INICIAR SESIÓNArga heaven, seorang mahasiswa pendidikan sejarah, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis setelah menemukan seorang gadis misterius di bawah lampu jalan yang berkedip di tengah hujan. Gadis itu, Hina Everleigh, mengenakan gaun putih klasik seperti berasal dari abad ke-19 dan tidak mengingat siapa dirinya atau bagaimana dia bisa berada di dunia modern. Namun, kehadiran Hina membawa keanehan. Arga mulai melihat kilasan dunia lain-kota tua dengan jalan berbatu, ballroom megah, dan bayangan dirinya dalam balutan pakaian bangsawan. Seiring waktu, batas antara masa lalu dan masa kini semakin kabur. Dunia modern dan dunia lama mulai bertabrakan, garis waktu dua dunia berantakan, membawa mereka ke dalam pusaran misteri yang mengancam eksistensi keduanya. Tapi waktu mereka terbatas. Jika mereka tidak menemukan jawabannya sebelum purnama berikutnya, salah satu dari mereka akan menghilang selamanya. Di antara dua dunia, mereka berdua diuji. Apakah takdir akan memberi mereka kesempatan, ataukah mereka harus berpisah untuk selamanya?
Ver másLangkah kaki mereka terdengar semakin cepat, tak lagi berusaha disamarkan. Tidak ada gunanya. Teriakan dari dalam bangunan itu mulai menggema keluar, memecah ketenangan wilayah utara yang sebelumnya hanya terasa sunyi dengan cara yang aneh—sunyi yang hidup, seolah sesuatu selalu mengawasi dari balik bayangan. Kini kesunyian itu runtuh, digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih nyata. Perburuan. Arga dan lainnya kembali lari. “Lebih cepat,” suara Corday terdengar dari depan, tetap tenang, nyaris tanpa emosi. Nada itu justru terasa tidak wajar. Dalam situasi seperti ini, ketenangan seperti itu bukan menenangkan—melainkan membuat segalanya terasa lebih berbahaya. Arga menggertakkan giginya, memaksa tubuhnya terus bergerak meskipun napasnya mulai berat dan dadanya masih menyisakan rasa nyeri dari benturan sebelumnya. Tangannya menggenggam erat tangan Hua, memastikan anak itu tidak tertinggal satu langkah pun. Hua tidak berkata apa-apa. Namun genggamannya—kecil, dingin, dan
Tanah yang dipijak Arga terasa lebih dingin dari yang ia bayangkan. Bukan karena malam—matahari masih menggantung di langit, meski cahayanya mulai condong dan melemah—melainkan karena tempat ini seolah tidak pernah benar-benar mengenal kehangatan. Udara di dalamnya berat, lembap, dan diam… terlalu diam untuk tempat yang dipenuhi manusia. Arga menahan napas, merendahkan tubuhnya di balik bayangan dinding batu yang kasar. Dari posisi itu, suara-suara di dalam bangunan mulai terdengar lebih jelas. Rintihan pelan, hampir tak terdengar. Bisikan lemah yang terputus-putus. Dan gesekan rantai yang berulang, monoton, seolah menjadi irama yang tak pernah berhenti. Setiap suara itu menusuk kesadarannya perlahan, seperti jarum yang ditusukkan satu per satu tanpa terburu-buru. Ia memaksa dirinya tetap fokus. Tubuhnya bergerak perlahan, terkontrol, mengikuti apa yang pernah diajarkan Hendrickson—cara memindahkan berat badan tanpa suara, cara mengatur napas agar tidak terdengar, cara menya
Kabut tipis yang semula menggantung di pinggir kota telah menghilang ketika Arga kembali menapakkan kaki di wilayah perdagangan Evernight. Namun, suasana di dalam kota tidak pernah benar-benar terasa terang. Cahaya matahari yang masuk di antara bangunan batu justru terpecah menjadi bayangan-bayangan panjang yang membuat setiap sudut terasa menyimpan sesuatu. Langkah Arga melambat saat ia memasuki lorong yang ditunjukkan oleh Ronny sebelumnya—tempat seorang tabib tinggal. Lorong itu sempit, lembap, dan dipenuhi bau herbal yang samar bercampur dengan bau air tergenang. Tidak ada tanda yang jelas bahwa seseorang yang bisa menyembuhkan orang tinggal di sini. Justru sebaliknya, tempat ini terasa seperti tempat di mana harapan perlahan memudar. Di ujung lorong, sebuah pintu kayu tua berdiri setengah terbuka. Ronny berhenti di depan pintu itu, menoleh ke arah Arga. “Ini tempatnya.” Arga mengangguk pelan, lalu mengetuk pintu dengan hati-hati. Tok. Tok. Tidak ada jawaban. Ia mendo
Langkah kaki mereka semakin menjauh dari keramaian pasar, meninggalkan suara tawar-menawar yang riuh menjadi gema samar di belakang. Jalanan yang dilalui Arga dan Ladron—atau Ronny—perlahan berubah. Batu-batu yang tadi tersusun rapi kini retak dan tak beraturan. Bangunan-bangunan tinggi digantikan oleh rumah-rumah sempit dari kayu lapuk dan dinding yang mulai menghitam oleh waktu. Udara di sini berbeda. Lebih lembap. Lebih berat. Arga menarik napas pelan, mencium aroma campuran antara tanah basah, asap tipis, dan sesuatu yang asing—seperti obat yang terlalu lama disimpan. Ronny berjalan cepat di depan, langkahnya ringan tapi terburu-buru. Sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan Arga masih mengikutinya. “Kau tidak harus ikut,” kata Ronny tiba-tiba tanpa menatapnya. Arga menggeleng, meski Ronny tidak melihat. “Aku sudah sejauh ini.” Ronny tidak menjawab lagi. Lorong yang mereka masuki semakin sempit. Bahkan gerobak tidak akan muat melewati jalan itu. Dinding-dinding r
Hari-hari setelah Arga tiba di rumah Hendrickson mengalir dengan ritme yang asing baginya, namun perlahan terasa masuk akal. Rumah itu berdiri di pinggir desa terpencil, cukup besar untuk ukuran pedesaan, terbuat dari kayu tua dan batu yang disusun rapi. Di sekelilingnya, ladang hijau terbentang, d
Rumah ini tampak jauh lebih besar ketika dilihat dari dalam. Letaknya berada di sisi desa terpencil yang berbatasan langsung dengan hutan. Bangunannya terbuat dari kayu tua berwarna gelap, dengan jendela-jendela kecil dan atap yang sedikit miring seperti menahan beban usia. Meski sederhana, ada a
Di rumah kayu gelap itu, suasana makin pekat seiring cerita Hendrickson mengalir. Angin dari celah dinding membawa aroma tanah basah dan rumput liar, seakan dunia ingin ikut mendengarkan. Arga duduk diam, tangannya menggenggam cangkir teh yang sudah mendingin. Saki memperhatikan setiap perubahan
Ia berdiri di tengah ruangan gelap itu, seolah tubuhnya bebas-tapi pikirannya masih terpenjara. Semua luka, semua rasa kehilangan, semua suara yang membekas dalam kepalanya tidak benar-benar pergi. Ia hanya berdamai dengan kenyataan bahwa sebagian dari dirinya telah mati sejak lama.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas