
Menyesal Setelah Bercerai : Suamiku Ternyata Kaya Raya
Reza pratama yang memiliki nama asli Elreza Arkha Wijaya pernah menjalani hidup dalam bayang-bayang hinaan dan penindasan dari mantan istrinya, Raysa Aulia Widya. Meskipun memberikan mahar sebesar 5 milyar saat menikah, hidup mereka tidak pernah bahagia. Raysa selalu merendahkan Reza karena statusnya sebagai pengangguran, hingga akhirnya menceraikannya dengan alasan malu memiliki suami yang dianggap tidak berguna.
Setelah perceraian yang menyakitkan, Reza menerima warisan besar dari almarhum ayahnya, yang menjadikannya pemilik sebuah mal terkenal dan seorang direktur perusahaan ternama. Dengan kekayaan barunya, Reza merencanakan balas dendam terhadap keluarga Raysa. Namun, ia memilih menyembunyikan identitas dan kekayaannya, berpura-pura menjadi petugas keamanan di mal miliknya sendiri.
Di mal tersebut, Reza bertemu dengan Rivia, seorang SPG yang penuh semangat dan baik hati. Tanpa disangka, Via adalah saudara tiri Raysa. Via juga memiliki dendam tersendiri terhadap keluarganya karena selalu diperlakukan dengan buruk.
Elreza menggunakan via sebagai pion untuk membalas dendam, hingga akhirnya terungkap bahwa gadis yang menyelamatkan hidupnya selama ini bukanlah Raysa, melainkan Rivia.
Read
Chapter: Akhir cerita Eyang Wiryo terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat, dan oksigen di hidungnya membuat semua orang yang hadir semakin khawatir. Suasana ruang perawatan terasa begitu tegang.Di sekelilingnya, berkumpul seluruh anggota keluarga yang selama ini terlibat dalam konflik warisan. Ada Reza, Via, Randi, Johan, Chandra, dan Bima, sang dalang dari semua kekacauan ini.Dengan suara bergetar, Eyang Wiryo berbicara, memecah kesunyian, "Aku tidak pernah membayangkan keluargaku akan berantakan seperti ini... Apa yang kalian semua cari? Harta? Kekuasaan? Apa semua itu lebih berharga dari keluarga kita?"Tak ada yang menjawab. Mereka hanya menunduk, entah karena merasa bersalah atau masih menyimpan amarah masing-masing.Eyang Wiryo menghela napas panjang. "Aku akan mengatakan sesuatu yang harus kalian dengar baik-baik. Reza adalah pemilik sah dari perusahaan keluarga kita. Semua harta yang kalian perebutkan berasal dari suamiku yang pertama, dan Bima... kamu bukan anak dari suami pertama
Last Updated: 2025-02-02
Chapter: Menerima Kenyataan Chandra melangkah dengan cepat menuju kediaman ayahnya, Bima. Pikirannya penuh dengan pertanyaan yang berputar tanpa henti. Fakta bahwa Randi adalah saudara tirinya, dan Johan juga bagian dari skema besar ayahnya, membuatnya tidak bisa diam saja.Saat ia memasuki ruang kerja Bima, pria itu tampak tenang, duduk di balik meja besar dengan segelas teh di tangannya. Seakan tidak ada yang terjadi."Chandra," sapa Bima tanpa ekspresi. "Kau datang dengan wajah penuh amarah. Apa yang kau inginkan?"Chandra mengepalkan tangannya. "Aku ingin jawaban. Aku ingin tahu kenapa kau menyembunyikan fakta bahwa Randi adalah saudaraku! Kenapa kau memalsukan hasil DNA-nya?!"Bima meletakkan gelasnya dengan tenang, lalu menatap Chandra dalam-dalam. "Karena aku tidak pernah berniat mengakui Randi sebagai bagian dari keluarga ini."Chandra terhenyak. "Apa maksudmu?! Dia anakmu!"Bima mendengus kecil. "Dan itu adalah kesalahan yang seharusnya tidak pernah terjadi."Chandra semakin geram. "Bagaimana dengan Joh
Last Updated: 2025-01-31
Chapter: Pengkhianatan Keluarga Setelah Johan berhasil ditangkap, Reza bersama Randi dan Via kembali ke tempat persembunyian mereka. Namun, meski Johan kini berada di tangan pihak berwenang, Reza masih merasa ada sesuatu yang belum selesai. Di tengah malam yang sunyi, Reza duduk di ruang kerja kecilnya, membaca kembali dokumen-dokumen yang mereka sita dari Johan. Namun, semakin ia membaca, semakin ia menyadari bahwa ada sosok lain yang lebih besar di balik ini semua. Nama Bima, pamannya sendiri, terus muncul dalam berbagai transaksi dan laporan rahasia. Reza menggertakkan giginya, tangannya mengepal. "Jadi selama ini… Paman Bima yang mengatur semuanya?" Tiba-tiba, suara ketukan di pintu membuatnya tersadar. Randi masuk dengan wajah penuh kebingungan. "Ada apa, Reza? Kau terlihat tegang," tanya Randi. Reza mengangkat salah satu dokumen dan melemparkannya ke meja. "Lihat ini. Nama Paman Bima ada di setiap transaksi ilegal Johan. Dia bukan hanya mengetahui semua ini, dia adalah dalangnya!" Randi membaca do
Last Updated: 2025-01-29
Chapter: Mulai Bergerak Pagi itu, Reza menerima pesan dari Bayu. Isinya singkat, tetapi cukup membuat adrenalin Reza meningkat."Johan mulai bergerak. Dia tahu tentang dokumen itu. Hati-hati."Reza duduk di kursi, menatap papan penuh strategi di depannya. Ia tahu bahwa Johan tidak akan tinggal diam setelah mengetahui dokumen itu ada di tangan yang aman. Kini, semua yang telah ia persiapkan harus berjalan sempurna, atau semuanya akan sia-sia.Via muncul dari dapur, membawa secangkir teh untuk Reza. Ia menatap wajah Reza yang terlihat semakin lelah namun tetap penuh keyakinan.“Kamu yakin bisa mengatasi ini, Reza?” tanya Via pelan, duduk di depannya.Reza menatap Via dengan tatapan lembut namun penuh tekad. “Aku harus yakin, Via. Kalau aku nggak bergerak sekarang, Johan akan terus menghancurkan segalanya. Aku nggak akan membiarkan itu terjadi.”Via terdiam sejenak, lalu menggenggam tangan Reza. “Kalau kamu butuh bantuan, aku di sini. Jangan terlalu memaksakan diri, Reza.”Reza tersenyum kecil. Sentuhan Via mem
Last Updated: 2025-01-28
Chapter: awal dari akhirMalam itu, Reza duduk di ruang tamu yang remang. Di depannya terdapat tumpukan dokumen penting yang baru saja ia dapatkan dari salah satu informannya. Wajahnya serius, penuh konsentrasi, membaca setiap detail yang bisa menjadi kelemahan Johan.“Reza, apa ini cukup untuk melawan dia?” tanya Randi sambil mendekati meja, pandangannya menyapu dokumen tersebut.“Ini lebih dari cukup,” jawab Reza, menutup map dengan tegas. “Dokumen ini adalah bukti nyata bahwa Johan terlibat dalam penyelundupan besar. Kalau kita bisa menyerahkannya ke pihak yang tepat, itu akan menghancurkan dia.”Via yang duduk di sofa terlihat gelisah. “Tapi Johan nggak akan tinggal diam. Dia pasti sudah tahu bahwa kita sedang bergerak melawannya.”Reza menatap Via dengan tatapan penuh keyakinan. “Aku tahu itu, Via. Tapi aku nggak akan biarkan dia menang. Ini tentang keadilan, bukan hanya untuk kita, tapi untuk semua orang yang sudah dia rugikan.”Pagi harinya, Reza mengumpulkan Randi dan Via di sebuah kafe kecil yang jau
Last Updated: 2025-01-27
Chapter: Serangan BalikKeesokan paginya, Reza kembali ke apartemen dengan penampilan yang terlihat lelah, namun tatapannya masih penuh keyakinan. Via yang tengah duduk di ruang tamu langsung berdiri begitu melihat Reza masuk.“Kamu nggak apa-apa?” tanya Via, mendekat dengan nada penuh kekhawatiran.“Aku baik,” jawab Reza singkat. “Dokumen itu sudah aman. Sekarang kita hanya perlu menunggu langkah Johan berikutnya.”Randi, yang sejak tadi mengamati dengan cemas, akhirnya bersuara. “Reza, aku nggak ngerti kenapa kamu nggak membiarkan aku ikut tadi malam. Kalau mereka menyerang kamu di tengah jalan, gimana?”Reza menatap Randi dengan serius. “Karena aku butuh kamu di sini. Tugasmu menjaga Via, memastikan dia aman. Kalau aku gagal, setidaknya masih ada kamu di sini untuk melindungi dia.”Via yang mendengar ucapan itu merasa hatinya bergetar. Meskipun Reza tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara langsung, tindakan dan ucapannya selalu menunjukkan betapa ia peduli.Sore itu, ketika suasana sedikit tenang, p
Last Updated: 2025-01-26
Chapter: Bab 42Malam itu meja makan terasa hangat.duduk santai bersama dan .Suasana cukup tenang.Sesekali Vian makan dengan rapi, sementara Eyang Marsiy masih mengawasi Gilang seperti sedang menginterogasi tersangka.“Makannya pelan,” tegur Eyang.Gilang mengangkat alis.“Aku makan, bukan lomba.”“Kelihatannya seperti lomba kabur.”Gilang hampir tersedak.“Eyang ini semua dihubungkan ke kabur.”Belum sempat suasana berlanjut ponsel di sampingnya bergetar.Nama yang sama.Risa.Gilang melirik sekilas.Lalu mengabaikan.Ia kembali makan.Namun, getaran itu tidak berhenti.Sekali.Dua kali.Tiga kali.Eyang Marsiy mulai menatap curiga.“Itu siapa?”“Spam,” jawab Gilang santai.Getaran lagi.Eyang langsung menyikut lengannya.“Diangkat. Siapa tahu penting.”Gilang mendesah pelan.Dengan malas, ia mengambil ponsel dan mengangkatnya.“Halo—”“PAPA!!”Suara nyaring langsung memekakkan telinga.Gilang refleks menjauhkan ponsel.Eyang Marsiy langsung melotot.“Siapa itu?!”Gilang menutup mikrofon sebentar
Last Updated: 2026-05-15
Chapter: Bab 41Di halaman sekolah sore itu, suasana mulai lengang.Beberapa anak sudah pulang, sebagian masih duduk menunggu jemputan. Di salah satu bangku panjang dekat taman kecil, Risa duduk dengan kaki diayun-ayunkan tanpa henti.Di sebelahnya, Vian duduk tegak. Buku terbuka di tangannya. Wajahnya tenang seperti tidak terganggu oleh apa pun di dunia ini.Risa melirik. Lalu melirik lagi. Lalu akhirnya tidak tahan.“Hari ini aku bahagia.” Tidak ada jawaban.Vian hanya membalik halaman.Risa mendekat sedikit. “Aku benar-benar bahagia.” Vian tetap diam.Risa menyipitkan mata. “Kamu dengar tidak sih?”Vian akhirnya melirik sekilas. “Dengar.”Lalu kembali ke bukunya.Risa mendengus.“Hari ini aku berhasil. Aku bawa papa ke sekolah. Semua orang lihat.”Vian hanya mengangguk kecil. “Iya.”Risa langsung menoleh penuh semangat.“Iya? Cuma iya?”“Mau aku tepuk tangan?” jawab Vian datar.Risa langsung memutar mata.“Kamu ini ya. Tidak seru.”Ia kembali bersandar, tapi hanya beberapa detik.Lalu mulai lagi.
Last Updated: 2026-05-14
Chapter: Bab 40Gilang berjalan menuju ruang BP dengan langkah yang tetap tenang, seolah tidak ada apa pun yang perlu dikhawatirkan pagi itu.Padahal di dalam kepalanya, ia hanya ingin satu hal. Tidak bertemu siapa pun yang bisa mengenalnya.Namun semesta sepertinya punya rencana lain. Baru saja ia melewati koridor utama, langkahnya terhenti.Di ujung lorong, seorang anak laki-laki berdiri.Vian.Gilang sempat diam satu detik.Anak itu berdiri dengan sikap yang sangat mirip dirinya. Tenang, kaku, dan tidak banyak ekspresi. Tapi matanya langsung fokus begitu melihat Gilang.Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap.Lalu Vian melangkah mendekat.Tidak berlari. Tidak juga ragu.Hanya mendekat dengan langkah pasti.Gilang yang awalnya ingin menghindar justru tidak sempat bergerak ke mana-mana.“Papa,” suara Vian terdengar datar, tapi ada sesuatu yang halus di dalamnya.Gilang akhirnya tersenyum kecil. Dan tanpa banyak kata, ia meraih putra angkatnya dan memeluknya.Vian tidak langsung membalas p
Last Updated: 2026-05-13
Chapter: Bab 39Di dalam mobil, suasana pagi itu terasa padat oleh orang-orang yang bahkan tidak menyangka akan ikut terseret dalam “misi sekolah” Risa.Risa duduk di sebelah Gilang di kursi belakang. Tubuhnya tegak, matanya menatap ke depan seperti sedang memikirkan strategi besar. Di kursi depan, Mbak Tari duduk di sebelah Pak Ahmad yang fokus menyetir sambil sesekali melirik kaca spion.Mobil melaju pelan di jalan kota yang mulai ramai.Gilang menoleh ke samping, menatap Risa dengan alis berkerut.“Risa, sebenarnya ada apa hari ini?”Risa tidak langsung menjawab. Ia seperti sedang mempertimbangkan apakah ini informasi rahasia atau bukan. Setelah beberapa detik, ia akhirnya bicara.“Hari ini aku harus membawa orang tua ke sekolah.”Gilang langsung mengernyit. “Orang tua?”“Iya. Untuk memenuhi panggilan guru BP.”Suasana dalam mobil langsung sedikit berubah.Gilang menatapnya lebih serius. “Guru BP? Kamu kenapa lagi sampai dipanggil? Kamu bikin apa?”Risa menghela napas kecil, seperti orang yang sed
Last Updated: 2026-05-12
Chapter: Bab 38Pagi itu masih terlalu dini.Jam baru menunjukkan pukul lima lewat sedikit, tapi Risa sudah bangun dengan wajah kusut di depan lemari.Ia berdiri lama.Terlalu lama untuk anak seusianya.Lalu menghela napas.“…lupa.”Hari ini.Hari penting.Orang tua ke sekolah.Risa menutup mata sebentar.Lalu mulai menghitung dengan jari.“Kalau bawa Tante Clara… mama bisa kena ceramah.”“Kalau bawa Eyang… aku yang kena ceramah.”“Kalau Mbak Tari… Pak Ahmad… nanti ketahuan bukan orang tua beneran.”Ia berhenti.Menatap kosong.“…repot.”Beberapa detik kemudian, matanya berbinar.“Ketemu.”—Lima menit kemudian, rumah sudah heboh.Risa mandi dengan kecepatan luar biasa, bahkan air masih belum sempat hangat sempurna.Di dapur, Mbak Tari sedang menyiapkan sarapan.“Risa, kamu kenapa bangun pagi banget?” tanya Tari heran.Risa keluar sambil menyeka rambut.“Mbak Tari.”“Iya?”“Ganti baju.”Tari mengernyit.“…Hah?”Risa menunjuknya serius.“Hari ini kamu ikut aku.”Pak Ahmad yang sedang duduk minum teh l
Last Updated: 2026-05-11
Chapter: Bab 37Mobil melaju pelan meninggalkan halaman sekolah.Di kursi belakang, Risa duduk sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Wajahnya terlihat serius, tapi hanya beberapa detik.Setelah itu “Mbak Tari.”Tari yang duduk di depan langsung menoleh sedikit.“Iya, Nona Risa?”“Aku mau ketemu papaku.”Nada suaranya santai. Seolah baru saja bilang mau beli permen.Tari dan sopir di depan saling melirik.Sopirnya, Pak Ahmad mengangkat alis pelan.Tari berdehem kecil.“Papa yang mana, Nona Risa?”Risa langsung melirik tajam.“Ya papa aku lah, Mbak. Masa papa tetangga.”Pak Ahmad hampir tersedak.“Iya maksud Mbak Tari.” lanjut Tari hati-hati, “…yang kemarin itu?”Risa langsung mengangguk cepat.“Iya! Yang itu!”Tanpa basa-basi, Risa meraih tas kecilnya, lalu mengeluarkan ponsel.“Untung aku tinggalin di mobil. Kalau di sekolah pasti disita,” gumamnya.Ia langsung menekan nomor.Satu kali.Tidak diangkat.Risa mengerutkan kening.“Ini papa aku sibuk banget ya, baru juga punya anak langsung lupa.”Tari me
Last Updated: 2026-05-10
Chapter: Langkah Terakhir Ghana, dua bulan setelah peralihan tahta. Hari itu, aula istana tak lagi menjadi ruang untuk pertumpahan darah, tapi ruang upacara pelantikan yang damai. Kursi rakyat kembali terisi. Bendera tua yang sempat dibakar, kini dijahit ulang dan berkibar di atas menara istana. Rakyat berkumpul, bukan karena takut… tapi karena harapan. Di tengah barisan para bangsawan, mantan prajurit, dan wakil rakyat, seorang bocah berdiri di atas podium kecil. Di belakangnya berdiri dua sosok yang kini tak lagi dianggap buronan, melainkan pelindung bangsa: Satya dan Ardian. Maydiasta menatap ke arah rakyat yang memadati pelataran. Nafasnya bergetar, tapi tangan Satya menyentuh pundaknya. “Kau tidak sendiri,” bisik Satya. Dan Ardian menambahkan, “Kau akan jadi raja… bukan karena tahta. Tapi karena kau mencintai mereka.” Maydiasta pun melangkah maju, membuka mulut kecilnya dengan suara yang masih jernih: “Aku bukan pangeran yang hebat. Tapi aku adalah anak Ghana. Dan aku berjanji akan belajar,
Last Updated: 2025-07-13
Chapter: Bab 112 Akhir Peperangan Satya berdiri tegap. Seragam gelap yang ia kenakan tak memuat satu pun lencana. Bukan karena tak layak, tapi karena hari ini bukan soal pangkat. Di sampingnya, Ardian bersandar di meja, lengannya masih diperban. Wajahnya tenang, tetapi mata menyimpan bara. “Rakyat Ghana…” suara Satya menggema dari mikrofon kecil yang terhubung ke jaringan siaran bawah tanah. “Hari ini, kalian berhak tahu kebenaran.” Kamera menyorot wajahnya. Tidak ada keraguan. Tidak ada kebohongan. Hanya keyakinan. “Selama ini, kalian dibohongi. Kami disebut pengkhianat. Kami dikurung. Difitnah. Tapi siapa dalangnya?” Ardian mengangkat sebuah dokumen dan menyodorkannya ke arah kamera. “Ini… bukti asli dari Kolonel Indra, yang disembunyikan sebelum ia tewas. Bima ingin menjadikan keponakannya anak dari adik perempuannya, sebagai pewaris takhta. Dia membunuh Arvid, memfitnahku, dan menjadikan Satya kambing hitam.” Layar di belakang mereka menampilkan wajah Tuan Halim, rekaman suara, dan data penyadapan. Semua dir
Last Updated: 2025-07-11
Chapter: Bab 111 Akar yang tak Pernah Mati Dua tahun lalu, di Distrik Riven yang suram dan dilupakan, seorang pria tua bernama Letkol Anwar, pensiunan militer yang dulunya menjaga gerbang istana, tinggal di balik rak-rak jam rusak. Dari luar, tempat itu tampak seperti toko barang antik yang tak penting. Tapi di balik lantai kayu reyotnya, terhampar jaringan lorong rahasia yang membentang ke segala arah, tempat di mana sisa-sisa kekuatan yang disingkirkan oleh istana masih bernapas.Mereka menyebut diri mereka 'Tulang Akar'.Bagi Anwar dan para mantan prajurit yang setia pada kerajaan, tapi bukan pada kekuasaan, akar yang tersembunyi jauh lebih penting daripada cabang yang menjulang tinggi.Pada suatu malam yang dingin dan sunyi, seorang pangeran berdarah, dengan tatapan kosong dan napas berat, muncul di ambang lorong itu. Pangeran Ardian yang dituduh pemberontak, yang dibuang dari darah biru, duduk di lantai batu dengan lutut penuh lumpur.Letkol Anwar mendekatinya tanpa ragu.“Kau bukan pengkhianat, Pangeran,” katanya sambil
Last Updated: 2025-07-10
Chapter: Bab 110 Lokasi: Barak tua di batas utara Ghana, jam 20.11TV kecil berdebu itu masih menyala di sudut ruangan. Gambarnya tak stabil, tapi suara penyiar itu terdengar jelas.“…pemerintah kerajaan menetapkan dua buronan negara Pangeran Ardian dan Pangeran Satya. Dituduh menghasut pemberontakan, membunuh Pangeran Arvid, serta bekerja sama dengan militer asing…”Ditto menjatuhkan botol air di tangannya. Suara dentingnya memantul tajam.“Apa… ini bercanda?”“Ini…” Malik terdiam. Rahangnya mengeras. Matanya menyapu layar seperti menolak percaya.“Satya?” Ditto mengulang, lebih ke dirinya sendiri.Malik bangkit. Langkahnya berat, tapi tegas. Ia mematikan TV.“Mereka memutar balik semuanya. Raja tidak bicara sepatah kata. Ini suara dewan.”“Tuan Halim,” gumam Ditto. “Itu dia... sialan itu...”Keduanya saling pandang. Dalam diam mereka mengerti Ini bukan sekadar pengkhianatan... ini pemusnahan karakter.“Kita harus cari Pangeran Satya,” ujar Ditto.“Dan Pangeran Ardian,” Malik menambahkan.“Bagaimana
Last Updated: 2025-07-09
Chapter: Bab 109 Kota Yang Tertidur Istana Ghana, Ruang Rapat DalamRaja Mahesa duduk di kursi takhta kecil, matanya sembab. Tangannya memegang laporan kematian Arvid. Di sekitarnya duduk para menteri dalam negeri, penasihat senior, dan seorang pria berambut putih mengenakan jubah biru tua: Tuan Halim.“Yang Mulia,” ujar Tuan Halim, suaranya pelan namun berisi racun. “Kami telah menyelidiki lebih dalam... dan menemukan indikasi bahwa Ardian dan Satya tengah merancang pemberontakan.”Raja Mahesa mengerutkan kening. “Laporan itu tak cukup. Ardian terluka parah, Satya dalam pemulihan.”Tuan Halim melangkah maju. Ia meletakkan dua dokumen di meja raja.Satu berupa rekaman audio.Satu lagi foto-foto hasil pengawasan drone.“Mereka pernah bertemu dengan utusan Malaca di perbatasan. Dan ini...” Ia menekan tombol kecil.Dari alat pemutar suara, terdengar percakapanArdian (suara hasil suntingan). “Jika raja tak menyerahkan tahta, kita akan ambil dengan pak
Last Updated: 2025-07-08
Chapter: Bab 108 Surat yang Tak Pernah SampaiMalam di Ghana begitu senyap. Lampu-lampu istana telah dipadamkan, dan gerbang utama dijaga dua kali lebih ketat dari biasanya. Namun di sebuah kediaman tua milik mantan penasihat militer yang sudah pensiun, Ardian duduk di bawah cahaya redup lentera minyak, membuka sepucuk surat dengan segel lilin yang tak ia kenali. Surat itu dikirim dengan tangan, tanpa nama, dan diselipkan ke dalam laporan logistik yang dibawa oleh salah satu pasukan cadangan dari selatan. Isinya singkat tapi mencabik. “Pangeran Arvid bukan satu-satunya calon pewaris. Di luar sana, Raja Mahesa telah menyembunyikan seorang anak dari darahnya sendiri, lahir dari saudara perempuan Kolonel Bima. Kau dan Satya hanya bagian dari permainan lebih besar. Jaga dirimu. – E” Ardian mengerutkan kening. Surat itu tidak membawa jawaban—justru menambah pertanyaan. Ia segera membakar surat itu setelah membacanya tiga kali. Tapi kata-kata terakhir masih terngiang dalam benaknya: “Kau dan Satya hanya bagian dari permainan leb
Last Updated: 2025-07-07

Asmaraloka Sang Putri Pusaka
Ia menikah… tanpa pengantin pria.
Hanya sebilah keris yang menemaninya di pelaminan.
Raras Ayudia Weningrum tak pernah menginginkan pernikahan ini.
Ia datang ke pemilihan permaisuri untuk kalah, namun takdir malah menyeretnya menjadi istri Pangeran Rakai Indradipa Adiningrat, putra Raja Majakirana dari seorang ratu yang turun tahta, dan seorang panglima perang yang bahkan tak sudi menemuinya.
Seminggu ia menunggu di istana yang dingin dan sunyi.
Seminggu ia tidur sendiri di ranjang pengantin yang kosong.
Hingga akhirnya, ia nekat menjemput suaminya di medan perang yang membawanya hingga ke Kerajaan Indralaya.
Namun di tanah Indralaya, ia justru bertemu kembali dengan cinta lamanya, yang kini berkuasa sebagai raja.
Dan di tengah intrik kerajaan, Raras dijadikan umpan hidup demi sebuah aliansi.
Cinta, dendam, dan politik bercampur menjadi satu.
Dan ketika semua lelaki berusaha mengatur langkahnya…
Raras memutuskan menjadi pemain, bukan lagi bidak di papan catur.
Read
Chapter: Bab 155Malam di Indragiri jatuh cepat, seperti tirai yang sengaja ditarik untuk menyembunyikan niat buruk. Api obor menyala di sepanjang tembok benteng, bayangan prajurit bergerak patah-patah di batu, menciptakan ilusi jumlah yang lebih besar dari kenyataan.Rakai berdiri di balik gudang garam tua di sisi barat pelabuhan sungai. Jubahnya gelap, menyatu dengan malam. Di sekelilingnya, pasukan kecil yang ia bawa dari Mandalajati berjongkok senyap. Tidak sampai seratus orang. Tapi semuanya pilihan. Orang-orang yang pernah bertempur bersamanya dan tahu satu hal pasti.Malam ini mereka tidak boleh kalah.“Gerbang air akan dibuka sebentar lagi,” bisik Arya, muncul dari balik bayangan. “Pengiriman senjata dari selatan. Atas nama Indragiri, tapi kuda-kudanya bercap Majakirana.”Rakai tersenyum tipis. Dingin.“Haryo bermain terlalu rakus,” gumamnya. “Ia lupa bau pengkhianatan selalu tertinggal.”Ia mengangkat tangan. Isyarat senyap menyebar. Dua orang bergerak memanjat dinding rendah. Yang lain menyu
Last Updated: 2026-01-23
Chapter: Bab 154Rakai mengangkat wajah ketika tabuhan genderang itu berhenti. Sunyi yang menyusul justru terasa lebih berbahaya.Ia menatap Raras, lalu ke arah pintu tertutup. “Wijaya tidak akan menahanmu lama jika dia merasa diuntungkan.”“Dan Haryo,” sahut Raras pelan, “akan memastikan kita saling membunuh tanpa ia harus mengotori tangannya.”Rakai mengangguk. “Karena itu aku datang sendiri. Pasukan yang kubawa hanya pengawal inti. Aku tidak ingin memberi Wijaya alasan menyebut ini invasi.”Raras tersenyum pahit. “Kau selalu berpikir selangkah ke depan. Tapi kali ini, kita berada di papan catur orang lain.”Langkah kaki terdengar di luar. Tidak tergesa. Terlalu tenang.Pintu kembali terbuka. Seorang pria berusia setengah baya masuk, pakaian kebesarannya sederhana namun berwibawa. Matanya tajam, menyapu ruangan sekali lalu berhenti pada Rakai.“Pangeran Rakai,” ujarnya. “Raja memintamu menghadap.”Rakai menoleh pada Raras. “Aku akan kembali.”Raras menahan lengannya. Pegangannya tidak kuat, namun cu
Last Updated: 2026-01-21
Chapter: Bab 153Kabut Indragiri menyambut seperti dinding dingin ketika armada Rakai merapat sebelum matahari benar-benar naik.Sungai besar itu tenang di permukaan, namun arus di bawahnya kuat dan licik, sama seperti negeri yang menguasainya. Tebing-tebing hijau menjulang di kiri kanan, sementara menara pengawas Indragiri berdiri angkuh, benderanya berkibar perlahan seolah sudah menanti.Rakai berdiri di haluan kapal utama. Jubah perangnya basah oleh embun malam, rambutnya terikat rapi. Tatapannya lurus ke depan, ke arah pelabuhan Indragiri yang mulai ramai oleh prajurit bersenjata tombak panjang dan perisai hitam berukir lambang singa.“Mereka tahu kita datang,” ujar salah satu panglima di belakangnya.“Tentu,” jawab Rakai singkat. “Indragiri tidak pernah buta.”Terompet panjang ditiup dari darat. Bukan tanda serangan, melainkan sambutan yang dingin dan resmi. Kapal-kapal Rakai dipersilakan merapat, namun formasi pasukan Indragiri sudah terbentuk rapat. Tidak ada celah, tidak ada keramahan.Begitu
Last Updated: 2026-01-20
Chapter: Bab 152Benturan itu tidak terjadi di medan perang.Ia lahir di balairung Majakirana, di antara kata-kata yang terlalu tajam untuk ditarik kembali.Pangeran Haryo datang ke istana Mandalajati tanpa pemberitahuan resmi. Tidak membawa pasukan besar, hanya pengawal inti, namun kehadirannya cukup membuat udara Majakirana mengeras. Ia melangkah masuk dengan senyum tipis yang tidak pernah sampai ke mata.Pangeran Laga menyambutnya berdiri, wajah tenang, tangan terlipat di belakang punggung.“Kau datang cepat,” ujar Laga. “Seolah takut kehilangan sesuatu.”Haryo tertawa kecil. “Aku justru datang untuk memastikan semuanya berada di tempat yang seharusnya.”Matanya menyapu ruangan, lalu berhenti pada Rakai yang berdiri di sisi kanan balairung.“Kau belum pergi,” kata Haryo, nadanya ringan. “Aku kira kau sudah berlayar ke Indragiri.”Rakai melangkah maju satu langkah. “Aku tidak perlu izinmu untuk bergerak.”Haryo menoleh penuh minat. “Benarkah? Kau lupa satu hal, adikku.”Ia mendekat, suaranya merenda
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: Bab 151Kabar itu tiba di Majakirana saat matahari baru naik setinggi tombak.Bukan lewat utusan resmi. Bukan lewat panji kerajaan.Melainkan lewat bisikan para pedagang lintas wilayah, yang lebih cepat dari kuda perang dan lebih tajam dari pedang.“Perempuan itu sudah di Indragiri.”“Gusti Raras.”“Dibawa langsung oleh Raden Wijaya.”Rakai sedang berdiri di balkon Mandalajati ketika Arya menyampaikan kabar itu. Angin pagi mengibaskan jubahnya, membawa aroma laut dan besi pelabuhan. Untuk sesaat, Rakai tidak bergerak. Tidak bertanya. Tidak bereaksi.Seolah dunia berhenti bernapas.“Kau yakin?” suara Rakai akhirnya terdengar. Rendah. Terlalu tenang.Arya mengangguk. “Tiga sumber berbeda. Pedagang Pasren, awak kapal Daha, dan satu mata lama kita. Semua menyebut hal yang sama. Raras resmi berada di wilayah Indragiri.”Jari Rakai mencengkeram pagar batu. Batu keras itu retak halus di bawah tekanannya.“Bagaimana caranya,” gumamnya. “Dia tidak akan pergi tanpa perlawanan.”“Dia tidak pergi,” jawab
Last Updated: 2026-01-18
Chapter: Bab 150Langit sore itu berwarna kelabu, seolah ikut berduka atas seseorang yang dicabut paksa dari takdirnya sendiri.Kereta kerajaan berhenti di gerbang perbatasan Indragiri. Panji-panji merah tua dengan lambang singa emas berkibar pelan tertiup angin. Lambang yang dulu begitu akrab di mata Raras. Kini justru membuat dadanya terasa sesak.Ia turun perlahan dari kereta. Tidak ada rantai. Tidak ada borgol. Namun dua baris prajurit yang mengapitnya sudah cukup menjelaskan bahwa kebebasan bukan lagi miliknya.Di hadapannya berdiri seorang pria yang pernah ia kenal terlalu dekat.Raden Wijaya.Pakaian kebesarannya rapi, jubah perang disampirkan di bahu, wajahnya tetap tegas seperti yang ia ingat. Namun sorot matanya berbeda. Lebih dingin. Lebih berhitung. Dan justru itu yang menyadarkan Raras bahwa lelaki di depannya bukan lagi pria yang dulu memanggil namanya dengan suara rendah di malam-malam sunyi.“Selamat datang di Indragiri,” ucap Wijaya akhirnya.Nada suaranya tenang, hampir sopan. Seolah
Last Updated: 2026-01-17