Chapter: bab 48Suasana tenang di cluster perumahan elit itu mendadak terusik bukan oleh wartawan TV, melainkan oleh kerumunan anak muda dengan jaket almamater dan motor matik yang parkir sembarangan. Di tangan mereka bukan kamera profesional, melainkan ponsel pintar yang siap merekam apa saja demi konten "spill" di TikTok dan akun gosip kampus.Aksara yang baru saja memundurkan BMW hitamnya terpaksa menginjak rem dalam-dalam. Di depan gerbang rumahnya, ada sekitar sepuluh orang yang berdiri dengan ponsel teracung."Eh, beneran itu rumahnya Pak Aksara!""Cepat rekam! Itu cewek di dalem pasti Diana!"Kilatan flash dari ponsel-ponsel itu menyambar kaca mobil yang gelap. Diana, yang duduk di kursi penumpang, langsung menarik hoodie-nya hingga menutupi wajah. Jantungnya berdegup kencang. Ini bukan wartawan, ini jauh lebih ngeri: teman-teman seangkatannya sendiri yang haus validasi di media sosial."Mas... kok mereka tahu rumah kita? Ini kan cluster privat!" bisik Diana dengan suara gemetar.Aksara mencen
Last Updated: 2026-03-24
Chapter: bab 47 Sisa ketegangan dari kedatangan Saskia masih menggantung tipis di udara, namun di dalam kamar Allin yang bernuansa merah muda, waktu seolah berjalan lebih lambat. Allin mengerjapkan matanya yang bulat, menguceknya pelan, lalu duduk tegak di atas tempat tidur. Ia mendengar suara gaduh di bawah tadi, tapi kantuknya jauh lebih berat. "Ayah?" panggil Allin lirih. Pintu kamar terbuka pelan. Aksara melangkah masuk, sudah mengganti kemeja kerjanya dengan kaos santai hitam. Di belakangnya, Diana mengekor dengan nampan berisi segelas susu hangat. "Anak pinter sudah bangun?" Aksara duduk di tepi ranjang, mengusap dahi Allin yang sedikit berkeringat. Allin langsung merangkak ke pelukan Aksara, menyembunyikan wajahnya di dada bidang papanya. "Yah... tadi ada suara orang teriak ya? Allin takut." Aksara melirik Diana sekilas. Ada kilat kepedihan di matanya, namun ia segera menutupinya dengan senyum tipis. "Enggak ada apa-apa, Sayang. Cuma orang salah alamat yang agak bingung cari jalan. Ayah
Last Updated: 2026-03-24
Chapter: bab 46Sore hari setelah kuliah selesai. rumah Aksara tampak Damai dan sunyi. Diana baru saja hendak menyeduh teh saat bel rumah berbunyi panjang. Tidak seperti biasanya, bunyi bel itu terdengar menuntut, tidak sabar, dan sedikit... lancang. Begitu pintu dibuka, dunia Diana seolah bergeser. Seorang wanita berdiri di sana. Rambutnya pirang abu-abu hasil salon mahal, riasannya tebal namun tak mampu menutupi gurat kelelahan di matanya. Ia mengenakan gaun sutra merah yang terlalu mencolok untuk cuaca mendung Depok. "Siapa ya?" tanya Diana, instingnya langsung mengirim sinyal bahaya. Wanita itu melepas kacamata hitamnya, menatap Diana dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan meremehkan. "Jadi ini asisten baru Aksara? Atau... selera barunya yang masih bau kencur?" "Saya Diana, istri Mas Aksara," jawab Diana tegas, menekankan kata istri. Tawa wanita itu pecah. Cempreng dan palsu. "Istri? Oh, manis sekali. Aku Saskia. Ibu kandung Caroline. Minggir, aku mau ketemu anakku." "Mas Aksara
Last Updated: 2026-03-24
Chapter: bab 45Bau sisa hujan semalam masih menempel di selasar Fakultas Psikologi. Diana melangkah cepat, menarik kerah blus kura-kuranya setinggi mungkin. Sialan Aksara. Tanda di leher kirinya itu tidak bisa tertutup sempurna hanya dengan concealer seharga tiga ratus ribu. "Diana! Sini!" teriak Pitaloka dari pintu kelas 302. "Pak Aksara sudah di jalan. Lo telat dikit, habis!" Diana masuk, mengambil napas pendek, dan duduk di baris paling depan. Satu-satunya kursi kosong yang tersisa. Tepat di bawah hidung podium dosen. Klik. Klik. Klik. Suara pantofel yang beradu dengan lantai marmer itu membuat seisi kelas mendadak senyap. Aksara Pratama masuk. Jas abu-abunya terpasang sempurna, dasi marun hasil simpul tangan Diana tadi pagi melingkar gagah. Wajahnya datar, kaku, dan seolah tidak pernah menyentuh kulit manusia dalam sepuluh tahun terakhir. Aksara meletakkan tas kulitnya. Matanya memindai ruangan. Ia tidak menatap Diana. Tatapannya justru jatuh pada Raka, mahasiswa yang duduk tepat di belakan
Last Updated: 2026-03-24
Chapter: bab 44 Alarm digital di nakas baru saja menunjukkan pukul 05.30 WIB. Cahaya fajar Jakarta yang abu-abu mengintip malu-malu di balik gorden blackout. Aksara sudah terjaga, posisi telentang dengan lengan kanan menyangga kepala, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang sudah melanglang buana ke materi kuliah jam delapan nanti. Namun, lamunannya buyar saat merasakan pergerakan di sampingnya. Diana tidak bangun untuk mandi seperti biasanya. Gadis itu justru merangkak naik, menindih perut rata Aksara, dan duduk tegak di sana dengan piama satin tipis yang talinya nyaris melorot. Aksara tersentak. Alisnya terangkat satu. "Diana? Tumben. Biasanya aku harus pakai pengeras suara buat bangunin kamu." "Mas terlalu banyak mikir," gumam Diana. Ia menunduk, ujung rambutnya yang berantakan menyapu dada bidang Aksara. Jemarinya yang lentik mulai menelusuri garis rahang suaminya yang tegas. "Berhenti jadi profesor sejenak. Tatap aku." Aksara terkekeh rendah, tangannya otomatis hinggap di pinggang r
Last Updated: 2026-03-24
Chapter: bab 43 Hujan di luar semakin menggila, mengubah aspal Jakarta menjadi cermin hitam yang memantulkan kerlip lampu kota yang buram. Di dalam mobil, uap tipis mulai menyelimuti kaca, mengisolasi Aksara dan Diana dalam sebuah gelembung kedap suara yang hanya berisi deru mesin halus dan aroma musk yang kian pekat. Aksara tidak segera memacu mobilnya. Tangannya masih bertengger di tengkuk Diana, jempolnya mengusap garis rahang istrinya dengan ritme yang menghipnotis. Ada kilat di matanya—jenis kilat yang tidak pernah ia tunjukkan di depan podium kuliah. Itu bukan tatapan seorang akademisi yang sedang mengobservasi subjek; itu adalah tatapan seorang pria yang sedang kelaparan. "Mas... jalan, nanti Allin nunggu kelamaan," bisik Diana. Suaranya serak, usahanya untuk bersikap logis digagalkan oleh sentuhan Aksara yang mulai turun ke tulang selangkanya. "Mbok Ratni sudah kirim pesan. Allin ketiduran habis makan sore," sahut Aksara rendah. Suaranya seperti gesekan cello yang berat, bergetar langsung
Last Updated: 2026-03-24

Manipulasi Hati CEO
dear My family
untuk ibuku yang sangat cantik dan perfeksionis aku hanya ingin mengatakan obsesi mu kepada kebersihan sangat mengerikan. oh ya, sesekali kau harus mampir ke warung pinggir jalan, mereka memasak untuk pelanggan secara bersamaan. aku sudah mencoba beberapa kali rasanya sangat enak walau kau sebut menjijikkan. maaf tentang anak kesayanganmu yang dikunci dari luar sepertinya dia sedang menikmati coklat dan mengotori mulutnya. ku harap kau tidak marah saat membersihkannya.
si paling irit bicara, cuek, tidak peduli pada keluarga yang kau tahu hanya berkerja dan mencari uang. ayah coba lah sesekali buka mulutmu dan bicara sesuatu. aku muak melihatmu hanya diam memperhatikan.
untuk kakak laki-lakiku seperti kau harus segera ke psikiater aku takut emosimu semakin menjadi. rasa sayangmu padaku melebihi rasa sayangmu pada istrimu. overprotective mu sangat mengangguku.
aku tahu karena itu kakak ipar membenci ku, tapi aku sarankan untuk tidak perlu bolak-balik ke Korea untuk melakukan operasi plastik karena sejauh apapun dokter merubahmu tidak akan menandingi kecantikanku. ku dengar kau akan melakukan inplan payudara, jangan terlalu besar aku takut benda itu pecah ketika di pegang.
terakhir kakakku yang bodoh dan polos, aku ingin menyelamatkanmu tapi aku pasti kerepotan jika membawamu. nikmati saja kebersamaanmu dengan keluar problematik itu.
jangan mencariku, jangan khawatir padaku, aku tidak akan kembali lagi ke rumah itu.
tertanda
dari anak kalian yang paling normal
nadia Clarisa
Read
Chapter: bab 36 Dua orang asisten butik dari label ternama berdiri dengan takzim, memegang rak dorong yang berisi barisan gaun malam yang dibalut plastik pelindung. Raka duduk di sofa kulitnya, menyesap espresso dengan tenang, sementara matanya tak lepas dari tiap helai kain yang dipamerkan. "Pilih yang paling kamu suka, Nadia. Tidak perlu melihat label harganya," ucap Raka datar, namun nada bicaranya tidak membantah. Aku melangkah mendekat, jemariku menyentuh permukaan kain satin yang dingin. "Untuk acara apa sebenarnya ini, Raka? Kamu bilang bulan depan ada hadiah, tapi kamu tidak bilang pesta apa." Raka meletakkan cangkirnya ke meja marmer dengan denting pelan. "Hanya sebuah pesta keluarga besar. Acara yang sangat penting untuk masa depan K-Inc. Aku ingin kamu tampil sebagai wanita paling bersinar di ruangan itu. Tanpa celah." Aku mengambil sebuah gaun berwarna merah marun dengan potongan backless yang berani. "Merah? Bukannya biasanya pesta keluarga lebih cocok dengan warna pastel atau emas?
Last Updated: 2026-03-25
Chapter: bab 35Matahari SCBD tidak pernah santai. Sinarnya menembus dinding kaca setinggi langit-langit di Penthouse lantai 60 ini, memaksa mataku terbuka meski nyawaku belum terkumpul genap. Aku mengerjap, menatap langit-langit yang dihiasi lampu kristal minimalis. Ini bukan unit studio sempit kemarin. Ini adalah istana gantung milik Raka Kusuma. Aku menoleh ke samping. Kosong. Bantal di sebelahku masih menyisakan lekukan kepala pria itu, tapi orangnya sudah lenyap. Aku bangkit, menyampirkan jubah mandi sutra berwarna gading. Begitu keluar kamar, aroma kopi yang sangat kuat menyeruak. Raka berdiri di balkon dalam, hanya memakai kaus oblong hitam dan celana santai. Pemandangan langka. Tidak ada jas zirah yang membuatnya tampak seperti robot pencetak uang. "Bangun juga akhirnya," tegur Raka tanpa menoleh. Dia sibuk menekan tombol pada mesin kopi otomatis. "Jam berapa sekarang?" suaraku serak khas bangun tidur. "Hampir jam sembilan. Kamu tidur seperti orang pingsan setelah makan malam tadi,"
Last Updated: 2026-03-25
Chapter: bab 34 Restoran ini terletak di lantai paling atas sebuah gedung galeri seni. Tidak ada kerumunan, tidak ada suara denting sendok dari meja lain. Raka benar-benar mengosongkan tempat ini. Hanya ada satu meja di sudut dengan pemandangan 360 derajat ke arah kerlap-kerlip Jakarta yang tampak seperti hamparan berlian di bawah kaki kami. Raka menarikkan kursi untukku. Gerakannya tenang, tidak terburu-buru, sangat kontras dengan sosoknya yang biasanya memerintah dengan telunjuk besi. "Kenapa tempat ini sepi sekali, Raka? Kamu mengusir semua orang?" tanyaku sambil merapikan gaun sutra hitamku. "Aku cuma ingin makan malam tanpa harus mendengar bisikan orang soal saham atau gosip bisnis," sahut Raka santai. Dia duduk di hadapanku, melepas satu kancing kemeja teratasnya. "Malam ini, cukup ada aku dan kamu. Anggap saja hadiah karena kamu sudah jadi 'istri' yang sangat meyakinkan akhir-akhir ini." "Hadiah atau sogokan supaya aku tidak membongkar brankasmu lagi?" sindirku sambil tersenyum miring. R
Last Updated: 2026-03-25
Chapter: bab 33Pagi ini Jakarta diguyur hujan sisa semalam. Suara rintiknya yang menghantam kaca jendela apartemen menciptakan irama yang menenangkan. Aku baru saja selesai mandi, masih memakai bathrobe putih handuk yang kebesaran, saat melihat Raka berdiri di depan mesin kopi. Dia hanya memakai celana bahan hitam dan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka. Tidak ada dasi, tidak ada jas kaku. Rambutnya bahkan sedikit berantakan, jatuh menutupi keningnya—pemandangan yang jauh lebih berbahaya bagi jantungku daripada saat dia memakai setelan bisnis triliunannya. "Berhenti menatapku seolah aku ini menu sarapanmu, Nadia," celetuk Raka tanpa menoleh, namun ada nada geli di suaranya. "Percaya diri sekali," sahutku sambil berjalan menghampiri. Aku mengambil cangkir kopi yang baru saja dia tuang. "Aku cuma heran, kok ada CEO yang bangun jam segini cuma buat bikin kopi sendiri." Raka berbalik, menyandarkan pinggangnya di konter dapur. Dia menatapku lama, tatapan yang tidak lagi tajam seperti di kant
Last Updated: 2026-03-25
Chapter: bab 32 Lampu jalanan Jakarta berpendar cepat di balik kaca jendela Mercedes yang melaju menuju apartemen. Di sampingku, Raka terpejam, tapi aku tahu dia tidak tidur. Tangan kanannya masih menggenggam jemariku—sebuah gestur yang dulu kuanggap pelindung, namun kini terasa seperti borgol emas. Aku memalingkan wajah ke jendela, menatap pantulan diriku yang samar. Pikiranku justru melayang mundur ke Minggu pagi itu. Saat matahari belum sepenuhnya naik dan Raka masih terlelap karena pengaruh wiski semalam sebelumnya. Saat itu, aku berdiri di depan meja kerja jati miliknya. Jantungku berdegup seperti genderang perang. Klik. Suara mekanisme brankas itu terdengar begitu nyaring di kesunyian subuh. Aku menahan napas, melirik ke arah ranjang, memastikan si harimau tidak terbangun. Aman. Pintu baja itu terbuka perlahan, mengeluarkan aroma dingin logam dan kertas-kertas mahal. Niat awal hanyalah mengambil seratus juta untuk membungkam mulut Hardi. Namun, jemariku yang lancang justru menyentuh sebua
Last Updated: 2026-03-25
Chapter: bab 31 Gedung pertemuan di pusat kota itu tampak megah dengan dekorasi bunga lili putih yang menjuntai di setiap sudut. Harum melati yang kuat menyambut kami begitu pintu ballroom terbuka. Aku mempererat kaitan lenganku pada Raka, menyesuaikan langkah dengan ritme sepatunya yang tegas. Malam ini, aku mengenakan gaun sutra berwarna champagne yang jatuh pas di tubuhku—elegan, tidak mencolok, namun tetap memancarkan kelas seorang istri pengusaha besar. "Ingat, Nadia. Cukup jadilah pendamping yang sopan. Tidak perlu drama," bisik Raka datar. Wajahnya lurus ke depan, rahangnya kokoh seolah-olah dia sedang menuju meja perundingan bisnis, bukan pesta pernikahan mantan. "Aku tahu protokolnya, Raka. Senyum, sapa, dan terlihat bahagia. Mudah," sahutku pelan dengan nada yang sangat lembut, hampir seperti bisikan seorang istri yang sedang bermanja. Kami menaiki anak tangga pelaminan. Di sana, Alika berdiri dengan gaun putih lebarnya. Di sampingnya stands Mark, pria berkebangsaan asing yang tampak ga
Last Updated: 2026-03-25