Chapter: Bayang-bayang Masa Lalu“Yang Mulia…” Suara Marielle mendadak lirih.Cassian memegang tangan Marielle, menggenggamnya erat seperti harta karun miliknya yang sangat berharga.“Aku berjanji akan memperlakukanmu lebih baik. Tidak akan aku biarkan siapapun menghinamu, termasuk Ratu.” Cassian menatap mantan selirnya penuh harap.Namun Marielle langsung menarik kembali tangannya. Ia melihat wajah Raja dengan tatapan tidak percaya.“Maaf… tapi saya sudah tidak berminat untuk menjadi selir Anda lagi,” ucap Marielle mutlak.Mendengar penolakan yang begitu dingin dan mutlak dari bibir Marielle, Cassian merasa seolah-olah seluruh dunianya runtuh seketika. Genggaman tangannya yang kosong di udara perlahan turun, gemetar kecil akibat syok yang luar biasa."Kenapa...?" tanya Cassian, suaranya tercekat di tenggorokan. Matanya menatap Marielle dengan tatapan terluka yang mendalam. "Bukankah kau... masih mencintaiku, Marielle? Semua hal yang kau lakukan selama ini, pengorbananmu terkena panah beracun saat perang... bukank
Last Updated: 2026-07-15
Chapter: Jadilah Selirku KembaliSuasana di dalam tenda yang semula panas oleh adu mulut antara Marielle dan Aldric, seketika membeku begitu otoritas tertinggi Minerva melangkah masuk. Cassian berjalan dengan anggun namun pasti, zirah emasnya memantulkan cahaya senja yang temaram, menciptakan kesan agung sekaligus mengintimidasi.Aldric membalikkan tubuhnya perlahan, menghadapi sang Raja dengan rahang yang kembali mengeras. Rasa bersalah yang baru saja menghantam dadanya akibat ucapan Marielle seketika tersamarkan oleh topeng keangkuhannya yang dingin."Yang Mulia Raja," ujar Aldric, membungkuk formal dengan nada yang sama sekali tidak terdengar ramah. "Fasilitas darurat ini berada di bawah pengawasan wilayah saya. Wajar jika saya memastikan langsung bahwa... rakyat saya tidak kehilangan nyawanya karena kelalaian dokter.""Dia terluka karena melindungiku, Grand Duke. Itu menjadikannya tanggung jawab mutlak kerajaan, bukan sekadar urusan domestik Valerante," balas Cassian dingin. Mata elangnya beralih dari Aldri
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: Permintaan Maaf Grand Duke"Aku... ingin meluruskan sesuatu. Anggap saja ini permintaan maaf dariku. Atas semua hal yang kulakukan di masa lalu, dan... karena kelalaian pasukanku yang membuat penyusup Eldora bisa melepaskan anak panah di wilayahku tadi."”Hah?!” Marielle terkejut. Ia tak percaya seorang Grand Duke yang ia kenal memiliki sikap bengis bisa minta maaf dan mengakui kesalahannya.Alis Marielle bertaut dalam, menatap Aldric dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan yang dipenuhi rasa sangsi. Alih-alih merasa tersentuh, bulu kuduk Marielle justru meremang.“Permintaan maaf? Dari seorang Grand Duke Aldric yang dingin dan kejam? Ini benar-benar terasa aneh dan tidak wajar,” batin Marielle. Ia langsung memperlebar jarak diantara mereka."Tunggu sebentar," potong Marielle, menatap Aldric penuh curiga. "Anda baru saja meminta maaf? Anda tidak sedang berencana untuk meracuniku secara diam-diam setelah ini, kan? Atau ini taktik baru untuk mengusirku dari Valerante?"Mendengar respons Marielle
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: Ketukan Di Waktu Senja“Akhirnya aku bisa istirahat dengan tenang,” ucap Marielle saat baru terbangun dari tidurnya yang singkat.Matahari perlahan mulai tergelincir ke ufuk barat, menumpahkan warna jingga di atas tanah Valerante. Setelah melewati siang hari yang riuh oleh pemeriksaan medis bertubi-tubi, tenda darurat tempat Marielle dirawat akhirnya terasa sedikit lebih tenang.“Lady Marielle!” Suara isakan familiar yang dipenuhi akan kepanikan memecah kesunyian. Tirai tenda disibak terburu-buru, dan sesosok gadis muda berlari masuk dengan air mata yang sudah membasahi seluruh pipinya. Itu Diana. Tanpa memperdulikan tatapan para asisten dokter, pelayan pribadi itu langsung menghambur dan memeluk leher Marielle dengan sangat hati-hati, takut menyentuh luka di punggung sang nona."Hiks... Lady... saya sangat takut... Saya pikir saya akan kehilangan Anda," tangis Diana pecah, tubuhnya gemetar hebat dalam pelukan itu.Marielle tersenyum tipis. Tangannya yang
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: Antara Valerante dan Ibukota“Sebaiknya Lady Marielle tetap disini. Karena sekarang dia termasuk rakyatku yang berharga, Yang Mulia,” lanjut Aldric.Cassian terdiam. Ia kembali melihat Marielle yang kini punggungnya sudah diperban rapi saat kritis tadi. Akhirnya sang Raja menghela nafas.Tenda medis darurat itu mendadak diselimuti keheningan yang jauh lebih mencekam daripada sebelumnya. Cassian perlahan membaringkan Marielle dan melepaskan sanggahan tangannya di kepala Marielle setelah memastikan wanita itu berbaring dengan nyaman. Ia bangkit berdiri secara anggun, menatap Aldric dengan tinggi tubuh yang setara."Grand Duke Aldric," suara Cassian kini tidak lagi menyembunyikan otoritas mutlaknya sebagai penguasa tertinggi Minerva. "Apa maksudmu bicara seperti itu? Apa kau baru saja menolak perintah langsung dari Rajamu?"Aldric tidak gentar. Senyum tipis yang penuh provokasi dingin masih terpatri di wajah tegasnya. "Saya tidak menolak perintah, Yang Mulia. Saya
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: Hak Sang Penyelamat“Yang Mulia Raja?” Marielle mengerjapkan matanya perlahan. Cassian tersenyum. Perlahan ia meraih tangan Marielle dan mengarahkannya ke bibir. Sentuhan bibir Cassian di punggung tangannya terasa hangat, namun kepalanya masih terlalu pening untuk memproses segalanya. Rasa sakit di punggungnya pasca operasi masih berdenyut hebat, membuat ringisan kecil lolos dari bibirnya yang pucat."Nghh..." Marielle mencoba menarik tangannya pelan dari genggaman Cassian, sebuah penolakan halus yang tak kasat mata, namun langsung disadari oleh kedua pria di dekatnya.Melihat Marielle yang tampak tidak nyaman, Aldric tidak bisa lagi menahan gejolak panas di dadanya. Grand Duke itu langsung melangkah maju, memotong jarak antara Cassian dan ranjang perawatan. Dengan gerakan tegas namun hati-hati, Aldric menyelipkan tangannya di balik pundak Marielle, membantu wanita itu sedikit memperbaiki posisi tidurnya agar tidak menekan luka di punggung."Jangan banyak bergera
Last Updated: 2026-07-13

Pria Penghibur Itu Adalah Simpananku
Di mata semua orang, Arabella Adisurya adalah wanita paling beruntung di Jakarta. Menikah dengan Kyle Leonard Adisurya, pengusaha muda kaya raya yang namanya memenuhi majalah bisnis membuat hidupnya terlihat sempurna.
Rumah mewah. Mobil mahal. Perhiasan tanpa batas. Namun tidak ada yang tahu, di balik pintu mansion megah itu, Arabella hanyalah istri pajangan yang tidak pernah dicintai suaminya.
Satu tahun pernikahan mereka berjalan dingin tanpa sentuhan. Kyle lebih memilih menghabiskan malam bersama sekretaris pribadinya dibanding pulang menemui istrinya sendiri. Hingga pada suatu malam, rasa sepi membawa Arabella bertemu dengan seorang pria bernama Ren Arka.
Pria itu tampan, tenang, dan terlalu berbahaya untuk disentuh. Ren adalah pria penghibur kelas atas. Seorang gigolo yang terbiasa menjual perhatian, kehangatan, bahkan cinta palsu kepada wanita-wanita kesepian kalangan elite.
Awalnya Arabella hanya ingin ditemani.
Namun tatapan Ren yang lembut perlahan menghancurkan pertahanannya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arabella merasa dianggap sebagai seorang wanita… bukan sekadar simbol status.
Tanpa mereka sadari, hubungan terlarang itu berubah menjadi cinta yang nyata.
Tetapi di dunia penuh uang, kekuasaan, dan pengkhianatan, cinta tidak pernah datang tanpa harga.
Saat Kyle mulai curiga, rahasia demi rahasia terbongkar. Dan ketika Arabella mengetahui alasan sebenarnya Ren memilih kehidupan kelam itu, ia dipaksa untuk memilih
Tetap menjadi istri terhormat yang hidup tanpa cinta atau mempertaruhkan segalanya demi pria yang bahkan tidak seharusnya ia cintai.
“Dalam dunia yang membeli cinta dengan uang, siapa yang paling terluka saat perasaan itu menjadi nyata?”
Read
Chapter: Terlihat Oleh Suami“Ikuti dia dan jangan sampai ketahuan,” perintah Kyle.“Baik, pak.”Taksi online yang ditumpangi Arabella akhirnya menepi tepat di depan halaman cafe Nuansa Senja. Dengan langkah yang terburu-buru dan hati yang berdegup kencang, Arabella turun dari mobil, sesekali merapikan blus bagian lehernya untuk memastikan bekas luka semalam tidak terekspos.Ia melangkah masuk ke dalam kafe yang pagi itu masih tampak lengang. Matanya menyapu ruangan, hingga akhirnya menangkap sosok Ren yang duduk santai di area outdoor pojok, tempat yang sama seperti kemarin sore. Pria itu tampak menawan dengan kemeja kasual yang kancing atasnya sengaja dibuka, sedang menyesap cangkir kopinya sembari menatap kedatangan Arabella dengan senyuman miring yang begitu memikat.Sementara itu, beberapa meter di seberang jalan cafe, mobil hitam milik Kyle perlahan berhenti di bawah rindang pohon. Dari balik kaca mobil yang gelap, mata elang Kyle langsung mengunci pergerakan istrinya yang melangkah menghampiri meja Ren.
Last Updated: 2026-07-14
Chapter: Sejauh Mana Kau Berbohong“Nggak usah, Kyle. Biar aku saja yang mengurusnya. Aku tahu kamu pasti sibuk. Jadi kamu tidak perlu repot-repot,” tolak Arabella cepat dengan nada sedatar mungkin.Kyle hanya menaikkan sebelah alisnya, lalu kembali menyunggingkan senyum miring yang penuh arti. “Begitu ya? Ya sudah kalau memang tidak mau diantar.”Begitu sarapan yang terasa mencekam itu selesai, Arabella langsung bergegas bangkit dari kursinya. Ia melangkah cepat menuju kamar di lantai dua dengan dalih untuk bersiap memeriksa keadaan mobilnya.Begitu pintu kamar tertutup rapat dan dikunci dari dalam, napas Arabella memburu hebat. Jantungnya berdegup sangat kencang karena kepanikan.Tanpa membuang waktu, ia segera merogoh ponsel dari saku pakaiannya dan langsung mencari kontak Ren. Begitu nada sambung terhubung, Arabella menempelkan ponselnya ke telinga dengan tangan yang sedikit gemetar.Tut... Tut…“Halo, Kelinci Kecil. Ternyata kau sudah merindukanku lagi
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: Sikap Tenang Yang Aneh“Mmmhh… sudah jam berapa ini?” Arabella perlahan duduk dan meraih ponselnya.Ia melihat sudah pukul delapan pagi lebih dan melihat sinar matahari menembus celah gorden kamarnya. Wanita itu terbangun dengan sisa rasa lelah yang masih menggelayuti tubuhnya. Ia berjalan menuju cermin, melihat pantulan dirinya sendiri.“Mataku sangat bengkak. Jika begini terus aku bisa cepat keriput,” ucapnya sambil memijat pelan area pelipisnya.Setelah merapikan diri dan bersiap dengan pakaian rumah yang santai, Arabella melangkah turun ke lantai bawah dengan perasaan was was. Ia sudah mempersiapkan mental jika pagi ini Kyle akan kembali mengamuk atau mengintrogasinya soal kejadian semalam.Namun, begitu kakinya menginjak lantai ruang makan, langkah Arabella langsung terhenti.Pemandangan di depannya benar-benar di luar dugaan. Di sana, Kyle sudah rapi. Bukan dengan jas kerja formalnya, melainkan hanya mengenakan kemeja santai dengan lengan yang digulung pende
Last Updated: 2026-07-13
Chapter: Konfrontasi Dua Laki-laki"Jadi kau... pria sialan itu yang berani-beraninya menyentuh milikku?”Kyle dengan kasar mendorong kepala Vanessa menjauh dari pangkal pahanya, membuat wanita itu terbatuk kecil dan menatap Kyle dengan tatapan syok sekaligus kecewa karena permainannya dipotong begitu saja di tengah jalan."Pak.. Pak Kyle? Kenapa? Bukankah tadi bapak bilang enak?" tanya Vanessa bingung sambil mengusap bibirnya yang basah.Kyle tidak menjawab. Ia mengabaikan Vanessa sepenuhnya. Dengan tangan yang gemetar menahan emosi, ia buru-buru membenarkan letak celananya dan menarik resletingnya ke atas dengan terburu-buru. Matanya tidak lepas dari lampu belakang mobil Mercedes milik Arabella yang baru saja menyala, menandakan bajingan yang menaiki mobil itu siap melesat pergi."Sialan!" umpat Kyle, memukul setir mobilnya dengan keras hingga terdengar bunyi klakson pendek."Pak Kyle, kamu kenapa sih?!" Vanessa mulai meninggikan suaranya, merasa kesal karena diabaikan setelah memberikan pelayanan terbaiknya.
Last Updated: 2026-07-10
Chapter: Mobil Arabella“Sialan! Bajingan mana yang membawa mobil istriku?”Kyle mengamati keadaan sekitar hanya untuk mencari sosok orang yang membawa mobil istrinya. Namun, ia tidak menemukan hasil, hingga ia masuk untuk bertemu Vanessa.Kyle masuk dalam club malam tersebut. Matanya mencari seorang wanita yang sudah memintanya datang. Ia akhirnya menemukan Vanessa yang sedang duduk di sofa utama, menenggak segelas martini dengan gaun yang sangat minim.Begitu melihat Kyle, wanita itu langsung melompat berdiri, berjalan cepat menghampiri, dan melingkarkan lengannya di leher Kyle. Wanita itu langsung bersikap sangat manja dan menggoda."Lama sekali, Sayang. Aku hampir saja pulang karena kamu nggak datang-datang," bisik Vanessa dengan suara serak-serak basah, mencoba menarik perhatian Kyle dengan gerak-gerik tubuhnya.Kyle hanya membalas dengan dengusan pelan. Pikirannya tidak sedang di sini. Ia mengajak Vanessa kembali duduk dan langsung meminum whiskey yang sudah tersedia dengan sekali tenggak.Matanya te
Last Updated: 2026-07-09
Chapter: Mobil Istriku“Apa lelaki yang kutemui di lobi hotel tempo hari itu yang melakukannya? Pria brengsek yang bersikap seolah pahlawan yang menyelamatkanmu itu, hah?!”Langkah kaki Arabella mendadak kaku di anak tangga ketiga. Jantungnya sempat berdesir tajam mendengar tebakan Kyle yang tiba-tiba mengarah pada Ren. Namun, Arabella dengan cepat menguasai dirinya. Ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengatur ekspresinya untuk bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Karena, untuk sekarang Kyle tidak perlu tahu soal hubungan dia dan pria penghibur itu. Kartu as dan semua rahasianya harus tetap tertutup rapat sampai berkas perceraian itu mendarat di meja Kyle.Arabella membalikkan badannya perlahan di atas anak tangga, menatap Kyle dari ketinggian dengan pandangan mata yang sangat dingin dan datar.“Terserah kau mau menuduh siapa saja, Kyle. Pikirkan apapun yang ingin kau pikirkan untuk memuaskan egomu itu,” jawab Arabella dengan nada suara yang teramat santai, seol
Last Updated: 2026-07-08