MasukMalam semakin larut, dan keheningan dalam area belajar di mansion itu membuat Sora tenggelam dalam ketikannya. Hingga ia tak sadar seseorang berhenti di depan pintu ruang belajar dan menatapnya selama beberapa saat. “Kau masih belum tidur?”Sora terperanjat kaget, lalu mendongakkan kepalanya. Dmitri berdiri di ambang pintu sambil membawa dua cangkir coklat panas yang asapnya masih terlihat mengepul. Menyadari tatapan bingung Sora, ia pun melangkah masuk dengan santai.“Kebetulan aku tadi lewat dan melihatmu masih di sini,” ujar Dmitri.Ia mendekat ke arah meja dan meletakkan satu cangkir di samping laptop milik Sora. Aroma manis dari coklat itu langsung tercium, mengusir rasa penat yang menggelayuti Sora sejak tadi.“Minumlah sebelum dingin.” Setelah mengatakan itu, Dmitri duduk di sofa seberang meja Sora.“Terima kasih.” Sora menyeruput coklat itu perlahan. Dmitri mencoba mengintip ke dalam layar laptop Sora. “Kau terlalu bekerja keras. Katakan saja padaku jika perlu bantuan.” So
Setelah sarapan berakhir, satu per satu anggota keluarga meninggalkan ruang makan.Viktor menjadi orang pertama yang pergi setelah menerima panggilan penting. Tak lama kemudian, disusul Durand, karena pekerjaannya sudah menumpuk.Lalu Sylvie juga menghilang entah ke mana. Hélèna memilih tetap berada di ruang makan sambil menikmati secangkir teh hangat.Sora hendak kembali ke kamarnya, tetapi suara Dmitri menghentikannya."Kenapa kau buru-buru kembali, Sora?"Sora menoleh. “Besok adalah ujian akhir, jadi aku harus menyiapkan diri.”Hélèna kembali meletakkan cangkirnya, lalu menoleh ke arah Sora dengan tersenyum tipis. “Ujian akhir memang tidak bisa diremehkan, tapi kau juga tidak boleh memaksakan diri, Sora.”Sora hanya mengangguk pelan dan tersenyum saat menerima perhatian kecil itu, sebelum akhirnya ia benar-benar berpamitan kembali ke kamarnya.Dari matahari di atas kepala sampai matahari tenggelam, matanya sibuk menatap lembar demi lembar catatan kuliahnya. Otaknya berusaha penuh m
“Apa Durand menyulitkanmu?” Pertanyaan itu membuat senyum di wajah Sora perlahan memudar. Ia tidak menyangka jika Dmitri bisa menyadari perubahan ekspresinya. Padahal, ia sudah berusaha keras untuk tetap terlihat baik-baik saja. Kedua tangan Sora mengepal di samping tubuhnya. Ada banyak hal yang ia sembunyikan, tetapi mengapa pria di sebelahnya begitu peka?Apakah semua keluarga Volkov memiliki insting tajam?Sora memilih diam. Sudut bibirnya membentuk senyuman tipis, lalu ia menggeleng pelan.Dentuman kembang api masih belum berhenti, menelan keheningan di antara mereka.***Mobil mewah itu akhirnya memasuki pelataran Mansion tepat lewat tengah malam.Udara dingin menyelimuti halaman yang sunyi, suasana begitu kontras dengan hiruk pikuk kota beberapa menit yang lalu. Dan di sana, Durand duduk bersandar di bagian depan mobilnya dengan ditemani sebatang rokok di sela jarinya. Bara merah kecil di ujung itu menyala, beberapa detik kemudian asap tipis mulai mengepul di udara. Mobil it
Makan malam usai, mereka kembali keluar dari restoran. Udara malam semakin dingin, meski begitu, jalanan Moskow semakin ramai, orang-orang mulai bergerak menuju pusat perayaan tahun baru.Semakin malam, kota akan semakin ramai. Menggunakan mobil akan membuat mereka terjebak di tengah kemacetan. Sora memperhatikan Dmitri yang hendak membuka pintu mobil, dan dengan cepat ia menahannya. "Kita tinggalkan saja mobilnya di sini."Dmitri mengerutkan kening. Ia menatap Sora dengan wajah bingungnya. "Kenapa?"Sora memahami ekspresi Dmitri. Ia sangat sadar jika ucapannya barusan terdengar sangat ambigu, tiba-tiba saja. Orang gila mana yang akan meninggalkan mobilnya begitu saja di tempat asing. "Jalanan di Moskow sangat padat di malam tahun baru," jawabnya santai. "Lebih cepat kita gunakan metro, titipkan saja mobilnya di sini sementara."Dmitri terdiam, menatap jalanan yang mulai padat, lalu kembali menatap Sora. Perlahan sudut bibirnya terangkat. “Baiklah. Aku setuju.” Dmitri kembali menyi
Sementara di Mansion Volkov, suasana tampak sepi dan ganjil. Ruang makan yang luas itu hanya diisi dengan dentingan alat makan yang beradu dengan porselen mahal. Sementara para pelayan berdiri di setiap sudut ruangan.Hélèna meletakkan garpunya dengan dentingan keras, menunjukkan kekesalannya yang tidak bisa ditutupi. Ia menatap kursi kosong di seberang, milik Durand. "Bahkan malam tahun baru pun dia tidak pulang walau hanya untuk makan malam," gerutunya, nada suaranya dipenuhi ketidaksenangan. "Kesibukannya seperti menelan sisi manusianya!"Viktor yang duduk di ujung meja menyesap red wine dengan tenang. Ekspresinya jauh lebih tenang, meski sang istri dalam suasana hati kesal. "Durand sedang mengurus logistiknya yang memang sangat sibuk, Hélèna. Kau tahu sendiri bagaimana sibuknya logistik di akhir tahun seperti ini," balas Viktor datar. “Itu karena kau membebankan semuanya padanya!” Viktor menghela napas panjang. “Bukankah sama saja dengan Dmitri yang mengurus bisnis di Paris?”
Langit sudah gelap sepenuhnya. Kini, jalanan dipenuhi lampu-lampu hias yang menggantung sepanjang jalan, memantul di permukaan salju. Orang-orang berjalan cepat, membungkus diri mereka dengan mantel tebal dan syal. Moskow akan tampak terlihat lebih hidup ketika menjelang tahun baru. Mereka akan berbelanja, membawa kantong belanja penuh makanan menyambut tahun baru. Suasana di dalam mobil hening. Namun, Sora merasa tidak ada tekanan seperti biasanya. Jalanan yang cukup padat membuat arus perjalanan mereka sedikit terganggu. Dmitri sesekali melirik ke arah Sora. Waktu sudah menunjukkan makan malam. Harusnya, makan malam terlebih dahulu sebelum berangkat."Harusnya kita makan malam dulu sebelum berkeliling," ucap Dmitri sambil mendengus kesal. Ia menoleh ke arah Sora, menunjukkan senyum santai, kemudian bertanya, "Apa kau ingin makan sesuatu, Sora?"Sora menoleh. "Aku ikut saja." Baginya, makan apa saja tidak ada bedanya. "Kau yang lebih tahu banyak tentang Moskow, Sora. Aku tidak
Sora berdiri beberapa langkah dari ranjang miliknya, lalu merenggangkan punggungnya. Tangannya ditarik ke belakang, lehernya dimiringkan ke satu sisi. Bunyi tulangnya beradu renyah, membuatnya meringis.“Ah … sial!” umpatnya kesal. Sora menekan punggung bawahnya dengan telapak tangannya. Otot-oto
Durand tidak membalas. Untuk pertama kalinya Durand terdiam pada Sora—membiarkan wanita itu menyingkap sedikit kemejanya. Sora menyingkapnya. Meski ia tahu, ketika Durand membaik, konsekuensi dari keberaniannya ini akan berimbas fatal.Kemeja Durand terangkat.Sora terdiam sesaat. Darah itu meres
Langkah Sora terasa ringan ketika menyusuri trotoar lebar di Kutuzovsky Prospekt. Setiap bangunan terlihat megah dengan lampu kekuningan memberikan kesan kokoh dan abadi. Sora menatap barisan lampu berpaduan dengan cahaya lampu dari jendela-jendela apartemen kelas atas di sepanjang jalan. Kilauan
Sora tak langsung menjawab. Ia tetap berdiri di tempatnya, wajahnya tenang, tampak tak seperti berusaha menenangkan suasana hatinya. Tak ada rasa takut yang biasanya muncul ketika Durand meninggikan suaranya. “Apa aku perlu mengingatkanmu lagi siapa dirimu?” Durand memandang Sora dengan rahang men







