kejanggalan dari yang aku dapat ini dalam waktu singkat bukan? Yang pada dasarnya kamu tau latar belakangku sebelumnya.” Ucap Reno.

“Aku tak meminjam pada bank dan apapun itu. Karena aku tak punya apapun untuk jaminan.” Lanjutnya.

“Lalu, apa yang kamu lakukan?” Tanya Dimas.

“Ini pertanyaan yang ku tunggu. Soal apa yang aku lakukan untuk mendapat segala kemewahan ini, tentulah ada peranan lain.” Jawab Reno.

“Apa itu?” Tanya Dimas.

“Aku melakukan pesugihan.” Jawab Reno terang-terangan.

Dimas pun sangat terkejut mendengar pernyataan Reno. Dia tidak menyangka ternyata Reno melakukan hal macam itu.

“Aku tau. Ini adalah tindakan yang salah. Aku pun tidak membenarkan atas tindakanku ini. Namun jika Tuhan hanya diam melihat kesulitan serta kesengsaraan kita, dan justru malah iblislah yang terlihat lebih peduli pada kita, mengapa tidak kulakukan?” Lanjut Reno.

“Karena waktu itu aku mengetahui keadaanmu, bahkan sampai sekarang pun keadaanmu masih pahit, itulah alasanku memberikan penawaran itu padamu. Itu pun jika kamu mau. Dan jika kau memang betah dengan keadaan sulitmu sampai saat ini.” Lanjutnya lagi.

Dimas yang masih terkejut dan merasa bimbang dari dua sisi pun hanya bisa terdiam sambil banyak berpikir.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjanjian Darah Iblis   Awal Mula Perjanjian

    ***Di rumah Maya...Malam itu terlihat Maya yang tidak bisa tidur. Ia merasa malam ini seakan tidak seperti malam biasanya.Malam itu hawa terasa sangat gerah. Tidak seperti biasanya yang selalu dingin. Bahkan Maya sampai membuka bajunya dan hanya mengenakan pakaian dalamnya saja. Karena begitu terasa panas."Ya ampun. Panas sekali hawa malam ini, tidak seperti biasanya." gumam Maya."Sudah jam 02:20, kenapa mas Dimas belum memberiku kabar ya?" batin Maya sembari ia melihat ponsel jadulnya.Wanita itu tampak gelisah, sampai ia sulit untuk tidur tak seperti biasanya.Ditambah dengan suasana hatinya yang merasa seperti ada yang aneh, namun sulit di jelaskan. Benar-benar tak seperti hari-hari biasanya.Ia mencoba menelepon Dimas, namun nomornya tidak dapat di hubungi."Hmm.. Nomor mas Dimas tak bisa di hubungi, tidak aktif. Mungkin hp-nya mati." ucapnya dalam hati.Lalu ia kembali merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, berharap ia bisa tidur.***Di pinggiran hutan, kampung kakek tu

  • Perjanjian Darah Iblis   Ku Terima Apapun Resikonya

    "Jika aku mengikuti apa yang kamu lakukan, apa ada resiko yang harus aku terima?" tanya Dimas sambil berpikir.Lantas Reno segera menanggapi pertanyaan Dimas. "Tentu saja, semua ada resikonya. Ingatlah, dunia ini tidak ada yang gratis Dimas." ucap Reno."Baiklah, aku terima apapun resikonya. Aku tidak peduli. Yang penting aku bisa terbebas dari segala kesulitan ini Ren." Ucap Dimas."Oke, nanti malam, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. Istirahatlah dulu mumpung masih ada waktu." jawab Reno.Lalu beranjak dari duduknya dan hendak pergi ke kamarnya.Melihat itu, Dimas yang ingin mengisi waktu luangnya sembari menunggu malam tiba, ia berniat keluar rumah dan sekedar keliling area taman rumah Reno.Diluar area taman, ia melihat begitu indahnya taman rumah milik Reno. Sudah seperti area fasilitas hotel bintang 5. Dengan adanya gazebu, kolam renang, dan tempat untuk bersantai yang di kelilingi dengan aneka tumbuhan bunga."Andai aku bisa memberikan hal seperti ini untuk kalian. Tapi tenan

  • Perjanjian Darah Iblis   Pertemuan dan Penawaran Persekutuan

    Keesokan paginya.“Sayang, aku pamit berangkat dulu. Doakan aku, selain tujuanku mengambil uang pada temanku, doakan aku agar aku disana sekalian mendapatkan pekerjaan.” Ucap Dimas yang kemudian bersujud dan mencium kaki Maya, istrinya.Maya yang melihat dan mendengar perkataan Dimas, ia seketika terhenyuh oleh suasana.Ia melihat niat dan kesungguhan dari suaminya itu.“Iya mas. Aku selalu mendoakan yang terbaik buatmu. Doaku akan selalu menyertaimu mas.” Ucap Maya seraya ia meraih bahu Dimas untuk berdiri.“Terimakasih sayang. Aku titipkan anak-anak padamu ya.” Ucap Dimas.“Pak, bapak mau pergi kemana?” Tanya Wulan, anak pertamanya.“Iya bapak mau kemana?” Sahut Bayu, anak keduanya.Dimas menunduk sambil ia memeluk kedua anaknya.“Bapak mau pergi kerja, cari uang untuk kalian. Biar kalian bisa sekolah nantinya, biar kalian bisa jajan juga. Kalau bapak tidak bekerja, nanti kalian jajan dan sekolah uang dari mana?” Ucap Dimas.“Oooh begitu. Tapi bapak nanti pulang lagi kan?” Tanya Wul

  • Perjanjian Darah Iblis   Hinaan Orang Tua

    Hari sudah maghrib, Maya yang sudah terlihat rapi ala kadarnya tengah bersiap menuju rumah kedua orang tuanya.Rumah orang tuanya terletak di desa seberang yang tak terlalu jauh dari gubuknya saat ini yang berada di pelosok perkampungan dan jauh dari tetangga.Hanya saja Maya harus berjalan kaki melewati desa sebelah untuk sampai di rumah orang tuanya. Karena ia tak memiliki kendaraan pribadi apapun.“Mas, aku mau berangkat dulu ke rumah orang tuaku ya. Aku titip kedua anak kita.” Ucap Maya berpamitan.“Iya sayang. Kamu hati-hati di jalan. Maaf aku tak bisa mengantarmu.” Ucap Dimas.“Iya mas, tidak apa-apa.” Ucap Maya sambil ia memegang bahu Dimas.Lalu Dimas segera memeluk istri tercintanya itu.“Aku mencintai kamu sayang.” Ucap Dimas dalam pelukannya.“Iya mas, aku juga mencintai kamu.” Ucap Maya seraya ia menatap wajah suaminya.Dimas yang melihat ketulusan di wajah istrinya pun segera mencium kening istrinya itu.“Ya sudah mas, aku berangkat dulu ya.” Ucap Maya tersenyum.“Iya say

  • Perjanjian Darah Iblis   Kemiskinan

    Sore itu. Di sebuah perkampungan di wilayah Sukabumi, terdapat satu keluarga yang hidup dalam serba kekurangan.Terlihat seorang pria yang tengah melamun duduk tersandar pada kursi, yang tengah sedang memikirkan sesuatu di kepalanya. Pria itu bernama Dimas.Di tengah lamunannya, tiba-tiba seorang perempuan keluar dari dalam rumah dan menghampiri pria itu.“Mas, sisa beras di rumah kita sudah tinggal sedikit lagi, hanya cukup untuk nanti makan malam saja.” Ucap seorang wanita bernama Maya, yang tak lain merupakan istri dari Dimas. Ia mengeluhkan pada suaminya tentang sisa stok beras yang kian hari kian menipis.Dimas tampak diam dalam lamunannya dan hanya memandang ke arah kosong seolah ia tak menggubris ucapan istrinya itu.“Mas! Bagaimana ini..” keluh Maya lagi seraya meninggikan nada suaranya.Dimas yang mendengar itu tampak terkejut dan tersadar dari lamunannya.“Eh, Maya. Maaf mas sedang memikirkan sesuatu.” Ucap Dimas.“Lalu bagaimana mas, untuk hari besok. Anak kita tak akan bis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status