Pernikahan Raja Vampire (Indonesia)
Pernikahan Raja Vampire (Indonesia)
Author: Anita An
Bab 1 Orang Asing

Pagi yang cerah dimana arunika telah menampakan dirinya dengan baik. Seperti biasa hari- hariku tidak ada yang istimewa atau bahkan ada orang yang membutuhkanku. Aku tinggal di apartemen seorang diri, apartemen yang kudapat dari pemberian ibuku.

Kegiatanku sehari- hari hanyalah pergi ke kampus dan belajar dengan baik. Seperti hari ini, aku mempersiapkan diriku untuk pergi ke kampus. Tidak perlu buru- buru, jarak dari apartemen ini ke kampus tak jauh sehingga aku dengan leluasa mengatur waktuku.

Disisi lain, aku juga seorang penulis. Ya walaupun bukan penulis terkenal. Aku hanya penulis biasa yang tidak banyak dikenal orang, aku telah menyelesaikan sebuah buku. Sebuah buku novel tentang kehidupan raja vampir dengan ending bahagia. Ya raja vampir yang telah mendapatkan tahtanya, ia ditakuti oleh semua orang dan selalu menjadi misterius dalam dunia ini.

Aku sangat menyukai novelku itu meski hanya lah sebuah karangan belaka yang dilintasi dengan mimpi- mimpi seperti nyata yang kudapat. Ya, ketika aku menulis novel itu aku selalu saja mengalami hal- hal aneh seperti mimpi yang sama  yang terus datang padaku. Aku tidak mengerti, dan ketika aku telah menyelesaikan novelku, mimpi itu menghilang. Kini novelku itu hanya aku simpan dan kadang dipublikasikan ke publik lewat aplikasi ataupun situs web yang menerima naskah. Ya meskipun tidak di bayar, atau pun aku tidak mendapatkan bayaran setidaknya aku mendapatkan balasan dari pembaca. Ada banyak pembaca yang menyukai novelku dan ada pula yang membencinya karena alurnya yang berbelit- belit. Tapi menurutku hanya orang malas membaca saja yang akan mengatakan itu, sebenarnya dari dalam naskah itu jika terus membacanya maka kita akan dibawa tiba pada waktu yang indah. Perlahan- lahan akan dibawa kemana dunia mengatakan hukum alamnya yang sama sekali tidak dipengaruhi oleh apapun. Ya, hukum alam.

Hari ini, bukanlah jadwalku untuk pergi ke kampus. Hari ini adalah hari kebebasanku dimana aku akan pergi jalan- jalan. Setelah membersihkan kamar ini, aku pun bergegas pergi keluar. Ya seperti hari- hari biasanya, aku akan jalan- jalan sembari mencari ide yang bagus. Ya, aku sangat berharap akan memiliki banyak pembaca dan uang dari hasil menulisku selama ini. Aku selalu mencari ide segar dan platform yang memberikan bayaran yang menarik. Tetapi aku juga harus tahu diri, apakah tulisanku bagus atau tidak. Selama ini hasil tulisanku hanya dinilai receh, bahkan sangat receh hingga untuk membeli satu bungkus mie instan saja tidak akan cukup.

Tetapi aku memiliki keluarga yang baik, aku sangat beruntung. Keluargaku masih menerimaku dalam kondisiku saat ini, mereka tidak mengeluh padaku.

Aku sangat berharap kelak dunia ini juga menerimaku, ya itu adalah salah satu harapanku. Aku ingin seperti penulis terkenal lainnya, ya aku juga tahu apa yang mereka lalui tidaklah mudah. Mereka bangkit jatuh dan bangkit lagi.

Namun hingga menjelang sore, burung- burung telah berkicau memanggil dan mengingatkan semua orang bahwa waktunya untuk pulang. Perlahan- lahan matahari pun segera pergi, meninggalkan jejak kegelapan kembali. Bintang- bintang dan bulan yang indah mulai menyadari kembali. Tak pernah terduga olehku. Aku lupa waktu lagi hingga menjelang senja tiba, aku masih berada di jalanan. Aku tidak ingin pulang, karena setiap kali tiba di apartemen aku merasakan sesuatu yang harus kulakukan selama ini hanya sia- sia. Aku menyukai novelku itu, ada kalanya aku sedih. Aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku mau, aku tidak bisa seperti orang lain yang dalam sekejap bisa mendapatkan banyak pembaca.

Di jalan yang tak cukup terang ini, aku berpikir aku ingin sekali pergi ke dunia novelku. Aku ingin menikmati hidupku, dan bisa bercengkrama dengan raja vampir yang baik. Ya, aku menciptakan tokoh utama dalam novel lalu menjadikannya teman dalam hidupku. Ya, seperti ini lah hidupku. Aku tidak banyak memiliki teman, bahkan kata ‘Teman’ seperti sangat berat dalam hidupku.

Tetapi aku sangat beruntung, aku masih punya keluarga yang peduli denganku. Apakah kamu bertanya mengapa aku tidak punya teman? Sebenarnya aku juga ingin berteman, seperti kalian. Tetapi teman- temanku disini tidak mau berteman dengan gadis pendiam, aneh, dan sok polos ini. Mereka hanya ingin berteman dengan orang kaya, banyak uang, dan dengan orang yang memiliki kebebasan. Ya pada intinya apapun yang mereka mau, aku harus menyanggupinya. Tapi aku menyadari akan hal itu, itu hanyalah akal- akalan mereka untuk menjebakku. Aku tidak mudah untuk di tipu oleh orang seperti mereka. Ibuku sendiri tidak mempermasalahkan soal teman, yang ia adalah aku tumbuh menjadi gadis yang baik dan dekat dengan keluarga.

“Tidak apa, kita tidak makan serumah dengan mereka. Kita tidak minta makan dengan mereka. Jadi tidak perlu bersedih!” kata ibuku yang masih kuingat hingga sekarang. Aku mengerti apa yang dikatakannya, aku tidak perlu menjadi seperti mereka, aku hanya perlu menjadi diriku sendiri.

Sebentar lagi aku akan tiba di apartemen, aku hanya perlu melewati jalan berkelok ini. Melewati sebuah gang yang sepi seperti biasanya. Namun, saat aku melewati gang sepi itu. Aku merasakan ada yang aneh disana, aku merasa ada seseorang yang mengamatiku dari kejauhan. Aku semakin yakin saat ini juga, karena aku melihat bayangan hitam yang bergerak disana. Bayangan hitam seperti manusia. Aku pun segera berlari sekencang- kencangnya menuju apartemen.

Tatapan mata hitam semerah darah itu memasang sorot tajam tak berkedip. Ia berada di gang sepi itu memerhatikan gerak- gerik seorang gadis. Melihat gadis itu telah lari tunggang- langgang, ia pun bergerak secepat kilat menghilang bagaikan angin yang berhembus.

Suasana mencengkam mulai kurasakan, aku berlari penuh ketakutan dan tak pernah kusangka akan menjadi begini. Lift untuk segera tiba di lantai atas menuju kamarku yang sering digunakan pun mendadak macet. Aku terkurung dalam lift ini, dan tak seorang pun dapat mendengar teriakanku ini. Aku benar- benar merasakan dalam situasi yang berbeda.

“Aaaa....tolong aku! Siapa saja tolong aku!” teriakku minta tolong sambil memukul- mukul pintu lift hingga aku kelelahan. Tenagaku telah habis hanya untuk di buang- buang. Aku sudah yakin tidak akan ada yang menolong itu, ya itu bukan karena aku terlalu merendahkan diri atau putus asa. Tetapi sejak aku berlari masuk ke gedung apartemen, memanglah tidak ada siapa- siapa. Tempat ini sepi seperti tidak biasanya, seharusnya di jam seperti ini ada banyak orang yang berkeliaran masuk dan keluar apartemen. Tetapi kini, itu sangat berbeda. Aku semakin merasakan ada sesuatu yang aneh. Entah apa itu, tetapi ketakutanku pada bayangan hitam itu semakin menjadi- jadi. 

Anita An

Ini adalah karya pertama saya, sedang dalam tahap revisi kedepannya. Terima kasih telah memberikan review rate.

| 1
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Jihan Aqilah
semangat author... ...️
goodnovel comment avatar
Melva.TL
Lanjutkan, semangat ya😘
goodnovel comment avatar
Suci Saraswati
Yuhuuu... Hadir yaa ? semangat thor
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status