Chapter 4: Perkenalan 3

   “Selamat pagi” sapanya ramah.

   “Pagi Robbin” jawabku pelan.

   “Robbin, aduuh aku kangen berat sama kamu” Shella memeluk tubuh Robbin erat.

   “Bagaimana kabar kalian?” tanya Robbin menahan sakit akibat pelukan maut Shella.

   “Aku dan lainnya baik-baik saja, kamu bagaimana?” tanyaku ganti.

   Sebenarnya aku duduk sebangku dengan Vic lalu Robbin dan Shella duduk di belakang kami. Jika dilihat-lihat tempatku sangat dekat dengan Daniel, sedari awal masuk SMP letak duduk kami tidak pernah berubah karena inilah posisi ternyaman bagi kami.

   Ku lirik sebelahku terdapat Daniel sedang asyik ngobrol dan bercanda dengan Sam dan Leo. Sedangkan Nicky, dia masih tersiksa dengan ulah manja Vic.

   “Seperti yang sudah aku infokan pada kalian, aku berhasil meraih juara pertama dari lomba Sains dengan murid dari Amsterdam” jawabnya santai.

   “Waah hebat, jadi selama liburan lalu kamu..” Shella tidak melanjutkan ucapannya.

   “Aku tidak sendiri. Mrs Caroline memasangkan aku dengan Frans”

   “Setiap lomba pasti kamu dan Frans yang jadi perwakilan, apa kamu nggak capek?” tanya Vic ngawur.

   “Udah sono geng kamu udah datang semua tuh, cepet berdiri” pinta Nicky kewalahan.

   “Uluu.. uluu, kamu kok malu-malu gini sih pangeraaan” Vic kembali menggoda Nicky.

   “Aku sangat senang berpartisipasi untuk menambah koleksi piala di aula sekolah” kata Robbin bangga.

   “Kamu hebat Robbin, disaat yang lain sedang berlibur kamu malah belajar. Ini sangat mengagumkan” ucapku memujinya.

   “Aku yakin cita-citamu akan tercapai” ucapku lagi.

   Robbin tersipu malu saat aku memujinya, sudah jadi kebiasaannya ketika ada yang memuji pasti dia akan merendah. Oh ya, sahabatku ini namanya Robbin Aleraa. Dia memiliki postur badan lebih tinggi dari kami bertiga, warna rambut hitam pekat pendek sebahu dan mata tajam biru bersemu hijau, sangat indah menurutku.

   Di dalam geng kami, Robbin adalah member paling cerdas kalau soal matematika dan fisika, tapi dia sedikit pendiam. Robbin mengikuti ekstrakulikuler Sains bersama Frans dan aku. Kami sangat kompak saat mengikuti kegiatan di club.

   Kyaaa… kyaaa..

   Terdengar suara teriakan kencang dari arah kelas-kelas di sebelah, kami yang sudah tahu siapa biangnya hanya bisa menghela napas panjang. Pasti duo badut lagi godain para gadis di sekolah.

   “Hai.. haii, Good morning”

   Sapaan lantang dari duo badut menggema di kelas kami, kedua orang itu memakai kaca mata hitam layaknya seorang artis saja. Beberapa anak perempuan tertawa dengan tingkah konyol duo badut ini saat masuk kelas, satunya jungkir balik satunya lagi menari-nari.

   “Hello, ladies” ucap salah seorang dari mereka menarik tangan kananku.

   “Selamat pagi, Steven” sapaku ramah.

   “Oh, Rose. Kamu makin canti-.. auu.. auu.. Daniel” pekiknya saat hampir mencium tanganku.

    Daniel menjewer telinga Steven hingga si empunya terlihat sangat kesakitan, sedang teman di belakangnya malah tertawa lepas sama seperti teman sekelas lainnya, lagi-lagi kecuali Sam.

   “Aauu,.. sakit,.. Daniel.. bro.. bro sakit beneran ini, gak bohong aku”

   “Sebentar lagi bel akan berbunyi, sebaiknya kamu segera duduk atau telingamu bakal copot” ancam Daniel sedikit mengerikan.

   “Okay, okay. Lepaskan telingaku dulu” pinta Steven hingga Daniel benar-benar melepaskan siksaannya.

   Dia yang barusan dijewer oleh Daniel adalah Steve Wu, dia memang keturunan dari China. Papa dan Mamanya lahir dan besar di China sedangkan saat Steve masih dikandungan, mamanya minta untuk pindah ke Amerika kota kami ini agar lebih dekat dengan mertua. Steven adalah anak tunggal dari pasangan pemilik cafe kopi terkenal di negeri ini, cabangnya sudah ratusan di seluruh wilayah Amerika.

   Yang aku tahu, mama Steven sangat menyayangi putra semata wayangnya. Tapi Steven malah memiliki sifat kekanakan dan selera humor berat yang diwariskan dari papanya, dialah penghilang rasa bosan kami saat di kelas.

   “Hee bro, gimana rencana pertandingan dengan sekolah seberang kota?” tanya Leo pada Franklin yang telah duduk di belakangnya.

   “Beres bro, aku dan kapten sudah buat janji sama mereka”

   “Good, kapan jadinya?” Frans mulai angkat suara.

   “Jumat sore jam enam di lapangan sekolah ini” jawab Franklin sambil membuka jas sekolahnya.

   “Apa sebaiknya kita menyewa lapangan di kampus saja, Daniel?” tanya Frans.

   “Tidak, lebih baik mereka yang datang karena merekalah yang menantang kita” suara langka milik Sam memecah kekalutan diantara kami.

   “Waaaahhh….”

   Ya begitulah kira-kira tanggapan para gadis dikelas kami saat mendengar suara Sam, tak terkecuali Shella. Matanya sudah sangat berbinar, sayangnya dia lupa merekam suara Sam tadi.

   “Aku sudah memikirkannya dengan Sam, Frans dan Nicky, karena mereka menolak untuk menyewa lapangan di stadion maka merekalah yang harus datang menemui kita”

   “Apaan mereka itu? Low budget!” seloroh Leo kesal.

   Oh ya, teman kami yang terakhir kali ku kenalkan adalah Franklin Lionell. Dia adalah anggota duo badut satu server dengan Steven. Franklin memiliki wajah oriental Asia dengan ketampanan hampir mirip dengan idol muda Wooseok Pentagon, hanya saja Franklin memiliki warna rambut coklat gelap dengan mata abu-abu gelap.

   Franklin adalah anak dari koki terkenal di Italia, ayahnya Alfonso Lionell menikah dengan ibunya yang berasal dari Indonesia. Akan tetapi bisnik restoran ayahnya sangat maju di Amerika jadi mereka tinggal di negara ini hingga Franklin dewasa.

   Sepertinya aku sudah mengenalkan mereka semua. Inilah teman-temanku yang akan menemani perjalanan hidupku dan mengukir beberapa kisah kasih di sekolah yang akan ku kenang hingga aku beranjak dewasa.

   Yang pertama adalah delapan orang lelaki tampan dengan julukan sifat khasnya masing-masing. Mereka terdiri dari Daniel, Sam, Nicky, Leo, Frans, Nicolas, Franklin dan Steven. Mereka tergabung dalam grup band bernama ‘Dream Boy, grup musik mereka sebenarnya sudah berdiri dari mereka masih duduk di sekolah dasar. Meskipun saat itu mereka beda sekolah tapi mereka sangat kompak dan ku dengar mereka berencana akan bersahabat baik hingga dewasa.

   Yap, kala itu hanya ada Nicky dan Leo yang satu sekolah denganku. Yang lainnya ku kenal saat kami bertemu di masa SMP. Sebagai informasi Daniel adalah pemegang vokalis utama di grup, lalu ada Nicky dan Franklin sebagai rapper, disusul Sam sebagai DJ kadang bass juga, lalu Leo sebagai pemain gitar, Nico pemegang bass dan gitar, Frans pemain piano dan yang terakhir Steven sebagai penabuh drum.

   Kebanyakan lagu yang mereka bawakan adalah hasil ciptaan Daniel, Frans, Sam dan Nicky. Kadang Leo dan Steven ikut andil dalam koreo maupun lirik lagunya. Bisa dikatakan kalau mereka memang benihnya seniman. Mereka memiliki perannya masing-masing dalam grup band itu, setahuku grup band mereka sudah sering diundang oleh stasiun televisi lokal dan mengisi beberapa acara.

   Maka jangan kaget jika di cerita selanjutnya mereka akan kuwalahan menghadapi semua serangan fans ganas, karena wajah dan ketenaran mereka telah terdengar hingga pelosok Negeri.

   Oh satu lagi, Dream Boy adalah tim basket andalan sekolah, mereka memiliki peran penting dalam tim seperti yang kubilang sebelumnya Daniel sebagai kapten yang tugasnya berada di posisi terdepan yaitu point guard, lalu Sam sebagai shoating guard, Frans sebagai small guard, Nicky yang memiliki badan setinggi tiang bertugas sebagai strong guard dan yang terakhir Leo sebagai center.

   Sedangkan ketiga anggota lain Franklin, Steven dan Nico bertugas sebagai pemain cadangan. Dream Boy sudah melakukan pergantian formasi agar mereka semua mampu melawan musuh dengan mudah.kemampuan mereka ini sudah terdengar hingga sekolah-sekolah lain yang selalu berusaha mengajak bertanding.

   “Darling, apa kamu gak tergoda sama sekali sama aku yang cantik ini?” tanya Vic masih berada di pangkuan Nicky. Si Nicky yang sudah kuwalahan hanya menghembuskan napas naganya.

   “Vic, auuh.. daripada godain tiang listrik mending kamu sama aku aja” ucap Steven kesal.

   “Idiih apaan? Iri kamu?” tanya Vic yang masih memeluk leher kekar Nicky.

   “Ogahlah, aku kasihan sama Nicky di lengketin sama ulet bulu, hahaha” celotehan  Steven membuat yang lain tertawa nyaring.

   Aah iya, aku hampir lupa mengenalkan diri. Aku Rose, Robbin, Vic dan Shella adalah geng terkenal di sekolah ini. Kami berdampingan dengan Dream Boy sebagai penyemangat dan cheerleader tim basket.

  Geng kami di bernama ‘Angels’, formasi kami tetap empat orang dan tidak pernah berubah. Beberapa kali sempat ada murid yang ingin sekali bergabung dengan geng kami, tapi kami sudah tahu alasannya karena mereka hanya ingin dekat-dekat dengan Dream Boy.

   Pletakkk.. Vic menjitak kepala sekeras batu milik Steven, si empunya malah mengeraskan suaranya lagi

   “Dasar kamu ya, sini kau, sini biar ku patahin leher kau” Vic berusaha meraih wajah Steven yang makin menghindar.

   Braakkk…

   Semua mata tertuju pada arah pintu kelas yang tengah di tendang kasar, empat orang berwajah garang tengah memasuki kelas dengan pandangan jijik melihat kami.

   “Huh..!! Mareka lagi, wajah-wajah paling menjijikkan di dunia berkumpul di kelas ini!”

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status