Mag-log inDemi pengobatan ibunya, Keyla terpaksa harus menerima tawaran Benedict untuk menjadi pacarnya dengan imbalan uang. Hubungan saling menguntungkan atas dasar uang itu semakin rumit saat orang tua Ben menemukan mereka berdua tinggal bersama di apartemen milik Ben. Dan mereka berdua dipaksa menikah. Bagaimana bisa mereka menikah di keduanya masih berstatus murid SMA? Apa Benedict dan Keyla sanggup mengatasi masalah mereka dalam biduk rumah tangga di usia mereka yang masih belia?
view moreSekarang Keyla dan Benedict duduk di ruang makan. Duduk berhadapan di meja makan apartement Benedict yang sudah di penuhi makanan. Berbagai macam masakan tersaji di meja berbahan kaca tersebut, entah dari mana asal makanan sebanyak ini, Keyla tidak tahu. Yang pasti Ben membelinya atau apa. Keyla menyendok makan di piringnya. Tidak langsung melahap makananya, gadis itu malah berhenti dan menatap Benedict yang kini sibuk dengan makanan yang berada di piringnya. Mungkin cowok itu merasa jika Keyla tengah menatapnya, mengangkat kepalanya, Benedict bertanya."Kenapa? Nggak suka ya?" Cowok itu ikut menghentikan acara makannya dan menegakkan posisi duduknya untuk menatap Keyla. "Enggak kok." Keyla menggelengkan kepalanya cepat dan salah tingkah, "ini enak." Tambah gadis itu lagi, kali ini merasa bersalah. "Terus kenapa nggak makan?" Tanya Ben lagi dengan kening mengerut, menatap gadis di hadapannya itu dengan netranya yang tajam. "Im just.." jawab Keyla terputus, bingung harus bagaimana
"Gue mau ganti baju dulu." Menunjukkan ke arah kamar yang dia tempati, Keyla menatap Ben yang kini mengangguk. "Oke," kata Benedict setuju. "Jangan lama-lama ya, kita perlu sarapan, elo pasti laper kan."Gantian, kali ini Keyla yang menganggukkan kepala kepada cowok itu untuk menanggapi ucapannya. Berjalan meninggalkan area kamar mandi, Keyla melintasi kamar Benedict dengan langkah cepat. Melirik sekilas ke arah ranjang yang tampak berantakan tanpa dengan sprei putih yang tadi dia lihat kini sudah menghilang. Keyla memilih untuk mengabaikannya dan masuk kedalam kamar melalui pintu yang menghubungkan antara kamar Ben dan kamarnya. Ah, sial. Akhirnya dia benar-benar sendirian sekarang. Batin Keyla kesenangan saat dirinya kini bisa menjauh dari Benedict. Berjalan menghampiri ranjang yang dia tidak dia tiduri semalam, gadis itu menghempaskan tubuhnya di sana. Sangat nyaman. Batin gadis itu sekali lagi, membenamkan kepalanya ke bantal dan memejamkan matanya. Ini seperti di dunia mimp
Masih menggunakan jubah mandi, Keyla duduk di kursi kecil yang berada di depan wastafel. Menghadap ke kaca besar dengan Benedict di belakangnya. Cowok yang juga masih menggenakan jubah mandi sepertinya itu bersikeras untuk membantunya mengeringkan rambut Keyla dengan hairdryer. "Gue bisa sendiri." Kata-kata itu entah sudah terasa sangat tidak asing di antara mereka, dan entah berapa puluh Keyla mengatakannya. Dan begitu pula dengan Benedict, cowok keras kepala itu terus memaksakan kehendak, dan melakukan apapun yang dia suka. Termasuk mengeringkan rambut Keyla. "Diem aja, biar gue yang kerja." Kata Ben santai, dan seolah pekerja profesional mulai mengeringkan rambut Keyla. Membuat gadis itu menghela napas panjang. Suara bising dari hairdryer yang menyala memenuhi indra penndengaran mereka. "Elo ini vampir atau apasih." Gumam Keyla saat mengamati bayangannya di cermin, membuat Ben yang tidak paham dengan arah pembicaraan gadis di hadapannya itu menatap ke depan, mereka sa
Mendengar jeritan Keyla, membuat Benenict yang tengah sibuk dengan sprei bernoda darah itu tersentak kaget saking terkejutnya. Melempar gulungan kain di tangannya itu ke keranjang tempat pakaian kotor, sebelum akhirnya melesat cepat, berlari menuju kamar mandi tempat dimanaya gadis itu tengah berada. Apa yang terjadi? Di lihat dari cara gadis itu berteriak, sepertinya itu adalah sesuatu yang benar-benar buruk, Karena Ben tahu jika Keyla bukan gadis yang suka membesar-besarkan masalah. Memikirkan hal itu membuat jantung Benedict berdegup kencang, meraih handle pintu kamar mandi, cowok itu dengan cepat pintu kaca tersebut dan masuk kedalam. "What happened?" Tanya Benedict saat melangkah masuk ke dalam kamar mandi, mengamati Keyla yang tengah berdiri di dekat bath up. Cowok itu cukup terkejut saat matanya menemukan Keyla sudah telanjang bulat. Suara Benedict hanya membuat Keyla bertambah histeris. Gadis itu spontan berusaha menutupi dada dan pangkal pahanya dengan kedua tangannya. "






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore