Chapter: Bab 484Mobil yang membawa mereka berlima meluncur dengan lancar menuju sanatorium. Suasana di dalam kabin hangat dan akrab, diisi dengan canda tawa ringan sesekali. Pemandangan hijau pedesaan yang damai menjadi latar belakang perjalanan mereka.Alisa yang duduk di barisan tengah, tiba-tiba memecah keheningan dengan suara serius. “Kak Juned,” katanya, memanggil kakak iparnya yang sedang menyetir. “Boleh aku tanya sesuatu?”Juned menoleh sebentar. “Tentu, Ada apa, Alisa?”Alisa menghela napas. “Setelah melihatku kehilangan kekuatan super, apakah kau pernah berpikir untuk menghapus kekuatan supermu juga?”Pertanyaan itu menggantung di udara. Tania dan Dinda yang mendengar pun terdiam, menunggu jawaban Juned.Juned memandang jalan di depan sejenak sebelum menjawab. “Aku pernah memikirkannya,” akunya. “Tapi kemudian aku menyadari sesuatu.”Dia melirik Alisa melalui kaca spion. “Kekuatan ini adalah warisan, Alisa. Bukan hanya dari kakek, tapi juga bukti perjalanan kita. Kehilangan kekuatanmu adal
Terakhir Diperbarui: 2025-10-24
Chapter: Bab 483Juned melihat teman-temannya satu per satu. “Kakek menawarkan kita untuk tinggal dan membantu mengelola sanatorium. Tapi aku rasa... kita punya jalan masing-masing.”Alisa memegang tangan Juned. “aku telah memutuskan sesuatu." Dia menatap Tania. "Ke mana pun Kak Tania pergi, di situlah aku akan berada."Tania, yang duduk di samping Juned, juga langsung menyambut gagasan tinggal di sanatorium dengan antusias. “Aku setuju, Juned. Tempat itu begitu damai dan penuh makna. Kita bisa memulai kehidupan baru di sana, jauh dari semua kenangan buruk.”Devina mengangguk, matanya berbinar. “Aku juga setuju. Sanatorium itu seperti oasis yang tersembunyi. Dengan teknologi yang kukuasai, aku bisa membantu meningkatkan sistem keamanan dan kenyamanan tempat itu.”Namun, Dinda hanya diam menunduk. Jari-jarinya bermain-main dengan ujung bajunya, wajahnya dipenuhi keraguan. “Aku... aku belum tahu apa yang harus kulakukan,” bisiknya lirih.Alisa yang duduk di samping Dinda meletakkan tangan di pundaknya.
Terakhir Diperbarui: 2025-10-24
Chapter: Bab 482Juned maju ke depan, merebut mikrofon. “Tunggu! Semua ini adalah kebohongan!”Ruang gedung langsung gempar. Nyonya Lim membeku, matanya menyala kemarahan.“Penelitian ini pernah dihentikan karena menyebabkan impotensi massal dan kematian!” teriak Juned. “Kakek saya, Dr. Sugiarto, adalah ilmuwan yang bertanggung jawab!”Alisa mengangkat dokumen yang mereka bawa. “Ini bukti-bukti nya! Limbah penelitian ini telah mencemari lingkungan dan meracuni masyarakat!”Nyonya Lim mencoba mengambil alih mikrofon. “Ini hanya fitnah! Mereka tidak mengerti kemajuan ilmu pengetahuan!”Tapi Devina sudah menampilkan data-data di layar raksasa. “Lihat! Ini laporan korban jiwa dari penelitian masa lalu! Dan ini bukti bahwa Nyonya Lim melanjutkan penelitian berbahaya ini!”Kekacauan pun terjadi. Para wartawan berkerumun, mengambil foto dan video. Pejabat pemerintah terlihat panik.Nyonya Lim menghadapi Juned dengan wajah merah marah. “Kau merusak segalanya!”“Tidak, Justru kau yang telah merusak banyak nya
Terakhir Diperbarui: 2025-10-24
Chapter: Bab 481“Ini adalah sisa penawar untuk jamur-jamur itu,” ucap kakek Sugiarto dengan suara bergetar. “Aku menyimpannya selama bertahun-tahun, berharap tidak perlu menggunakannya.”Dia mengulurkan botol-botol itu pada Juned. “Semprotkan ini ke semua jamur di perkebunan itu. Cairan ini akan memutus siklus hidup mereka dan membuat semua spora menjadi tidak aktif selamanya.”Kemudian dia mengambil buku catatan tua itu, membalik-balik halamannya dengan perasaan haru. “Dan ini... ini adalah semua penelitian kami. Formula, catatan percobaan, segala sesuatu tentang jamur itu. Kau harus membakarnya, Juned. Pastikan tidak ada satu halaman pun yang tersisa.”Juned menerima botol dan buku itu dengan tangan gemetar. “Tapi Kakek, ini adalah hasil jerih payah bertahun-tahun...”“Jerih payah yang telah menelan terlalu banyak korban,” potong kakek dengan tegas. Matanya berkaca-kaca. “Ilmu pengetahuan tanpa kebijaksanaan hanya akan membawa kehancuran. Sudah waktunya kita mengakhiri ini.”Dia memandang cucunya d
Terakhir Diperbarui: 2025-10-24
Chapter: Bab 480Sugiarto membelai kepala cucunya dengan tangan yang bergetar. “Tidak ada yang perlu dimaafkan, Nak. Justru kakek yang harus minta maaf telah meninggalkanmu dengan begitu banyak pertanyaan.”Mereka akhirnya melepaskan pelukan. Kakek Sugiarto memandang wajah Juned dengan penuh kasih, matanya berkaca-kaca. “Kau sudah tumbuh menjadi pemuda yang tampan. Mirip sekali denganku saat muda dulu.”Dia kemudian menyadari kehadiran Alisa, Dinda, Tania, dan Devina yang berdiri dengan hati-hati di belakang Juned. Senyumnya melebar. “Dan kau membawa teman-teman? Mari, mari semuanya duduk di beranda. Kakek punya teh hangat dan kue tradisional yang baru saja dibuat tetangga.”Rumah kakek Sugiarto sederhana namun nyaman. Berbagai tanaman herbal dikeringkan di langit-langit beranda, dan buku-buku tua tertata rapi di rak kayu. Terasa seperti rumah seorang guru yang bijaksana, bukan mantan tahanan.Sambil menikmati teh hangat, kakek Sugiarto memandang Juned. “Ceritakan pada kakek, Nak. Bagaimana kau menemu
Terakhir Diperbarui: 2025-10-24
Chapter: Bab 479Juned menarik napas dalam. “Kami mencari seseorang. Namanya Sugiarto. Dia... kakek saya.”Seketika itu juga, perubahan halus terjadi pada raut wajah penjaga tersebut. Kerutan di dahinya mengendur, dan bahunya yang tegang sedikit turun.“Apa namamu Juned?” tanya penjaga itu, suaranya tiba-tiba lebih lembut. “Kau cucu kakek Sugiarto?”Juned mengangguk, tidak percaya dengan reaksi ini. “Iya, saya Juned. Apakah... apakah kakek saya ada di sini?”Senyum kecil muncul di bibir penjaga itu. Dia mengangguk pada rekannya di pos penjagaan, dan gerbang besi berat itu mulai terbuka dengan perlahan.“Kakek Sugiarto sering bercerita tentangmu,” kata penjaga itu sambil mendekat dan menjulurkan tangan. “Selamat datang. Kami sudah menantikan kedatanganmu.”Juned berdiri terpaku, tidak menyangka respons ini. Alisa, Dinda, Tania, dan Devina yang masih di dalam mobil sama-sama melonggar, mata mereka bulat karena keheranan.“Jadi... jadi kami boleh masuk?” tanya Juned masih ragu.Penjaga itu tertawa hangat
Terakhir Diperbarui: 2025-10-24
Chapter: Bab 160Beberapa minggu telah berlalu sejak penobatan Wirya, dan istana kerajaan Nusantara mengalami perubahan drastis. Aturan baru yang ditetapkan Wirya—bahwa semua penghuni istana harus telanjang—telah menciptakan atmosfer yang penuh dengan hawa nafsu. Suatu pagi, ketika Wirya sedang duduk di singgasananya dengan beberapa wanita telanjang mengelilinginya, tiba-tiba muncul kilatan cahaya terang di tengah ruang takhta. Dari cahaya itu muncul dua sosok—Joko Loyo yang tampak tua dan bijaksana, serta Murni, istrinya yang cantik dengan mata penuh kelembutan.“Wirya!” hardik Joko Loyo, matanya menyala-nyala melihat pemandangan tak senonoh di istana. “Apa yang telah kau lakukan?”Wirya bangkit dari singgasana, dengan sombongnya menunjukkan tubuh telanjangnya yang perkasa. “Joko Loyo! Lihatlah kerajaanku! Aku memiliki segalanya di sini!”Murni menutup matanya, malu melihat kemerosotan moral Wirya. “Wirya, kami mengirimmu ke masa lalu untuk menyelamatkan sejarah, bukan untuk menghancurkannya!”Joko
Terakhir Diperbarui: 2025-10-26
Chapter: Bab 159Wirya menarik napas dalam. “Cincin ini... lagi-lagi...”Amita meletakkan gelas dan mendekat. “Kau tidak harus melawan hasratmu sendiri, Wirya. Kau adalah raja sekarang.”Dia berlutut di depan Wirya, tangan hangatnya menyentuh kaki Wirya. “Biarkan aku membantumu malam ini.”Cincin itu berdenyut lebih kencang, seakan menyetujui. Dan untuk malam ini, Wirya memutuskan untuk menyerah pada takdir dan hasrat yang telah dipilihkan untuknya.Amita mendekat dengan langkah yang penuh keyakinan, matanya tidak lagi memancarkan sikap prajurit yang tegas, melainkan kelembutan seorang wanita. Cahaya bulan dari balkon menerpa sisi wajahnya, menciptakan siluet yang memesona.“Wirya,” bisiknya, tangannya yang biasanya memegang pedang kini dengan lembut melepaskan jubah kerajaan yang dikenakan Wirya. “Kau tidak perlu melawan ini. Cincin itu adalah bagian dari takdirmu, dan hasrat ini adalah bagian dari kekuatanmu.”Wirya menarik napas dalam, mencoba melawan gelombang gairah yang semakin menjadi. “Tapi...
Terakhir Diperbarui: 2025-10-26
Chapter: Bab 158Hampir tiap hari Wirya dan Ratu Arunya sering mengunjungi gua tersebut.Di dalam gua yang diterangi cahaya keemasan dari cincin Wirya, ketika dua tubuh itu terpisah dengan napas masih tersengal. Arunya berbaring di atas jubahnya yang terhampar, wajahnya memancarkan kepuasan dan kedamaian yang lama hilang. Dari luar gua, suara Amita memanggil dengan hormat. “Yang Mulia? Pemukiman pertama sudah siap. Rakyat menanti perintah berikutnya.”Wirya dan Arunya saling memandang. Saatnya kembali kepada tanggung jawab. Dengan gerakan perlahan, mereka mengenakan kembali pakaian mereka. Wirya membantu Arunya berdiri, dan di matanya kini terlihat penghormatan yang berbeda.“Siapakah yang akan kau pilih sebagai permaisuri?” tanya Arunya sambil merapikan rambutnya. “Amita mungkin pilihan yang tepat. Dia kuat dan disegani.”Wirya menggeleng. “Masih terlalu cepat untuk memikirkan itu. Kerajaan harus dibangun terlebih dahulu. Dan...” dia menatap Arunya, “apa yang baru saja terjadi antara kita...”“Adala
Terakhir Diperbarui: 2025-10-26
Chapter: Bab 157“Aku...” gumamnya, suaranya bergetar. “Aku akan tinggal.”Dia berlutut menghadap Ratu Arunya, mengangkat tubuhnya perlahan. “Bangunlah, Yang Mulia. Aku bersumpah akan membantumu membangun kerajaan baru. Masa depanku... biarlah menjadi masa lalu.”Ratu Arunya memeluk Wirya erat, tangisnya pecah melegakan.Di tepi pantai, rombongan terakhir kerajaan yang hancur mulai menaiki perahu-perahu yang telah disiapkan. Wirya berdiri di samping Ratu Arunya, memandang lautan luas yang akan mereka seberangi.“Tanah baru itu bernama Nusantara,” ucap Ratu Arunya, matanya menerawang mengingat sesuatu. “Tempat di mana leluhur kita pertama kali menginjakkan kaki.”Amita mendekat dengan beberapa peta kuno di tangannya. “Menurut catatan, di sana terdapat tanah subur dengan sungai-sungai yang jernih. Tapi...” dia berhenti sejenak, “menurut legenda, tempat itu juga dijaga oleh roh-roh penjaga yang perkasa.”Wirya merasakan cincin di jarinya bergetar halus. “Aku merasa... ada yang memanggil dari sana. Sepert
Terakhir Diperbarui: 2025-10-26
Chapter: Bab 156Wirya memeluk Arunya erat, mengarahkan telapak tangannya sekali lagi. Kali ini, dengan keyakinan penuh, dia membayangkan melindungi Arunya dan menghentikan Candra Damar untuk selamanya.Cincin itu menyala dengan intensitas luar biasa, membentuk perisai energi yang mendorong Candra Damar hingga terpental ke dalam terowongan. Batu-batu mulai runtuh, menutup pintu keluar.Saat debu mengendap, Wirya dan Arunya terduduk lelah. Mereka selamat, tapi kehilangan Surya. Di kejauhan, asap masih membubung dari istana yang hancur.“Perjuangan belum berakhir,” bisap Arunya, “tapi hari ini, kita masih punya harapan.”Wirya memapah tubuh Ratu Arunya yang lemah melalui hutan belantara menuju titik evakuasi di Pantai Gua Karang Timur. Dengan setiap langkah, harapan mereka untuk menemukan para pengungsi yang selamat semakin berkobar. Namun, yang menyambut mereka hanyalah pemandangan yang menghancurkan hati.“Tidak...!” tercekik Arunya begitu matanya menangkap sosok yang terbaring di antara reruntuhan pe
Terakhir Diperbarui: 2025-10-26
Chapter: Bab 155Surya melemparkan busurnya dan menghunus pedang. “Laporan kematianku terlalu berlebihan, Candra. Dan sekarang, aku datang untuk mengembalikan kehormatan kerajaan!”Dia melompat ke tengah ruangan, pedangnya berkilat di cahaya bulan. “Anak muda! Lindungi Ratu! Aku yang akan menghadapi mereka!”Wirya segera berlari ke arah Arunya, melepaskan jubahnya sendiri untuk menutupi tubuh ratu yang setengah telanjang. Pertarungan sengit pun pecah antara Surya melawan pasukan Candra Damar, memberikan harapan baru di tengah keputusasaan.Surya bergerak lincah seperti harimau, pedangnya menari-nari membentuk lingkaran cahaya perak. Setiap tebasannya tepat sasaran, menjatuhkan prajurit Pasukan Bulan satu per satu. Darah berceceran di lantai candi yang dingin.“Wirya, bawa Ratu pergi dari sini!” teriak Surya sambil menangkis serangan tiga prajurit sekaligus.Wirya dengan sigap mengangkat tubuh Ratu Arunya yang masih lemah. “Ke mana kita harus pergi?”“Terowongan di balik patung dewa!” sahut Surya singk
Terakhir Diperbarui: 2025-10-25
Chapter: Bab 85 - Nasehat yang MembingungkanTETTT... TETTT... TETTTSuara bel pagi yang kasar membelah tidur gelisah Beni. Tubuhnya berderai, setiap otot mengingatkan pada kekerasan yang diterimanya kemarin sore. Saat ia membuka mata, langit-langit sel yang kelabu terasa lebih menindas dari biasanya. Hari ini hari pemeriksaan. Hari yang dijanjikan Pak Joni sebagai “kesempatan bernapas.” Tapi setelah insiden makan malam, napas itu terasa pengap dan penuh curiga.Antrean untuk mandi bergerak lambat, seperti gerakan para napi yang mencoba menunda awal hari. Udara lembap dan bau sabun murah menyengat. Beni berdiri, mencoba tidak menyentuh siapa pun, menjaga jarak. Luka di pinggangnya berdenyut-denyut.Kemudian, ia merasakan kehadiran familiar di sampingnya. Bukan kehadiran yang mengancam seperti Tohir, tetapi yang justru membuatnya semakin kebingungan.“Pagi, Ben. Kau kelihatan... lebih segar,” sapa Alfredo, suaranya ringan. Ia memegang handuk dan sabun batang kecil. Senyumnya hari in
Terakhir Diperbarui: 2026-01-06
Chapter: Bab 84 - Makan Malam Penuh Intrik
Makan malam di ruang makan itu berlangsung dalam ketertiban yang tegang. Suara sendok dan piring plastik yang beradu terdengar lebih keras dari biasanya, seolah setiap orang berusaha menunjukkan perilaku terbaik sebelum pemeriksaan besok.Beni duduk sendiri di meja paling pojok, jauh dari kerumunan. Setiap gerakan terasa menyakitkan, bekas pukulan dan tendangan sore tadi membakar tubuhnya. Dia makan dengan pelan, kepala tertunduk, berusaha menjadi tidak terlihat.Sementara itu, Tohir dengan senyum lebar yang tidak sampai ke matanya, bangkit dari mejanya yang ramai di tengah ruangan. Diikuti oleh Jangkung dan Botak, dia berjalan melintasi ruangan, membawa piring kecil berisi sepotong ikan asin dan sedikit sambal. Langkah mereka langsung menarik perhatian semua orang, meski tatapan tetap tertuju ke piring masing-masing.Beni merasakan kehadiran mereka sebelum melihatnya. Dia mengangkat pandangan, mencoba membaca situasi. Yang ia lihat adalah senyum Tohir yan
Terakhir Diperbarui: 2026-01-06
Chapter: Bab 83 - Taktik Tak Berjalan Mendengar Berita MengejutkanBeni menunduk, menghindari kontak mata, berusaha terlihat kecil dan tidak mengancam. “Dia bukan peliharaan. Kami hanya sekedar ngobrol, Pak,” ucap Beni akhirnya, berusaha suara datar, tanpa emosi.Tapi penundukan itu justru seperti bensin yang ditumpahkan ke bara. Tohir, yang mungkin mengharapkan perlawanan atau ketakutan yang membuatnya puas, malah melihatnya sebagai sikap meremehkan.“LIHAT DIA!” bentak Tohir tiba-tiba, membuat beberapa orang di lapangan menengok. “Berpura-pura merendah! Apa dia berpikir kami lupa, ya? Apa kau tak ingin melawanku lagi setelah kau memperlakukanku?”Beni menggeleng, masih menunduk. “Nggak, Bang. Nggak ada pikiran begitu.”“Apa kau meremehkanku, bocah?!” teriak Tohir sambil maju selangkah, mendekatkan wajahnya yang penuh amarah ke wajah Beni. Napasnya berat. Upaya Beni untuk meniru cara Alfredo—menjadi tidak menarik, menjadi licin—justru dianggap sebagai sikap dingin yang menghina.Taktik Beni gagal total.
Terakhir Diperbarui: 2026-01-06
Chapter: Bab 82 - Menerapkan Taktik BaruSuatu sore, saat Beni duduk sendirian di bangku lapangan yang pecah seusai bekerja, Alfredo mendekat dengan membawa dua cangkir kaleng berkarat yang mengepulkan asap tipis.“Nih, untukmu. Kopi tubruk racikan sendiri,” ujar Alfredo, menyodorkan satu cangkir. “Kopi ini khas dari daerah tempat asalku karena keluargaku yang mengirimnya.”Bau kopi sangrai yang kasar tapi nyata menyentuh hidung Beni. Di tempat di mana segala sesuatu terasa buatan dan menusuk, aroma itu seperti kilasan kenangan kehidupan normal. Setelah ragu sejenak, Beni menerimanya. “Terima kasih.”“Sama-sama. Kau harus sering berbaur dengan tahanan lain dengan normal. Jika kau terlihat melamun terus, nanti dijadikan sasaran empuk lagi,” kata Alfredo sambil duduk di sampingnya, menyeruput kopinya dengan nikmat.Mereka duduk dalam diam sebentar, menikmati—atau setidaknya, merasakan—kehangatan yang langka. “Kamu nggak takut kalau dekat sama aku?” tanya Beni akhirnya, memec
Terakhir Diperbarui: 2026-01-06
Chapter: Bab 81 - Teman atau LawanFajar mulai menyingsing, garis cahaya pucat menyentuh lantai sel. Beni belum tidur sama sekali, tapi kepalanya terasa lebih jernih daripada sebelumnya. Rasa takutnya belum hilang, tapi kini bercampur dengan sesuatu yang lain: kewaspadaan yang aktif. Dia akan mengamati. Dia akan mendengarkan. Dia akan mempelajari pola di blok ini, siapa yang dekat dengan Tohir, siapa yang mungkin punya keluhan.Dia memutuskan untuk tidak langsung menggunakan akar-akar itu. Dia akan simpan. Percobaan pertama adalah menerapkan nasihat lainnya: bertahan dengan terlihat.Saat bel pagi berbunyi, Beni bangun. Saat mandi, dia tidak lagi berusaha menyembunyikan memar dan luka di tubuhnya. Dia membiarkannya terlihat jelas. Saat antri makan, dia berdiri tegak, menatap lurus ke depan, tidak lagi menunduk. Dia tidak mencari masalah, tapi juga tidak lagi terlihat seperti seekor tikus yang ketakutan.Beberapa tatapan penasaran masih mengikutinya, tapi tidak ada yang mendekat. K
Terakhir Diperbarui: 2026-01-06
Chapter: Bab 80 - Bangkit Kembali“Kau adalah seorang jurnalis yang terjebak dalam kasus kotor karena ada yang ingin kau diam. Tapi di luar sana mungkin ada yang masih mencari kebenaran. Sebut saja… rekan kerjamu yang bernama Nadia.”Mendengar nama itu di sini, di penjara, membuat dada Beni sesak.“Jika sesuatu yang sangat buruk terjadi padamu di sini—misalnya, ‘bunuh diri’ atau ‘kecelakaan’—apakah itu tidak akan mencurigakan? Apakah itu tidak akan membuat orang itu mencari lebih dalam? Tohir dan bosnya di luar mungkin tidak ingin itu.”Ini adalah perspektif baru yang mengagetkan. Kerentanannya bisa menjadi tameng.“Jadi, aku harus apa?”“Bertahan. Tapi bertahan dengan pamer. Saat kau disiksa, berteriaklah agar semua dengar. Saat kau lapar, tunjukkan. Jadilah korban yang sangat terlihat. Itu akan membuatmu lebih sulit untuk ‘dihilangkan’ dengan rapi. Sementara itu… pelajari musuhmu. Siapa yang dekat dengan Tohir? Siapa yang tidak suka padanya? Kebutuhan apa yang tidak bisa dia penuhi di blok ini?”Suara itu terdiam se
Terakhir Diperbarui: 2026-01-06