LOGINWarning !!! Area 21+ Bacaan khusus dewasa. "Om, lepas!" sentak Syafana mencoba menggulingkan tubuh yang menindihnya. "Tubuhku, panas. Tolong aku!" Ivander melepas kemejanya lalu membuangnya ke lantai. Dia mencondongkan tubuh pada wajah Shafana. Om, jangan sentuh aku. Kita nggak saling kenal!" "Tolong aku, kumohon. Rasanya panas. Istriku menaruh obat perangsang pada minumanku." "Aku bisa nyalakan AC atau Om temui istri Om aja," jawab Syafana cepat. "Hemmmmmph!” Tanpa peringatan, Ivander menyumpal kembali bibir Syafana dengan bibirnya. Ciumannya begitu liar, seperti gulungan ombak yang terus bergulung menuju pantai. Syafana mencoba mendorong Ivander. Tapi tubuh Ivander menindihnya kuat. "Kamu cantik. Aku suka bibirmu!" Syafana terbangun di samping pria asing yang membuat jantungnya berdegup kencang. Bukan sembarang pria—dialah Ivander, CEO tempat ia melamar kerja sebagai sekretaris. Terikat dalam pernikahan tanpa cinta, Ivander justru menemukan candu baru pada tubuh Syafana. Dan sejak malam itu… ia tak pernah mau melepaskannya. Jangan lupa folow Ig :@ Missnhanie Tiktok : Nanitamam
View More“Sayang, apa yang terjadi?” tanya Ivander dari balik kamera.“Perutku … rasanya sangat mulas, aku harus matikan dulu ya Sayang!” Syafana menjawab dengan napas terengah-engah, segera menutup sambungan video call sebelum Ivander bisa bertanya lagi.Nyonya Anindita terkejut, matanya melebar melihat cairan bening yang terus merembes dari bawah tubuh Syafana dan membentuk noda basah di lantai keramik mall.Bu Salsa juga tak kalah panik. “Cairan ketubanmu pecah!” teriak mereka secara bersamaan."Ya Tuhan, bagaimana ini? Kenapa mendadak begini?"Tanpa berlama-lama, Ghaisa langsung berlari cepat menghampiri meja informasi, sambil berteriak pada seorang petugas keamanan yang sedang berjaga dekat lift. “Pak tolong! Tolong hubungi ambulans segera! Saudaraku sedang mengalami pecah ketuban dan akan melahirkan!” teriaknya dengan suara nyaring hingga menarik perhatian pengunjung sekitar yang mulai berkerumun.Sedangkan, Nyonya Anindita benar-benar kalut, jari-jarinya gemetar saat mencari nomor Tua
Beberapa bulan kemudianUdara di ruangan praktik Dokter Maria terasa lebih padat dari biasanya, bahkan kipas angin yang berputar pelan tak mampu mengusir getaran yang menggeliat di setiap sudut. Syafana duduk tegak di atas meja pemeriksaan, kain steril putih menutupi perutnya yang mulai membengkak. Di sebelahnya, Ghaisa menyandarkan telapak tangannya.Bu Salsa berdiri di sisi kiri, napasnya terdengar pelan namun teratur, sementara Nyonya Anindita yang berada di sisi kanan mengpegang erat tangan Syafana, ujung bibirnya sedikit menggigil tak disadari.“Tumben sekali, para suami tidak ikut datang menemani saat kontol?” tanya Dokter Maria seraya mempersiapkan alat-alatnya. “Mereka berdua ada urusan bisnis di luar negeri, Dok,” sahut Ghaisa. Dokter Maria hanya mengangguk saja, tangannya mulai mengoleskan gel dingin di atas perut Syafana. Setelah itu, ia menempatkan alat transducer di atasnya dan mulai menggerakkannya perlahan.Cahaya dari layar monitor USG menerangi wajah mereka semua, m
"Meski mereka jahat tapi aku ikut sedih melihat keadaan Tante Carina," gumam Syafana lirih."Mereka menuai apa yang sudah mereka tanam. Rasa iri, dengki dan serakah membuat mata hati mereka buta," kata Ivander."Seandainya mereka mau berubah, aku juga tidak akan bertindak sejauh ini," tambah Tuan Alexander.Setelah pemakaman Celina yang hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan beberapa teman, waktu tampaknya berjalan dengan sangat lambat bagi Carina. Setiap hari yang lewat hanya membuat kondisi dirinya semakin menyedihkan dan memprihatinkan hingga akhirnya Ivander dan keluarga memutuskan untuk membawanya tinggal di rumah mereka, karena tidak tega melihat wanita itu sendirian dalam kesusahan.Kini, Carina tengah terduduk di salah satu sudut teras rumah Ivander. Badannya membungkuk ke depan, tangan kanan dan kiri menggenggam erat sebuah bantal putih. “Celina … nak mama sudah siapin sarapanmu yang kamu suka!” teriaknya dengan nada tinggi yang membuat beberapa orang di ruang tamu terlihat
PRANG! Gelas kristal yang hendak digerakkan ke bibir Carina terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai dengan suara pecah yang menusuk. Potongan kaca kecil berserakan di atas permukaan yang mengkilap. Tanpa menghiraukan reruntuhan di bawah kakinya, tangannya refleks menyentuh bagian dada yang tiba-tiba terasa sesak. Denyut jantungnya berdebar kencang, jauh lebih cepat dari biasanya. “Kenapa kok tiba-tiba begini? Perasaan ku tidak enak, seolah ada sesuatu yang tidak baik akan terjadi,” gumamnya pelan, suara penuh dengan kekhawatiran yang tidak jelas sumbernya. "Kenapa Celina belum pulang juga?" Baru saja dia mengangkat kepala, pikiran masih bingung mencari jawaban, ketika dering ponsel di atas meja tamu terdengar. Carina bergerak dengan langkah tergesa-gesa untuk menjawabnya, tangannya sedikit gemetar saat menyentuh layar sentuh yang menunjukkan nomor tidak dikenal. “Permisi, ini dengan Nyonya Carina?” suara dari ujung saluran terdengar dengan nada yang hati-hati namun te






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews