LOGINArga heaven, seorang mahasiswa pendidikan sejarah, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis setelah menemukan seorang gadis misterius di bawah lampu jalan yang berkedip di tengah hujan. Gadis itu, Hina Everleigh, mengenakan gaun putih klasik seperti berasal dari abad ke-19 dan tidak mengingat siapa dirinya atau bagaimana dia bisa berada di dunia modern. Namun, kehadiran Hina membawa keanehan. Arga mulai melihat kilasan dunia lain-kota tua dengan jalan berbatu, ballroom megah, dan bayangan dirinya dalam balutan pakaian bangsawan. Seiring waktu, batas antara masa lalu dan masa kini semakin kabur. Dunia modern dan dunia lama mulai bertabrakan, garis waktu dua dunia berantakan, membawa mereka ke dalam pusaran misteri yang mengancam eksistensi keduanya. Tapi waktu mereka terbatas. Jika mereka tidak menemukan jawabannya sebelum purnama berikutnya, salah satu dari mereka akan menghilang selamanya. Di antara dua dunia, mereka berdua diuji. Apakah takdir akan memberi mereka kesempatan, ataukah mereka harus berpisah untuk selamanya?
View MoreMentari pagi baru saja muncul ketika Arga melangkah ke halaman belakang rumah Hendrickson. Udara masih terasa sejuk, sementara embun yang menempel di rerumputan memantulkan cahaya keemasan yang menyelinap di sela-sela pepohonan. Hutan di belakang rumah masih diselimuti kabut tipis, dan suara burung-burung yang saling bersahutan menjadi latar alami yang sudah mulai terasa akrab baginya. Beberapa minggu terakhir, kehidupannya berjalan dengan ritme yang hampir sama setiap hari—bangun sebelum matahari terbit, berlatih, membantu pekerjaan rumah, berdagang jika diperlukan, lalu kembali berlatih hingga matahari mulai tenggelam. Rutinitas itu memang melelahkan, tetapi untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, Arga merasa dirinya benar-benar berkembang. Di tengah arena latihan, Saki sudah menunggu sambil memegang dua pedang kayu. "Kukira kau akan terlambat," katanya sambil melempar salah satu pedang itu. Arga menangkapnya dengan refleks. "Baru saja lewat beberapa detik." "Beberapa de
Sore itu, Arga dan Hendrickson baru saja selesai berdagang di pasar desa. Matahari mulai condong ke barat, dan bayangan pepohonan mulai memanjang di atas jalan tanah yang berdebu. Mereka berjalan beriringan menuju gerobak yang diparkir di pinggir pasar. Arga membawa beberapa kantong kecil berisi sisa barang dagangan—kain yang tidak laku, beberapa herbal, dan sejumlah koin yang ia peroleh dari hasil jualan hari itu. Hendrickson berjalan di depannya dengan langkah tenang, tidak tergesa. Begitu sampai di gerobak, ia naik ke tempat duduk kayu dan mengambil tali kekang kuda. Arga mengikutinya, duduk di samping pria tua itu. Kuda tua itu mulai berjalan dengan ritme yang stabil, seolah sudah hafal jalan pulang tanpa perlu diarahkan. Gerobak berderit pelan setiap kali roda melewati batu atau akar yang mencuat dari tanah. Arga mengeluarkan kantong koin dari sakunya dan menuangkannya ke atas kain yang terbentang di pangkuannya. Koin-koin kecil berkilau di bawah cahaya sore yang redup.
Pagi itu, Arga bangun dengan perasaan yang berbeda. Bukan karena ia lebih segar—ia tetap lelah seperti biasa. Bukan karena Hendrickson memberinya tugas baru—tugasnya masih sama: berlatih, berdagang, belajar. Tapi karena ada sesuatu di udara. Sesuatu yang sulit dijelaskan. Seperti ada aroma asing yang terbawa angin dari arah timur. Hendrickson merasakannya juga. Arga bisa melihatnya dari cara pria tua itu berdiri di teras, menatap ke arah jalan masuk desa, dengan ekspresi yang tidak biasa—antara waspada dan penasaran. “Ada apa?” tanya Arga sambil menghampiri. Hendrickson tidak menjawab langsung. Matanya masih menatap ke kejauhan. Lalu ia berkata, “Seorang pengembara datang.” Arga mengikuti arah pandangnya. Di ujung jalan, terlihat sesosok bayangan berjalan perlahan menuju desa. Dari kejauhan, sulit untuk melihat detailnya. Tapi sesuatu dalam cara orang itu bergerak—ringan, terukur, seolah setiap langkah adalah bagian dari tarian yang sudah dilatih ribuan kali—membuat Arga langsung
Pagi itu, Arga bangun sebelum matahari sepenuhnya terbit. Bukan karena ia tidak bisa tidur—ia tidur cukup nyenyak malam itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari. Tapi karena tubuhnya sudah mulai terbiasa dengan ritme baru. Bangun, mandi dengan air dingin dari sumur, sarapan sederhana, lalu berjalan ke arena latihan di belakang rumah. Hendrickson sudah menunggu di sana, seperti biasa. Pedang kayu di tangannya, bayangan pagi yang panjang di belakangnya. “Kau datang lebih awal,” katanya. “Aku tidak mau ketinggalan,” jawab Arga. Hendrickson tersenyum tipis. “Bagus.” Latihan hari itu berbeda dari sebelumnya. Hendrickson tidak hanya mengajarkan posisi dan gerakan—ia mulai mengajarkan ritme. Cara membaca lawan. Cara menangkap jeda di antara serangan. “Pedang bukan tentang kekuatan,” katanya sambil memutar pedang kayunya perlahan. “Tapi tentang waktu. Jika kau tahu kapan harus bergerak, kau tidak perlu bergerak cepat.” Arga mencoba menyerap kata-kata itu. Ia menyerang, di
Perjalanan menuju pasar Evernight dimulai sejak fajar belum sepenuhnya pecah. Kabut tipis masih menggantung rendah di antara pepohonan ketika Arga mengendalikan kuda tua yang menarik gerobak kayu di belakangnya. Roda berdecit pelan setiap kali melewati batu atau akar yang mencuat dari tanah. Di d
Hari-hari setelah Arga tiba di rumah Hendrickson mengalir dengan ritme yang asing baginya, namun perlahan terasa masuk akal. Rumah itu berdiri di pinggir desa terpencil, cukup besar untuk ukuran pedesaan, terbuat dari kayu tua dan batu yang disusun rapi. Di sekelilingnya, ladang hijau terbentang, d
Sebelum menurunkan karung dagangan, Arga berhenti sejenak. Ia meraih jubah hitam dari dalam gerobak, kainnya dingin dan berat di tangan. Tudung ia tarik perlahan menutupi wajah, menyisakan bayangan di atas mata. Ia memastikan lipatan kain jatuh tidak simetris—terlalu rapi justru berbahaya. Baru set
Hina menghela napas dan tersenyum tipis, meskipun ada sedikit kekhawatiran di matanya. "Kau memang selalu seperti ini, Arga. Terlalu penasaran dan tidak bisa diam kalau ada sesuatu yang mengusik pikiranmu. Tapi... aku akan membantumu." Arga menatapnya dalam-dalam, merasakan kehangatan merayap di d






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews