INICIAR SESIÓN"Aku tidak pernah berpikir hidupku akan berakhir seperti ini!" - Ratu Kanaya Rozana Kanaya terpaksa menjadi istri kedua mantan kekasihnya Arkana Andromeda. Mereka terjebak dalam sebuah kutukan di pegunungan Rosellie yang mengikat keduanya dalam ikatan pernikahan yang sah. "Aku menikahimu karena keadaan yang tidak bisa kucegah, tetapi kau juga harus paham bahwa dalam hubungan ini, tidak ada cinta untukmu dan aku akan selamanya mencintai istriku." - Arkana Andromeda Mampukah Kanaya melepaskan diri dari kutukan karma tersebut dan pergi dari kehidupan Arkana?
Ver másWith every punch, she was punching on a punching bag, to release her anger, and the thundering noise that created made Blake wince. He tried to stop her, but before words formed, another punch shrank him; Blake covered his ear by inserting his index finger inside his ear to protect his hearing.
Feeling helpless, he saw the time on his smartwatch, waiting impatiently for any one of their group members to come and stop her, or else his hearing would get affected today, or his heart would get weakened.
Abigail was covered in sweat dripping down from her face and other body parts, her hair getting sweaty and stuck on her cheeks and neck.
Continuously punching for more than half an hour, her rage didn't subside.
Grinding her teeth, she punched most rigidly this time and hit the bag by her leg. She removed her gloves, throwing them without looking anywhere; she took deep breaths holding her knees for balance.
The voice of her heartbeat was loud enough to be heard from every corner of the room. She kept her eyes closed to steady herself.
Blake released a relaxed breath, "Thank God. I won't have survived if it lasted a little longer."
She ignored him completely when Chloe and Kimberly dashed into her room, which was built for her to keep her work private, and only specific people were allowed to enter.
"Abigail, have you gone mad?" Chloe yelled at her the moment she stepped into the room; Kimberly went to her and held Abigail's hand to check for the level of injuries she had given herself.
"How did you know I am here?" releasing her hand from Kimberly's hold, she asked them, picking a towel to clean her face and hand from sweat.
"Blake sent us your video," Kimberly said to her recovering first aid box from the cupboard. Abigail glanced at Blake, arching her brow.
"Care to explain, Mr. Blake, why to call them.” A sheepish smile crept on Blake's lips with the pointed look she gave him.
"I just got afraid," Blake said to the girls rubbing his hand at the back of his head. Kimberly and Chloe smiled at him, but Abigail rolled her eyes at his stupidness.
"Tell us why so furious. Did you hear any news that upset you so badly?" Chloe asked Abigail, stopping her from scolding Blake for his silliness. Kimberly looked at her questioningly; Blake's curiosity increased, and curiosity killed the cat. Blake gets near the girls to listen; Abigail takes advantage; using her long legs, she kicks him on the leg.
"Owww," Black-backed away due to pain holding his calf in hand, shouting at her.
"Abigail, I hate you."
"Same here," Abigail said with a smirk on her face.
"Enough now, tell what you heard?" Kimberly did her dressing on injuries on knuckles, keeping the box at the side, she asked Abigail with a stern face.
"The murderer belongs to my mother's family." grimace on her face, she informed them. They were shocked by the news; Chloe was first coming back to her senses.
"I'm sorry" These were the only words she could say to her. Abigail just nodded to her.
"What will you do now? It's another country we are talking about." Blake asked, thinking about how they would deal.
"They kicked my mother out from home, ended every relationship with her, and later killed her." Her voice trembled, and tears welled in her eyes; all looked at her with pain in their eyes
She stood, her hand fisted, "I will not leave whoever is behind her accident. I will get that murderer. I will go to France, where evidence is hidden, where the murderer lives peacefully."
She hit her dressed hand fist on a punching bag; her voice filled with fury, " Whoever you are, I'm coming to you; watch Your Back."
"Aku juga tidak," balas Laurent tegas, nada suaranya cukup membuat udara di sekitar ruangan seolah terhenti. Tatapannya kini berubah—lebih dalam, dan lebih dingin. “Rozana tidak bisa keluar dari sana.”Bella menatapnya tajam. “Kenapa?”Laurent tidak langsung menjawab. Dia justru mengikis jaraknya pada Bella, meneliti setiap lekuk wajahnya, seakan inti percakapan ini bukanlah hal yang mendesak.Baru ketika jarak mereka nyaris habis, pria tertampang bule itu berhenti. Aroma napas mint-nya menerpa lembut ke permukaan kulit Bella di saat dia berkata pelan, “Karena dia solusi giok sepuluh kita.”Ruangan kamar tua itu tiba-tiba terasa lebih sunyi dan sempit.Bella mengepalkan tangannya. “Dia bukan benda,” desisnya penuh kontrol.Laurent hanya menatapnya tanpa emosi. “Dalam permainan ini, semua orang adalah alat," ucapnya, memperkuat fakta sederhana yang tidak perlu diperdebatkan.Bella membuka mulut, masih ingin membantah. Namun, Laurent lebih dulu melanjutkan ucapan.“Dan kamu tahu itu sej
Sebuah jejak lama yang selama ini terkubur diam-diam mulai kembali terbuka. Seseorang sedang menunggu momen yang tepat untuk bergerak.Dalam sebuah markas bawah tanah yang tersembunyi di balik lapisan beton tebal, cahaya layar monitor memantul redup di dinding baja. Ruangan itu luas, dingin, dan hampir tanpa suara selain dengungan mesin server yang bekerja tanpa henti.Seorang pria berdiri di depan meja kontrol. Wajahnya hanya terlihat setengah dalam pantulan cahaya biru dari layar. Di tangannya, sebuah ponsel menyala menampilkan satu pesan yang sudah terbaca sejak kemarin, namun tidak dibalas—Mr. G.Pesan itu berasal dari; Shindy[Kotak Andromeda asli ada di tangan mereka.]Mr. G kembali membaca pesan tersebut tanpa perubahan ekspresi di wajahnya. Hingga detik berikut, sudut bibirnya bergerak tipis—menyadari rencana berjalan tepat sesuai targetnya.“Jadi akhirnya mereka mengerti,” gumamnya pelan.Jarinya bergerak di layar ponsel, seolah hendak membalas pesan tersebut. Namun kemudian,
Gig mengangkat alis sedikit, seolah tidak terkejut sama sekali dengan kemunculan Renard.“Ah,” gumamnya ringan. “Tuan Renard juga tertarik dengan jalur tua ini?”Renard tidak menjawab pertanyaan itu. Tatapannya tetap tertuju pada pria tua tersebut. “Aku melihatmu dari kantor,” katanya pelan. “Dan aku tahu kau tidak pernah berjalan tanpa tujuan.”Gig tersenyum tipis. Tongkat kayunya kembali mengetuk tanah sekali. “Tujuan?” ulangnya ringan. “Bukankah setiap orang yang datang ke Rossellie selalu punya tujuan?”Renard melangkah mendekat sedikit. “Tidak semua orang memancing orang lain masuk ke hutan untuk itu.”Ucapan tersebut membuat Arkana sedikit menoleh ke arah Renard. Gig terkekeh pelan, seolah menikmati percakapan tersebut.“Memancing?” katanya. “Kau terlalu berprasangka.”Namun, tatapannya beralih pada Arkana.“Lagipula,” lanjutnya tenang, “dia datang ke jalur ini karena keinginannya sendiri.”Arkana tidak menjawab. Matanya kembali melirik batu datar di dekat akar pohon. Ukiran sam
Udara di lereng Rossellie terasa lebih dingin ketika Arkana meninggalkan kantor cabang.Kabut yang sebelumnya menutupi hutan kini mulai menipis, memperlihatkan jalur tanah sempit yang membelah pepohonan rimbun. Dari kejauhan, suara angin gunung menggesek dedaunan kering.Arkana berhenti sejenak di tepi jalan utama, menatap jalur yang tadi mereka lihat dari jendela kantor.Jalur itu tampak seperti goresan tipis di antara hutan—tidak cukup jelas untuk disebut jalan, tetapi juga terlalu rapi untuk sekadar bekas jejak hewan liar.Dia mulai berjalan menuruni lereng. Tanah di jalur itu padat, tidak seperti tanah hutan biasa yang lembek dan dipenuhi akar liar. Di beberapa tempat, batu kecil tersusun rapi—seolah pernah ditata seseorang bertahun-tahun lalu.Arkana menyipitkan mata. Jalur itu tampak tua.Mungkin sudah ada sejak masa ibunya masih hidup di Rossellie.Beberapa meter di depannya, Arkana berhenti.Ada bekas tusukan kecil di tanah—berulang dalam jarak yang hampir sama.Dia berjongkok
Masih terdengar suara kesal Bella memanggil Arkana dengan lantang. "Sayang! Aku tidak rela, kau sampai meninggalkanku hanya untuk membela pembantu sialan itu!" Perkataan itu memberikan pukulan keras pada Kanaya. Gadis itu tersenyum miris. Namun, memilih terus berjalan dan melupakan semua norma. Pe
"Takdir macam apa ini?" Air mata Kanaya yang belum sempat mengering, kini kembali menetes menyusuri lekuk wajah cantiknya. Bibirnya terkatup rapat lantaran merasa kehabisan kata-kata. Seluruh syaraf di tubuh serasa membeku ketika mendengar Nyonya Emily kembali bersuara."Aku sengaja membiarkan cucuku
Setelah itu, Arkana melepas kasar leher Kanaya dan segera berlalu menyusul para asisten yang membopong sang ayah ke rumah sakit. Masih terdengar suara beratnya berkata lantang "Tunggu sampai aku pulang!" Sementara Kanaya nampaknya masih susah payah mengatur napas sambil meraba leher yang sakit akiba
"Hentikan omong kosongmu. Aku sudah mencari tahu semua tentangmu. Kau masih sama seperti dulu … Ratu Kanaya Rozana yang belum menikah."Mata Kanaya terbelalak dan merasa benar-benar diperdaya."T-tapi, Arkana. I-ini —" Ucapannya tercekat di tenggorokan.Bukannya Kanaya tidak peka, melainkan hanya b


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas