LOGIN"Aku tidak pernah berpikir hidupku akan berakhir seperti ini!" - Ratu Kanaya Rozana Kanaya terpaksa menjadi istri kedua mantan kekasihnya Arkana Andromeda. Mereka terjebak dalam sebuah kutukan di pegunungan Rosellie yang mengikat keduanya dalam ikatan pernikahan yang sah. "Aku menikahimu karena keadaan yang tidak bisa kucegah, tetapi kau juga harus paham bahwa dalam hubungan ini, tidak ada cinta untukmu dan aku akan selamanya mencintai istriku." - Arkana Andromeda Mampukah Kanaya melepaskan diri dari kutukan karma tersebut dan pergi dari kehidupan Arkana?
View MoreDi sebuah kamar penginapan bernuansa klasik, Ratu Kanaya Rozana tampak terbaring lemah di ranjang. Wajahnya pucat. Kepala dan sebagian tubuhnya dibaluti perban, pun mata indah itu seolah redup saat dia menatap langit-langit dengan pandangan kosong.
Minggu lalu, gadis itu terjebak dalam sebuah musibah alam yang seketika mengubah statusnya menjadi istri kedua bagi Arkana Andromeda.
"Aku tidak pernah berpikir hidupku akan berakhir seperti ini," umpatnya menyesal kepada lelaki dengan penampakan luka serupa dirinya, kini duduk pada sebuah kursi di samping ranjang.
Susah payah gadis itu berjuang menahan air mata agar pertahanannya tidak runtuh, tetapi tidak berhasil sebab rasa sakit di dada terasa semakin menohok. Hingga bulir bening itu mulai luruh ke pipinya yang menirus. Membuat lelaki di sisi ranjang tadi serentak membuang pandangan ke arah yang berbeda.
"Tidak perlu berlagak menjadi korban, Naya. Aku yakin kau pasti sengaja menyusul kemari untuk membalas dendammu, kan?"
Pria itu kekasih Kanaya di masa lalu yang memilih pergi dari kehidupannya dengan alasan mencintai wanita lain.
"Omong kosong apa itu? Aku kemari untuk sebuah pekerjaan, bukannya membuntuti siapa-siapa!" protes Naya tidak terima.
Kanaya memberontak. Dia tidak pernah bermimpi akan bertemu dengan mantan kekasihnya itu. Sebab tujuan kedatangan ke kota impian Bougenville hanya untuk menjemput pekerjaan baru yang ditawarkan oleh Nyonya Sculptor kepadanya.
"Lalu kenapa bisa bersamaan dengan urusanku? Beraninya kau menjebakku, Naya!"
Arkana kembali membangkang sebab pernyataan Kanaya sama sekali tidak membuatnya percaya begitu saja.
"Apa kau masih mencintaiku, Nona Kanaya?" tekannya lagi dengan mengangkat salah satu sudut bibir, membuat Kanaya merasa semakin terpojok.
Sudah lama dia menyimpan dendam terhadap Arkana dan baru kali ini dirinya mendapat kesempatan untuk menyerang lelaki bajingan itu.
"Tutup mulutmu! Bahkan sejak kau pergi, aku tidak pernah berpikir untuk memilikimu apalagi sampai menjadi milikmu."
Arkana terbahak sumbang. Kali ini tatapannya sengaja dialihkan kepada Kanaya di ranjang. Menatap, menelisik penampilan lusuh gadis yang tubuhnya berbalut selimut tebal itu dengan pandangan menelanjangi.
"Hhh! Tapi ini kenyataan, Naya," cecarnya sinis dan memaksa Kanaya sigap mengalihkan pandangan tanpa ada keinginan bicara.
"Kau dan aku sama-sama terjebak dalam longsoran batu tua itu. Batu keramat yang membawa kita kepada hubungan pernikahan yang sah."
Lelaki itu berbicara lagi dengan suara paling rendah, tetapi cukup memancing emosi Kanaya.
"Dan hidupku berakhir menjadi istri keduamu?!"
Sungguh sebuah keanehan, tetapi itulah kenyataan. Kanaya ingin berteriak keras, tetapi Arkana sudah mendahuluinya.
"Apa kau lupa saat dievakuasi warga, waktu itu? Mereka bilang ini perusakan wilayah keramat dan sanksinya sangat berat. Kurasa kau belum cukup tuli untuk mendengarkannya, Nona."
Kanaya bergeming. Dia sadar, pertengkaran kecil itu telah membawa bencana besar bagi hidupnya. Batu ceper yang dipijaknya sewaktu berdebat dengan Arkana, tiba-tiba saja terlepas dari dudukan saat Arkana dalam keadaan emosi melompat naik hingga menyeret mereka ke dasar jurang berketinggian kurang lebih dua meter.
"Kau yang membuat kita terjebak dalam pelanggaran ber-sanksi. Apa itu salahku?"
Kanaya tidak terima disudutkan sendirian. Arkana juga terlibat dalam kesalahan itu, bukan?
"Tapi kau yang menjatuhkan batu ceper itu!"
Ya, warga kampung pegunungan Rosellie memiliki sanksi berat yang tidak main-main terhadap para pelanggar tradisi mereka. Sebab menurut adat setempat, kerusakan tersebut hanya akan mengundang malapetaka besar jika diabaikan.
"Hei, kau yang lebih dulu menyerangku, Naya! Asal datang saja langsung mengamuk. Memangnya siapa dirimu?"
Dengan dalih kerusakan itu pula, warga pegunungan sigap menikahkan Kanaya dan Arkana secara istiadat Rosellie.
"Oh, perkampungan terkutuk.” Naya mendumal dengan frustrasi. Lalu, dengan wajah kesal dan amarah, Naya berteriak, seolah menantang pria itu. “Kalau begitu talak aku sekarang!"
"Aku juga tidak," balas Laurent tegas, nada suaranya cukup membuat udara di sekitar ruangan seolah terhenti. Tatapannya kini berubah—lebih dalam, dan lebih dingin. “Rozana tidak bisa keluar dari sana.”Bella menatapnya tajam. “Kenapa?”Laurent tidak langsung menjawab. Dia justru mengikis jaraknya pada Bella, meneliti setiap lekuk wajahnya, seakan inti percakapan ini bukanlah hal yang mendesak.Baru ketika jarak mereka nyaris habis, pria tertampang bule itu berhenti. Aroma napas mint-nya menerpa lembut ke permukaan kulit Bella di saat dia berkata pelan, “Karena dia solusi giok sepuluh kita.”Ruangan kamar tua itu tiba-tiba terasa lebih sunyi dan sempit.Bella mengepalkan tangannya. “Dia bukan benda,” desisnya penuh kontrol.Laurent hanya menatapnya tanpa emosi. “Dalam permainan ini, semua orang adalah alat," ucapnya, memperkuat fakta sederhana yang tidak perlu diperdebatkan.Bella membuka mulut, masih ingin membantah. Namun, Laurent lebih dulu melanjutkan ucapan.“Dan kamu tahu itu sej
Sebuah jejak lama yang selama ini terkubur diam-diam mulai kembali terbuka. Seseorang sedang menunggu momen yang tepat untuk bergerak.Dalam sebuah markas bawah tanah yang tersembunyi di balik lapisan beton tebal, cahaya layar monitor memantul redup di dinding baja. Ruangan itu luas, dingin, dan hampir tanpa suara selain dengungan mesin server yang bekerja tanpa henti.Seorang pria berdiri di depan meja kontrol. Wajahnya hanya terlihat setengah dalam pantulan cahaya biru dari layar. Di tangannya, sebuah ponsel menyala menampilkan satu pesan yang sudah terbaca sejak kemarin, namun tidak dibalas—Mr. G.Pesan itu berasal dari; Shindy[Kotak Andromeda asli ada di tangan mereka.]Mr. G kembali membaca pesan tersebut tanpa perubahan ekspresi di wajahnya. Hingga detik berikut, sudut bibirnya bergerak tipis—menyadari rencana berjalan tepat sesuai targetnya.“Jadi akhirnya mereka mengerti,” gumamnya pelan.Jarinya bergerak di layar ponsel, seolah hendak membalas pesan tersebut. Namun kemudian,
Gig mengangkat alis sedikit, seolah tidak terkejut sama sekali dengan kemunculan Renard.“Ah,” gumamnya ringan. “Tuan Renard juga tertarik dengan jalur tua ini?”Renard tidak menjawab pertanyaan itu. Tatapannya tetap tertuju pada pria tua tersebut. “Aku melihatmu dari kantor,” katanya pelan. “Dan aku tahu kau tidak pernah berjalan tanpa tujuan.”Gig tersenyum tipis. Tongkat kayunya kembali mengetuk tanah sekali. “Tujuan?” ulangnya ringan. “Bukankah setiap orang yang datang ke Rossellie selalu punya tujuan?”Renard melangkah mendekat sedikit. “Tidak semua orang memancing orang lain masuk ke hutan untuk itu.”Ucapan tersebut membuat Arkana sedikit menoleh ke arah Renard. Gig terkekeh pelan, seolah menikmati percakapan tersebut.“Memancing?” katanya. “Kau terlalu berprasangka.”Namun, tatapannya beralih pada Arkana.“Lagipula,” lanjutnya tenang, “dia datang ke jalur ini karena keinginannya sendiri.”Arkana tidak menjawab. Matanya kembali melirik batu datar di dekat akar pohon. Ukiran sam
Udara di lereng Rossellie terasa lebih dingin ketika Arkana meninggalkan kantor cabang.Kabut yang sebelumnya menutupi hutan kini mulai menipis, memperlihatkan jalur tanah sempit yang membelah pepohonan rimbun. Dari kejauhan, suara angin gunung menggesek dedaunan kering.Arkana berhenti sejenak di tepi jalan utama, menatap jalur yang tadi mereka lihat dari jendela kantor.Jalur itu tampak seperti goresan tipis di antara hutan—tidak cukup jelas untuk disebut jalan, tetapi juga terlalu rapi untuk sekadar bekas jejak hewan liar.Dia mulai berjalan menuruni lereng. Tanah di jalur itu padat, tidak seperti tanah hutan biasa yang lembek dan dipenuhi akar liar. Di beberapa tempat, batu kecil tersusun rapi—seolah pernah ditata seseorang bertahun-tahun lalu.Arkana menyipitkan mata. Jalur itu tampak tua.Mungkin sudah ada sejak masa ibunya masih hidup di Rossellie.Beberapa meter di depannya, Arkana berhenti.Ada bekas tusukan kecil di tanah—berulang dalam jarak yang hampir sama.Dia berjongkok
Langkah Gig menghilang di ujung koridor. Pintu ruangan itu kembali tertutup perlahan. Suasana sunyi untuk beberapa detik.Renard kembali ke kursinya sambil meraih cangkir kopi yang hampir kosong. Tawa kecil menghiasai wajahnya, sebab masih memikirkan percakapan yang baru saja lewat.“Orang tua itu
Dari jendela besar kantor cabang, perbukitan hijau tampak seperti bayangan samar di balik lapisan putih tipis yang bergerak perlahan mengikuti angin gunung. Kabut itu menelan sebagian jalur tanah yang membelah lereng—jalur lama yang jarang dilalui kendaraan sejak jalan utama dibangun beberapa tahun
Pagi datang bersama kabut tipis yang masih menggantung di lereng pegunungan. Jalan menuju batas kota belum terlalu ramai ketika sebuah mobil hitam melambat di depan bangunan dua lantai yang berdiri di tepi jalan utama.Bangunan itu sederhana, tetapi kokoh—dinding batu alam dan kaca besar menghadap
Shindy sudah berada di sana sejak beberapa menit lalu—tepat ketika Arkana membuka kotak itu.Dari celah pintu, matanya terpaku pada benda kecil di atas meja. Kotak kayu tua dengan ukiran tiga bintang yang dihubungkan garis orbit.Napasnya tercekat."Itu logo Andromeda," bisiknya lirih.Tanpa sadar,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews