APRILISYA
APRILISYA
Author: Rima Nurbayina
1. Apa Arti Cinta?

Wanita cantik yang sangat irit sekali untuk tersenyum itu menatap pantulan wajahnya di cermin. Usianya sebentar lagi menginjak usia tujuh belas tahun. Itu artinya dia harus menjalankan perintah Omanya, bertunangan dengan seseorang yang sudah dijodohkan semenjak dia balita. Setiap ucapan Omanya adalah perintah yang harus dilaksanakan, tak mau tahu pokoknya harus dilaksanakan.

Terpatri dikepalanya setiap apa yang diucapkan Omanya adalah kebenaran. Oma Dera maupun Oma Sari, mereka adalah seseorang yang harus dipatuhi. 

“April,” suara teriakan itu membuat sang empu nama itu menoleh ke arah berasal suara itu berada.

“Iya Oma?” jawabnya sembari beranjak, akan menjumpai yang Ia sebut Oma.

“Cucu Oma yang paling cantik, sudah kamu persiapkan untuk memasuki sekolah umum?” tanya Oma Dera sambil mengusap lembut rambut dengan yang sudah melewati bahu itu.

“Sekolah Rania Oma?” tanya April.

Oma Dera tidak suka mendengar nama itu. Rasanya Ia sangat kesal sekali dengan nama Rania.

“Apa tidak bisa sekolah yang lain Oma?” tanya April.

“Calon tunangan kamu sekolah disana juga, bahkan pemiliknya sayang,” jawab Oma.

Aprilisya Queen Admiral. Biasa dipanggil April, terkadang Queen. Anak dari Alex dan Nirina. Wanita cantik ini sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Tidak satu pun orang tahu bagaimana perasaannya saat ini. Yang orang tahu dan lihat bahwa kehidupan April sempurna. Darah dari keluarga berada mengalir dalam tubuhnya. Hidupnya tak akan pernah mengalami kesulitan ekonomi. 

Ada rasa gelisah sebenarnya pada diri April. Selama ini dia tidak pernah bersosialisasi dengan banyak orang. Bahkan bisa dihitung berapa banyak orang yang bertemu dengannya. Sekolah private dari sejak kecil membuatnya anti sosial. Hidupnya hanya dipenuhi dengan belajar juga aturan. Aturan menjadi seseorang yang sempurna. 

“Oma, April gak mau tinggal dengan Ayah,” ucap April.

Oma Dera tahu maksudnya. Dia bahkan tidak berniat membiarkan April tinggal bersama wanita yang dibencinya.

“Kamu perlu mansion?” tanya Oma Dera.

“Di Apartemen dekat sekolah aja Oma. Supaya April tidak repot,” jawab April.

“Tinggal di rumah calon tunangan kamu saja,” ucap Oma Dera.

“Jangan Oma, April akan merasa canggung. April harus menyesuaikan diri dulu,” ujar April.

“Biar Oma telpon Oma Sari, apa dia setuju kamu tinggal di Apartemen.”

April mengangguk, menyetujui ucapan Oma Dera.

“Oma, April kembali ke kamar. Nanti kabari saja April,” ucap April.

Oma Dera mengangguk, dan membiarkan April meninggalkannya. 

Menutup pintu kamar dia berjalan ke arah nakas. April meraih satu foto yang diberikan Omanya. Aliga King Adelard. Laki-laki yang akan dijodohkan dengannya. Wajah dengan rahang tegas, mata hitam legam dengan tatapan tajam, dan yang membuatnya kagum adalah bulu mata lentik milik Aliga. Sudah mengalahkan bulu matanya saja.

Bagaimana tanggapan laki-laki itu mengenai perjodohan ini? Apakah laki-laki itu sudah melihat wajah April? Bagaimana tanggapannya?

Ada yang menggelitik perutnya, kupu-kupu serasa beterbangan di area perut April. Entah kenapa melihat wajah tampan laki-laki yang ada di foto itu membuat jantungnya berdetak tak seperti biasanya. Ada apa dengan dirinya?

Jatuh Cinta? Apa itu Cinta? April serasa asing dengan pernyataan itu. Bukan, bukan dengan pernyataan itu, tapi April justru bertanya-tanya mengenai sikap yang seperti apa jika seseorang mencintai?

Pandangan mata April kini beralih pada satu foto dengan bingkai putih yang bertengger juga di nakas. 

“Ayah, Bunda, April.”

Menunjuk satu persatu sambil terus merapalkan ucapan itu. Tiba-tiba rasanya sesak jika kenyataannya, mereka tak bersama seperti di foto itu. April bahkan tidak ingat juga tidak tahu rasanya digendong Bunda, rasanya digendong Ayah. Sejak kecil yang April hanya melihat Alexayahnya itu selalu menggendong Raini juga menggandeng Laras.

Tangan kecil mungilnya saat itu selalu ditatap. Ia ingin Bunda dan Ayahnya menggandeng tangannya, menahan kuat saat dia ingin meloncat-loncat di taman, seperti anak lain yang Ia lihat ketika Ia melewati taman komplek pagi hari di hari Minggu. Ia hanya bisa menatap taman itu dari jendela mobil Oma Sari yang menjemputnya dari Oma Dera.

***

“Oma akan kirim bodyguard untuk jaga kamu,” ucap Oma Dera sambil menyesap teh yang baru saja disajikan pelayan.

Malam hari, berada di tempat makan. Acara makan malam sudah berlalu lima belas menit yang lalu. April belum beranjak dari meja makan, karena Oma Dera ingin berbicara dengannya.

“Apa tidak berlebihan Oma?”

“Tidak, sama sekali tidak berlebihan. Ini untuk menjaga kamu dari wanita itu.”

Wanita itu yang dimaksud Oma Dera adalah Raini dan Laras. Oma Sari yang menganjurkan untuk menyewa bodyguard itu.

Tring...Tring...

“Maaf Oma, Ayah telpon,” ucap April.

Oma Dera mengangguk, mempersilahkan April.

“Iya?”

...

“Maaf, saya tidak bisa. Oma sudah menyiapkan Apartemen. Apabila tidak ada yang dibicarakan, saya tutup telponnya,” ucap April.

Terkesan formal bukan? Jika tidak seperti itu, April akan menangis tiba-tiba. Dengan berbicara seperti itu April berusaha menekan segala rasa yang tiba-tiba menghampirinya.

April kembali duduk menghampiri Omanya. Tadi dia beranjak menjauh saat mengangkat telpon itu. Dia tidak mau Omanya tahu bagaimana susahnya dia berbicara dengan ayahnya sendiri.

“April, kamu hanya menurut saja. Tidak perlu repot-repot.”

April mengangguk. Dia tahu hal itu, semua keputusan berada pada orang tua yang berada di sekitarnya. Perihal apa yang dimakan pun April benar-benar di atur. Tubuh mungil yang tidak terlalu tinggi itu selalu menjadii alasan Oma-omanya untuk April menjaga pola makannya.

“Bagaimana Aliga?” tanya Oma tiba-tiba.

“Bagaimana... maksudnya Oma?” 

“Kamu setuju dengan perjodohan ini?” tanya Oma.

Apa bisa April menolak? Tentu saja jawabannya tidak. Jadi sebenarnya untuk apa bertanya pada April.

“Tentu Oma, April selalu setuju keputusan Oma.”

“Tentu saja, kamu harus mengikuti semua ucapan Oma. Apa yang Oma ucapkan adalah perintah, jadi tidak untuk dibantah,” ucap Oma Dera.

Kata-kata itu sudah sangat terpatri di benak April. Sedari kecil dia sudah biasa menjalankan perintah, jadi tidak masalah bukan?

Ada yang mengganggu pikirannya. Dia sangat takut terhadap reaksi orang yang baru bertemu dengannya. Dan itu berlaku juga pada Aliga. April takut Aliga tak menyukainya. Bukan maksud menyukai dalam arti lain, sebelum ke arah itu, April takut Aliga tak suka dengan masuknya dia ke kehidupan Aliga.

Salah satu prinsipnya ketika bertemu seseorang, April selalu menunjukan wajah arogannya. Ia tidak mau orang-orang menganggapnya lemah dari orang tersedih. Maka dari itu April akan menjadi April yang berkuasa, dan berusaha disegani. Seperti Oma Sari dan Oma Dera bilang kalau April harus menjadi wanita mahal. Pintar, mandiri, cantik, ambisius dan memiliki segalanya. Terlebih dihadapan calon tunangannya. Aliga King Adelard.

Related chapters

DMCA.com Protection Status