MasukKeberanian Sora memuncak karena rasa muak yang sudah sampai di ubun-ubun. “Kau bukan seorang pahlawan. Kau hanyalah pria yang takut kehilangan kendali sampai-sampai membangun tembok besar untuk berlindung di baliknya.”Durand mencengkeram kemudi erat. “Jaga ucapanmu, Sora!”Alih-alih takut dengan nada suara Durand yang mulai berubah, justru Sora semakin berani bersuara. “Kenapa? Kau tersinggung dengan ucapanku?” Suara Sora mulai bergetar karena amarah yang ia tahan selama berbulan-bulan. “Kau itu menyedihkan, Durand. Kau punya segalanya di Moskow, tapi kau mengurung wanita di balik tembok besarmu agar kau merasa punya kuasa.”Durand tak bisa lagi menahan kesabarannya. Ia mendadak menginjak rem hingga tubuh Sora sedikit terpental ke depan. Mobil itu berhenti di tepi jalan, jauh dari keramaian kampus. Napas Durand memburu, ia menoleh ke arah Sora dengan kilatan amarah di matanya yang gelap. “Beraninya kau!” “Keluar!” bentak Durand. Ruang yang sempit suara Durand terasa menggelegar
“Pulang?” Ada sedikit kekecewaan pada raut wajah Katharina. “Ooh, ayolah … kau butuh udara segar sejenak, Sora. Sejak tinggal di rumah teman Papamu aku jarang sekali pergi bersamamu.” Katharina mengerucutkan bibirnya. Ada rasa tidak suka yang ia tunjukkan terang-terangan. Ia merasa kehilangan sosok sahabat yang biasa menghabiskan waktu bersama.Semenjak Sora tinggal di kediaman Volkov, Katharina merasa sebuah tembok besar terbangun di antara mereka. Sora selalu terburu-buru dan sangat sulit dijangkau. Tubuh Sora membatu, lidahnya terasa kelu. Ia ingin mengatakan jika dirinya tidak punya pilihan lain. Setiap langkah yang ia ambil selalu diburu ‘jam’. “Aku—”“Sora!” Terdengar suara berat sangat familiar sebelum ia meneruskan kata-katanya. Sora pun menoleh ke arah sumber suara. Katharina ikut menoleh. Tak jauh di depan mereka, Durand berdiri tegak dengan kedua tangannya tersumpal ke dalam saku celananya. Kenapa dia masih di sini?Apa dia menungguku?Sora sedikit terkejut dengan ke
Mobil Range Rover itu menderu pelan sepanjang perjalanan menuju Moskow University. Bangunan megah dengan menara tinggi dan bintang di puncaknya itu mulai terlihat. Sebelum mobil itu benar-benar memasuki area kampus, Sora meminta Durand untuk berhenti jauh dari area kampus. “Berhenti di sini saja.” Alih-alih menginjak rem, Duran justru melajukan mobilnya, mengabaikan permintaan Sora. Kepatuhan tidak ada dalam kamusnya, ia selalu memiliki cara tersendiri.Sora hanya bisa menghembuskan napasnya panjang. Ia menelan kembali kata-kata yang sudah berada di ujung lidahnya, berbicara dengan orang sekeras Durand sama saja berbicara dengan tembok. Dan ia terlalu lelah untuk melakukan perdebatan.Begitu mobil berhenti di area drop-off, tanpa menunggu lama Sora membuka pintu mobil, wajahnya yang panas karena rasa gondok tersapu angin musim dingin.“Sekarang pergilah,” kata Sora dengan nada mengusir. Namun, ucapan Sora itu bagaikan angin musim dingin yang berlalu. Durand membuka pintu kemudi lal
Durand meletakkan ponselnya kembali. Ia mengangkat pandangannya, lalu bangkit berdiri, berjalan ke arah Sora. Kini, ia berdiri tepat di depan Sora. Tubuhnya yang tinggi membuat wanita itu harus mendongak. Bukannya marah karena penolakan yang dilakukan Sora, justru Durand menatapnya lekat dengan seringaian tipis muncul di sudut bibirnya. “Kau terlihat lebih galak.” Sora memutar kedua matanya, malas menanggapi hinaan atau pujian yang keluar dari mulut Durand. Kemudian, Durand melanjutkan, “Orang Tuaku akan kembali minggu depan.” Amarah Sora memudar begitu mendengar kata-kata Durand. Ekspresinya digantikan wajah kebingungan dengan alis berkerut. Selama berbulan-bulan tinggal di sini, ia tak pernah melihat keberadaan pria yang membawanya ke Mansion. Ia hanya melihat Viktor sekali, itu pun dalam waktu singkat. Tak ada keluarga yang lain di Mansion ini. Hanya Durand dan dominasinya.“Lalu, apa hubungannya denganku?” tanya Sora, meski ia diliputi dengan rasa penasaran mengenai keluar
Durand tak menjawab permintaan maaf dari pelayan itu. Wajahnya tenang, tetapi nada suaranya terdengar penuh intimidasi. “Keluar.”Pelayan itu menunduk cepat. Ia hampir tersandung ketika melangkah pergi meninggalkan Durand dan Sora. Pintu kembali tertutup.Suasana kembali hening.Sora masih berdiri di tempatnya, jantungnya masih terpacu cepat karena adegan beberapa menit yang lalu. Durand kembali menatap ke arah Sora. Belum juga kesadaran wanita itu pulih, suaranya berhasil membuatnya terkejut. “Ikut denganku!”Tanpa menunggu persetujuan Sora, Durand langsung saja menarik tangannya—membawanya melewati lorong panjang menuju kamarnya. Berkali-kali Sora memberitahu agar Durand melepaskannya, tetapi pria itu acuh tak acuh. Pada akhirnya, Sora hanya pasrah dan mengikuti setiap perintah Durand. Sehari penuh menjadi pelayan pribadi dadakan untuk Durand membuatnya tak terasa jika hari sudah berganti malam. Sora kembali ke kamarnya sambil menggerutu sepanjang perjalanan. Durand benar-benar
Sora menarik napas lega, memposisikan dirinya senyaman mungkin di atas kasur. Hawa dingin dan sunyinya kamar berasa surga yang diidam-idamkan. Ia kembali menggulung tubuhnya di bawah selimut.Perlahan, kesadarannya hilang. Napasnya mulai teratur. Ia hampir saja jatuh ke dalam tidurnya yang nyenyak. Dunia di sekitarnya menjadi sunyi.Sampai kemudian …Brak! Brak! Brak!Gedoran keras dengan ketidaksabaran menghantam pintu kamarnya, membuat Sora tersentak hebat membuka mata lebar-lebar.“Sora!”Suara bariton berat dan sangat familiar itu terdengar dari pintu. Durand. Sora mengerang kesal, menutup wajahnya frustasi. “Demi apa pun, pria ini benar-benar menyebalkan!” Gedoran pintunya tak berhenti, justru semakin terdengar keras. “Buka pintunya!” Durand kembali berteriak. “Aku tahu kau tidak mengerjakan diplom-mu di dalam.”Sora terduduk, telinganya terasa berdengung karena teriakan Durand yang menembus daun pintu. Rasa kesal mulai merayapinya. Ia tak berekspektasi sedikitpun jika pria







