MasukBercerita tentang Andin yang menggantikan kakaknya Annisa menikahi Bayu. Kakaknya meninggal sehari sebelum pernikahan. Bayu sangat mencintai Annisa, dia tetap menikahi Andin karena keterpaksaan. Kehidupan pernikahan mereka sangat hampa. Di 5 tahun pernikahan Andin mulai jenuh. Dengan tekad kuat dia menuliskan surat cerai dan diam-diam diselipkan dibawah pintu kamar suaminya. Mereka berdua pisah kamar sejak hari pertama pernikahan. Setelah menyelipkan surat cerai Andin pulang ke rumah orang tuanya. 2 Minggu kemudian Bayu datang tanpa diduga. Bersikap seperti seorang suami yang khawatir di depan orang tua Andin. Inilah langkah pertama Bayu membuka hatinya untuk Andin. Dan mulai saat itu Bayu bertekad akan membuat Andin jatuh cinta
Lihat lebih banyakJakarta, satu tahun setelah musim dingin di Zurich. Udara pagi di Bandara Soekarno-Hatta masih terasa lembap dan hangat, namun bagi Andin, aroma ini sekarang terasa seperti pelukan rumah, bukan lagi seperti udara yang menyesakkan. Ia melangkah keluar dari pintu kedatangan internasional dengan langkah yang tenang. Di tangan kirinya, ia membawa sebuah koper kecil, dan di tangan kanannya, ia memegang sebuah surat resmi pengunduran dirinya dari Rumah Sakit Universitas Zurich. Ia telah memenuhi janjinya. Satu tahun telah berlalu, dan selama itu pula, Bayu tidak pernah absen hadir dalam setiap celah hidupnya, lewat panggilan video setiap malam, kunjungan singkat setiap bulan, dan dukungan tanpa henti terhadap karirnya. Andin tidak melihat kerumunan ajudan atau barisan mobil mewah hitam yang biasanya menandai kehadiran seorang Bayu Andarsono. Kali ini, di antara kerumunan penjemput, ia melihat seorang pria berdiri sendirian. Bayu tampak jauh lebih sehat. Bahunya kokoh, wajahnya
Udara pagi di Bandara Kloten Zurich terasa begitu bersih dan tajam. Bayu berdiri di depan loket check-in, mengenakan mantel panjang yang kini tampak pas di tubuhnya yang mulai terlihat lebih segar. Di sampingnya, Andin berdiri dengan tangan yang diselipkan ke dalam saku jaket, menatap lantai bandara yang mengkilap dengan perasaan yang sulit digambarkan.Seminggu di Zurich telah mengubah segalanya. Tidak ada lagi ketakutan yang mencekam, yang ada hanyalah pemahaman baru yang masih terasa rapuh namun nyata."Semua sudah siap, Mas?" tanya Andin, memecah keheningan di antara mereka.Bayu mengangguk. Ia memeriksa paspor dan tiketnya. "Sudah. Rama sudah menungguku di Jakarta. Ada banyak hal yang harus aku bereskan, terutama program baru di yayasan yang sempat tertunda."Andin tersenyum tipis. "Baguslah. Fokuslah pada kesehatanmu juga. Jangan sampai aku mendengar kabar kamu pingsan lagi karena lupa makan."Bayu tertawa kecil, suara yang kini m
Restoran kecil di pinggiran Danau Zurich itu dipenuhi aroma keju yang gurih dan uap hangat yang menempel di kaca-kaca jendela. Andin memilih tempat ini karena suasananya yang riuh rendah, jenis tempat yang tidak memungkinkan mereka untuk bertengkar hebat atau terjebak dalam keheningan yang terlalu dramatis. Bayu sudah duduk di sana, mengenakan sweter wol tebal, tanpa jas formalnya. Ia tampak seperti pria biasa, bukan lagi CEO yang ditakuti. Saat Andin duduk, Bayu hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang kini terasa lebih tulus di mata Andin. Satu panci keramik berisi keju yang meleleh diletakkan di tengah meja. Pelayan membawakan potongan roti dan kentang kecil. Di Swiss, makan fondue adalah ritual kebersamaan. "Aku ingat dulu kamu pernah bilang sangat ingin mencoba ini," kata Bayu pelan, sambil menusukkan sepotong roti ke garpu panjangnya. "Dulu aku malah membawamu ke restoran berbintang yang kaku karena aku pikir itu yang terbaik untukmu." Andin mengaduk keju di depa
Pagi di Zurich menyambut dengan langit yang lebih cerah, meski sisa salju semalam masih menumpuk di tepian jalan. Sesuai janjinya, Bayu tidak muncul di depan pintu apartemen Andin tanpa izin. Ia menunggu di sebuah kafe kecil di seberang jalan, tempat di mana ia bisa memantau pintu keluar gedung tanpa terlihat seperti penguntit. Baru setelah Andin mengirim pesan, "Aku mau berangkat ke rumah sakit," Bayu muncul dengan dua cup kopi panas di tangannya. "Boleh aku mengantarmu sampai stasiun tram?" tanya Bayu dengan nada yang sangat sopan, hampir seperti seorang pelamar yang sedang mencoba mengambil hati pada kencan pertama. Andin menatap kopi di tangan Bayu, lalu mengangguk kecil. "Boleh. Terima kasih kopinya." Mereka berjalan bersisian di atas trotoar yang licin. Tidak ada ajudan yang mengikuti, tidak ada mobil mewah yang mengawal dengan sirine. Hanya dua orang yang berjalan kaki di tengah dinginnya Zurich. Bayu sengaja
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan