MasukDiwaktu yang cukup genting, kakak tercinta harus segera dioperasi walaupun kondisi keuangan keluarga yang tidak mendukung. Airy terpaksa harus mencari pinjaman dari bos tempatnya bekerja. Namun sang bos, memberikan syarat yang berat Airy jalani. Airy Charissa Davira, harus merelakan dirinya menikah dengan cucu dari seorang pria yang menanggung biaya operasi sang kakak. Karena rasa sayangnya yang begitu besar terhadap sang kakak, ia harus bertahan dengan suami yang tidak mengharapkan dirinya. Sampai pada akhirnya, Airy merasa bahwa pengorbanan yang ia lakukan sia-sia. Airy memilih mundur dan menggugat cerai suaminya. Akankah niat Airy untuk bercerai dapat terlaksana?
Lihat lebih banyak"Aduh … dadaku ngilu banget," rintih Zea pelan. Ia sedang duduk sendirian di tepi ranjang sambil menekan alat pompa ASI ke dadanya.
Setiap kali melakukan rutinitas itu, rasa malu dan bingung yang menjalar di tubuhnya. Ini tidak masuk akal, bahkan sungguh di luar logika dan nalar manusia! Padahal gadis itu belum pernah menikah. Seumur hidupnya pun belum pernah merasakan hamil. Tidak ada janin yang ia kandung, tidak ada pula bayi yang ia susui. Ini semua dimulai dua minggu lalu ketika dadanya tiba-tiba terasa berat dan penuh, sampai akhirnya ia dan ibunya panik dan langsung dibawa ke dokter. Hasilnya, dokter hanya menyebutnya sebagai gangguan hormon yang langka, tapi tidak berbahaya. Jadi tak perlu dikhawatirkan. Tidak perlu khawatir? Mudah sekali Dokter itu mengatakannya! Zea masih dua puluh dua tahun! Belum setahun ia lulus kuliah di jurusan Psikologi, belum ada pemikiran untuk menikah, atau melahirkan anak dan menyusui. Tiba-tiba, pintu kamarnya diketuk dua kali sebelum langsung terbuka. "Zea, Mama bawain bra baru." Donna masuk sambil memegang tas belanjaan, lalu berhenti sejenak melihat anaknya. "Oh, lagi pumping. Ya sudah, Mama taruh di sini dulu." Ia meletakkan tas itu di atas kasur. Dari dalamnya terlihat beberapa kotak bra baru dengan ukuran yang jelas lebih besar dari ukuran dada Zea sebelumnya. "Mama beli berapa bra?" tanya Zea. "Jangan tanya." Donna menjatuhkan diri di sisi kasur dengan ekspresi seorang ibu yang dompetnya baru saja mengalami musibah. "Enam, karena semua bra lamamu sudah nggak muat." Zea meringis. "Maaf, Ma." "Kamu ini. Baru lulus kuliah, belum kerja, eh malah bikin Mama keluar uang buat bra, alat pompa, botol, storage bag …." Ia menghitung dengan jari sambil mendengus. "Harusnya kamu sekalian punya bayi sekarang, Zea. Kasih Mama cucu!" Zea hanya mendengus kesal. Ia tahu ibunya hanya bercanda, tapi tidak dipungkiri, Zea merasa bersalah karena kondisi tubuhnya merepotkan orang lain. Beberapa menit kemudian setelah selesai pumping dan berganti baju, Zea pun keluar kamar untuk bergabung di meja makan untuk sarapan. “Zea, kamu masih nganggur kan?” Ucapan Zavian, kakak laki-laki Zea, membuat gadis itu mendongak dengan sedikit kaku. “Iya, Kak. Tapi aku lagi cari kerja, kok.” “Bagus. Kamu nggak ada kegiatan hari ini, kan? Ikut Kakak ke pusat pelatihan. Bantu Kakak di sana, Kakak butuh asisten.” Zea tercengang sejenak. Zavian adalah mantan atlet renang yang pernah meraih gelar juara nasional saat masih aktif. Sekarang, ia berprofesi sebagai pelatih renang yang menangani sebuah klub renang elit. Lalu tiba-tiba, ia merekrut adiknya menjadi asisten? Zea menoleh ke arah Donna yang muncul dari arah dapur. "Iya tuh. Kamu ikut Kakakmu saja. Daripada di rumah, pumping terus." Tentu saja mamanya setuju dengan kakaknya! Zavian mengangguk. "Kita akan berangkat sepuluh menit lagi. Kamu siap-siap." Beberapa saat kemudian, perjalanan ke pusat pelatihan ditempuh kurang dari dua puluh menit. Pusat pelatihan renang itu ternyata lebih besar dari yang Zea bayangkan. Gedung indoor dengan langit-langit tinggi, kolam berukuran olimpik, dan bau klorin yang langsung menusuk begitu pintu dibuka. Tapi, yang tidak Zea bayangkan adalah betapa banyaknya laki-laki di dalam sana. Para atlet yang sedang berlatih, staf pendamping, pelatih-pelatih lain … semuanya laki-laki! Zea berjalan di belakang Zavian, berusaha sembunyi di balik punggung lebar kakaknya. Ia sedikit malu karena ia satu-satunya perempuan di sini. Mata Zea melirik ke ujung kolam. Seorang pria yang baru saja berenang, dan naik ke tepi kolam. Air menetes dari rambut basahnya, mengalir deras melewati dada bidang dan otot perut yang terpahat sempurna. Pria itu berhenti di depan Zavian. "Coach. Pagi," sapa pria itu. Suaranya terdengar dalam. Lalu tatapan tajamnya berpindah ke perempuan yang berdiri di sisi pelatihnya. "Pagi," jawab Zavian singkat. "Ini Zea, hari ini dia ikut dan jadi asisten saya." Zea menelah ludah saat iris mata gelap atlet itu menyorot ke arahnya. Zea kenal pria ini. Wajah pria itu terlihat lebih dewasa, lebih tajam, dan lebih tegas. Tubuhnya juga lebih tinggi dan menjulang dari yang Zea ingat. “Marco…?”Sudah 3 bulan berlalu semenjak meninggalnya tetua Arlyansyah, Ferdinand kini sudah bisa bangkit dan mengikhlaskan kepergian sang kakek. Sebelumnya, pria itu begitu terpuruk karena kehilangan sosok yang selama ini menjadi pelindung dan pengganti orang tuanya. Walaupun terlihat cuek dan tidak peduli, sejujurnya pria berhati dingin itu merasakan kehilangan yang amat dalam. Tetapi di samping keterpurukannya, ada seorang wanita yang sangat dicintai oleh Ferdinand. Dan wanita itu membuat Ferdinand cepat bangkit dan melupakan semua masalah yang ada. Sesuai dengan permintaannya, Ferdinand tidak mengizinkan Airy untuk pergi dari perusahaan itu. Airy tetap ia biarkan bekerja karena Ferdinand tak mau jauh dari sisi wanitanya.Airy menjadi wakil CEO di bawah kepemimpinan Ferdinand. Tetapi, Airy meminta kepada suaminya untuk mundur jika mereka berdua memiliki anak, karena Airy ingin menghabiskan waktu bersama anak. Dan Ferdinand, selain menuruti kemauan istrinya, ia memberikan 60% saham atas nama
"Seseorang siapa yang kamu minta tolong untuk menyelidiki?" Ferdinand masuk ke kamar dan mendekati Airy."Mas sudah pulang?" Airy terkejut dengan kehadiran sang suami berada di kamarnya, kemudian meletakkan ponselnya. Ia kemudian berhambur ke pelukan pria itu. Ferdinand balas merengkuh tubuh istrinya dan menghujani ciuman di pucuk kepala Airy."Tadi aku marah-marah ke Dicky karena kamu tidak kunjung keluar dari sana. Kamu adalah orang berpengaruh yang disegani. Tidak mungkin polisi berani berbuat buruk kepadamu. Tapi masalahnya kenapa kamu cukup lama berada sana?" Airy mengerutkan bibirnya kesal."Apakah istriku ini sedang merajuk suaminya tak kunjung pulang?" Ferdinand tersenyum miring menggoda Airy.Airy berdecak kesal. "Apa sih? Aku lelah harus berada di situasi yang benar-benar membuatku pusing. Aku dan para dewan direksi dituntut untuk menstabilkan saham perusahaan yang hampir anjlok karena kamu ditahan. Belum lagi aku juga harus mengurus perusahaan yang ada di luar kota. Kamu
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Kakek meninggal?"Airy berhadapan dengan Ramli dan memberondong beberapa pertanyaan kepada pria paruh baya itu. Kabar meninggalnya Gunawan yang merupakan ketua klan Arlyansyah, menyebar dengan cepat ke seluruh pelosok negeri. Airy bahkan terkejut tidak percaya dengan apa yang ia dengar."Bukankah Pak Ramli selalu mengabarkan kondisinya kepadaku dan juga suamiku, kalau kakek keadaannya semakin membaik? Bukannya sadar, kenapa malah ...,"Airy tidak bisa berkata-kata lagi. Meskipun ia jarang menjenguk kakek mertuanya itu, ia selalu memantau kondisinya. Ia selalu mendapat kabar bahwa Gunawan kondisinya semakin baik dan menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Tetapi sekarang, malah Kakek Ferdinand meninggal."Apa Mas Ferdinand sudah tahu?" tanya Airy."Sudah. Setelah mengabari kamu, saya juga mengabari suamimu."Seorang dokter berusia paruh baya, mendekati Ramli dan Airy. "Tuan!" Airy menghadangnya dengan beberapa pertanyaan. "Dokter! Apa yang sebenarnya t
"Apakah saya tidak salah dengar? Kalian meminta agar kami menerima ajakan kerjasama dari kalian?"Airy tak berniat untuk mengambil map yang diberikan oleh asisten Yudha padanya. Ia enggan membaca dokumen proposal kerjasama yang ditawarkan oleh pria itu. Namun menerima ajakan kerjasama dari klan Syamil, bukanlah langkah yang tepat. Walaupun Ferdinand sepenuhnya mempercayakan keadaan perusahaan padanya, ia tak berani mengambil keputusan ini. Jika ia nekat mengambilnya meskipun akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar, Ferdinand pasti akan murka dan menyalahkan dirinya habis-habisan. Hubungannya dengan Ferdinand sudah membaik. Ia tak mau terjadi masalah besar lagi dan memburuk lagi hubungan mereka.Ferdinand jika sudah marah, begitu mengerikan baginya. Aneh saja orang yang terlibat dendam kesumat malah mengajak kerjasama atas dasar keuntungan. Kecuali jika kedua klan memang sudah berdamai dengan tulus tanpa ada dendam satu sama lain, akan lain lagi ceritanya.Airy mencoba menerka-
Ferdinand berlari tergesa-gesa setelah mendengar kabar dari pelayan mengenai kejadian yang menimpa Airy di dalam rumah. Pria itu menyusuri lorong rumah sakit dan pergi ke ruang ICU. Wajah pria itu terlihat panik dengan nafas yang memburu. Ketegangan menyelimuti di ruangan itu. Dicky yang baru saj
Ceklek ... "Pak! Coba lihat ini!" Dicky menunjukkan sebuah tab kepada Ferdinand. Ferdinand yang tengah berkutat pada laptopnya, mengalihkan pandangannya kepada sebuah tab yang disodorkan oleh Dicky. Saat melihat apa yang ada di sana, Ferdinand tertawa mengejek. "Siapa yang mengunggah berita ini?
"Bagaimana mungkin dia bisa menghilang?""Aku juga tidak tahu. Ini sangat aneh menurutku."Seorang wanita hamil tengah berhadapan dengan seorang pria berjas hitam yang duduk di seberangnya. Ia terkejut dengan kabar mengenai hilangnya istri seorang Ferdinan Arlyansyah. Berbagai pertanyaan hinggap di
Pagi buta Ferdinand membawa Airy keluar dari apartemen itu dan membawanya masuk ke dalam mobil. Ia berencana untuk membawa pulang Airy. Ia tidak memakaikan istrinya baju sebelum membawa istrinya pulang namun menutupi tubuh Airy dengan selimut yang menggulung tubuh yang tak berdaya karena ia gauli s












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan