ANMELDENAku baru saja lulus sekolah, ketika ayahku meminta satu hal yang tak bisa kutolak. Menikah. Bukan dengan pria seusiaku. Melainkan Aksara. Dosen berusia tiga puluh dua tahun. Seorang duda. Ayah dari seorang anak. Pernikahan kami terjadi bukan karena cinta, tapi karena ayahku yang sakit dan wasiat ayahnya yang belum lama meninggal. Dua janji lama yang menyeretku ke hidup yang tak pernah kupilih. Aku hanya berniat bertahan. Tak berharap dicintai. Tak berniat mencintai. Namun hidup bersama Aksara membuat batas itu perlahan runtuh. Dan ketika hatiku mulai goyah, aku sadar satu hal— Aku mungkin istrinya. Tapi bukan satu-satunya perempuan di masa lalunya.
Mehr anzeigenHujan baru saja berhenti. Diana menatap kosong ke luar jendela rumah sakit. Hanya kegelapan yang ia lihat. Sepi, sunyi, seolah tak ada kehidupan.
Diana menoleh, menatap tubuh ringkih ayahnya yang terbaring lemah di atas ranjang. Suara monitor kesehatan terus memancarkan bunyi bip pelan, memecah keheningan. Diana Aulia, gadis sembilan belas tahun yang baru saja merayakan hari kelulusannya. Bukannya bergembira, Diana justru diliputi kesedihan saat mendapati kondisi ayahnya yang semakin menurun. Dokter telah menjelaskan bahwa Pak Rendra, ayah Diana, mengidap penyakit gagal jantung kongestif. Penyakit yang membuat penderitanya tidak mampu memompa darah secara efektif, sehingga cairan menumpuk di paru-paru dan bagian tubuh lainnya. Dokter juga memberi tahu bahwa penyakit ini tidak dapat disembuhkan, terlebih kondisi Pak Rendra sudah berada di tahap akhir. Kemungkinan sembuh sangat tipis. Harapan hidup Pak Rendra hanya tinggal beberapa minggu, atau bahkan mungkin hanya hitungan hari. Satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah berdoa, berharap ada keajaiban. Baru saja Diana hendak merebahkan tubuhnya di sofa, suara ketukan pintu mengusik. Tak lama kemudian, seorang pria berjas rapi menenteng tas hitam masuk ke dalam ruangan. “Selamat malam, Pak Rendra,” sapa pria itu sambil menunduk sopan, lalu melangkah mendekati ranjang. Rendra tersenyum kecil. “Terima kasih sudah datang ke sini, Herman. Diana, kemarilah, Nak.” Diana menghampiri ayahnya dan duduk di kursi di samping ranjang. Perlahan, tangannya mengelus tangan dingin Pak Rendra. “Perkenalkan, Diana. Ini Herman, notaris Pak Arman.” “Saya Diana Aulia,” ujar Diana sambil tersenyum dan mengangguk pelan. Diana tahu betul siapa Pak Arman. Beliau adalah atasan ayahnya yang meninggal beberapa bulan lalu. Diana sangat menghormatinya, karena hanya beliaulah yang sering membantu keluarga Diana saat berada dalam kesulitan. Herman membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah map berisi surat wasiat Pak Arman. “Herman, biar saya saja yang menjelaskan pada Diana,” ujar Pak Rendra. Herman pun menyerahkan selembar kertas kepada Pak Rendra. “Diana, ini adalah surat wasiat dari Pak Arman. Kamu pasti tahu siapa beliau. Sebelum meninggal, Pak Arman ingin kamu menikah dengan Aksara, anak laki-lakinya.” Darah Diana seakan berhenti mengalir. Matanya melebar. “Apa? Menikah?” “Iya, Nak. Ini demi masa depanmu. Kamu tahu bagaimana kondisi Ayah saat ini. Ayah tidak tahu kapan ajal menjemput. Bisa jadi besok, atau bahkan malam ini.” Diana menatap ayahnya dengan mata sendu. Hatinya berkecamuk, ingin menolak, ingin menentang permintaan itu. Namun di sisi lain, ia tak tega melihat kondisi ayahnya yang kian melemah. “Jangan bilang begitu, Ayah.” “Diana, kita hidup hanya berdua. Lihatlah, bahkan saat Ayah terbaring sekarat pun tak ada sanak saudara yang datang menjenguk. Ibumu? Mungkin dia sudah bahagia dengan keluarga barunya. Siapa lagi yang bisa Ayah percaya?” Rendra menarik napas pelan. “Orang baik yang Ayah percaya telah tiada. Ini pilihan terakhir Ayah, Diana. Ayah tidak tahu harus menitipkanmu kepada siapa lagi selain Aksara.” “Tolong, Nak. Menikahlah dengan Aksara. Setidaknya, saat Ayah meninggal, kamu sudah berada di tangan yang tepat. Percayalah, Aksara adalah pria yang baik, bertanggung jawab, dan penyayang. Ayah tidak akan tenang jika kamu tidak bersamanya.” Diana menunduk dalam. “Tapi aku tidak mengenalnya, Ayah. Aku baru lulus SMA. Aku belum siap menjadi istri. Aku masih punya cita-cita. Aku ingin melanjutkan sekolah.” “Lalu Ayah harus bagaimana, Diana? Apa kamu tidak ingin membiarkan Ayah pergi dengan tenang?” Kalimat itu menusuk hingga ke relung hati Diana. Ia menggigit pelan bibirnya. Hatinya menolak, tetapi ia tak sanggup menyakiti ayahnya. “Bukan begitu, Ayah. Ayah tenang saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku bisa memasak, aku bisa bela diri. Ayah tidak perlu khawatir tentang hidupku. Apa pun bisa aku lakukan sendiri.” Diana menggeleng pelan. “Lagipula, kenapa Ayah pesimis? Aku yakin Ayah bisa sembuh. Kita akan menjalani hidup bersama lagi. Hanya aku dan Ayah.” Diana berusaha menahan air matanya. Ia muak jika harus membicarakan kematian. Walaupun dokter berkata tak ada harapan, salahkah jika ia tetap optimis? “Jangan menyangkal kenyataan, Diana. Kamu tahu sendiri apa yang dokter katakan.” Diana semakin menunduk pilu, jemarinya mengeratkan genggaman pada tangan ayahnya. “Nona Diana,” Herman akhirnya berbicara, “wasiat ini sifatnya tidak memaksa. Namun percayalah, saat Pak Arman membuat wasiat ini, beliau sungguh berharap Anda bisa menikah dengan putranya.” “Wasiat ini bukan hanya untuk memenuhi janji persahabatan antara Pak Rendra dan Pak Arman. Pak Arman tahu betul bahwa Tuan Aksara adalah pria bertanggung jawab yang mampu menjaga Anda dengan baik.” Diana terdiam. Pikirannya riuh. Ia tak mengenal Aksara. Benarkah pria itu sebaik yang mereka katakan? Ataukah ia hanya pria yang tampak baik di luar, namun dingin dan tak berperasaan seperti tokoh-tokoh dalam novel yang sering ia baca? “Apa Ayah tidak bisa memberiku waktu? Untuk mengenal Aksara?” tanyanya pelan. “Waktu Ayah tidak lama lagi, Diana.” Rendra tersenyum lemah. Batuknya kembali pecah. Diana buru-buru mengambil segelas air dan memberikannya. Setelah beberapa teguk, ayahnya kembali berbicara. “Ayah tahu ini mendadak. Tapi Ayah ingin memastikan kamu berada di tangan yang tepat saat Ayah sudah tiada.” Air mata Diana menggenang. Hatinya penuh penolakan. Ia ingin melawan, tetapi bayangan hidup tanpa ayahnya terlalu menakutkan. Selama ini mereka hidup berdua. Ayahnya banting tulang demi memenuhi kebutuhan mereka. Di rumah, Ayah menjadi segalanya. Menggantikan peran Ibu yang telah pergi. Apa pun yang Diana inginkan selalu dipenuhi. Lalu sekarang, saat Ayah meminta satu hal terakhir, apakah ia tega menolaknya? “Kapan aku harus bertemu dengannya?” tanya Diana akhirnya, suaranya hampir tak terdengar. “Besok.” “Percayalah, Nak. Kamu masih bisa melanjutkan studi setelah menikah. Aksara adalah dosen Universitas Indonesia. Dia bisa membimbingmu.” “Besok pulanglah dulu. Persiapkan dirimu. Berdandanlah yang cantik, kenakan pakaian terbaikmu. Dia akan datang ke sini bersama anaknya.” Diana terkejut. “Anaknya?” “Iya. Dia duda. Anaknya berusia tujuh tahun.” Dunia Diana seolah runtuh. Ia baru berusia sembilan belas tahun, baru lulus SMA, dan kini harus menikah dengan seorang duda yang memiliki anak berusia tujuh tahun. Dunia benar-benar seperti sedang mempermainkannya.Sore itu, Jakarta Selatan lagi mendung-mendungnya, tapi suasana di dalam toko buku besar kawasan Kemang ini justru terasa hangat dan tenang. Aksara sengaja memilih tempat ini karena jauh dari jangkauan mahasiswa-mahasiswa psikologi yang biasanya nongkrong di Depok. Ia ingin menjadi laki-laki biasa sejenak, bukan profesor yang setiap langkahnya dipantau ribuan mata. Aksara berjalan santai dengan tangan kiri yang masuk ke saku celana chino-nya, sementara tangan kanannya menggenggam jemari Diana dengan erat. Diana sendiri tampak segar dengan sweater oversized warna krem yang dipadukan dengan celana jins, rambutnya dicepol asal yang justru bikin leher jenjangnya terekspos jelas. "Mas, serius deh... Mas ngajak kencan ke toko buku itu sebenernya mau refreshing atau mau nyiksa aku buat baca referensi baru?" goda Diana sambil menarik-narik tangan Aksara menuju lorong Novel Fiksi. Aksara terkekeh, suara baritonnya terdengar seksi di antara kesunyian rak buku. Ia menarik Diana mendekat,
Lobi Fakultas Psikologi pagi itu terasa lebih berisik dari biasanya. Kabar bahwa Pak Aksara Pratama—dosen paling perfeksionis se-universitas—datang dengan napas tersengal-sengal dan penampilan yang sedikit "berantakan" menyebar lebih cepat daripada pengumuman nilai ujian akhir. Di dalam Ruang Kuliah A, Aksara berdiri di balik podium kayu jati yang kokoh. Ia mencoba mengatur napasnya, membuka laptop dengan gerakan cepat yang tetap diusahakan terlihat elegan. Namun, ia merasa ada yang aneh. Mahasiswa di barisan depan, yang biasanya menunduk khusyuk mencatat setiap kata mutiaranya, kini justru saling lirik dan menahan senyum. Aksara berdeham, suara baritonnya menggema lewat pengeras suara. "Selamat pagi semuanya. Maaf saya terlambat lima menit karena ada kendala... teknis di rumah. Mari kita lanjutkan pembahasan mengenai Psikologi Kognitif." Seorang mahasiswa cowok di baris tengah, yang memang terkenal berani, mengangkat tangan. "Anu, Pak... maaf memotong. Tapi sepertinya 'kendala
Cahaya matahari pagi menyelinap dengan kurang ajar melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat, menghujam tepat ke kelopak mata Diana. Ia mengerang, mencoba menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi wajahnya, namun tangannya justru menyentuh sesuatu yang hangat, padat, dan berotot. Diana membuka mata satu senti. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah rahang tegas Aksara yang masih terlelap dengan posisi memeluk pinggangnya posesif. Suara napas Aksara yang teratur adalah melodi paling menenangkan, tapi ketenangan itu pecah seketika saat mata Diana melirik jam beker di atas nakas. 07.15 WIB. "MAS AKSARA! BANGUN!" teriak Diana sambil meloncat duduk, membuat kasur pegas mereka berguncang hebat. Aksara tersentak, matanya terbuka lebar karena terkejut. "Ada apa? Gempa? Kebakaran?" tanya Aksara dengan suara serak-serak basah khas bangun tidur yang biasanya terdengar seksi, tapi kali ini terdengar seperti lonceng kematian bagi jadwal kuliah. "Gempa apanya! Mas ada kelas jam
Hujan di luar jendela kamar utama kediaman Aksara seolah tidak punya niat untuk reda. Suara rintik yang menghantam kaca menciptakan ritme statis yang justru membuat suasana di dalam ruangan terasa berkali-kali lipat lebih privat. Lampu tidur di sudut kamar yang berpijar kekuningan memberikan siluet hangat, menyamarkan sisa-sisa ketegangan yang biasanya mereka bawa dari koridor kampus yang kaku.Aksara baru saja keluar dari kamar mandi. Uap hangat masih mengikuti langkah kakinya. Ia hanya mengenakan celana kain panjang berwarna abu-abu gelap, membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos udara dingin dari pendingin ruangan. Rambutnya yang biasanya tertata klimis ala dosen berwibawa, kini basah dan berantakan—sebuah pemandangan yang kalau sampai bocor ke grup WhatsApp mahasiswi, pasti bakal bikin server kampus down seketika.Di atas tempat tidur besar mereka, Diana tampak tidak terganggu. Ia sedang dalam posisi tengkurap, mengenakan piama satin tipis berwarna marun yang talinya sesekali


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.