LOGINMereka menikah karena wasiat dan harus dirahasiakan. Mei Lin --mahasiswi tengil yang bicara dulu baru mikir, tidak menyangka hidupnya akan sekomedi ini. Suaminya? Zhang Yichen --CEO dingin yang bahkan lebih kaku dari jasnya. Tapi siapa sangka, gaya bicara dan tingkah Mei Lin yang selalu di luar prediksi BMKG justru membuat sang CEO jatuh hati lebih cepat dari jadwal rapatnya. Seolah-olah dunia harus tahu, pernikahan yang seharusnya damai, kini ramai jadi perbincangan karena Mei Lin magang di perusahaan milik Zhang Yichen, bahkan menjadi sekretaris bos dingin itu. Rumor yang merebak tentu saja berpengaruh pada reputasi perusahaan dan Zhang Yichen sendiri. Lantas, bagaimana nasib Mei Lin? Ketika para dewan direksi meminta tidak ada hubungan pribadi antara atasan dan bawahan. Lika-liku kehidupan Mei Lin, dimulai!
View MoreMei Lin berdiri di depan bathtub besar yang dipenuhi kelopak bunga mawar. Air hangat mengepul lembut, lampu temaram, lilin beraroma lavender menyala di sudut ruangan."Sayang, menurutmu, kalau aku mandi di sini sambil pakai masker muka, efeknya double glowing gak?"Dari balik pintu, suara Zhang Yichen terdengar tenang. "Kalau kau tenggelam karena terlalu fokus skincare, efeknya malah double chaos."Mei Lin cemberut. "Kau tuh gak ngerti romantisnya drama Korea. Harusnya kau duduk di samping bathtub, terus ngobrol lembut sambil pegang tanganku. Gitu loh, Sayang."Zhang Yichen membuka pintu kamar mandi, berdiri di ambang pintu dengan piyama satin abu-abu dan ekspresi sedikit tegang. "Kalau di drama, biasanya setelah adegan itu, lampunya mati.""Ya iyalah, soalnya abis itu--" Mei Lin menggantung ucapannya, pipinya merona. "Abis itu mereka ngobrol dari hati ke hati," lanjutnya cepat."Ngobrol dari hati ke hati, atau melancarkan niat?"Mei Lin langsung menatap suaminya waspada. "Sayang, ak
Pagi di Haicheng baru saja merekah ketika roda dua koper besar bergelinding pelan di lantai marmer rumah Zhang Yichen. Mei Lin berdiri di tengah ruang tamu, rambut dikuncir tinggi, memakai kacamata hitam dan dress bunga warna cerah."Yichen! Cepat! Kau tahu gak, aku sudah mimpi ke Bali dari aku masih suka nonton drama Taiwan!"Zhang Yichen datang menuruni anak tangga membawa paspor dan tiket dengan ekspresi tenang. "Dan aku baru tahu impianmu itu disponsori oleh kelakuan berisik sejak subuh.""Yah, Sayang, harus heboh dong! Namanya juga bulan madu," sahut Mei Lin sambil nyengir. Zhang Yichen berhenti sejenak, lalu menatap lekat Mei Lin. "Ulangi!""Ulangi apa?""Panggilan barusan."Mei Lin mengedip, pura-pura polos. "Sayang?"Zhang Yichen menahan senyum, tetapi ujung bibirnya bergerak tersenyum. "Teruskan, aku suka versi itu."Mei Lin tersipu malu. Keduanya berangkat, menuju bandara. ---Bandara Haicheng ramai seperti biasa. Namun, ada satu hal di sana yang membuat Zhang Yichen terl
Hari yang ditunggu akhirnya tiba.Matahari pagi memantulkan cahaya keemasan di atas kota Haicheng, dan di seluruh gedung hotel megah tempat pesta diadakan. Para pekerja sibuk menata bunga, lampu, dan panggung utama.Zhang Yichen --sang pengantin pria, sudah berdiri di depan cermin, memakai jas hitam elegan dengan dasi perak.Chen yang membantu merapikan lipatan kecil di kerah tuannya angkat bicara. "Tuan," katanya hati-hati, "acara akan dimulai dua jam lagi.""Semua sudah siap?""Ya, kecuali …" Chen berhenti sejenak, "pengantin wanita."Zhang Yichen mengangkat alis. "Apa maksudmu 'kecuali pengantin wanita'?"Chen menelan ludah. "Nyonya sepertinya ... menimbulkan sedikit ... kekacauan kecil di ruang rias."Zhang Yichen mengembuskan napas kasar dan segera keluar dari kamar hotel yang dijadikan kamar pengantin. Benar saja, diruang rias utama terdengar seperti arena perang antara manusia dan tulle. "AKU BILANG JANGAN PAKE VEIL PANJANG!" teriak Mei Lin. "AKU MAU YANG BISA DILEPAS KALAU A
Tiga hari setelah malam lamaran, rumah Zhang Yichen berubah total.Bunga, brosur, dan contoh gaun pengantin memenuhi meja ruang tamu. Di tengah kekacauan itu berdirilah Mei Lin, dengan rambut dikuncir tinggi, kacamata di ujung hidung, dan ekspresi super serius. "WO yang mana yang lebih bagus?" katanya sambil memegang dua proposal di tangannya."Yang A punya dekor bintang jatuh. Tapi yang B kasih bonus 200 undangan digital dengan foto kita yang bisa gerak-gerak," lanjutnya. Dari seberang meja, Zhang Yichen hanya menatapnya dengan ekspresi datar. "Aku pikir kau ingin pernikahan yang sederhana."Mei Lin mengernyit. "Sederhana? Yichen, ini pesta pernikahan kita. Aku gak mau cuma sederhana, aku mau meledak anggun!""Meledak ... anggun?" Zhang Yichen mengulang pelan, seolah-olah memastikan ia tidak salah dengar."Ya! Elegan tapi spektakuler!" seru Mei Lin penuh semangat. "Aku mau semua orang Haicheng tahu kalau pasangan perjodohan paling absurd ini ternyata paling bahagia!"Zhang Yichen m
Esok paginya. Setelah berpikir panjang semalam, akhirnya Mei Lin bisa mengenyahkan egonya. Ia memilih untuk menemui Zhang Yichen sebelum sidang skripsi. Rasanya justru tidak akan tenang jika saja tidak menemuinya dalam waktu dekat, pikirnya. Setelah urusan kampus selesai, siang itu Mei Lin bergeg
Pagi itu, Mei Lin baru saja meneguk tegukan terakhir kopinya saat ponselnya bergetar di meja belajar.Ia melirik layar dan mengerutkan dahi. Nomor tak dikenal."Siapa pagi-pagi begini?" gumamnya sambil menjawab. "Halo?"Suara di seberang terdengar sopan, tetapi gugup."Selamat pagi, Nyonya Zhang. I
Hari itu cuaca di Haicheng cerah, teapi anginnya lumayan kencang.Mei Lin berdiri di depan papan pengumuman fakultas sambil menatap revisi skripsinya yang baru saja ditandatangani dosen pembimbing."YES! Tanda tangan terakhir!" teriaknya pelan, tetapi cukup keras untuk menarik perhatian beberapa ma
Sore itu, langit Haicheng mulai berwarna oranye keemasan. Di salah satu kantor Zhang Group, Zhang Yichen menatap layar komputernya, tetapi bukan laporan keuangan yang sedang ia buka.Di monitor itu, ada jendela kecil dari kamera tersembunyi yang terpasang di gerbang kampus Haicheng Business Academy






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.