PELAN SEDIKIT, TUAN

PELAN SEDIKIT, TUAN

last updateDernière mise à jour : 2026-02-16
Par:  NanitamamMis à jour à l'instant
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Notes insuffisantes
5Chapitres
8Vues
Lire
Ajouter dans ma bibliothèque

Share:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Area 21+ "Apa kamu tuli? Saya bilang layani saya sekarang!" "Sa—saya." Tanpa pikir panjang, kedua tangan Xafier menarik Zavira. "Lepaskan saya! Jangan sentuh saya!" "Aku ingin kamu sekarang. Aku akan membayarmu lebih dari yang kamu butuhkan." "Tapi saya belum pernah melakukannya!"

Voir plus

Chapitre 1

Bab 1. Layani saya!

“Apa ini pilihan tepat? Tapi aku baru pertama masuk tempat seperti ini.”

Di depan gerbang klub malam, sosok gadis cantik berdiri tegak di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Matanya mengikuti deretan mobil mewah yang berjejer rapi untuk menjadi para tamu-tamunya.

Pandangannya tajam, sementara pikirannya tak teratur, semuanya saling bersilangan hingga suara notifikasi ponselnya memotong hembusan udara hangat malam.

Zavira terkejut, pundaknya sedikit melompat ke atas. Tangan kirinya langsung menyelinap ke dalam saku celana jeansnya, mencari ponselnya. Ketika layar menyala menerangi wajahnya, nama

“Ibu” terpampang jelas. Ia segera menggeser ikon hijau ke kanan.

“Iya, Bu …,” panggilnya dengan suara lembut.

Dari ujung lain sambungan, terdengar suara tangisan yang lembut namun menusuk hati. Kening Zavira mengkerut.

“Ibu, ada apa?” tanya Zavira.

Hanya hening yang menjawab.

Tak ada kata pun yang keluar dari sisi lain, hanya irama tangisan yang terputus-putus dan bergema di dalam telinganya. Zavira memanggil nama ibunya lagi—sekali, dua kali, hingga yang ketiga kalinya, namun tangisan itu tetap saja menjadi satu-satunya jawaban yang ia terima.

“Ibu, apa yang terjadi?!”

“Kalian harus melunasinya dalam sebulan penuh!” Suara wanita menggelegar melalui ujung ponsel, tajam seperti cambuk yang menyambar. “Kalau tidak, angkat kaki dari rumah itu atau aku pastikan kalian berdua membusuk di balik jeruji besi!”

Zavira membeku seketika. Suara itu bukan dari ibunya, tapi dari siapa lagi kalau bukan Bu Wulan, orang yang selama ini menyiksa mereka dengan utang yang tak ada ujungnya. Dan dari balik layar, ia bisa mendengar napas terengah-engah adiknya yang masih kecil.

“Teteh … dimana? Iki takut banget,” isaknya pelan yang tertahan, terdengar seperti sedang bersembunyi.

Zavira bisa membayangkannya jelas. Adiknya yang kecil itu pasti sedang menyelinap di balik lemari kayu di ruang tamu, tubuhnya menggigil sambil menutup mulut agar tangisannya tidak terdengar.

Tangan Zavira mengepal dengan erat. Sakit yang menusuk dadanya seperti ditusuk sembilu tajam.

“Ya Allah, Iki, dengerin teteh baik-baik ya. Kamu tetap sembunyi sampai Bu Wulan pergi ya. Teteh janji, akan pulang dan membawa uang.”

“Ibu sama Bapak lagi dimarahin Bu Wulan, Teh. Bapak sampai dipukul,” adu Zikri dengan terisak.

Tangan Zavira terkepal hingga kukunya menancap dan memutih.

“Dasar manusia iblis,” geramnya dalam hati. “Maafin, Teteh, Ki. Teteh nggak ada disana. Kamu sembunyi sampai lintah darat itu pergi.”

“Iya, Teh. Teteh cepet pulang bawa uang. Kasihan ibu sama bapak.”

Panggilan langsung terputus, membuat Zavira menghela nafas panjang. Pikirannya berantakan, tapi satu hal yang jelas: ia harus membayar utangnya sekarang.

“Maafkan aku ya Allah.”

Tanpa ragu lagi, ia melangkah masuk ke dalam klub malam yang suara musiknya kini semakin menggelegar di telinganya.

Meskipun langkahnya terlihat mantap, benaknya benar-benar kacau dan buntu—uang dibutuhkan secepat kilat, dan satu-satunya jalan yang ia lihat ada di dalam ruangan ini.

Di loket depan, ia mendekati seorang wanita yang mengenakan seragam hitam pekat.

“Permisi, boleh saya tahu dimana ruang manajer berada?”

Wanita itu mengangkat alisnya, kemudian menatap Zavira dari helai rambut yang tertutup syal hingga ujung tumit sepatunya. Tanpa banyak bicara, ia mengangkat jari manisnya dan menunjuk ke arah belakang.

“Lantai dua, lurus terus lalu belok kanan. Kantor Pak Daniel ada di situ.”

Zavira mengangguk pelan dan mengucapkan terima kasih sebelum bergerak menuju anak tangga yang dingin di bawah telapak kakinya.

Langkahnya semakin berat saat mendekati pintu yang bersulam nama “Manajemen” di bagian atas pintunya. Ia baru saja hendak mengangkat tangan untuk mengetuk, ketika pintu tiba-tiba terbuka dan seorang pria keluar dengan wajah yang tampak sedikit panik.

“Pak, saya Zavira,” ujarnya gugup.

Pria itu menunjuk Zavira, kemudian menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Seulas senyum tipis melintas di bibirnya, namun tatapannya jauh dari kata ramah.

“Kamu masih perawan nggak?” tanyanya langsung tanpa basa-basi.

Pertanyaan itu seperti petir yang menyambar di tengah malam—Zavira tercengang seketika. Kata-kata itu tak masuk akal sama sekali di benaknya.

“Maaf, maksud Bapak apa, ya?”

“Saya tanya lagi, kamu masih perawan atau tidak?!” tanya pria itu tergesa, seolah ada sesuatu yang harus segera diselesaikan.

Zavira menatapnya kebingungan, kemudian mengangguk perlahan. Gerakannya penuh keraguan, seolah ia sendiri tidak yakin dengan apa yang dikatakannya.

Tak ada kesempatan baginya untuk bertanya lebih jauh; pria itu dengan cepat menarik tangannya dan menyeretnya masuk ke dalam toilet, kemudian memberikan seragam ke tangan Zavira dengan gerakan kasar.

Zavira menangkap baju itu dengan tergesa-gesa, jari-jarinya sedikit menggigil. Kepalanya berputar kacau, apa hubungannya status dirinya dengan pekerjaan yang ia lamar? Semua hal yang terjadi rasanya tak masuk akal sama sekali.

“Tunggu apalagi?! Cepat ganti baju sekarang juga!” perintahnya tegas. “Kamu butuh uang kan?”

Tanpa pilihan lain, Zavira hanya bisa mengangguk pelan. Ia menutup pintu dan mulai melepas pakaiannya dengan tangan bergetar.

Seragam yang telah diberikan ini rasanya begitu sangat tidak nyaman di tubuhnya. Apalagi terlihat begitu terbuka dengan rok mini diatas pahanya. Ia menatap dirinya di pantulan cermin dengan tatapan tak percaya.

“Sudah selesai belum? Cepat keluar!6& Jangan membuat saya tunggu lama!” teriak pria itu terdengar keras dari luar.

“I—iya, Pak!”

Zavira tersentak. Gegas ia keluar dengan langkah ragu. Sedangkan, Daniel yang berada di hadapannya tersenyum tipis, seolah mengagumi paras Zavira yang menawan.

“Perfect! Sekarang, tugas kamu cuma satu. Antar minuman ke ruangan VIP nomor 305. Di situ ada seorang tamu yang sedang marah. Kamu tinggal layani dia dengan baik saja.”

Zavira membeku di tempatnya, tatapan matanya penuh kebingungan.

“Tapi Pak, saya datang untuk bekerja.”

Wajah Daniel tiba-tiba berubah menjadi serius, alisnya menyatu membentuk garis tajam.

“Kamu butuh uang cepat, bukan? Dia bisa memberi kamu jumlah yang banyak.”

“Tapi saya—”

“Sudah jangan banyak ngomong!”

Kalimatnya terpotong mendadak ketika Daniel langsung menarik lengannya dengan kuat, tanpa basa-basi membawanya keluar dari ruangan kantor menuju ruangan VIP.

Zavira hanya bisa pasrah mengikuti langkahnya, jantungnya berdebar kencang seperti ingin melompat keluar dari dada.

Di ujung lorong, ada sebuah ruangan kecil yang di dalamnya rak minuman sudah tersusun rapi. Dari balik pintu kayu tebal di sebelahnya terdengar suara keras, seolah ada sesuatu yang dibanting ke lantai.

“Mana gadis yang aku pesan?! Apa Daniel tidak bisa menemukannya?”

“Saya yakin dia sedang mencarinya, Pak!” Seorang pria berpakaian formal, berusaha menenangkan.

“Siena, sialan!” umpat Xafier Leonardo Sebastian.

“Permisi!”

Daniel langsung membuka pintunya dan menarik Zavira masuk ke dalam. Tubuh Zavira mendadak tegang.

Nampak seorang pria duduk dengan kaki bersilang, jari kanannya menggenggam batang rokok yang masih menyala, meskipun matanya berkabut. Hawa panas menjalar ke setiap tubuhnya.

“Ini yang Pak Xafier minta, Pak,” ucap Daniel, menghadap pria yang berdiri tegak di sisi sofa.

Samuel menatap Zavira dengan tatapan yang menyelidiki.

“Kamu yakin dia bersih? Bebas dari segala macam masalah?”

“Saya jamin, Pak! Aman!”

Zavira mengerutkan kening. “Apa maksudnya ini?”

Tiba-tiba, pria yang disebut Xafier berdiri perlahan. Badannya yang tinggi membuat Zavira merasa semakin kecil. Ia menatapnya dengan mata yang merah memerah, kemudian menarik lengannya dengan kuat.

“Aku mau dia!” ucapnya dengan suara yang berat, lalu mengangkat tangan untuk menyuruh kedua pria itu keluar dari ruangan.

Tanpa kesempatan untuk berlari, Zavira langsung didorong perlahan hingga punggungnya menyentuh permukaan kasur yang lembut.

Dia mencoba mengangkat tubuhnya, tapi sebelum bisa berbuat apa-apa, pria itu sudah menindih tubuhnya dengan berat, membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.

“Layani saya!”

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Latest chapter

Plus de chapitres

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Pas de commentaire
5
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status