Share

Bab 33

Author: Sya Reefah
last update publish date: 2026-02-15 23:50:19

Durand meletakkan ponselnya kembali. Ia mengangkat pandangannya, lalu bangkit berdiri, berjalan ke arah Sora.

Kini, ia berdiri tepat di depan Sora. Tubuhnya yang tinggi membuat wanita itu harus mendongak.

Bukannya marah karena penolakan yang dilakukan Sora, justru Durand menatapnya lekat dengan seringaian tipis muncul di sudut bibirnya. “Kau terlihat lebih galak.”

Sora memutar kedua matanya, malas menanggapi hinaan atau pujian yang keluar dari mulut Durand.

Kemudian, Durand melanjutkan, “Or
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 46

    Sementara di Mansion Volkov, suasana tampak sepi dan ganjil. Ruang makan yang luas itu hanya diisi dengan dentingan alat makan yang beradu dengan porselen mahal. Sementara para pelayan berdiri di setiap sudut ruangan.Hélèna meletakkan garpunya dengan dentingan keras, menunjukkan kekesalannya yang tidak bisa ditutupi. Ia menatap kursi kosong di seberang, milik Durand. "Bahkan malam tahun baru pun dia tidak pulang walau hanya untuk makan malam," gerutunya, nada suaranya dipenuhi ketidaksenangan. "Kesibukannya seperti menelan sisi manusianya!"Viktor yang duduk di ujung meja menyesap red wine dengan tenang. Ekspresinya jauh lebih tenang, meski sang istri dalam suasana hati kesal. "Durand sedang mengurus logistiknya yang memang sangat sibuk, Hélèna. Kau tahu sendiri bagaimana sibuknya logistik di akhir tahun seperti ini," balas Viktor datar. “Itu karena kau membebankan semuanya padanya!” Viktor menghela napas panjang. “Bukankah sama saja dengan Dmitri yang mengurus bisnis di Paris?”

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 45

    Langit sudah gelap sepenuhnya. Kini, jalanan dipenuhi lampu-lampu hias yang menggantung sepanjang jalan, memantul di permukaan salju. Orang-orang berjalan cepat, membungkus diri mereka dengan mantel tebal dan syal. Moskow akan tampak terlihat lebih hidup ketika menjelang tahun baru. Mereka akan berbelanja, membawa kantong belanja penuh makanan menyambut tahun baru. Suasana di dalam mobil hening. Namun, Sora merasa tidak ada tekanan seperti biasanya. Jalanan yang cukup padat membuat arus perjalanan mereka sedikit terganggu. Dmitri sesekali melirik ke arah Sora. Waktu sudah menunjukkan makan malam. Harusnya, makan malam terlebih dahulu sebelum berangkat."Harusnya kita makan malam dulu sebelum berkeliling," ucap Dmitri sambil mendengus kesal. Ia menoleh ke arah Sora, menunjukkan senyum santai, kemudian bertanya, "Apa kau ingin makan sesuatu, Sora?"Sora menoleh. "Aku ikut saja." Baginya, makan apa saja tidak ada bedanya. "Kau yang lebih tahu banyak tentang Moskow, Sora. Aku tidak

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 44

    Pagi di kediaman Volkov terasa sangat dingin, hingga menusuk tulang. Sora terbangun dengan perasaan ringan. Setelah rentetan zachyot—ujian kualifikasi yang menguras tenaga—akhirnya tuntas, meski ujian akhir di bulan Januari nanti sudah menantinya. Setidaknya, selama dua hari ini ia terlepas dari buku-buku tebalnya. Sora memilih untuk mengurung diri dalam kamar yang luas dan dingin. Sesekali keluar hanya untuk keperluan mendesak saja.Suasana di bawah mulai riuh dengan persiapan tahun baru. Para pelayan berlalu lalang, dan aroma khas pohon pinus mulai tercium. Namun, bagi Sora, kamar adalah tempat paling aman dari tatapan mata-mata Durand yang selalu membuatnya merasa seperti buronan yang harus diawasi. Mata-mata, pembangkang, adalah julukan yang selalu Durand tanamkan pada dirinya. Ketika sore tiba, Sora duduk di depan jendela, menatap butiran salju yang turun. Salju itu menutupi semua halaman, seperti kain putih yang membentang. Jauh dari tembok Mansion, suara tawa dan dan musi

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 43

    Satu jalur pelabuhan dipindahkan untuk menghindari pemeriksaan internasional. Beberapa pengiriman dialihkan ke terminal lain agar lebih aman. Sementara itu, jalur darat diperketat untuk memastikan tidak ada gangguan dari para rivalnya. Durand mengawasi semuanya dengan ketelitian. Layar besar di depannya menampilkan laporan keluar masuk dari berbagai wilayah. Baltik, Laut Hitam, hingga jalur distribusi Eropa Tengah. Bukan hanya itu, perusahaan logistiknya menjadi penghubung wilayah Asia-Eropa. Beberapa pesan datang dari orang yang tidak terdaftar di dokumen resmi. Durand membacanya tanpa bersuara, hanya sesekali memberikan perintah yang langsung dijalankan. Kesibukan ini hingga berhari-hari. Bahkan malam tiba, kantor tidak pernah tidur. Dokumen terus berganti di mejanya. Laporan kontrak, laporan pengiriman, hingga catatan operasi dunia bawahnya yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang tertentu. Stepan bahkan keluar masuk membawa pembaharuan laporan yang terjadi di lapangan. Dalam k

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 42

    Tok! Tok! Tok!Pandangan Sora tertuju pada pintu kamarnya, tapi ia tak langsung membukanya. Selang beberapa detik, pintu kembali diketuk dari luar. Aneh, tak ada panggilan dari luar untuknya. Entah siapa yang mengetuk? Ketukan itu terdengar pelan dan halus. Itu bukan ciri khas Durand yang biasa menggedor pintu. Bukan juga pelayan di sini. Sora segera bangkit dan melangkah ke arah pintu. "Ya, aku datang."Begitu ia membuka pintu kamarnya, ia mendapati Dmitri berdiri di sana. Berbeda dengan Durand yang selalu membawa aura intimidasi, Dmitri membawa ketenangan. Tangannya membawa bingkisan besar yang dibalut pita satin. "Maaf mengganggumu malam-malam, Sora," kata Dmitri dengan suara lembut. Untuk sesaat, Sora tertegun. Suara itu benar-benar menyerupai milik Durand. Tegas, dalam. Kesamaan antara mereka benar-benar tidak bisa diabaikan, terutama tatapan matanya yang sama seperti Durand. Hanya saja, Dmitri lebih lembut dan tenang. Tak ada tekanan dingin yang terpancar di matanya. So

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 41

    Sora terpaku. Kedua orang itu kontras dengan aura Rusia yang dimiliki Durand. Namun, salah satu dari mereka memiliki fitur wajah yang hampir mirip dengan Durand. Seorang pria muda berambut golden brown yang memiliki rahang tegas, tatapannya angkuh identik dengan Durand. Hanya saja, matanya tidak memancarkan kebencian. Jika Durand adalah versi pria matang dan penuh obsesi, pria muda di depannya adalah versi lebih halus tapi memiliki api yang sama di matanya. Pria muda itu biasa disapa Dmitri—putra kedua Viktor. Sora bertanya pada diri sendiri. Apa mereka saudara Durand? Rasa penasaran itu meluap. Selama tinggal berbulan-bulan di bawah atap yang sama dengan Durand, Sora tak pernah mendengar pria itu menceritakan keluarganya, atau sekadar menunjukkan foto keluarga mereka. Menurutnya, Durand adalah pria berbahaya yang hidup dalam kemewahan dan penuh rahasia. Di tengah rasa penasarannya, suara lembut tapi berwibawa memecah keheningan. "Sora?" Sora tersentak lalu segera menunduk ho

  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 18

    Durand tidak membalas. Untuk pertama kalinya Durand terdiam pada Sora—membiarkan wanita itu menyingkap sedikit kemejanya. Sora menyingkapnya. Meski ia tahu, ketika Durand membaik, konsekuensi dari keberaniannya ini akan berimbas fatal.Kemeja Durand terangkat.Sora terdiam sesaat. Darah itu meres

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab16

    Acara berjalan seperti dugaan Durand sejak awal—terlalu membosankan. Harusnya, sejak awal ia tak perlu datang.Musik mengalun pelan di balik percakapan formal. Gelas-gelas kristal beradu, senyuman tipis menjadi topeng mereka, dan setiap jabat tangan menyimpan sebuah rahasia. Para tamu saling berba

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 17

    Langkah Sora terasa ringan ketika menyusuri trotoar lebar di Kutuzovsky Prospekt. Setiap bangunan terlihat megah dengan lampu kekuningan memberikan kesan kokoh dan abadi. Sora menatap barisan lampu berpaduan dengan cahaya lampu dari jendela-jendela apartemen kelas atas di sepanjang jalan. Kilauan

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Obsesi Buta Tuan Mafia   Bab 14

    Sora tak langsung menjawab. Ia tetap berdiri di tempatnya, wajahnya tenang, tampak tak seperti berusaha menenangkan suasana hatinya. Tak ada rasa takut yang biasanya muncul ketika Durand meninggikan suaranya. “Apa aku perlu mengingatkanmu lagi siapa dirimu?” Durand memandang Sora dengan rahang men

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status