LOGIN“Akhirnya aku bisa istirahat dengan tenang,” ucap Marielle saat baru terbangun dari tidurnya yang singkat.
Matahari perlahan mulai tergelincir ke ufuk barat, menumpahkan warna jingga di atas tanah Valerante. Setelah melewati siang hari yang riuh oleh pemeriksaan medis bertubi-tubi, tenda darurat tempat Marielle dirawat akhirnya terasa sedikit lebih tenang.“Lady Marielle!” Suara isakan familiar yang dipenuhi akan kepanikan memecah kesunyian. Tirai tenda disibak terburu-bur“Apakah kereta kuda kerajaan sudah siap untuk keberangkatan ke Valtore, Rowan?” tanya Raja Cassian dengan suara rendah yang dingin, manik matanya menatap tajam ke arah peta wilayah utara yang terbentang di atas meja kerjanya.Count Rowan, asisten pribadi sekaligus orang kepercayaan sang Raja, segera merunduk hormat dengan gestur yang terlatih sempurna. Ia merapikan gulungan dokumen di tangannya sebelum menjawab dengan nada terukur, memastikan tidak ada satupun detail kecil yang terlewat dari pengawasan ketat sang penguasa.“Semua armada pengawal khusus, perbekalan logistik tahan dingin, serta dokumen peninjauan proyek Valerante sudah disiapkan sejak subuh, Yang Mulia,” lapor Rowan tangkas. “Kuda-kuda terbaik dari kandang kerajaan juga telah dipasangi pelindung es khusus. Kita bisa berangkat kapan pun Anda memberikan perintah.”Cassian mengangguk tipis, raut wajahnya menyiratkan ketegasan mutlak yang tidak menyisakan ruang untuk bantahan. Perjalanan menuju Balerante di tengah punca
“Aku mohon, jangan menangis. Hatiku sesak saat melihatmu seperti ini,” bisik Aldric lirih.Tangannya kembali merengkuh tubuh Marielle kembali dalam pelukannya. Ia menghirup aroma Lavender yang selalu ia bisa hirup setiap kali dekat dengan wanita itu.Untuk sesaat, Aldric hanya diam mengelus punggung Marielle pelan naik turun. Perlahan, dirinya juga mengeratkan pelukannya. Gestur yang sangat tidak biasa ia tunjukkan pada Marielle selama ini.“Terima kasih, Grand Duke sudah mendengarkan keinginan saya,” ucap Marielle parau.“Sshhh… tidak apa-apa… memang aku yang salah.”Di hadapan Aldric, Marielle menunduk dalam-dalam, mengeluarkan isakan tertahan yang terdengar begitu pilu dan menyayat hati. Bahunya bergetar hebat, menciptakan ilusi keputusasaan yang sangat sempurna bagi siapa saja yang melihatnya.“Marielle, apa kau masih menangis?” “Mmm…”Aldric menghela nafas berat. Ia tidak menyangka akan bersikap lembut seperti ini. Rencana yang awalnya agar pergerakan Marielle bisa ia kendalik
“Marielle... apa kau menangis?” bisik Aldric lirih, nada suaranya kehilangan seluruh kedinginan dan otoritas mutlak yang biasa ia tunjukkan sebagai seorang Grand Duke yang agung.Sentuhan tangan Aldric di bahunya terasa begitu nyata, namun alih-alih menepisnya seperti biasa, Marielle justru merosot pelan ke lantai kamarnya. Pertahanan yang ia bangun dengan susah payah sejak pagi runtuh seketika. Di hadapan pria yang telah merenggut satu-satunya tempat ia bisa bernafas lega, wanita itu menangis sejadi-jadinya. Isakannya tertahan di tenggorokan, berubah menjadi ratapan pilu yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya.Aldric terpaku di tempatnya. Pria yang terbiasa bersikap sombong, dingin, dan memperlakukan dunia sesuka hatinya itu mendadak merasa seolah ada cengkraman tak kasat mata yang meremas dadanya hingga sesak. Melihat air mata mengalir deras di pipi Marielle, membuat rasa bersalah yang asing menusuk tajam relung hatinya, menghadirkan rasa sakit yang jauh lebih menyiksa ke
“Tidak mungkin menghancurkan tempat tinggal seorang wanita yang kau sukai?” ucap Marielle mengulang kalimat pria itu dengan nada suara yang bergetar hebat akibat perpaduan antara amarah dan rasa tidak percaya.Tangan Aldric yang tadi sempat menyentuh helaian rambutnya ditepis dengan kasar. Marielle mundur dua langkah, menjaga jarak dari sosok penguasa Valerante yang menatapnya dengan senyuman tipis penuh kepemilikan. Manik peraknya menyalang tajam, memantulkan bara emosi yang siap meledak kapan saja.“Bentuk kasih sayang macam apa yang menghancurkan satu-satunya tempat pulang seseorang, Grand Duke?” seru Marielle sinis, tawanya terdengar hampa dan dingin. “Jika ini cara Anda menunjukkan ketertarikan, maka cara Anda tidak ada bedanya dengan seorang tiran haus darah!”Aldric tidak marah mendengar ejekan itu. Sebaliknya, sebelah alisnya terangkat perlahan. Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana panjangnya, menikmati bagaimana wanita di hadapannya meradang dalam sangkar yang i
“Apa?!” Suaranya langsung menggelegar ke seluruh ruangan.Kertas-kertas lembar revisi di atas meja kerja Marielle mendadak terasa begitu berat. Manik peraknya membelalak lebar, menatap kosong pada wajah Diana yang basah oleh air mata. Untuk sepersekian detik, detak jantung Marielle seolah berhenti berdenyut. Rumah kecil di tepi hutan itu bukan sekadar bangunan kayu tempat ia bernaung. Tempat itu adalah simbol kebebasannya, satu-satunya jangkar yang mengingatkannya bahwa ia memiliki dunia sendiri di luar tembok dingin dari istana maupun kastil Valtore yang sekarang ia tempati sekarang.“Tidak... itu tidak mungkin,” bisik Marielle tertahan, suaranya bergetar hebat. Ia bangkit dari kursi begitu cepat hingga benda itu bergeser kasar dan membentur lantai batu. “Semalam badai salju sangat lebat, tapi bagaimana bisa...?”“Para pengawal gerbang bilang mereka melihat kepulan asap hitam pekat dari arah hutan selatan sejak subuh, Lady. Saat patroli mendekat, bangunan itu sudah ambruk menjad
“Segera dilaksanakan, Yang Mulia. Rumah itu akan rata dengan tanah sebelum fajar menyingsing,” jawab Caesar pelan, lalu berbalik dan menghilang dalam kegelapan lorong kastil, meninggalkan Aldric seorang diri dengan rencana gelap yang mengunci takdir Marielle selamanya di Valtore.Aldric masih berdiri melihat pintu yang sudah kembali tertutup rapat. Kali ini Aldric benar-benar tak akan melepaskan wanita yang pernah ia singkirkan itu.Dinginnya badai salju malam itu tidak mampu meredam langkah kaki Caesar yang bergerak tanpa suara. Berbeda dengan prajurit resmi kastil yang mengenakan pelindung perak berkilau, Caesar menyelimuti tubuhnya dengan jubah hitam legam yang menyatu sempurna dengan pekatnya malam. Sebagai bayangan sekaligus algojo pribadi Grand Duke Aldric, ia terbiasa bergerak di atas garis batas aturan. Tanpa membawa obor atau lentera, ia membelah hutan lebat di tepi benteng, menuju satu titik kecil yang menjadi satu-satunya tempat tujuan Marielle untuk pulang begitu proyek
Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan. “Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia
“Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambut kasar. Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama. Ia memilah-m
“Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat. Jari-jari Marielle mencengkeram kain rok hingga berkerut. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada sesuatu yang mencekiknya dari dalam. Sekelebat ingatan tentang akhi
“Jadi itu tokoh utama wanitanya... Ratu Elira Aragon.” Gadis itu menatap wanita di halaman istana dengan ekspresi rumit. Pandangannya tertuju pada sang Ratu, tokoh utama dalam novel "Mawar Yang Kembali Merekah". Novel itu pernah ia baca saat masih hidup dulu—ketika dirinya masih seorang manusia bi







