Mag-log inSejak ayah meninggal, aku hidup pas-pasan dari pekerjaan videografer sambil kuliah, mengandalkan kamera SLR tua warisan studio ayah. Tapi saat ibu jatuh dan dirawat di rumah sakit, tagihan menumpuk tanpa ampun. Aku mengambil semua proyek yang bisa, dari video pernikahan hingga acara murahan, sampai akhirnya seorang produser menawarkan pekerjaan dengan bayaran tiga kali lipat. Awalnya kupikir ini rezeki tak terduga—sampai ia menyebut jenis videonya: dewasa. Aku sempat menolak, tapi bayangan ibu di ranjang rumah sakit membuatku diam. Lalu ia menambahkan satu kata yang mengubah segalanya. “Konsepnya POV. Kau yang pegang kamera... dan ikut bermain.”
view moreMaya menarik napas dalam, matanya berkaca-kaca tapi berusaha tegar. “Semuanya berawal dari adikku, Beni. Beberapa tahun lalu, dia tertabrak mobil. Biaya rumah sakitnya... selangit. Kami nyaris putus asa. Lalu Bagas muncul, entah dari mana. Dia yang menanggung semua biayanya, tanpa banyak bicara. Menyelamatkan nyawa adikku.” Dia menatap kosong ke dinding. “Aku... aku merasa punya hutang yang tak terbayar. Aku tak punya uang, tak punya apa-apa. Yang kupunya Cuma... tubuhku. Maka, suatu malam, kudatangi kamarnya. Kukatakan, aku mau membalas budinya dengan cara itu.” “Bagas menolak,” lanjut Maya, dan sedikit senyum getir muncul. “Dia bilang, pertolongannya tulus, tidak perlu dibayar. Tapi aku... aku memaksa. Aku merasa itu satu-satunya yang bisa kuberi, satu-satunya cara agar aku tidak merasa terus-menerus menjadi pengemis. Aku mendesak, merayu, hingga akhirnya... dia menyerah.” Maya mengusap wajahnya. “Awalnya, aku takut. Tapi lama-kelamaan... aku mulai menyukainya. Bukan karena ci
Rafael masih ingin membantah, wajahnya merah padam. “Tapi dia—!” “RAFAEL!” suara Irwan akhirnya pecah, keras dan penuh peringatan. Ia memotong anaknya. Wajah Irwan masih tegang, tetapi amarahnya telah berubah menjadi kalkulasi bisnis yang dingin. Dia melihat Bagas, lalu melihat Beni yang masih berdiri dengan amplop di panggung, dan akhirnya melihat kerumunan tamu yang menyaksikan. Dia menarik napas dalam-dalam. Dalam sekejap, topeng profesionalnya kembali, meski terpaksa dan retak. Dia mengambil mikrofon. “Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya yang terhormat,” ucapnya, memaksakan senyum. “Tampaknya telah terjadi sedikit... kesalahpahaman yang disebabkan oleh prosedur verifikasi kami yang kurang lancar. Mari kita akhiri diskusi ini dan kembalikan fokus kita pada semangat kerja sama dan kemajuan.” Dia memberi isyarat pada band untuk memainkan musik lagi. “Silakan nikmati hidangan dan hiburan. Terima kasih.” Security mundur. Musik mulai mengalun, mencoba menutupi suara bisikan yang masih
Beni, dengan jantung berdebar kencang hampir ke tenggorokan, menyadari kata-kata tidak akan cukup. Di bawah tatapan menghina Irwan dan senyum penuh kemenangan Rafael, ia merogoh saku dalam jasnya. Tangannya yang sedikit gemetar mengeluarkan amplop karton tebal berwarna gading itu—satu-satunya benda nyata yang menghubungkannya dengan legitimasi. “Ini,” ucap Beni, suaranya berusaha tegas sambil mengangkat amplop terbuka agar logo Media Metropolitan dan tulisan namanya terlihat. “Undangan resmi untuk PT Gemilang Abad yang diberikan langsung oleh Pak Bimo pada saya.” Dia mengulurkan amplop itu ke arah Irwan. Untuk sepersekian detik, ruangan terasa hening. Lalu, Rafael menyambar amplop itu dari tangan Beni sebelum ayahnya sempat mengambilnya. Dengan cepat, matanya menyapu isinya. Terlihat sedikit keraguan di wajahnya—semua detail undangan itu tampak sah—tetapi kebencian dan keinginannya untuk menjatuhkan Beni jauh lebih kuat. “Cuih!” ejek Rafael, mengangkat amplop tinggi-tinggi seolah
Beni terus berjalan, merasakan ratusan pasang mata itu menusuknya. Dia mencapai tangga panggung kecil dan naik. Saat berdiri di sana, di bawah sorotan lampu yang terang benderang, kontrasnya semakin jelas: dia yang masih muda, dengan wajah yang tidak dikenal (atau dikenal karena alasan salah), berdiri di tempat yang seharusnya ditempati seorang direktur terhormat. Irwan Wijaya berbalik. Senyumnya menghilang seketika, digantikan oleh keheningan yang sangat mencengangkan. Matanya yang tajam mengamati Beni dari ujung kepala hingga kaki, memproses, mengkalkulasi. Tidak ada kemarahan yang terlihat, hanya evaluasi dingin yang jauh lebih menakutkan. “Dan... siapa kau?” tanya Irwan akhirnya, suaranya halus namun mematikan, terdengar jelas melalui mikrofon ke seluruh ruangan yang kini sunyi senyap. Di panggung itu, hanya ada mereka berdua. Beni, yang mewakili rahasia warisan ayahnya dan misi Pak Bimo. Dan Irwan, yang mungkin adalah musuh yang paling berbahaya. Beni berdiri tegak di bawah s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu