author-banner
Sora moon
Sora moon
Author

Novels by Sora moon

Manipulasi Hati CEO

Manipulasi Hati CEO

dear My family untuk ibuku yang sangat cantik dan perfeksionis aku hanya ingin mengatakan obsesi mu kepada kebersihan sangat mengerikan. oh ya, sesekali kau harus mampir ke warung pinggir jalan, mereka memasak untuk pelanggan secara bersamaan. aku sudah mencoba beberapa kali rasanya sangat enak walau kau sebut menjijikkan. maaf tentang anak kesayanganmu yang dikunci dari luar sepertinya dia sedang menikmati coklat dan mengotori mulutnya. ku harap kau tidak marah saat membersihkannya. si paling irit bicara, cuek, tidak peduli pada keluarga yang kau tahu hanya berkerja dan mencari uang. ayah coba lah sesekali buka mulutmu dan bicara sesuatu. aku muak melihatmu hanya diam memperhatikan. untuk kakak laki-lakiku seperti kau harus segera ke psikiater aku takut emosimu semakin menjadi. rasa sayangmu padaku melebihi rasa sayangmu pada istrimu. overprotective mu sangat mengangguku. aku tahu karena itu kakak ipar membenci ku, tapi aku sarankan untuk tidak perlu bolak-balik ke Korea untuk melakukan operasi plastik karena sejauh apapun dokter merubahmu tidak akan menandingi kecantikanku. ku dengar kau akan melakukan inplan payudara, jangan terlalu besar aku takut benda itu pecah ketika di pegang. terakhir kakakku yang bodoh dan polos, aku ingin menyelamatkanmu tapi aku pasti kerepotan jika membawamu. nikmati saja kebersamaanmu dengan keluar problematik itu. jangan mencariku, jangan khawatir padaku, aku tidak akan kembali lagi ke rumah itu. tertanda dari anak kalian yang paling normal nadia Clarisa
Read
Chapter: bab 23
Suasana makan malam di apartemen malam itu terasa sangat aneh. Hanya ada suara denting sendok yang beradu dengan piring. Raka benar-benar menghabiskan mi instan buatanku tanpa protes sama sekali. Padahal biasanya, telurnya kurang setengah matang saja dia sudah ceramah soal tekstur protein selama sepuluh menit. ​Aku memperhatikannya dari balik gelas air putihku. Dia makan seperti biasanya. Aku tahu dia sedang berusaha terlihat baik-baik saja di depanku. Tipikal laki-laki sombong yang merasa harus selalu jadi tembok kokoh. Padahal di mataku, temboknya itu sudah retak seribu. ​"Kenapa lihat-lihat? Minumnya mau lewat hidung?" tanya Raka tiba-tiba tanpa menatapku. ​Aku tersentak, hampir tersedak air yang baru mau kutelan. "Siapa yang lihatin kamu? Ge-er banget. Aku cuma lagi mikir, mi instan merek ini ternyata kurang asin. Tapi kamu makannya lahap banget, kayak orang nggak makan tiga hari." ​Raka meletakkan garpunya, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Matanya menatapku lurus. "Nadia,
Last Updated: 2026-03-03
Chapter: bab 22
​Langkah kaki Raka yang lebar-lebar itu hampir membuat beberapa karyawan yang berpapasan dengannya terjungkal. Wajahnya yang biasanya poker face—datar tanpa ekspresi kayak tembok—kini tampak tegang banget. Alisnya bertaut, dan ada aura gelap yang terpancar dari setiap gerakannya. Dia benar-benar lagi enggak ingin diganggu, bahkan oleh lalat sekalipun. ​Aku yang baru saja mau duduk di meja resepsionis setelah makan siang bareng Reisa, cuma bisa melongo melihat bos besar itu melesat keluar kantor seolah-olah gedung ini mau meledak. ​"Nad, Pak Raka kenapa lagi? Kok mukanya kayak orang dikejar penagih utang?" bisik Lita sambil menyikut lenganku. ​"Mana aku tahu. Mungkin dia lupa matiin keran air di apartemen," sahutku asal. Tapi jujur, insting kepo-ku meronta-ronta. Raka itu paling anti ninggalin kantor di jam sibuk, kecuali ada urusan bisnis miliaran. Tapi tadi itu? Dia bahkan gak bawa tas kerja, cuma kunci mobil yang dicengkeram kuat sampai buku jarinya memutih. ​"Rei, aku izin bali
Last Updated: 2026-03-03
Chapter: bab 21
​Hujan belum juga reda ketika mobil Reisa berhenti di depan rumahnya. Reisa termenung menatap kaca mobil yang basah karena hujan. Matanya sembap. Aku turut prihatin dengan keadaannya. ​Aku menepuk pundaknya pelan. "Aku antar kamu ke kamar ya," dia diam, hanya mengangguk. ​Dia menarik napas panjang, menutupi wajahnya dengan sedikit riasan, dan memakai kacamata untuk menutupi matanya. Dia tersenyum keluar dari mobil. Aku tahu senyumnya palsu. ​Seperti biasa, Om Ivan duduk di kursi teras rumahnya. "Baru pulang, Ei?" ​Reisa mengangguk tersenyum. "Iya Pah, biasa nostalgia." Dia bergegas masuk ke dalam rumah. ​"Mari, Om," aku menyapa singkat Om Ivan. ​Di dalam kamar, tangis Reisa pecah tanpa suara. ​"Makasih ya, Nad, sudah nemenin aku hari ini." ​"Gak masalah. Tapi Rei, maaf banget aku gak bisa lama-lama. Apalagi sekarang sudah malam, kamu juga butuh waktu buat istirahat. Aku sudah mastiin kamu selamat sampai rumah. Aku pulang sekarang gak apa-apa, kan?" ​Reisa mengangguk. "Iya Na
Last Updated: 2026-03-03
Chapter: bab 20
​Seperti yang direncanakan sebelumnya, aku dan Reisa berada di depan kantor Erik bekerja. Kata Reisa, Erik selalu pulang jam delapan malam karena dia suka mengambil lemburan. ​Pulang kerja kami bergegas ke sini, di kafe depan kantor Erik. Reisa punya beberapa kontak teman Erik yang kebetulan salah satu dari mereka sedang kerja lembur dengan Erik. Jadi setelah Erik pulang, temannya lah yang akan memberitahu Reisa. ​Masih terlalu lama untuk masuk ke jam delapan. Aku sedang sibuk menyantap makanan yang aku pesan sebelumnya. Reisa sedang sibuk dengan ponselnya. Sedangkan aku jelas enggak punya ponsel. ​Semoga saja ini cepat selesai, aku ingin cepat pulang. Aku yakin Raka pasti sedang uring-uringan sekarang. ​"Sorry ya, Nad, ngerepotin." ​"Reisa kayak ke siapa saja. Santai, aku kan sudah bilang mau bantu kamu." Aku tersenyum tulus pada Reisa. ​"Iya, Nad. Aku enggak tahu lagi harus gimana sekarang, rasanya menyesal banget." ​"Enggak usah dipikirin, kamu fokus saja kita tuntut tanggu
Last Updated: 2026-03-01
Chapter: bab 19
​Di perjalanan pulang aku sempat kepikiran tentang Reisa; sepertinya ini akan menjadi masa-masa sulit untuknya. ​Jam sepuluh malam aku baru saja sampai di apartemen. Aku masih melihat Raka yang sibuk berkutat dengan laptopnya. Aku melangkah mendekat. ​Dia menutup laptopnya dengan keras, lalu menatap tajam padaku. Refleks aku kaget dan menghentikan langkahku. ​"Sama siapa kamu pulang?" ​"Taksi online," jawabku cepat. ​"Kau lihat jam berapa sekarang?" Dia mengetuk jam tangannya. Aku tahu sekarang jam sepuluh, tapi mataku malah melihat arlojiku. ​"Jam sepuluh." ​Dia terlihat kesal, tapi ayolah, aku bukan anak SMA yang jam sembilan harus ada di rumah dan tidur. ​"Cepat masak!" Ya ampun, aku lupa dia tidak mau makan kalau bukan masakanku. Pantas saja dia terlihat kesal. Bodohnya aku. ​Lagipula manja banget sih dia, padahal tinggal beli atau masak mi pakai telur gitu saja ribet. Gimana nanti kalau enggak ada aku? Mungkin dia enggak akan makan seharian. ​Karena dia sudah lapar, ak
Last Updated: 2026-03-01
Chapter: bab 18
Aku duduk di ranjang Reisa melihat dia yang sedang menangis di sampingku. ​"Kenapa, Rei?" ​Ditanya begitu, tangis Reisa malah semakin menjadi. Aku memeluknya, mengusap punggungnya agar dia sedikit tenang. ​"Enggak apa-apa, Rei, lepasin aja. Nangis sepuas kamu kalau itu bikin kamu tenang." ​Reisa terisak, berusaha untuk berbicara, tapi aku terus mengusap punggungnya supaya dia tenang dulu. Sebenarnya aku tidak terlalu berpengalaman dalam hal menenangkan orang yang menangis. Jadi, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. ​"Tarik napas, keluarkan secara perlahan." Aku kasih dia arahan, tapi Reisa malah tersenyum. Dia duduk kembali menghadap ke arahku, mengusap air matanya. Sepertinya dia sudah siap menceritakan semuanya. ​"Nad, please jangan kasih tahu siapa pun tentang hal ini. Aku berani ngasih tahu ke kamu karena kamu sudah terlanjur mendengarkan obrolanku." Belum juga cerita, Reisa sudah mengancamku duluan. Emang aku Mak Rombeng, rahasia apa pun aku sebar-sebar ke semua orang
Last Updated: 2026-03-01
Istri Kecilku

Istri Kecilku

Aku baru saja lulus sekolah, ketika ayahku meminta satu hal yang tak bisa kutolak. Menikah. Bukan dengan pria seusiaku. Melainkan Aksara. Dosen berusia tiga puluh dua tahun. Seorang duda. Ayah dari seorang anak. Pernikahan kami terjadi bukan karena cinta, tapi karena ayahku yang sakit dan wasiat ayahnya yang belum lama meninggal. Dua janji lama yang menyeretku ke hidup yang tak pernah kupilih. Aku hanya berniat bertahan. Tak berharap dicintai. Tak berniat mencintai. Namun hidup bersama Aksara membuat batas itu perlahan runtuh. Dan ketika hatiku mulai goyah, aku sadar satu hal— Aku mungkin istrinya. Tapi bukan satu-satunya perempuan di masa lalunya.
Read
Chapter: bab 42
​Sore itu, Jakarta Selatan lagi mendung-mendungnya, tapi suasana di dalam toko buku besar kawasan Kemang ini justru terasa hangat dan tenang. Aksara sengaja memilih tempat ini karena jauh dari jangkauan mahasiswa-mahasiswa psikologi yang biasanya nongkrong di Depok. Ia ingin menjadi laki-laki biasa sejenak, bukan profesor yang setiap langkahnya dipantau ribuan mata. ​Aksara berjalan santai dengan tangan kiri yang masuk ke saku celana chino-nya, sementara tangan kanannya menggenggam jemari Diana dengan erat. Diana sendiri tampak segar dengan sweater oversized warna krem yang dipadukan dengan celana jins, rambutnya dicepol asal yang justru bikin leher jenjangnya terekspos jelas. ​"Mas, serius deh... Mas ngajak kencan ke toko buku itu sebenernya mau refreshing atau mau nyiksa aku buat baca referensi baru?" goda Diana sambil menarik-narik tangan Aksara menuju lorong Novel Fiksi. ​Aksara terkekeh, suara baritonnya terdengar seksi di antara kesunyian rak buku. Ia menarik Diana mendekat,
Last Updated: 2026-03-03
Chapter: bab 41
Lobi Fakultas Psikologi pagi itu terasa lebih berisik dari biasanya. Kabar bahwa Pak Aksara Pratama—dosen paling perfeksionis se-universitas—datang dengan napas tersengal-sengal dan penampilan yang sedikit "berantakan" menyebar lebih cepat daripada pengumuman nilai ujian akhir. ​Di dalam Ruang Kuliah A, Aksara berdiri di balik podium kayu jati yang kokoh. Ia mencoba mengatur napasnya, membuka laptop dengan gerakan cepat yang tetap diusahakan terlihat elegan. Namun, ia merasa ada yang aneh. Mahasiswa di barisan depan, yang biasanya menunduk khusyuk mencatat setiap kata mutiaranya, kini justru saling lirik dan menahan senyum. ​Aksara berdeham, suara baritonnya menggema lewat pengeras suara. "Selamat pagi semuanya. Maaf saya terlambat lima menit karena ada kendala... teknis di rumah. Mari kita lanjutkan pembahasan mengenai Psikologi Kognitif." ​Seorang mahasiswa cowok di baris tengah, yang memang terkenal berani, mengangkat tangan. "Anu, Pak... maaf memotong. Tapi sepertinya 'kendala
Last Updated: 2026-03-03
Chapter: bab 40
​Cahaya matahari pagi menyelinap dengan kurang ajar melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat, menghujam tepat ke kelopak mata Diana. Ia mengerang, mencoba menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi wajahnya, namun tangannya justru menyentuh sesuatu yang hangat, padat, dan berotot. ​Diana membuka mata satu senti. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah rahang tegas Aksara yang masih terlelap dengan posisi memeluk pinggangnya posesif. Suara napas Aksara yang teratur adalah melodi paling menenangkan, tapi ketenangan itu pecah seketika saat mata Diana melirik jam beker di atas nakas. ​07.15 WIB. ​"MAS AKSARA! BANGUN!" teriak Diana sambil meloncat duduk, membuat kasur pegas mereka berguncang hebat. ​Aksara tersentak, matanya terbuka lebar karena terkejut. "Ada apa? Gempa? Kebakaran?" tanya Aksara dengan suara serak-serak basah khas bangun tidur yang biasanya terdengar seksi, tapi kali ini terdengar seperti lonceng kematian bagi jadwal kuliah. ​"Gempa apanya! Mas ada kelas jam
Last Updated: 2026-03-03
Chapter: bab 39
​Hujan di luar jendela kamar utama kediaman Aksara seolah tidak punya niat untuk reda. Suara rintik yang menghantam kaca menciptakan ritme statis yang justru membuat suasana di dalam ruangan terasa berkali-kali lipat lebih privat. Lampu tidur di sudut kamar yang berpijar kekuningan memberikan siluet hangat, menyamarkan sisa-sisa ketegangan yang biasanya mereka bawa dari koridor kampus yang kaku.​Aksara baru saja keluar dari kamar mandi. Uap hangat masih mengikuti langkah kakinya. Ia hanya mengenakan celana kain panjang berwarna abu-abu gelap, membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos udara dingin dari pendingin ruangan. Rambutnya yang biasanya tertata klimis ala dosen berwibawa, kini basah dan berantakan—sebuah pemandangan yang kalau sampai bocor ke grup WhatsApp mahasiswi, pasti bakal bikin server kampus down seketika.​Di atas tempat tidur besar mereka, Diana tampak tidak terganggu. Ia sedang dalam posisi tengkurap, mengenakan piama satin tipis berwarna marun yang talinya sesekali
Last Updated: 2026-03-01
Chapter: bab 38
Entah bisikan setan darimana tiba-tiba saja Diana ingin berlajar menyetir mobil. Maka di sinilah mereka berada parkiran sepi yang sangat luas.Aksara Pratama, sang dosen psikologi yang biasanya mampu mengendalikan emosi ratusan mahasiswa dengan satu tatapan dingin, kini tampak berkeringat dingin. Di sampingnya, Diana duduk di kursi pengemudi dengan wajah tegang, kedua tangannya mencengkeram lingkar kemudi seolah-olah sedang memegang bom yang siap meledak. ​"Mas... beneran nih? Kalau aku nabrak tiang listrik itu gimana?" bisik Diana, matanya melotot menatap tiang beton di kejauhan. ​Aksara mengembuskan napas panjang, mencoba mempraktikkan teknik pernapasan dalam yang biasa ia ajarkan untuk mengatasi kecemasan. "Diana, tiang itu jaraknya lima puluh meter. Mobil ini tidak akan melompat ke sana kecuali kamu menginjak gas full. Sekarang, injak koplingnya perlahan." ​"Kopling yang mana? Kiri atau tengah?" tanya Diana panik. ​"Kiri, Sayang. Yang paling kiri. Tengah itu rem," jawab Aksar
Last Updated: 2026-03-01
Chapter: bab 37
​Hari Selasa pagi di Fakultas Psikologi tidak pernah terasa seaneh ini bagi Diana. Jika biasanya ia turun dari ojek online di gerbang belakang dengan gerakan gesit layaknya agen rahasia yang takut tertangkap basah, hari ini pemandangannya berubah total. Mobil sedan hitam Aksara berhenti tepat di depan lobi utama—titik paling ramai di mana mahasiswa berkumpul untuk sekadar menyesap kopi atau menyalin tugas teman. ​Aksara mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Diana yang masih mematung sambil memeluk tas ranselnya. "Kenapa? Masih mau menunggu sampai gedung ini sepi?" goda Aksara dengan senyum miring yang sangat menyebalkan sekaligus tampan. ​"Mas... beneran nih? Semua orang melihat ke sini, lho," bisik Diana, matanya melirik ke arah kaca jendela yang transparan. Di luar, Pitaloka sudah melambai-lambai dengan heboh seperti sedang menyambut kedatangan delegasi luar negeri. ​Tanpa menjawab, Aksara keluar dari mobil. Ia berjalan memutar dengan langkah tegap, membuka pintu di sisi Diana,
Last Updated: 2026-03-01
You may also like
Aku Bukan Pelakor
Aku Bukan Pelakor
Romansa · List
4.3K views
Dosenku yang manis
Dosenku yang manis
Romansa · Ummu Hussein
4.3K views
Sweet Chaos
Sweet Chaos
Romansa · rosevita
4.3K views
Sahabat Tapi Cinta
Sahabat Tapi Cinta
Romansa · ALWA
4.3K views
Hasrat Terlarang Tuan CEO
Hasrat Terlarang Tuan CEO
Romansa · Alana Nourah
4.3K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status