Chapter: 119. Mengantarkan Kepergiannya SelamanyaKini Juliana dan Camila yang bergantian menjaga Adrian. Mereka tidak pernah melihat pria itu dalam keadaan seburuk ini. Tubuhnya lemah, wajahnya pucat, dan bibirnya sering kali hanya menggumam menyebut nama Liora. Terkadang, Adrian terbangun dengan teriakan lirih, memohon maaf kepada sosok yang tidak ada di hadapannya. Matanya kosong, tapi basah oleh air mata yang tak bisa ia bendung.Juliana beberapa kali mencoba menghibur, namun yang terdengar hanyalah permintaan maaf yang diulang-ulang, seakan-akan Adrian terjebak dalam lingkaran penyesalan yang tak berujung.Camila pun ikut tertekan. Terlebih lagi, ancaman Clara kian menghantui mereka. Meski mereka sudah memberikan uang dalam jumlah besar agar mulut Clara tetap terkunci. Namun, itu tidak menghentikan bayangan buruk yang terus menekan mereka.Sementara itu, Gavin tidak tinggal diam. Ia tahu Adrian tidak akan bertahan jika Liora tidak segera kembali. Setelah kedatangan Juliana dan Camila dan diperintahkan untuk mencari Liora, dengan
Terakhir Diperbarui: 2025-08-31
Chapter: 118. Semakin Parah - Cari Liora!Adrian membayar taksi dengan tangan yang gemetar. Napasnya terengah, keringat dingin membasahi pelipisnya. Dengan map cokelat berisi berkas-berkas lama yang ia genggam erat, ia melangkah sempoyongan melewati pintu utama rumah sakit. Setiap langkah terasa seperti menapak di atas duri.Suster yang berjaga di meja depan spontan berdiri. “Tuan Adrian! Astaga, kondisi Anda—”Namun sebelum sempat dipapah, tubuh Adrian sudah goyah. Untung saja Gavin datang tepat waktu. “Tuan!” serunya, segera menahan bahu Adrian agar tidak jatuh. Melihat wajah pucat sang majikan, Gavin panik. “Apa yang Anda lakukan? Seharusnya tetap di kamar, bukan berkeliaran seperti ini!”Adrian tidak menjawab. Matanya hanya menatap map di tangannya, seakan itu lebih penting dari nyawanya sendiri. “Gavin… simpan ini. Tunjukkan ini pada Liora…” suaranya serak, nyaris tak terdengar.Dengan cepat Gavin dan suster memapahnya masuk ke ruang perawatan. Dokter dipanggil tergesa. Setelah diperiksa, hasilnya jelas tubuh Adrian drop
Terakhir Diperbarui: 2025-08-28
Chapter: 117. Ini Akhir Segalanya!Adrian masuk ke rumah dengan langkah terseok, kemejanya kusut, wajah pucat pasi, dan napasnya terengah. Setiap gerakan seperti menyayat tubuhnya, namun tekadnya lebih besar dari rasa sakit. Juliana yang masih terjaga karena diliputi ketakutan akan teror Clara, langsung terkejut melihat sosok anaknya pulang dengan kondisi mengenaskan.“Adrian!” Juliana berlari menghampiri, memegangi lengannya agar tidak jatuh. “Kau kenapa? Kamu sakit? Tubuhmu—”Adrian menepis pelan tangan ibunya pelan namun matanya tajam, penuh dengan sisa amarah dan tekad.“Aku tidak punya waktu, Ma,” suaranya serak. “Aku harus… membuktikan sesuatu. Liora tidak akan percaya kata-kataku begitu saja. Aku harus menunjukkan kebenaran dengan bukti.”“Kebenaran apa?!” Juliana memaksa menahan tubuh Adrian yang hampir roboh. “Kau bahkan hampir tidak bisa berdiri, Adrian. Kau sakit??!”Namun, Adrian sama sekali tidak peduli. Ia menyeret kakinya menuju ruang kerja, meninggalkan Juliana yang panik di belakang.Di ruang kerja, Ad
Terakhir Diperbarui: 2025-08-27
Chapter: 116. Membuktikan SemuanyaAdrian masih terus menatap Liora. Matanya merah karena menahan perasaan.Dan tanpa kata-kata lagi, Liora langsung pergi.“Liora?!” panggil Adrian.Namun Liora sudah berbalik. Tumit sepatunya berderap tegas di lantai, meninggalkan aroma parfum samar yang segera menghilang bersama kepergiannya.Pintu tertutup. Keheningan kembali menyelimuti ruang VIP itu. Gavin yang sejak tadi berdiri kaku di sisi pintu akhirnya bersuara. “Tuan… sebaiknya Anda jangan terlalu memikirkan ucapan Nyonya. Fokuslah dulu pada kondisi tubuh Tuan. Dokter bilang Tuan perlu istirahat penuh. Kalau terus memaksa diri, tubuh Anda—”“Tidak,” potong Adrian dengan suara serak. Ia berusaha bangkit sedikit, menahan nyeri di dadanya. “Aku tidak bisa diam. Aku sudah terlalu lama membiarkan semuanya seakan sudah membaik, sementara Liora… dia hidup dalam kebencian yang kubuat sendiri.”Gavin terdiam, menatap tuannya dengan cemas.Adrian menghela napas berat, lalu meraba dadanya yang sesak. “Kasus persidangan ayahku dan Benned
Terakhir Diperbarui: 2025-08-24
Chapter: 115. Menemui Adrian di Rumah SakitLiora menutup telepon dengan tatapan kosong. Tangannya meremas ponsel begitu kuat. Dadanya terasa sesak, bukan karena khawatir, melainkan karena tekad yang semakin menebal ingin membalaskan dendam.“Ada apa, Liora? Apa yang terjadi?” tanya Bennedict.Liora diam. Dia menggeleng pelan.“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?” Bennedict terus berusaha mengorek informasi.“Maaf, Tuan. Sepertinya aku harus pergi. Terima kasih untuk informasinya. Sekarang aku tahu harus melakukan apa. Apapun yang sebenarnya terjadi, biar aku yang akan mengungkapkan semuanya nanti,” jelas Liora tegas.Bennedict kecewa. Tapi tidak bisa memaksa. Dia khawatir Liora curiga. Akan tetapi, dia puas karena sudah bisa mengarang cerita tentang kematian ibu Liora dan mengalihkan kesalahannya pada Adrian.Saat itu juga Liora pamit. Tatapan pria tua itu penuh harap, seolah ingin mengatakan sesuatu lagi. Namun Liora hanya menunduk, melangkah cepat, dan meninggalkan panti.Di dalam taksi, Liora menatap jalanan yang ramai. "Aku
Terakhir Diperbarui: 2025-08-23
Chapter: 114. Kematian Ibu LioraKeesokan harinya, Liora tetap pergi ke panti. Ia belum tahu kabar Adrian sama sekali. Tak ada media yang menyorot, karena dunia berita sedang dipenuhi kasus penangkapan bisnis ilegal yang menyita perhatian publik.Saat Liora sibuk membantu anak-anak menata mainan, seorang pria paruh baya datang ditemani asistennya. Penampilannya rapi, tenang, dengan tatapan yang lembut tapi penuh wibawa.Pria itu dan asistennya langsung menemui ibu pengurus panti di ruang kerja. Sepertinya mereka ingin berdonasi. Liora tersenyum dengan pemikirannya itu. Dia berharap semoga panti itu akan tetap sejahtera, walaupun mungkin nanti Adrian akan menarik dananya.Setelah perbincangan itu selesai, Liora masuk ke dalam ruangan untuk mengantarkan minum untuk tamu.Namun, pria itu terlihat syok dan terpaku menatap Liora.“Ka- kamu? Liora kan?”Liora bingung. “Saya? Ada apa, Tuan? Apa kita kenal sebelumnya?” tanyanya sopan, sambil meletakkan teh di atas meja.“Bukankah kamu istri Adrian?” tanya Bennedict, yang pur
Terakhir Diperbarui: 2025-08-22
Chapter: 215. TAMAT Season 2 (Cinta yang Sempurna)Setelah penantian panjang. Hari itu datang juga. Matahari bersinar lembut ketika Livy terbangun dengan rasa yang tak asing namun tetap menggetarkan, kontraksi. Namun, ia dan Kay tetap tenang. Tak ingin membuat anak-anak kepikiran dan ikut panik.Sampai mereka berangkat ke sekolah, barulah Kay memanggil Bibi Eden, dan dalam waktu singkat mereka sudah dalam perjalanan ke rumah sakit.Prosesnya tak seberat yang dulu, tapi Livy tetap memeras tenaga dan air mata untuk menghadirkan buah hati mereka ke dunia. Kay menggenggam tangannya erat, mencium keningnya berulang kali dan membisikkan dukungan. Penuh cinta. “Kita akan segera bertemu dengan putri kecil kita…”Dan akhirnya, suara tangis nyaring pecah di ruang operasi bersalin. Seorang bayi mungil dengan pipi kemerahan dan rambut hitam lebat lahir dengan sehat. Dokter mengangkatnya, menunjukkan pada Livy dan Kay yang sudah berlinang air mata. “Selamat, anak perempuannya sehat,” ucap sang dokter.Kay tersenyum lega, menatap Livy yang juga men
Terakhir Diperbarui: 2025-07-02
Chapter: 214. Memberitahu Kabar BahagiaKay berdiri di ambang pintu kamar matanya bertemu dengan Livy yang sedang bersandar di sandaran tempat tidur. Wajah istrinya itu tampak lelah, namun tetap bersinar. Senyuman lembut tersungging di bibirnya begitu melihat Kay muncul.“Kamu ya?” ucap Kay menggoda. “Sudah sakit, masih saja menggoda. Masih saja tersenyum.”Kay terkekeh. Dia menghampiri, duduk di sisi tempat tidur dan menggenggam tangan istrinya. “Sudah sarapan?” Tangannya mengusap pipi Livy dengan lembut. “Aku sudah pulang, ayo kita ke rumah sakit.”Livy mengangguk pelan. “Aku sudah makan, kok. Tapi… sebelum kita pergi, ada sesuatu yang ingin aku berikan ke kamu dulu.”Kay mengernyit. “Apa Sayang?” tanyanya dengan mata menyipit penuh tanya.Livy tersenyum penuh misteri. “Ambil deh sesuatu di laci nakas. Di dalam kotak obat.”Kay pun bangkit, membuka laci kecil di samping tempat tidur. Ia melihat sebuah kotak obat mungil dan mengangkatnya. Saat dia hendak bertanya lagi, Livy hanya menunjuk, menyuruhnya membuka sendiri.Deng
Terakhir Diperbarui: 2025-07-02
Chapter: 213. Memberanikan untuk Test PackWaktu berjalan, hari berganti.Di suatu pagi, berbeda dari biasanya. Rumah yang biasanya dipenuhi keceriaan Livy dan langkah sibuknya menyiapkan sarapan, kini terasa sedikit hening. Livy masih terbaring di tempat tidur, tubuhnya terasa lemas sejak dini hari. Ia sempat bangun untuk memastikan anak-anaknya siap, tapi Kay memintanya untuk tetap beristirahat.“Aku akan urus semuanya,” ucap Kay seraya menyelimutinya lebih rapat. “Kalau masih belum enak badan, nanti aku bawa ke dokter.”Livy hanya mengangguk pelan. Wajahnya sedikit pucat, dan napasnya terdengar berat, meski ia terus memaksakan senyum agar tidak membuat Kay khawatir. Tapi Kay tahu—istrinya itu sedang tidak baik-baik saja.Kay pun turun ke bawah, memastikan semuanya siap. Bibi Eden sudah mengambil alih dapur dan menyajikan sarapan untuk mereka.“Bi… tolong bantu anak-anak, ya?” ucap Kay.“Bagaimana kabar Nyonya Livy, Tuan?”“Mudah-mudahan baik-baik saja. Mungkin butuh istirahat lebih,” jawab Kay.Albern yang kini duduk di kel
Terakhir Diperbarui: 2025-07-01
Chapter: 212. Projek Membuat AdikKay masih tergelak, namun ia kembali mengalihkan pandangannya pada Albern. "Tapi Alice memang cantik, ya?" godanya lagi, mencoba memancing reaksi putranya. Albern hanya diam, sibuk mengunyah makanannya. Elian yang melihat kakaknya bungkam, langsung meledek. "Cieee, Kakak Albern malu-malu mau ngaku!" Livy tersenyum melihat interaksi mereka. Ia memutuskan untuk menengahi. "Berteman baik sama orang yang baik itu sangat boleh, kok. Mau laki-laki ataupun perempuan, yang penting kalian harus tetap fokus belajar, ya? Kalian masih terlalu kecil untuk cinta-cintaan." Livy memberikan nasihat dengan lembut. “Iya Ma. Nih si Dino banyak bicara!” gumam Albern menatap adiknya kesal. Elian pun hanya tertawa. Kay yang tampaknya terinspirasi dari percakapan itu, tiba-tiba melontarkan pertanyaan. "Oh ya, kalau semisal kalian punya adik perempuan, bagaimana?" Albern langsung menatap ayahnya datar, ekspresinya sulit dibaca. Sementara Elian menjawab cepat dan penuh semangat, "Mauuuu!" Albern kemudi
Terakhir Diperbarui: 2025-06-30
Chapter: 211. Ayah VS AnakLangit di luar jendela mulai bersemburat jingga, perlahan berubah menjadi gelap. Lampu-lampu di dalam rumah sudah dinyalakan, memancarkan kehangatan. Di ruang tamu, tawa renyah Alice dan teman-teman Albern mulai terdengar, menandakan bahwa tugas kelompok mereka akhirnya selesai.Albern muncul di dapur, di mana Livy dan Bibi Eden sedang sibuk menyiapkan makan malam. Aroma masakan yang sedap memenuhi ruangan. Livy sedang mengaduk sayur di wajan, sementara Bibi Eden sibuk memotong-motong bahan."Ma," panggil Albern, suaranya sedikit lega. "Tugasnya sudah selesai. Teman-temanku sudah mau pulang," ucapnya.Livy menoleh, tersenyum melihat putranya. "Oh, sudah selesai? Baguslah," katanya. "Sebentar ya, Mama panggil Papa dulu,” ucapnya.“Tidak usah, Ma. Mama saja,” ucap Albern.“Kenapa?” tanya Livy.“Papa rese!” jawab Albern pelan.Livy pun terkekeh. Dia langsung merangkul bahu Albern, untuk melangkah menemui teman-temannya. "Baiklah, baiklah. Kalau gitu, ayo kita temui teman-temanmu."Saat L
Terakhir Diperbarui: 2025-06-29
Chapter: 210. Gosip tentang Albern dan AliceLivy tersenyum tipis, matanya lekat mengamati Albern, putra sulungnya, yang sedang serius dengan kerja kelompok. Suasana di antara Albern dan teman-temannya agak canggung, terutama saat Alice, teman perempuannya yang tampak paling dominan, mulai menjelaskan tugas mereka. Albern terlihat tenang, sesekali mengangguk, namun Livy bisa melihat ada sedikit kegugupan yang coba disembunyikan putranya.Ketika Alice tiba-tiba menyebut nama Albern dan mengajukan pertanyaan, Livy melihat bahu putranya sedikit menegang. Albern menjawab dengan suara yang sedikit lebih pelan dari biasanya, sesekali melirik Alice lalu buru-buru mengalihkan pandangan. Rasanya lucu melihat putra remajanya yang biasanya tegas dan berani mendadak jadi salah tingkah.Tiba-tiba, sebuah suara kecil mengagetkan Livy. Elian, sudah berdiri tepat di belakangnya, entah sejak kapan. "Mama sedang apa?" bisik Elian, membuat Livy sedikit terlonjak.Livy menoleh sambil tersenyum. "Eh, kamu. Mama lagi lihat Kak Albern kerja kelompok,"
Terakhir Diperbarui: 2025-06-29