Chapter: Bab 52 - Penjahat Sesungguhnya "Lepaskan dia! Cinta tidak bersalah!"Zaki berteriak lantang. Hatinya tercabik mendapati bagian tubuh Cinta yang terbuka mulai disakiti oleh beberapa lelaki yang jelalatan memandangnya. Wanita itu terlihat masih meronta walau dalam keadaan tidak berdaya."Dia harus membayar lunas semua kesalahanmu, Zaki! Farahdina istriku, tetapi kau menidurinya seenak napsu bejatmu. Maka istrimu yang polos ini juga harus menerima akibat dari perbuatan burukmu!"Antonio bergerak mendekati Cinta. Zaki tahu betul karakter bajingan nekad itu. Tak dapat dibayangkan jika lelaki itu sampai menyakiti istrinya, sedang dia sendiri tidak mampu menyelamatkan wanita yang sering dia sakiti itu. Mengingatnya, hati Zaki tiba-tiba mencelos."Tidak! Jangan sakiti dia! Aku tidak akan memaafkan kalian, Biadap!"Dadanya bergemuruh, kini amarahnya mulai meledak seperti gunung aktif yang memuntahkan material batu dan lahar panas. Zaki sigap memainkan dua kaki dan berhasil mengelabui dua bodyguard yang mencekal tubuhnya. Hi
Last Updated: 2024-05-30
Chapter: Bab 50 - Diserang Seseorang dari Masa Lalu"Kalau bukan Dion, lalu bangsat mana yang mencoba bermain-main denganku?!" Tiba-tiba Zaki teringat sesuatu dan lekas berbalik ke kamar untuk berganti seragam kerja dengan jeans dan long sleeve. Dengan cepat dia meraih kunci mobil dan beberapa perlengkapan jalan lainnya, lalu berlari keluar menuju garasi. Buru-buru mencapai mobil, menghidupkan mesin, lalu sigap melaju ke rumah sakit tempat Ari dirawat."Semoga ada petunjuk di sana."Sesuai petunjuk dari Alfian, Zaki tiba di rumah sakit lewat jalan tikus dan gegas mendatangi Ari di ruang rawat inap. Namun, yang dicari justru tidak terlihat batang hidungnya."Ke mana dia?" Zaki bercelinguk kanan dan kiri saat tidak menemukan siapa-siapa, baik di ruang utama maupun toilet."Apa Ari hanya pura-pura terluka, lalu sengaja mengelabui Cinta? Atau dia memang telah dibawa kabur oleh seseorang dari sini?"Zaki meneliti brankar yang kosong, mencoba mencari petunjuk dari sana. Dan benar, ada secarik kertas yang terselip di bawah bantal. Zaki mera
Last Updated: 2024-05-30
Chapter: Bab 49 - Merasa Kecolongan "Tolong!" teriak Cinta sebelum mulutnya benar-benar tersekap dan semua pandangan seketika menjadi gelap."Putri Agus Dikara."Terdengar suara sangar seseorang bertopeng yang tampak sudah menyekap jalur pernapasan Cinta hingga tak sadarkan diri. "Akhirnya kita bertemu lagi," desisnya kemudian dalam suasana sekitar yang gelap dan sepi, lalu diam-diam menyeret tubuh lemah itu pergi dari sana. Pergerakan cepat tersebut tidak membuahkan curiga bagi siapapun yang melewati tempat itu. *Tengah malamnya, Zaki tampak masih berkutat dengan laptop di kursi teras lantai dua sebab suhu ruangan di dalam rumahnya mendadak panas membakar. Barangkali pemicunya dari perasaan yang tiba-tiba tidak tenang, tetapi dia memaksakan diri untuk tetap memantau perkembangan bisnis properti yang dia geluti. "Huh!" Zaki mendengkus sambil menutup kasar layar laptop lalu memilih bangkit bersandar di dinding teras demi menatap langit malam tanpa bintang. Satu jam yang lalu, dia pulang dan mendapati Cinta tidak b
Last Updated: 2024-05-28
Chapter: Bab 48 - Sergapan Cinta segera beranjak kembali ke kamar. Dia masih terpuruk dengan keterangan yang baru saja didapatkan dari Ari. Lelaki tua berfisik sehat dan kuat itu seolah membuka sisi lain dari ayah dan ibunya yang selama ini tidak dia ketahui. "Padahal ibu tidak pernah bercerita hal buruk mengenai hubungannya dengan ayah."Hal paling mendasar yang dipegangnya saat itu, sang ibu cukup bahagia di ujung kepergiannya. Wanita renta tersebut pergi dengan menitipkan pesan terakhirnya agar dia dan Zaki saling melindungi."Keluarga Arsyandi Buana yang lain telah mengorbankan nyawa kakakmu Gita demi membayar kematian saudara kandung Zaki. Ibu juga tak punya pilihan untuk tidak menyerahkanmu kepada keluarga itu, Nak. Sebab cuma Zaki yang bisa melindungimu dari orang-orang jahat itu."Cinta masih mencerna maksud dari perkataan mendiang sang ibu."Orang-orang itu? Siapa mereka? Apa ibu diancam oleh banyak pihak?"Di sela memikirkan cara untuk mencari kebenaran, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara berisik di
Last Updated: 2024-05-10
Chapter: Bab 47 - Sulit Dipercaya "Ah, barangkali cuma terbawa cerita Helena saja," pikirnya.Tidak ingin berpikiran buruk tentang hal ini, Cinta terus saja memasuki rumah mendiang sang ayah sambil bersenandung kecil. Senandung yang biasa didengungkan oleh mendiang ayah, ibu dan juga sang kakak."Nona Cinta, apa kamu ingin menikmati sesuatu untuk minum petang ini?" tanya Ari saat dirinya hendak memasuki kamar di lantai atas. Lagi, panggilan Ari berhasil membuatnya nyaris terperanjat. Diam-diam Cinta istighfar dalam hati. Ada apa dengan dirinya saat ini? Kenapa berhadapan dengan Ari saja rasanya seperti menghadapi seorang penjahat yang sedang mengancam?"Apa saja, boleh. Asal Paman yang bikin." Cinta membalas sambil melempar senyum manis seperti biasa. Meski hatinya cukup berkecamuk, namun dia tetap menunjukkan sikap biasa saja di depan pria tua yang masih awet itu."Oh, ya. Sediakan seperlunya saja, biar nanti aku yang buatkan kopi petang untuk kita berdua. Paman pasti penasaran dengan air tanganku juga, kan?"Cinta
Last Updated: 2024-05-05
Chapter: Bab 46 - Sebuah Pra DugaZaki diam-diam pulang lebih dulu karena tidak ingin berdebat panjang dengan Cinta sebab pikirannya sedang kacau. Kini, dia sedang berada di ruang kerjanya dan tidak ingin diganggu oleh siapapun. Dalam setiap detiknya, dia masih saja mengeluh sambil terus memantau kamera."Bahkan dia merusak agenda pekerjaanku."Zaki menyesalkan pertemuan tiba-tiba dengan Cinta saat sedikit lagi dia akan mengetahui dalang di balik gagalnya proyek Edelweis. Diyakininya bahwa Nyonya Leny Tang selaku mitra kala menyimpan bukti mengenai hal tersebut."Tapi kenapa?"Sayangnya, pertemuan itu harus terhenti di longue. Sementara agenda selanjutnya ke Taman Moana harus gagal sebab belum apa-apa, acaranya sudah dikacau oleh Cinta."Ada apa dengan dia? Dia pergi ke longue itu untuk bertemu dengan karib ayahnya?"Zaki menghela napas berat. "Siapa lagi karib ayahnya selain aku? Mana mungkin dia sengaja mengikutiku."Rencana Zaki untuk menuntaskan masalah proyek Edelweis, malah berbuntut kepada penudingan terhadap
Last Updated: 2024-04-25
Chapter: Bab 71 - Konsultan Hukum, Bani dan FeraPagi itu Kanaya kembali bergulat dengan keraguannya sendiri—tetap tinggal atau kembali ke Bougenville. Kebimbangan itu terlalu jelas terlihat hingga Bani dan Fera akhirnya mengajaknya berembuk. Tak lama, mereka sudah berada di studio kecil milik Fera.Kanaya melangkah masuk dengan masih memakai jas hitam berkelas yang tergantung di bahunya—jas milik Arkana yang sempat tertinggal di badannya saat terjadi debat panjang di kafe sudut kota. Jas yang kebesaran itu sengaja dia lepas untuk disampirkan ke sandaran kursi. Bersamaan dengan gerakan itu, sebuah kertas mencuat dari saku jas tersebut. Kanaya melirik singkat, lalu meraih cepat benda tersebut, tetapi belum menelitinya lebih jauh.Lampu gantung temaram menyinari meja panjang yang berfungsi sebagai papan analisis. Laptop terbuka, beberapa lembar kertas berserakan di atasnya.Satu nama dilingkari dengan tinta hitam tebal:Laurent Garnyx. Fera menggunakan kemampuan konsultan hukumnya untuk melacak data tentang Laurent dan Royal Group.
Last Updated: 2026-03-07
Chapter: Bab 70 - Hadir Karena MemilihMalam belum selesai ketika semuanya berubah sunyi. Kanaya duduk di kursi taman dekat parkiran, gaunnya masih menyentuh aspal yang dingin. Fera berdiri di sampingnya, sementara Bani mondar-mandir dengan rahang mengeras.“Kak, aku nggak asal pukul,” ujar Bani akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasa.Kanaya tidak langsung menjawab. Matanya masih sembab, tetapi kini lebih tenang.“Aku tahu,” katanya pelan. “Makanya aku minta penjelasan.”Bani berhenti berjalan. Dia mengeluarkan ponsel, membuka kembali foto yang tadi sempat dia tunjukkan pada Fera—Arkana, Rozana dan senyum keluarga yang tampak sempurna.“Komunitas kami sudah dua minggu membaca pola ini,” ucap Bani. “Timeline kemunculan Rozana nggak presisi. Bahkan Bella tidak diikutsertakan dalam pertemuan media.""Lihat saja garis wajah anak itu, lebih mirip generasi Royal Group ketimbang Atmaja." Fera akhirnya ikut bicara, lebih tenang. “Secara administratif, Rozana tercatat sah sebagai bagian dari keluarga Atmaja. Tapi administrasi
Last Updated: 2026-03-04
Chapter: Bab 69 - Bukan Alat, Hanya SolusiKanaya melempar nada protes ringan dan hanya ditanggapi Arkana dengan tarikan bibir tipis. "Kali ini saja... aku akan minta hal aneh," ucapnya pelan, namun ada ketegasan di suaranya.Aroma kopi hangat dari pintu masuk kafe sudah tercium jelas, menenangkan sejenak kepala Kanaya yang penuh hiruk-pikuk reuni. Arkana memilih meja paling sudut untuk mereka berdua, memantau setiap gerak-gerik sekitar dengan mata yang tajam. Kini mereka duduk saling berhadapan.Seorang pelayan datang membawa dua cangkir kopi, meletakkannya di meja dengan telaten. Senyumnya sederhana, namun entah kenapa meninggalkan jeda kecil pada riuh pikirannya.Uap tipis mengepul pelan. Aromanya lembut, hangat, menenangkan. Andai pikirannya semudah itu untuk ditenangkan.Kanaya mengaduk isi cangkirnya perlahan. "Kamu mau bicara apa?""Ini soal Rozana," jawab Arkana, singkat, nadanya terdengar membawa beban.Kanaya antusias mendengar nama itu disebut. "Ah, sudah lama sekali," ucapnya lirih. "Apa kabar majikan balitaku ini?
Last Updated: 2026-03-02
Chapter: Bab 68 - Yang Paling Tidak TerlibatMobil meluncur perlahan meninggalkan Hotel Aurea. Kanaya duduk di sisi kemudi, jemarinya memainkan tali tas selempang. Matanya menatap jalan, tetapi pikirannya masih tertinggal di taman belakang tadi.Sementara Arkana fokus mengemudi. Wajahnya tampak tenang, namun sesekali sorot matanya menyapu sekitar—instingnya selalu waspada.“Kamu aman?” Arkana meliriknya sekilas.Kanaya menoleh sebentar, menatap garis rahangnya yang tegas, lalu mengangguk pelan.“Aku baik-baik saja.”Hening mengisi kabin mobil.Dalam diam itu, Kanaya menangkap lagi kebiasaan lama Arkana—cara dia selalu sigap, datang bertanya seperlunya, dan cara dia hadir tanpa terlihat berlebihan. Ramah diingat, pun sulit untuk diabaikan dan semua itu bermula di kota Tulip—awal perkenalan mereka. Ya, Tulip...tiba-tiba suara Rani muncul di kepalanya seperti tamu tak diundang—tawa cerewetnya, cerita tentang malam mingguan, film laga di bioskop, dan kebiasaan Arkana yang konon tak pernah lupa membelikan camilan favoritnya.Semua b
Last Updated: 2026-02-28
Chapter: Bab 67 - Komposisi yang UtuhArkana menyadari hal lain di sekitarnya—pantulan cahaya yang bergerak cepat di balik kaca ballroom. Detik berikut, semuanya berubah.Satu lagi kilatan cahaya memecah temaramnya taman, terlalu fokus dan terarah.Arkana tidak langsung menoleh, hanya rahangnya yang mengeras tipis. Dalam sepersekian detik, dia sudah bisa menangkap pergerakan dari balik semak sisi kiri taman, tepat di sudut yang cukup rendah untuk bersembunyi, tetapi mampu menangkap sebuah ekspresi."Jadi ini tujuannya," batin Arkana, napasnya seketika ditahan.Namun bukan kilatan cahaya itu yang membuat amarahnya membuncah, melainkan ketika dia mendongak ke lantai dua Hotel Aurea, dan mendapati satu siluet berdiri diam di balik dinding kaca yang memantulkan cahaya kristal chandelier. Bayangan itu tidak bergerak, hanya siaga—seolah sedang mengamati dari jauh.Arkana mengenali gerak-gerik sosok misterius itu. Dari cara dia berdiri, dan cara melempar pandangan jauhnya—seperti sedang menunggu hasil dari rencana yang sudah ter
Last Updated: 2026-02-27
Chapter: Bab 66 - Kilatan Cahaya di Sekitar BallroomPintu ballroom terbuka. Embusan udara hangat bercampur musik mengalun keluar, mengiringi langkah kaki yang perlahan berhenti di ambangnya—Kanaya. Sosok yang membuat waktu Arkana terasa melambat, dunia di sekitarnya seolah meredup. Fokus Arkana hanya tertuju pada cara wanita itu berdiri—tenang, namun di matanya menyimpan keraguan halus kala melihat keberadaan dirinya di taman. Bella melirik Arkana dari sudut mata. Dia sudah bisa membaca ekspresi pria itu tanpa perlu bertanya. Dalam benaknya, dia menautkan potongan-potongan momen; bagaimana Kanaya diterima baik di tengah keluarga Atmaja, pengakuan Arkana di panggung, gelagat Renard—semua seakan membuka simpul sendiri, membuat hati Bella seketika terbakar. “Sepertinya, konsekuensi mu sudah tiba, Kana," gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. Arkana tidak menjawab, hanya rahangnya yang mengeras, sementara kakinya sudah maju lebih dulu, meninggalkan Bella di belakang. Setiap langkahnya terasa berat sekaligus pasti, sepertinya keputusan i
Last Updated: 2026-02-25