Chapter: 135. Say My Name! (END)Juliana pun datang ke ruang tamu itu. Yang awalnya ingin mengantar keberangkatan Luca, kini dia pun terkejut dengan kemunculan sosok itu.“Crhis?” ucap Juliana. “Ngapain kamu datang ke sini?! Pergi!” usirnya.Gavin dan Luca tampak bingung. Sebab mereka tidak tahu siapa pria yang muncul itu. Namun, satu hal yang membuat Gavin menyadari. Wajah pria itu terlihat menurunkan kemiripan di wajah Luca, walau sangat sedikit. Ia pun reflek menatap pada Camila.Adrian menatap pria itu dengan tatapan dingin.“Kak… aku ingin menebus kesalahanku…”“Tidak perlu!” tegas Adrian.“Aku ingin bertemu anakku,” ucap pria itu lagi.“Luca… kembali ke kamarmu,” ucap Camila reflek.Pria itu pun menatap Luca. “Ja- jadi… dia sudah sangat besar?” tanya pria bernama Chris itu.“Dia bukan anakmu!” tegas Adrian.Camila mulai goyah. Dia terduduk, seolah kakinya tidak kuat menopang dirinya. Sedangkan Luca, dia masih berdiri di sana. Merasa cukup dewasa untuk mendengar semuanya.“Camila, dengarkan aku. Dari awal, aku i
Terakhir Diperbarui: 2026-01-12
Chapter: 134. Kedatangan Seorang PriaKebahagiaan keluarga Ashton lengkap sudah. Juliana bahkan merasa dia adalah ibu sekaligus nenek yang paling sempurna di kehidupan ini. Dia juga sangat menyayangi Liora. Seolah tidak pernah terjadi kekejaman dan penolakan yang dia lakukan saat awal bertemu dengannya.Kini mereka tinggal kembali di rumah kebesaran keluarga Ashton. Di kamar Adrian yang dulu menjadi saksi kekejaman, kedinginan dan dominasi pria egois itu. Namun, tentu saja semua kamar itu telah direnovasi, diperluas hingga terhubung dengan kamar bayi di sebelah. Ya, kamar Nouval dan Naomi.Tidak terasa usia si kembar hampir genap satu bulan. Keduanya sangat sehat dengan asi yang cukup. Liora memilih untuk menyusui mereka secara langsung. Itu adalah momen hebat yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Ikatan antara dirinya dengan anak kembarnya terasa sangat intim dan hangat. Ia tidak bisa jelaskan dengan kata-kata.Hari ini, Luca juga akan kembali ke asramanya setelah diundur beberapa hari karena dia masih ingin bersam
Terakhir Diperbarui: 2026-01-12
Chapter: 133. Detik-Detik Menegangkan dan KeharuanTidak terasa waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Liora sudah masuk ruang operasi. Adrian mendampingi Liora. Apapun akan dia lakukan, meski sebenarnya dia pun sangat amat jantungan.Lampu neon di koridor rumah sakit terasa lebih terang dan dingin dari biasanya. Bagi Adrian Ashton, detik yang berlalu terasa seperti jam yang merayap. Di sampingnya, di atas ranjang rumah sakit yang didorong cepat menuju ruang operasi, Liora terbaring dengan napas yang memburu.Tangan Adrian tidak sedetik pun melepas genggaman istrinya. Ia bisa merasakan keringat dingin di telapak tangan Liora, sebuah kontras dari keberanian yang biasanya terpancar dari mata wanita itu.Suasana di dalam ruang operasi begitu steril dan hening, hanya interupsi oleh bunyi beep ritmis dari monitor jantung yang seolah memacu adrenalin Adrian. Ia telah mengenakan pakaian bedah lengkap, duduk di dekat kepala Liora, berusaha menjadi jangkar di tengah badai kecemasan."Adrian..." bisik Liora lemah, matanya berkaca-kaca menatap lan
Terakhir Diperbarui: 2026-01-12
Chapter: 132. Tiba-Tiba Salah TingkahWaktu berlalu, kabar kehamilan kembar membuat seluruh keluarga Ashton hidup dalam babak kebahagiaan yang baru. Namun masih ada satu orang lagi yang belum tahu apa-apa, yaitu Luca.Hari ini Luca dijemput dari asrama. Sebenarnya Adrian ingin menjemput anak itu bersama Liora, tapi dokter melarang Liora bepergian terlalu jauh. Adrian pun keras kepala: “Kalau Liora tidak ikut, aku juga tidak akan pergi.” Akhirnya, solusinya adalah Camila yang menjemput putranya sendiri, dikawal oleh Gavin sebagai sopir — tentu atas perintah penuh dari Adrian.***Di dalam mobil, Gavin menyetir dengan tenang. Camila duduk di sampingnya sambil menatap pemandangan.Tak biasanya, mobil itu sunyi hingga Gavin membuka suara duluan.“Nona Camila… ini pertama kalinya saya bertugas khusus untuk Anda.”Camila mengangkat alis.“Biasanya kamu sibuk menempel ke Kakakku.”Gavin tersenyum kecil.“Ya haha, tapi sebenarnya tugas saya lebih dari mendampinginya, justru bisa juga mendampingi Nona” jawabnya ringan.Keheningan
Terakhir Diperbarui: 2025-12-08
Chapter: 131. Keharuan dari Hasil USGSatu bulan berlalu.Rumah keluarga Ashton yang dulu penuh tekanan kini berubah menjadi tempat hangat terutama bagi Liora. Kamar yang sebelumnya menjadi saksi ketakutan dan air matanya kini telah direnovasi total oleh Adrian. Dinding-dinding yang dulu gelap berganti dengan warna krem lembut, tirai putih transparan membiarkan sinar matahari masuk setiap pagi, dan di sudut ruangan ada sofa mungil dengan selimut rajut yang dipilih Juliana sendiri untuk kenyamanan Liora.Kini kamar itu terasa menjadi tempat paling aman bagi seorang ibu hamil.Dan sejak pindah, Adrian resmi menjelma menjadi satpam pribadi. Bahkan lebih dari itu.Liora baru hendak berdiri dari tempat tidur, langsung disergap.“Duduk.”“Adrian, aku cuma mau ambil air minum.”“Aku yang ambil.”“Tapi gelasnya di sebelahku.”Adrian menggeser badan, mengambil gelas satu centimeter dari tangan Liora dengan ekspresi yang sangat serius. “Tetap. Kamu duduk.”Liora hanya bisa menatap suaminya dengan ekspresi setengah geli, setengah le
Terakhir Diperbarui: 2025-12-07
Chapter: 130. Akhir Segalanya, Awal yang BaruAdrian menatap Liora lama, seolah ingin memastikan bahwa ia tak sendiri dalam keputusan besarnya. Liora hanya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis, memberi dukungan tanpa suara.Dengan tarikan napas berat, Adrian akhirnya memiringkan tubuhnya dan meraih Liora dalam pelukan. Ia mendekap istrinya erat, seakan meyakinkan dirinya untuk memaafkan keluarganya.Liora membalas pelukan itu tanpa ragu. Tangannya mengusap pelan punggung Adrian, menyalurkan kekuatan tanpa satu kata pun.Setelah beberapa saat, Adrian menarik napas dan melepaskan pelukan Liora perlahan. Ia menoleh pada ibunya.Dengan sisa tenaga, ia maju dan memeluk Juliana.Wanita itu langsung pecah dalam tangis, tubuhnya bergetar hebat.“Aku maafkan Mama…” lirih Adrian.“Terima kasih… Nak… terima kasih…” katanya berulang-ulang sambil membenamkan wajah di bahu putranya. Pelukan itu bukan hanya permintaan maaf—itu adalah penyerahan diri seorang ibu yang akhirnya benar-benar rela.Tak lama kemudian, Camila yang sejak tadi berdiri
Terakhir Diperbarui: 2025-10-02
Chapter: 215. TAMAT Season 2 (Cinta yang Sempurna)Setelah penantian panjang. Hari itu datang juga. Matahari bersinar lembut ketika Livy terbangun dengan rasa yang tak asing namun tetap menggetarkan, kontraksi. Namun, ia dan Kay tetap tenang. Tak ingin membuat anak-anak kepikiran dan ikut panik.Sampai mereka berangkat ke sekolah, barulah Kay memanggil Bibi Eden, dan dalam waktu singkat mereka sudah dalam perjalanan ke rumah sakit.Prosesnya tak seberat yang dulu, tapi Livy tetap memeras tenaga dan air mata untuk menghadirkan buah hati mereka ke dunia. Kay menggenggam tangannya erat, mencium keningnya berulang kali dan membisikkan dukungan. Penuh cinta. “Kita akan segera bertemu dengan putri kecil kita…”Dan akhirnya, suara tangis nyaring pecah di ruang operasi bersalin. Seorang bayi mungil dengan pipi kemerahan dan rambut hitam lebat lahir dengan sehat. Dokter mengangkatnya, menunjukkan pada Livy dan Kay yang sudah berlinang air mata. “Selamat, anak perempuannya sehat,” ucap sang dokter.Kay tersenyum lega, menatap Livy yang juga men
Terakhir Diperbarui: 2025-07-02
Chapter: 214. Memberitahu Kabar BahagiaKay berdiri di ambang pintu kamar matanya bertemu dengan Livy yang sedang bersandar di sandaran tempat tidur. Wajah istrinya itu tampak lelah, namun tetap bersinar. Senyuman lembut tersungging di bibirnya begitu melihat Kay muncul.“Kamu ya?” ucap Kay menggoda. “Sudah sakit, masih saja menggoda. Masih saja tersenyum.”Kay terkekeh. Dia menghampiri, duduk di sisi tempat tidur dan menggenggam tangan istrinya. “Sudah sarapan?” Tangannya mengusap pipi Livy dengan lembut. “Aku sudah pulang, ayo kita ke rumah sakit.”Livy mengangguk pelan. “Aku sudah makan, kok. Tapi… sebelum kita pergi, ada sesuatu yang ingin aku berikan ke kamu dulu.”Kay mengernyit. “Apa Sayang?” tanyanya dengan mata menyipit penuh tanya.Livy tersenyum penuh misteri. “Ambil deh sesuatu di laci nakas. Di dalam kotak obat.”Kay pun bangkit, membuka laci kecil di samping tempat tidur. Ia melihat sebuah kotak obat mungil dan mengangkatnya. Saat dia hendak bertanya lagi, Livy hanya menunjuk, menyuruhnya membuka sendiri.Deng
Terakhir Diperbarui: 2025-07-02
Chapter: 213. Memberanikan untuk Test PackWaktu berjalan, hari berganti.Di suatu pagi, berbeda dari biasanya. Rumah yang biasanya dipenuhi keceriaan Livy dan langkah sibuknya menyiapkan sarapan, kini terasa sedikit hening. Livy masih terbaring di tempat tidur, tubuhnya terasa lemas sejak dini hari. Ia sempat bangun untuk memastikan anak-anaknya siap, tapi Kay memintanya untuk tetap beristirahat.“Aku akan urus semuanya,” ucap Kay seraya menyelimutinya lebih rapat. “Kalau masih belum enak badan, nanti aku bawa ke dokter.”Livy hanya mengangguk pelan. Wajahnya sedikit pucat, dan napasnya terdengar berat, meski ia terus memaksakan senyum agar tidak membuat Kay khawatir. Tapi Kay tahu—istrinya itu sedang tidak baik-baik saja.Kay pun turun ke bawah, memastikan semuanya siap. Bibi Eden sudah mengambil alih dapur dan menyajikan sarapan untuk mereka.“Bi… tolong bantu anak-anak, ya?” ucap Kay.“Bagaimana kabar Nyonya Livy, Tuan?”“Mudah-mudahan baik-baik saja. Mungkin butuh istirahat lebih,” jawab Kay.Albern yang kini duduk di kel
Terakhir Diperbarui: 2025-07-01
Chapter: 212. Projek Membuat AdikKay masih tergelak, namun ia kembali mengalihkan pandangannya pada Albern. "Tapi Alice memang cantik, ya?" godanya lagi, mencoba memancing reaksi putranya. Albern hanya diam, sibuk mengunyah makanannya. Elian yang melihat kakaknya bungkam, langsung meledek. "Cieee, Kakak Albern malu-malu mau ngaku!" Livy tersenyum melihat interaksi mereka. Ia memutuskan untuk menengahi. "Berteman baik sama orang yang baik itu sangat boleh, kok. Mau laki-laki ataupun perempuan, yang penting kalian harus tetap fokus belajar, ya? Kalian masih terlalu kecil untuk cinta-cintaan." Livy memberikan nasihat dengan lembut. “Iya Ma. Nih si Dino banyak bicara!” gumam Albern menatap adiknya kesal. Elian pun hanya tertawa. Kay yang tampaknya terinspirasi dari percakapan itu, tiba-tiba melontarkan pertanyaan. "Oh ya, kalau semisal kalian punya adik perempuan, bagaimana?" Albern langsung menatap ayahnya datar, ekspresinya sulit dibaca. Sementara Elian menjawab cepat dan penuh semangat, "Mauuuu!" Albern kemudi
Terakhir Diperbarui: 2025-06-30
Chapter: 211. Ayah VS AnakLangit di luar jendela mulai bersemburat jingga, perlahan berubah menjadi gelap. Lampu-lampu di dalam rumah sudah dinyalakan, memancarkan kehangatan. Di ruang tamu, tawa renyah Alice dan teman-teman Albern mulai terdengar, menandakan bahwa tugas kelompok mereka akhirnya selesai.Albern muncul di dapur, di mana Livy dan Bibi Eden sedang sibuk menyiapkan makan malam. Aroma masakan yang sedap memenuhi ruangan. Livy sedang mengaduk sayur di wajan, sementara Bibi Eden sibuk memotong-motong bahan."Ma," panggil Albern, suaranya sedikit lega. "Tugasnya sudah selesai. Teman-temanku sudah mau pulang," ucapnya.Livy menoleh, tersenyum melihat putranya. "Oh, sudah selesai? Baguslah," katanya. "Sebentar ya, Mama panggil Papa dulu,” ucapnya.“Tidak usah, Ma. Mama saja,” ucap Albern.“Kenapa?” tanya Livy.“Papa rese!” jawab Albern pelan.Livy pun terkekeh. Dia langsung merangkul bahu Albern, untuk melangkah menemui teman-temannya. "Baiklah, baiklah. Kalau gitu, ayo kita temui teman-temanmu."Saat L
Terakhir Diperbarui: 2025-06-29
Chapter: 210. Gosip tentang Albern dan AliceLivy tersenyum tipis, matanya lekat mengamati Albern, putra sulungnya, yang sedang serius dengan kerja kelompok. Suasana di antara Albern dan teman-temannya agak canggung, terutama saat Alice, teman perempuannya yang tampak paling dominan, mulai menjelaskan tugas mereka. Albern terlihat tenang, sesekali mengangguk, namun Livy bisa melihat ada sedikit kegugupan yang coba disembunyikan putranya.Ketika Alice tiba-tiba menyebut nama Albern dan mengajukan pertanyaan, Livy melihat bahu putranya sedikit menegang. Albern menjawab dengan suara yang sedikit lebih pelan dari biasanya, sesekali melirik Alice lalu buru-buru mengalihkan pandangan. Rasanya lucu melihat putra remajanya yang biasanya tegas dan berani mendadak jadi salah tingkah.Tiba-tiba, sebuah suara kecil mengagetkan Livy. Elian, sudah berdiri tepat di belakangnya, entah sejak kapan. "Mama sedang apa?" bisik Elian, membuat Livy sedikit terlonjak.Livy menoleh sambil tersenyum. "Eh, kamu. Mama lagi lihat Kak Albern kerja kelompok,"
Terakhir Diperbarui: 2025-06-29