LOGINWarning sewarning-warningnya! Khusus 21+ "Jangan terlalu keras. Kalau kau memegangnya seperti itu, pria mana pun tak akan bisa menikmatinya." "Ma‐maaf, Dok..." Ariella Anata tidak punya pilihan. Label "penulis hambar" dari editornya adalah vonis mati bagi kariernya. Demi riset nyata menulis novel dewasa, ia nekat menyelinap ke seminar eksklusif dr. Nathan Xander, seorang seksolog dingin yang hanya melayani pasangan suami-istri. Pertemuan itu seharusnya hanya soal teori, namun Ariel melangkah terlalu jauh. Sebuah tindakan nekat untuk membuktikan keberaniannya justru menjeratnya dalam permainan kucing-kucingan yang berbahaya. Kini, sang dokter bukan lagi sekadar narasumber. Ia adalah subjek riset hidup yang siap mengajari Ariel bahwa beberapa sensasi tidak bisa ditemukan dalam buku, melainkan melalui sentuhan yang melanggar batas etika.
View More“Tulisan kamu ini bahkan tidak menggairahkan sama sekali!”
Ariel terlonjak. Naskah yang beberapa menit lalu ia berikan pada George seketika berserakan. Dengan panik, wanita itu kembali memunguti kertas-kertas yang bertebaran itu. “Aku tidak merasakan apa-apa, Riel. Tidak ada denyut, tidak ada gairah. Kalau begini terus, kerja sama kita selesai!” Ariel menatap naskah itu, jemarinya gemetar di atas pangkuan. “Tapi, Pak... saya sudah memperbaiki bab awal. Saya baca ulang, bahkan mempelajari gaya Anny Arrow seperti yang Bapak sarankan.” “Kau pikir cuma dengan membaca, kau bisa menulis adegan bercinta yang terasa hidup?” potong George, sinis. “Tulisanmu dingin. Seperti dibuat orang yang bahkan belum tahu rasanya disentuh.” Kata-kata itu menusuk. Ariel menunduk, wajahnya memanas menahan malu. Setiap kali mengajukan naskah, komentar yang sama selalu datang darinya—tidak ada feel-nya! Tapi bagaimana mungkin ia bisa menulis dengan ‘rasa’ jika bahkan ia belum pernah merasakannya sendiri? “Kau punya waktu seminggu,” lanjut George, menyalakan rokok. “Kalau revisimu masih hambar, aku putus kontrak. Jangan harap bisa kirim naskah ke penerbit mana pun lewatku.” Asap rokok melingkari wajahnya yang penuh guratan keras. “Industri ini butuh tulisan yang membuat pembaca terhenti di tengah halaman karena napasnya ikut naik. Bukan paragraf steril tanpa roh.” Ariel menelan ludah. Suaranya serak ketika mencoba bicara, “Kalau saya... coba perbaiki adegan intinya?” “Kalau kau tidak bisa membuatku merasa terangsang hanya dengan membaca dua halaman pertama, maka semua usaha itu percuma.” George menyemburkan asap terakhirnya. "Tulisan dewasa harus terasa hidup, bukan sekadar imajinasi belaka.” Mendengar omelan itu, Ariel hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Kepalanya penuh oleh rasa penasaran yang menumpuk. Memangnya, seperti apa sih rasanya bercinta itu? Asap rokok terakhir George masih berputar di udara saat Ariel melangkah keluar. Bau tembakau, kata-kata sinis, dan rasa malu bercampur jadi satu di tenggorokannya. Ia tak ingat bagaimana bisa sampai ke ruang tunggu—hanya tahu tangannya telah mengepal saat melihat Silvi menatap dari sofa. “Bagaimana, Ariel?” tanya Silvi penuh harap. Ariel hanya mengembuskan napas panjang lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa. “Yah... revisi naskahku ditolak lagi. Pak George bilang kalau tulisanku itu kayak tulisan bocil pertama kali coba-coba nulis cerita dewasa. Aku bahkan terancam dipecat kalau revisi mendatang gagal lagi.” Nada putus asa itu membuat Silvi meringis. Ia ikut duduk, menatap Ariel dengan khawatir. Ariel meraih sebuah majalah dewasa yang tergeletak di meja, membuka-buka tanpa fokus. “Entah sampai kapan aku bisa bertahan kayak gini...” “Kau bisa mencobanya lagi, Riel. Atau... bagaimana kalau kau kembali menulis teenlit saja?” ucap Silvi lembut, mencoba menghibur sekaligus memberi solusi. Namun Ariel mendengus sinis. “Silvi, kau sendiri tahu... Buku teenlit satu-satunya yang terbit pun tidak laku. Kira-kira... apa yang harus kulakukan, ya?” Silvi menatapnya lama, lalu matanya melirik ke majalah di tangan Ariel. Bibirnya tersenyum kecil, penuh ide. “Pria itu bisa membantumu.” Ariel mengangkat wajah. “Siapa?” Silvi mencondongkan tubuh, lalu menunjuk sampul majalah dengan dagunya. “Itu, pria di sampul majalah itu.” Ariel menurunkan pandangan. Di sampul majalah itu tampak seorang pria tampan, gagah, dengan jas putih lengan panjang. Rambut hitamnya disisir rapi, senyum tipisnya menawan. “Apa-apaan ini? Seorang dokter? Ngapain jadi sampul majalah dewasa? Majalah aneh!” Dengan kesal, Ariel langsung melempar majalah itu ke tong sampah. “Riel!” Silvi hampir terlonjak melihatnya. “Astaga, kau ini!” Tapi Silvi tetap melanjutkan, meski meringis melihat kelakuan sahabatnya. “Itu dr. Nathan Xander. Dia pakar seksologi, sangat terkenal. Mungkin... kau harus belajar darinya.” Ariel sempat terdiam, keningnya berkerut. “Tadi aku juga baca-baca majalah itu,” lanjut Silvi cepat. “Katanya malam ini dia membawakan seminar tentang bagaimana memuaskan pasangan... di St. Regis. Tapi...” Ariel menoleh cepat, matanya berbinar penasaran. “Tapi...?” Silvi menghela napas panjang, suaranya pelan. “Tapi seminar itu hanya untuk pasangan suami istri...” Mata Ariel bergerak-gerak, wajahnya penuh pikiran. Tiba-tiba ia tersentak, seolah sebuah ide gila muncul di kepalanya. Ia buru-buru berdiri dan memungut kembali majalah dari tong sampah itu. “Silvi, aku harus pergi!” katanya terburu-buru. Silvi memandangnya dengan dahi berkerut. “Kau baru saja keluar dari ruangan editor, mau ke mana lagi?” “Ke seminar dokter seksologi itu!” jawab Ariel mantap. “Tapi... itu hanya untuk pasutri! Kau dengar tidak?!” Silvi hampir berteriak. Namun Ariel sudah melangkah cepat ke arah pintu. “Ariel!” seru Silvi, tapi sahabatnya itu sudah lenyap di balik pintu, meninggalkan Silvi ternganga. Silvi hanya bisa memegangi kepala, menggeleng pelan. “Astaga... anak itu... selalu saja bikin masalah...” --- Lampu-lampu hotel St. Regis berkilauan mewah, memantulkan cahaya keemasan di ruangan ballroom yang penuh dengan kursi tertata rapi. Puluhan pasangan suami istri duduk berjejer, sebagian besar tampak serius memperhatikan slide presentasi di layar besar. Suara dr. Nathan Xander terdengar berat namun tenang, penuh wibawa, setiap kali ia menjelaskan materi. “Cara pertama yang bisa dilakukan untuk menaikkan gairah pria,” ujarnya sambil menatap hadirin dengan tatapan tajam namun menenangkan, “adalah dengan menggoda melalui bahasa tubuh. Tubuh kita berbicara lebih cepat daripada kata-kata. Sebuah sentuhan kecil, tatapan mata yang tepat, bahkan cara berjalan... bisa membangkitkan gairah lebih dari seribu kalimat rayuan.” Para peserta tampak mengangguk-angguk. Beberapa istri menoleh ke suami mereka sambil tersenyum nakal, membuat suasana ruangan sesekali terdengar tawa kecil. Di sudut kursi belakang, Ariel duduk dengan wajah setengah bingung. Matanya menatap layar, tetapi pikirannya melayang. Ia memiringkan kepala, mencoba memahami penjelasan yang tampak sederhana bagi yang berpengalaman, namun terasa asing baginya. Bahasa tubuh... tatapan mata... sentuhan kecil? Ariel menghela napas panjang. Tapi bagaimana kalau aku bahkan belum pernah melakukannya sama sekali? Bagaimana aku bisa menulis cerita dewasa kalau hanya mengandalkan teori seperti ini? Ia menggigit bibirnya, lalu menunduk menatap buku catatan yang dibawanya. Hanya ada coretan singkat—lebih banyak tanda tanya daripada jawaban. “Apa kau baik-baik saja?” bisik seorang wanita paruh baya di sebelahnya. Ariel tersentak, lalu tersenyum kikuk. “Ah... iya, Bu. Saya hanya... banyak berpikir.” Wanita itu mengangguk maklum lalu kembali fokus ke layar. Sementara Ariel justru makin resah. Presentasi berlanjut. Slide demi slide menampilkan ilustrasi, kalimat-kalimat sugestif, dan tips praktis. Tapi semua itu terasa seperti bahasa asing bagi Ariel. Tidak bisa. Aku butuh lebih dari sekadar teori, batinnya. Kalau aku ingin tulisanku hidup, aku harus tahu langsung dari sumbernya... dari dr. Nathan sendiri. Matanya spontan melirik ke arah panggung. Sosok pria itu berdiri tegak, jas putih panjangnya membuatnya terlihat berwibawa sekaligus memancarkan aura dingin. Rambut hitamnya tersisir rapi, suaranya dalam dan tenang. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Ariel sulit berpaling. Ketika seminar berakhir, para peserta bertepuk tangan. Dr. Nathan menutup presentasi dengan senyum tipis dan ucapan, “Terima kasih sudah hadir. Semoga malam ini membawa manfaat bagi kehidupan rumah tangga Anda.” Ariel ikut bertepuk tangan, meski dalam hatinya ada kegelisahan yang semakin membuncah. Ia tahu ini saatnya bertindak. Orang-orang mulai keluar dari ballroom, sibuk mengobrol sambil menggandeng pasangan masing-masing. Ariel, yang datang sendirian, justru menunduk agar tidak terlalu mencolok. Tangannya meremas tas kecil yang dibawanya, sementara langkahnya melambat, mengamati ke arah panggung. Di belakang panggung, terlihat beberapa panitia sibuk merapikan peralatan. Seorang staf perempuan mendekati Nathan dan berbicara sebentar, lalu menyerahkan map berisi catatan. Nathan mengangguk singkat, wajahnya tetap datar. Ariel menelan ludah. Dadanya berdebar keras. Sekarang... atau tidak sama sekali.Waktu seolah berhenti. Nathan memandang Ariel dengan tatapan penuh tanya. Ada konflik jelas di wajahnya—antara logika dan perasaan, antara apa yang seharusnya dan apa yang diinginkan. Sementara Ariel berdiri tegak, matanya jujur dan mantap, seolah sudah memikirkan permintaan itu dengan sangat matang. “Kau…” suara Nathan serak, “yakin?” “Iya, dok,” jawab Ariel tanpa ragu. “Aku ingin praktek sebelum aku pergi. Kita… belum tentu akan bertemu lagi nanti.” Kata-kata itu seperti pisau yang perlahan menusuk. Nathan memejamkan matanya cukup lama. Napasnya berat, dadanya naik turun tak beraturan. Ia tahu ini salah. Ia tahu ia seharusnya menolak. Tapi ketika membuka mata dan kembali menatap Ariel, semua alasan itu runtuh. “Aku…” ia menghela napas panjang. “Baiklah.” Ariel tersenyum, senyum yang lembut sekaligus penuh emosi. Ia melangkah mendekat, satu langkah kecil yang terasa begitu besar. Tangannya terangkat, lalu melingkar di leher Nathan. Nathan membeku sesaat, sebelum akhir
“Ya,” jawab Gerry santai tapi menusuk. “Kau kan menyukainya.” Nathan langsung mengernyit. “Jangan sembarangan bicara,” katanya cepat. “Siapa bilang aku menyukainya?” Gerry tertawa kecil. “Ayolah, Nate. Kita sudah berteman berapa lama?” Ia melipat tangan di dada. “Kau bahkan tak pernah melirik Gemma, tapi soal Ariel—” “Apa maksudmu?” potong Nathan defensif. “Kau sering memperhatikannya diam-diam,” lanjut Gerry tenang. “Cara kau melihatnya saat dia tidak sadar. Cara kau selalu tahu kalau dia sedang tidak baik-baik saja.” Gerry mengangkat bahu. “Kau pikir itu tak terlihat?” Nathan terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia tak menyangka—atau mungkin tak mau menyadari—bahwa semua itu ternyata begitu jelas bagi orang lain. “Aku hanya…” Nathan menggantungkan kalimatnya, lalu menghela napas berat. “Aku hanya peduli pada orang-orang di sekitarku.” “Peduli,” ulang Gerry pelan. “Tapi tidak pada semua orang dengan cara yang sama.” Nathan memalingkan wajah, menatap jendela. Langit sore d
Malam itu apartemen terasa lebih sunyi dari biasanya. Nathan baru saja menutup pintu apartemennya ketika pandangannya langsung tertumbuk pada sosok Ariel yang berdiri di dekat dapur. Gadis itu tersenyum—bukan senyum biasa. Senyum itu terlalu manis, terlalu rapi, dan entah mengapa membuat naluri Nathan terusik. “Kau sudah pulang,” ujar Ariel ceria, suaranya ringan seperti tak menyimpan apa pun. Nathan melepaskan jasnya, menggantungkannya dengan gerakan lelah. “Hm.” Ariel melangkah mendekat. “Dokter sudah makan?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang dibuat-buat lembut. “Sudah,” jawab Nathan singkat. “Ah… pasti capek,” Ariel memiringkan kepala, senyumnya melebar. “Bagaimana kalau aku pijat?” Nathan baru saja hendak menolak ketika Ariel tiba-tiba menarik lengannya. Ia didorong duduk di sofa sebelum sempat memprotes. Tangan kecil Ariel sudah bertengger di bahunya, memijat dengan tekanan yang cukup terampil. “Ariel—” Nathan menoleh cepat. “Tunggu dulu. Tidak biasanya k
Ruangan editor itu terasa lebih sempit dari biasanya, atau mungkin hanya perasaan Ariel saja. Pendingin ruangan berdengung halus, bercampur dengan suara ketikan keyboard dari meja-meja lain di luar ruangan. Ariel duduk tegak di depan meja George, kedua tangannya saling bertaut di pangkuan, menunggu penilaian terakhir yang selalu membuat dadanya menegang. George menyandarkan punggungnya di kursi, membaca kembali beberapa halaman cerbung di layar komputernya. Kacamata setengah bingkainya sedikit melorot, sementara alisnya berkerut—ekspresi khas yang selalu membuat Ariel sulit menebak apakah ia akan dipuji atau justru dikritik habis-habisan. Beberapa detik terasa seperti menit. Akhirnya George menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. “Bagus, Ariel,” katanya sambil menutup dokumen di layar. “Pertahankan alur cerbungmu itu. Pembacamu semakin suka dengan jalan ceritanya.” Ariel refleks mengangkat kepala. Matanya berbinar, napas yang sedari tadi tertahan perlahan terlepas. “Terim






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews