Se connecterArea 21+ "Apa kamu tuli? Saya bilang layani saya sekarang!" "Sa—saya." Tanpa pikir panjang, kedua tangan Xafier menarik Zavira. "Lepaskan saya! Jangan sentuh saya!" "Aku ingin kamu sekarang. Aku akan membayarmu lebih dari yang kamu butuhkan." "Tapi saya belum pernah melakukannya!"
Voir plus“Apa ini pilihan tepat? Tapi aku baru pertama masuk tempat seperti ini.”
Di depan gerbang klub malam, sosok gadis cantik berdiri tegak di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Matanya mengikuti deretan mobil mewah yang berjejer rapi untuk menjadi para tamu-tamunya. Pandangannya tajam, sementara pikirannya tak teratur, semuanya saling bersilangan hingga suara notifikasi ponselnya memotong hembusan udara hangat malam. Zavira terkejut, pundaknya sedikit melompat ke atas. Tangan kirinya langsung menyelinap ke dalam saku celana jeansnya, mencari ponselnya. Ketika layar menyala menerangi wajahnya, nama “Ibu” terpampang jelas. Ia segera menggeser ikon hijau ke kanan. “Iya, Bu …,” panggilnya dengan suara lembut. Dari ujung lain sambungan, terdengar suara tangisan yang lembut namun menusuk hati. Kening Zavira mengkerut. “Ibu, ada apa?” tanya Zavira. Hanya hening yang menjawab. Tak ada kata pun yang keluar dari sisi lain, hanya irama tangisan yang terputus-putus dan bergema di dalam telinganya. Zavira memanggil nama ibunya lagi—sekali, dua kali, hingga yang ketiga kalinya, namun tangisan itu tetap saja menjadi satu-satunya jawaban yang ia terima. “Ibu, apa yang terjadi?!” “Kalian harus melunasinya dalam sebulan penuh!” Suara wanita menggelegar melalui ujung ponsel, tajam seperti cambuk yang menyambar. “Kalau tidak, angkat kaki dari rumah itu atau aku pastikan kalian berdua membusuk di balik jeruji besi!” Zavira membeku seketika. Suara itu bukan dari ibunya, tapi dari siapa lagi kalau bukan Bu Wulan, orang yang selama ini menyiksa mereka dengan utang yang tak ada ujungnya. Dan dari balik layar, ia bisa mendengar napas terengah-engah adiknya yang masih kecil. “Teteh … dimana? Iki takut banget,” isaknya pelan yang tertahan, terdengar seperti sedang bersembunyi. Zavira bisa membayangkannya jelas. Adiknya yang kecil itu pasti sedang menyelinap di balik lemari kayu di ruang tamu, tubuhnya menggigil sambil menutup mulut agar tangisannya tidak terdengar. Tangan Zavira mengepal dengan erat. Sakit yang menusuk dadanya seperti ditusuk sembilu tajam. “Ya Allah, Iki, dengerin teteh baik-baik ya. Kamu tetap sembunyi sampai Bu Wulan pergi ya. Teteh janji, akan pulang dan membawa uang.” “Ibu sama Bapak lagi dimarahin Bu Wulan, Teh. Bapak sampai dipukul,” adu Zikri dengan terisak. Tangan Zavira terkepal hingga kukunya menancap dan memutih. “Dasar manusia iblis,” geramnya dalam hati. “Maafin, Teteh, Ki. Teteh nggak ada disana. Kamu sembunyi sampai lintah darat itu pergi.” “Iya, Teh. Teteh cepet pulang bawa uang. Kasihan ibu sama bapak.” Panggilan langsung terputus, membuat Zavira menghela nafas panjang. Pikirannya berantakan, tapi satu hal yang jelas: ia harus membayar utangnya sekarang. “Maafkan aku ya Allah.” Tanpa ragu lagi, ia melangkah masuk ke dalam klub malam yang suara musiknya kini semakin menggelegar di telinganya. Meskipun langkahnya terlihat mantap, benaknya benar-benar kacau dan buntu—uang dibutuhkan secepat kilat, dan satu-satunya jalan yang ia lihat ada di dalam ruangan ini. Di loket depan, ia mendekati seorang wanita yang mengenakan seragam hitam pekat. “Permisi, boleh saya tahu dimana ruang manajer berada?” Wanita itu mengangkat alisnya, kemudian menatap Zavira dari helai rambut yang tertutup syal hingga ujung tumit sepatunya. Tanpa banyak bicara, ia mengangkat jari manisnya dan menunjuk ke arah belakang. “Lantai dua, lurus terus lalu belok kanan. Kantor Pak Daniel ada di situ.” Zavira mengangguk pelan dan mengucapkan terima kasih sebelum bergerak menuju anak tangga yang dingin di bawah telapak kakinya. Langkahnya semakin berat saat mendekati pintu yang bersulam nama “Manajemen” di bagian atas pintunya. Ia baru saja hendak mengangkat tangan untuk mengetuk, ketika pintu tiba-tiba terbuka dan seorang pria keluar dengan wajah yang tampak sedikit panik. “Pak, saya Zavira,” ujarnya gugup. Pria itu menunjuk Zavira, kemudian menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Seulas senyum tipis melintas di bibirnya, namun tatapannya jauh dari kata ramah. “Kamu masih perawan nggak?” tanyanya langsung tanpa basa-basi. Pertanyaan itu seperti petir yang menyambar di tengah malam—Zavira tercengang seketika. Kata-kata itu tak masuk akal sama sekali di benaknya. “Maaf, maksud Bapak apa, ya?” “Saya tanya lagi, kamu masih perawan atau tidak?!” tanya pria itu tergesa, seolah ada sesuatu yang harus segera diselesaikan. Zavira menatapnya kebingungan, kemudian mengangguk perlahan. Gerakannya penuh keraguan, seolah ia sendiri tidak yakin dengan apa yang dikatakannya. Tak ada kesempatan baginya untuk bertanya lebih jauh; pria itu dengan cepat menarik tangannya dan menyeretnya masuk ke dalam toilet, kemudian memberikan seragam ke tangan Zavira dengan gerakan kasar. Zavira menangkap baju itu dengan tergesa-gesa, jari-jarinya sedikit menggigil. Kepalanya berputar kacau, apa hubungannya status dirinya dengan pekerjaan yang ia lamar? Semua hal yang terjadi rasanya tak masuk akal sama sekali. “Tunggu apalagi?! Cepat ganti baju sekarang juga!” perintahnya tegas. “Kamu butuh uang kan?” Tanpa pilihan lain, Zavira hanya bisa mengangguk pelan. Ia menutup pintu dan mulai melepas pakaiannya dengan tangan bergetar. Seragam yang telah diberikan ini rasanya begitu sangat tidak nyaman di tubuhnya. Apalagi terlihat begitu terbuka dengan rok mini diatas pahanya. Ia menatap dirinya di pantulan cermin dengan tatapan tak percaya. “Sudah selesai belum? Cepat keluar!6& Jangan membuat saya tunggu lama!” teriak pria itu terdengar keras dari luar. “I—iya, Pak!” Zavira tersentak. Gegas ia keluar dengan langkah ragu. Sedangkan, Daniel yang berada di hadapannya tersenyum tipis, seolah mengagumi paras Zavira yang menawan. “Perfect! Sekarang, tugas kamu cuma satu. Antar minuman ke ruangan VIP nomor 305. Di situ ada seorang tamu yang sedang marah. Kamu tinggal layani dia dengan baik saja.” Zavira membeku di tempatnya, tatapan matanya penuh kebingungan. “Tapi Pak, saya datang untuk bekerja.” Wajah Daniel tiba-tiba berubah menjadi serius, alisnya menyatu membentuk garis tajam. “Kamu butuh uang cepat, bukan? Dia bisa memberi kamu jumlah yang banyak.” “Tapi saya—” “Sudah jangan banyak ngomong!” Kalimatnya terpotong mendadak ketika Daniel langsung menarik lengannya dengan kuat, tanpa basa-basi membawanya keluar dari ruangan kantor menuju ruangan VIP. Zavira hanya bisa pasrah mengikuti langkahnya, jantungnya berdebar kencang seperti ingin melompat keluar dari dada. Di ujung lorong, ada sebuah ruangan kecil yang di dalamnya rak minuman sudah tersusun rapi. Dari balik pintu kayu tebal di sebelahnya terdengar suara keras, seolah ada sesuatu yang dibanting ke lantai. “Mana gadis yang aku pesan?! Apa Daniel tidak bisa menemukannya?” “Saya yakin dia sedang mencarinya, Pak!” Seorang pria berpakaian formal, berusaha menenangkan. “Sherina, sialan!” umpat Xafier Leonardo Sebastian. “Permisi!” Daniel langsung membuka pintunya dan menarik Zavira masuk ke dalam. Tubuh Zavira mendadak tegang. Nampak seorang pria duduk dengan kaki bersilang, jari kanannya menggenggam batang rokok yang masih menyala, meskipun matanya berkabut. Hawa panas menjalar ke setiap tubuhnya. “Ini yang Pak Xafier minta, Pak,” ucap Daniel, menghadap pria yang berdiri tegak di sisi sofa. Samuel menatap Zavira dengan tatapan yang menyelidiki. “Kamu yakin dia bersih? Bebas dari segala macam masalah?” “Saya jamin, Tuan! Aman!” Zavira mengerutkan kening. “Apa maksudnya ini?” Tiba-tiba, pria yang disebut Xafier berdiri perlahan. Badannya yang tinggi membuat Zavira merasa semakin kecil. Ia menatapnya dengan mata yang merah memerah, kemudian menarik lengannya dengan kuat. “Aku mau dia!” ucapnya dengan suara yang berat, lalu mengangkat tangan untuk menyuruh kedua pria itu keluar dari ruangan. Tanpa kesempatan untuk berlari, Zavira langsung didorong perlahan hingga punggungnya menyentuh permukaan kasur yang lembut. Dia mencoba mengangkat tubuhnya, tapi sebelum bisa berbuat apa-apa, pria itu sudah menindih tubuhnya dengan berat, membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali. “Layani saya!”Satu minggu kemudian. “Ke mana semua orang?” tanya Zavira pelan saat langkahnya memasuki ruangan divisi finance.Biasanya, bahkan sebelum jam kerja benar-benar dimulai, ruangan ini sudah penuh suara keyboard diketik cepat, tumpukan berkas yang dipindah-pindah, keluhan kecil dari karyawan yang dikejar deadline. Tapi sekarang, sunyi. Zavira masuk lebih dalam. Ia menoleh ke kanan kiri dan tidak ada siapa pun. Semua komputer mati.“Seriusan ini, pada ke mana sih?” gumamnya bingung.Baru saja ia ingin berbalik keluar. Tiba-tiba terdengar suara. “Kejutan!!!”“WELCOME BACK!!!”Lampu tiba-tiba menyala terang. Dan suasana suram berganti ceria. Suara teriakan terdengar dari sekelilingnya. “DUARRR!”Suara proven party meletus bersamaan. Kertas-kertas warna-warni beterbangan di udara. Zavira refleks membeku di tempat.Jantungnya berdetak cepat dan ia terdiam memandangi orang-orang yang bersorak barusan. Otaknya seperti butuh beberapa detik untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Satu per s
Xafier duduk di samping ranjang, satu tangan memegang mangkuk sup hangat, satu lagi menyodorkan sendok ke arah bibir Zavira. Matanya tak berpaling dari Zavira. “Buka mulutmu,” titah Xafier singkat.Zavira menatapnya datar. “Aku bukan anak kecil.”“Kalau bukan anak kecil, harusnya kamu bisa makan sendiri dari tadi,” balas Xafier tanpa emosi, tapi sendoknya tetap bertahan di depan bibir Zavira.Zavira mendengus pelan, tapi akhirnya membuka mulutnya juga. Ia mengunyah sup sambil memutar bola mata malas akan tetapi hatinya terasa hangat. Xafier tidak berhenti. Ia mengambil lagi satu sendok. “Lagi.”Zavira mengerjapkan mata. “Banyak amat, Tuan. Mau buat aku gemuk, ya? Udah.”"Sudah aku bilang. Jangan panggil aku, tuan!" serah Xafier mengingatkan. Matanya menatap tajam Zavira. "Maaf, aku bingung harus manggil apa," cicit Zavira. "Di kampung mu, orang memanggil apa pada suaminya?""Aa, akang ada juga yang manggil ayah, atau abi."Xafier tidak langsung menanggapi. Tatapannya turun, mempe
Murti kembali masuk ke dalam karena ingin bicara sesuatu. Xavier sampai melirik ke arah Murti sesaat. “Izin saya memberi saran, Tuan.”“Apa?” tanya Xafier singkat, namun tidak setajam biasanya.Murti menatapnya sebentar, lalu menghela napas pelan sebelum melanjutkan. “Menurut saya, Nona Zavira butuh ruang sendiri.”Xafier mengernyit. Tatapannya berpindah dari Murti ke wajah Zavira, lalu kembali lagi. “Maksudmu?”Murti merapatkan kedua tangannya di depan perut, mencoba memilih kata-kata yang tidak menyinggung, tapi tetap jujur. “Jangan terlalu membatasi pergaulannya, Tuan. Biarkan dia bertemu teman-temannya, keluarganya, tanpa batasan. Zavira bukan burung yang harus di kurung.”Kalimat itu membuat Xafier sedikit tegang. “Aku tidak pernah melarang dia,” potongnya cepat.Murti mengangguk pelan, namun tidak mundur. “Memang tidak secara langsung, Tuan,” balasnya hati-hati. “Tapi Tuan merahasiakan keberadaan Nona Zavira dari semua orang.”Xafier terdiam.“Secara tidak langsung, itu membua
“Jangan pikirkan masalah orang tuaku. Mereka setuju atau tidak, itu urusan mereka.” Ia berhenti sejenak, matanya menatap lurus ke depan. “Kamu hanya cukup berada di sampingku.”Kalimat itu sederhana, tapi berat untuk Zavira terima. Ia menunduk. Jari-jarinya saling menggenggam. Ia tidak langsung menjawab, hanya mengangguk.“Iya,” lirihnya.Namun di dalam hatinya, tidak sesederhana itu. Ia tahu betul, dunia Xafier bukan dunia yang mudah untuk dimasuki. Bukan hanya soal kekayaan tapi juga tentang keluarga, status, dan pandangan orang-orang di sekitarnya.“Kalau nanti mereka tidak menerima aku, apa aku sanggup bertahan?” batinnya.Mobil akhirnya memasuki halaman rumah besar milik Xafier. Gerbang terbuka disambut dengan lampu taman menyala dan pemandangan yang cukup indah. Kebun yang terawat dan beberapa bunga mekar indah. Namun begitu mobil berhenti dan pintu terbuka, Zavira turun perlahan. Lalu tiba-tiba pandangan matanya berkunang-kunang. Kepalanya berdenyut hebat seperti dipukul dari
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.