Chapter: Bab 112"Iya, kamu benar," aku Aruna tulus. Mereka menikmati keheningan di teras batu itu selama beberapa waktu. Matahari mulai condong ke barat ketika mereka melangkah kembali menuju dermaga Riva Grande. Kapal kayu sewaan mereka sudah bersiap untuk membawa mereka kembali ke Tremezzo. Perjalanan melintasi danau di sore hari menyajikan pemandangan pendar jingga yang memantul indah di atas permukaan air. Angin sore terasa lebih dingin, membuat Aruna makin merapatkan tubuhnya di samping Darren di dalam kabin kapal yang terlindung kaca. Setibanya di vila privat mereka di Tremezzo, Marco menyambut mereka di pelataran depan dengan ramah. "Selamat sore, Mr. Utama, Mrs. Utama," sapa Marco. "Suhu pemanas di dalam vila sudah saya naikan sedikit agar tetap hangat. Menu makan malam segar berupa sup ikan dan sayuran panggang juga sudah saya siapkan di lemari pendingin dapur." "Terima kasih banyak, Marco," balas Darren. Setelah Marco pamit, Aruna dan Darren melangkah masuk ke dalam vila. Sua
Terakhir Diperbarui: 2026-09-02
Chapter: Bab 111Kejadian kecil itu tidak merusak suasana jalan-jalan mereka. Mereka melanjutkan langkah menuju area puncak desa di Piazza San Giorgio, sebuah alun-alun tua yang tenang dengan gereja batu abad ke-14 yang berdiri anggun di tengahnya. Sekitar pukul sebelas tiga puluh, Aruna dan Darren memilih duduk di teras luar sebuah bistro kecil dekat alun-alun untuk menikmati cangkir teh dan espresso. Suasana di sekitar alun-alun jauh lebih tenang dibanding area dermaga bawah. Saat mereka sedang berbincang santai mengenai arsitektur gereja tua di depan mereka, gawai pribadi Aruna yang disimpan di dalam tas bergetar. Aruna merogoh gawai tersebut dan melihat nama Maya terpampang di layar. Karena mereka sudah bersepakat hanya membuka jalur komunikasi untuk hal-hal yang benar-benar penting, Aruna langsung menggeser tombol hijau. "Halo, Maya. Ada apa?" tanya Aruna dengan suara tenang. Di ujung telepon, suara Maya terdengar sedikit cermat dan agak serba salah. "Halo, Bu Aruna. Maaf sekali menggan
Terakhir Diperbarui: 2026-08-31
Chapter: Bab 110Aruna menatap mata Darren yang memancarkan kejujuran. Kemudian dia tersenyum manis. Ia memajukan tubuhnya, mendaratkan kecupan singkat dan lembut di bibir Darren. "Terima kasih sudah merawatku seharian ini ya, Sayang," bisik Aruna. Darren tersenyum tipis, membalas kecupan itu dengan usapan lembut di bahu Aruna. "Itu tugas pertamaku sebagai suamimu." *** Keesokan paginya, kondisi Aruna sudah jauh lebih segar. Rasa pegal di pinggang dan pahanya hampir tidak terasa lagi setelah istirahat penuh dan kompres hangat yang disiapkan Darren kemarin. Udara Tremezzo pagi itu terbilang cerah meski hembusan angin musim gugur tetap membawa hawa dingin yang menusuk kulit. Setelah menikmati sarapan simpel berupa omlet dan teh hangat di teras dalam vila, mereka bersiap menuju Varenna. Pukul sembilan lewat lima belas menit, Marco sudah menunggu di dermaga privat bawah. Kapal kayu berukuran sedang yang mereka sewa melaju mulus membelah air Lake Como yang tenang. Perjalanan melintasi danau me
Terakhir Diperbarui: 2026-08-30
Chapter: Bab 109Darren membantu Aruna berendam di dalam air hangat lavender tersebut untuk meredakan kaku pada otot-otot tubuhnya, lalu membiarkan Aruna memiliki waktu pribadi untuk membersihkan diri sementara ia keluar untuk menyiapkan sarapan. Selesai menelepon Marco untuk membatalkan seluruh agenda luar dan meminta jadwal sewa kapal diubah ke hari berikutnya, Darren melangkah ke dapur vila. Pria itu membuka lemari pendingin, mengeluarkan beberapa bahan makanan segar yang dikirimkan pengelola vila tadi pagi. Darren menyeduh segelas teh herbal hangat untuk Aruna, menyeduh cangkir kopi hitamnya sendiri, lalu mulai membuat sarapan simpel berupa roti panggang telur, keju lembaran, dan potongan buah stroberi segar. Dua puluh menit kemudian, Darren kembali ke kamar utama membawa nampan kayu berisi sarapan tersebut. Aruna sudah selesai mandi. Ia kini duduk di tepi tempat tidur, mengenakan gaun rumah berbahan katun longgar warna abu-abu lembut dengan rambut hitamnya yang diikat rendah secara simpel
Terakhir Diperbarui: 2026-08-28
Chapter: Bab 108Cahaya fajar menyusup pelan di balik celah tirai tebal kamar utama, membiaskan cahaya redup di atas lantai kayu yang dingin. Udara pagi musim gugur di perbukitan Tremezzo terasa menusuk, namun di bawah gulungan selimut tebal bernuansa krim, hangat tubuh masih bertahan dengan sempurna. Aruna terbangun lebih dulu. Matanya berkedip beberapa kali, menyesuaikan diri dengan remang ruangan. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa hangat dari lengan tegap yang melingkar erat di pinggangnya, serta hembusan napas teratur Darren yang mengenai bagian belakang lehernya. Ketika Aruna mencoba menggeser tubuhnya sedikit untuk membalikkan badan, rasa kaku dan nyeri mendadak menjalar dari area pinggang hingga pahanya. Senut-senut halus di persendiannya membuat Aruna tertahan, merapatkan bibirnya seraya menahan pekikan pelan. Ingatan tentang kejadian semalam mendadak berputar cepat di kepalanya. Setiap detail gempuran, desakan, dan rasa panas dari perlakuan Darren yang tanpa ampun semalam kembal
Terakhir Diperbarui: 2026-08-28
Chapter: Bab 107Di atasnya, Darren menopang tubuh tegapnya dengan kedua tangannya, menatap Aruna yang napasnya sudah terengah pelan di bawah terkaman tatapannya. Temaram api perapian menyoroti garis-garis otot tubuh Darren yang tegap dan perkasa, memancarkan aura dominasi pria dewasa yang seutuhnya menguasai ruangan tersebut. "Malam ini kamu milikku sepenuhnya, Runa," bisik Darren di dekat telinga Aruna, suaranya rendah dan begitu berbahaya. Aruna menatap mata suaminya, merasakan genggaman jemari Darren yang mengunci pergelangan tangannya di atas bantal. "Iya, Darren... aku milikmu." Pernyataan itu menyulut seluruh keganasan yang tersimpan di dalam diri Darren Utama. Darren menundukkan kepalanya kembali, menyapu leher halus Aruna dengan ciuman-ciuman panas yang menuntut. Tangannya bergerak dengan sigap dan dominan, melepas ikatan tali sutra hitam di pinggang Aruna tanpa menyisakan hambatan sedikit pun. Kain sutra yang halus itu terkuak, membiarkan keindahan tubuh Aruna terpapar utuh di
Terakhir Diperbarui: 2026-08-26
Chapter: Bab 106 TamatMona masih terdiam, wajahnya memucat, tubuhnya perlahan gemetar. Informasi yang baru saja ia terima terasa seperti badai—membuat segalanya berputar dan kabur di kepalanya. Namun Ansel belum selesai. “Dan satu lagi,” ucapnya, kini dengan nada lebih tajam, menusuk. “Hendrik Hartono tidak mati bunuh diri di penjara.” Mona menoleh cepat, matanya terbelalak. “Apa maksudmu…?” Ansel menatap pria paruh baya di seberang dengan dingin yang mengancam. “Dia yang mengatur kematian Hendrik. Mengubahnya seolah-olah itu bunuh diri, padahal itu pembunuhan yang disabotase dari dalam.” Pria itu mengangkat alisnya pelan, seolah tak merasa bersalah sedikit pun. “Hendrik tahu terlalu banyak. Dia mulai panik. Kalau aku biarkan, dia bisa buka suara—dan itu akan merugikan semua pihak.” “Termasuk kau,” potong Ansel tajam. “Karena jika dia bicara, semuanya akan tahu kalau selama ini dalangnya adalah kau. Kau yang menarik tali dari balik bayangan. Meracuni Dante, lalu menyingkirkan siapa pun yang bisa
Terakhir Diperbarui: 2025-04-11
Chapter: Bab 105Beberapa minggu setelah Mona melahirkan Arshaka, Ansel kemudian meminta izin kepada Lidia untuk membawa istrinya itu ke suatu tempat. Dan mertuanya itu senang karena diberi waktu lama untuk bermain dengan cucunya. "Kita akan kemana?" Mona bertanya saat dia dan Ansel berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh suaminya. "Ke suatu tempat. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," jawab Ansel, sembari fokus menatap jalanan di depan sana. Mendengar jawaban Ansel, Mona tak bertanya lagi. Ia hanya menggenggam jemari suaminya yang bebas satu, membiarkan keheningan menyelimuti mereka sambil menanti kejutan yang akan datang. Mobil yang Ansel kendarai akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan yang sangat familiar—kantor polisi. Mona mengernyit heran, pandangannya menelusuri papan nama besar di atas gedung itu. “Apa… kita ada urusan di sini?” gumamnya pelan, hampir seperti bicara pada diri sendiri. Namun sebelum sempat bertanya lebih lanjut, Ansel sudah keluar dari mobil dan mengitar
Terakhir Diperbarui: 2025-04-11
Chapter: Bab 104 Beberapa jam setelah persalinan Cahaya lembut dari lampu di sudut ruangan menciptakan bayangan hangat di wajah Mona yang tertidur pulas. Di pelukannya, Arshaka tampak damai, sesekali menggerakkan tangan mungilnya seolah sedang bermimpi. Ansel duduk di samping ranjang, tubuhnya bersandar santai tapi tetap waspada. Di antara jemarinya yang kokoh, ia menggenggam tangan kecil anaknya dengan hati-hati, seolah takut kekuatannya yang luar biasa bisa melukai makhluk sekecil itu. Dia menatap wajah mungil itu dalam diam. Hidung kecil, bibir mungil, dan alis tipis yang entah mengapa membuat hatinya terasa penuh. “Arshaka,” bisiknya pelan, seolah sedang menguji nama itu di lidahnya. “Kau bahkan belum bisa membuka mata, tapi kau sudah mengubah segalanya.” Ada senyum samar di wajah Ansel—bukan senyum sinis, bukan senyum licik, tapi senyum yang lembut, tulus, dan langka. Tangannya yang besar membenarkan selimut bayi itu dengan gerakan sangat hati-hati, lalu berpindah menyentuh pipi Mon
Terakhir Diperbarui: 2025-04-11
Chapter: 103Beberapa jam kemudian Suasana di dalam kamar perawatan semakin tegang. Mona kini terbaring dengan tubuh sedikit miring, keringat membasahi dahinya. Nafasnya semakin berat, tangannya menggenggam erat lengan Ansel setiap kali kontraksi datang. "Ahh…!" Mona meringis kesakitan saat gelombang kontraksi kembali menghantam. Ansel langsung mencondongkan tubuhnya, tangannya mengelus rambut Mona dengan lembut. "Mona, tahan sebentar… Aku di sini." Dokter kembali masuk untuk memeriksa perkembangannya. Setelah beberapa saat, dia mengangkat wajah dengan ekspresi serius. “Sekarang sudah pembukaan delapan.” Mata Ansel semakin gelap. “Apa dia masih harus menunggu lama?” Dokter tersenyum tipis, berusaha menenangkan. “Dari perkembangannya, sepertinya tidak akan lama lagi. Nyonya Mona, Anda harus tetap tenang dan mengatur napas. Jika terus panik, akan lebih sulit nantinya.” Mona mengangguk lemah, meskipun rasa sakit yang terus meningkat hampir membuatnya tidak bisa berpikir. Namun, saat
Terakhir Diperbarui: 2025-03-16
Chapter: Bab 102Dokter memasang sarung tangannya dan mulai memeriksa kondisi Mona dengan teliti. Ansel berdiri di sisi ranjang, matanya tak lepas dari wajah istrinya yang menahan napas. Beberapa saat kemudian, dokter mengangkat wajahnya dan tersenyum kecil. "Seperti yang kami duga, Nyonya sudah memasuki pembukaan satu." Mona menghembuskan napas lega, meskipun di dalam hatinya tetap ada sedikit kegelisahan. Namun, berbeda dengan Ansel. Wajah pria itu sama sekali tidak menunjukkan ketenangan. "Pembukaan satu," ulangnya dengan suara datar, tetapi ada ketegangan yang terasa di baliknya. "Berarti Mona akan semakin kesakitan setelah ini?" Dokter mengangguk. "Kontraksi akan semakin sering dan intens. Tapi ini masih tahap awal, jadi butuh waktu sebelum benar-benar siap untuk melahirkan." Ansel tidak menjawab. Rahangnya semakin mengeras, dan tatapan matanya seakan menyelidik, mencari kepastian. "Aku masih baik-baik saja, Ansel," ujar Mona dengan suara lembut, berusaha menenangkan suaminya. A
Terakhir Diperbarui: 2025-03-15
Chapter: Bab 101Setelah memastikan Mona baik-baik saja, Ansel tetap berada di rumah sakit hingga larut malam. Mona akhirnya tertidur karena kelelahan, sementara Ansel duduk di sofa di dalam kamar VIP, menatap layar ponselnya dengan tatapan dingin. Richard berdiri di sudut ruangan, menunggu perintah. "Bagaimana situasinya?" tanya Ansel pelan, suaranya terdengar lebih berat di tengah keheningan malam. Richard sedikit menunduk. "XG Group benar-benar runtuh. Sahamnya anjlok hingga level terendah, dewan direksi kacau, dan pemegang saham utama mulai menjual aset mereka. Sepertinya mereka tidak akan bisa bangkit lagi." Ansel tidak bereaksi langsung. Dia hanya memutar cangkir kopinya yang sudah dingin di tangan. Ansel tersenyum kecil, tapi sorot matanya tetap tajam. "Bagus," gumamnya. Suasana ruangan terasa semakin dingin. Richard menatap Ansel dengan sedikit ragu, lalu memberanikan diri untuk bertanya, "Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Jenderal?" Ansel meletakkan cangkirnya ke meja d
Terakhir Diperbarui: 2025-03-14
Chapter: 170. SelamanyaDua Tahun Kemudian Ballroom hotel telah dipenuhi cahaya kristal yang berkilauan. Rangkaian bunga putih memenuhi setiap sudut ruangan. Alunan musik mengalun lembut, sementara keluarga, sahabat, serta rekan kerja memenuhi kursi-kursi yang telah disiapkan. Di ujung lorong, Azalea melangkah perlahan. Gaun putih yang dikenakannya menjuntai anggun hingga lantai. Rambutnya disanggul sederhana dengan hiasan bunga-bunga kecil, membuat senyumnya tampak semakin hangat. Bekas luka yang dahulu hampir merenggut hidupnya kini hanya tersisa sebagai kenangan. Hari itu... Ia terlihat begitu sehat dan bersemangat. Di ujung altar, Elvario memandang wanita itu tanpa berkedip. Untuk pertama kalinya sejak banyak orang mengenalnya... Tatapan dingin dokter pusat trauma itu dipenuhi kelembutan. Azalea berhenti tepat di hadapannya, dan mereka saling tersenyum. Tanpa perlu kata-kata, keduanya sama-sama teringat malam-malam panjang di rumah sakit. Saat Azalea berjuang antara hidup dan mati. Saat
Terakhir Diperbarui: 2026-07-04
Chapter: 169. Akan selalu begini Ruang staf pusat trauma sudah mulai lengang ketika El akhirnya menurunkan tubuhnya di kursi panjang dekat dinding. Satu tangannya masih menggenggam masker operasi yang sudah setengah kusut, sementara tangan lainnya ia gunakan untuk menekan batang hidungnya yang terasa berat. Cahaya putih dari lampu neon di atas kepala membuat kulitnya tampak lebih pucat dari biasanya. Kantung matanya samar terlihat, tanda ia sudah terlalu lama tidak tidur. Tapi di wajah itu masih ada ketegasan yang sama — dingin, fokus, dan tidak menunjukkan keluhan sedikit pun. Suara mesin ventilator, langkah kaki perawat yang bergegas, dan panggilan singkat dari interkom menjadi latar belakang yang terus hidup di rumah sakit itu, seolah memberi tahu bahwa tempat ini tidak pernah benar-benar tidur. El menatap arlojinya. Sudah lewat tengah malam. Itu berarti hampir dua puluh jam ia bekerja tanpa henti — berpindah dari satu ruang operasi ke ruang lainnya, dari IGD ke ruang resusitasi, kembali ke meja operasi, d
Terakhir Diperbarui: 2026-07-04
Chapter: 168. Saya tidak bisa istirahat Salah satu asisten segera memberikan benang pada El dengan gerakan cepat. Semua tim operasi El kali ini bekerja dengan cepat. El lalu menjahit luka besar itu dengan gerakan cepat namun rapi. Setiap jahitannya terpasang dengan ketegasan luar biasa. Menegaskan sosoknya yang bisa dibilang sempurna dalam urusan medis. Dia benar-benar adalah murid membanggakan dari tabib terkutuk. Dalam ruang operasi yang dingin itu, suara tik-tik-tik alat monitor menjadi satu-satunya musik di ruangan tersebut. Menjadi teman dengar bagi beberapa pasang telinga di sana. Dan ketika El sedang fokus menangani pasiennya, seorang perawat masuk ke dalam ruang operasi dengan tergesa-gesa. Di wajahnya terlihat panik yang kentara. “Dokter, ada dua korban lainnya yang baru tiba. Keduanya tidak sadar, salah satunya dengan luka bakar parah.” El menatap sekilas ke arah pintu, lalu berkata datar, “Beri prioritas lebih dulu pada pasien dengan nadi lemah. Minta Dokter Lina untuk ambil alih triase. Jangan biarkan
Terakhir Diperbarui: 2025-10-21
Chapter: 167. Terus menyelamatkan Roda brankar berdecit keras saat salah satu pasien didorong masuk ke ruang operasi darurat dua. Bau darah segar, dan campuran antiseptik, langsung memenuhi udara dingin di dalam ruangan tersebut. Lampu operasi yang tergantung di atas meja operasi menyala dengan terang, menyilaukan, dan menyorot tubuh pasien laki-laki yang penuh dengan luka. Wajahnya nyaris tak dikenali, tertutup darah dan serpihan kaca yang menempel di kulitnya. Nafasnya berat, pendek, dan terputus-putus. Elvario kini sedang berdiri di sisi meja operasi, dan mengenakan sarung tangan steril yang baru. Masker telah menutupi separuh wajahnya, hanya menyisakan sepasang mata tajam yang penuh fokus. Di sampingnya, seorang dokter anestesi sedang memeriksa tekanan darah pasien dan saturasi oksigen yang terus turun drastis. “Tekanan 60 per 30, Dok! Saturasinya 78 persen!” “Buka jalan napasnya sekarang! Ventilator siap?” “Siap, Dok!” El menarik napas dalam, lalu menatap layar monitor. Detak jantung pasien melambat.
Terakhir Diperbarui: 2025-10-17
Chapter: 166. Terus berjuang menyelamatkan Setelah mengatakan perintah tersebut, El menutup panggilan telepon tersebut. Kemudian El berdiri dengan cepat, dan meraih jasnya lalu langsung mengenakan jas tersebut dalam satu gerakan. Tatapan semua orang yang ada di kantin itu mengikuti langkahnya saat El berjalan cepat keluar, suara sepatunya terdengar beradu dengan lantai yang licin karena basah. Sekarang koridor rumah sakit terasa lebih sibuk dari saat tadi El melewatinya. Dan beberapa orang perawat tampak berlarian di sana, dengan suara telepon yang terus berdering, disusul dengan suara pengumuman dari pengeras suara menggema dengan keras. “Seluruh tim trauma harap segera ke IGD. Tim trauma, ke IGD sekarang.” Suara panggilan itu terdengar tegas dan juga penuh permintaan. El semakin mempcepat langkahnya. Tatapannya tajam, dan juga fokus. Begitu El tiba di ruang trauma, aroma khas rumah sakit, berupa obat, darah, dan antiseptik langsung menyergap ke dalam hidungnya. Di sana, terlihat ada beberapa staf medis sudah bersiap
Terakhir Diperbarui: 2025-10-13
Chapter: 165. Apakah akan ada insiden lagi?Beberapa Jam Kemudian Ruang operasi telah digunakan bergantian. El keluar dari OR dengan seragam operasi yang basah oleh keringat. Maskernya ia turunkan perlahan, langkahnya berat. “Pasien perempuan sudah stabil,” lapor perawat ICU. “Transfusi berjalan baik, tekanan darah normal.” El mengangguk pelan. “Pantau urine output dan saturasi tiap lima belas menit. Jika turun, hubungi saya langsung.” Ia lalu menatap layar monitor di ruang observasi tempat pasien laki-laki dirawat pascaoperasi. Napas pria itu teratur, tapi masih dibantu ventilator. CT menunjukkan pendarahan sudah dibersihkan, namun kesadarannya belum pulih. Jam dinding di atas pintu menunjukkan pukul 13.47. Sudah lewat dari jam makan siang. Langkah kaki El bergema pelan di lantai rumah sakit yang bersih mengilap. Operasi yang El lakukan berjalan lancar, dan nyawa pasien selamat, tapi tenaga El terasa nyaris terkuras habis. Saat ia tiba di pintu keluar IGD, El kemudian berhenti. Pandangannya tertarik oleh sesuatu
Terakhir Diperbarui: 2025-10-12