MasukWarning sewarning-warningnya! Khusus 21+ "Jangan terlalu keras. Kalau kau memegangnya seperti itu, pria mana pun tak akan bisa menikmatinya." "Ma‐maaf, Dok..." Ariella Anata tidak punya pilihan. Label "penulis hambar" dari editornya adalah vonis mati bagi kariernya. Demi riset nyata menulis novel dewasa, ia nekat menyelinap ke seminar eksklusif dr. Nathan Xander, seorang seksolog dingin yang hanya melayani pasangan suami-istri. Pertemuan itu seharusnya hanya soal teori, namun Ariel melangkah terlalu jauh. Sebuah tindakan nekat untuk membuktikan keberaniannya justru menjeratnya dalam permainan kucing-kucingan yang berbahaya. Kini, sang dokter bukan lagi sekadar narasumber. Ia adalah subjek riset hidup yang siap mengajari Ariel bahwa beberapa sensasi tidak bisa ditemukan dalam buku, melainkan melalui sentuhan yang melanggar batas etika.
Lihat lebih banyakAula Central Park malam itu bermandikan cahaya lampu kristal yang megah, namun bagi Nathan, atmosfer di sana terasa menyesakkan. Ribuan pasang mata tertuju pada panggung utama, tempat sebuah baliho besar terpampang dengan judul mencolok: 'Rahasia Empat Tahun' oleh Ariel Anata.Nathan berdiri di sudut paling gelap, bersandar pada pilar beton yang dingin. Ia sengaja mengenakan turtleneck hitam dan jas yang senada, berharap kerumunan orang tidak mengenalinya sebagai dokter bedah yang sempat viral karena edukasinya di podcast-podcast. Matanya tidak beralih sedikit pun dari sosok wanita yang duduk di kursi beludru di atas panggung.Ariel tampak luar biasa cantik, meski gurat kelelahan tidak bisa sepenuhnya disembunyikan oleh riasan tipisnya. Ia mengenakan gaun loose-fit berwarna krem yang jatuh dengan lembut, menyamarkan perutnya yang kini sudah sedikit membuncit. Nathan merasakan dadanya berdenyut perih. Itu anaknya. Nyawa yang selama sebulan ini ia tangisi dalam diam, kini berada hanya b
Langkah kaki Nathan menggema keras di lorong apartemen yang sunyi. Napasnya memburu, paru-parunya terasa panas, namun ia tidak peduli. Pikirannya hanya tertuju pada satu nama: Ariel. Setelah konfrontasi hebat dengan Kara di rumah sakit, satu-satunya hal yang ia inginkan adalah merengkuh Ariel, meminta maaf, dan berjanji bahwa ia akan bertanggung jawab sepenuhnya atas nyawa kecil yang kini tumbuh di rahim gadis itu.Ia sampai di depan pintu nomor 402. Jantungnya berdentum kencang saat ia menekan bel berkali-kali.Ting-nong! Ting-nong!"Ariel! Ini aku, Nathan! Buka pintunya, tolong!" teriaknya, tak peduli jika tetangga merasa terganggu.Tidak ada jawaban. Sunyi.Nathan mencoba memutar gagang pintu, dan alangkah terkejutnya ia saat mendapati pintu itu tidak terkunci. Dengan perasaan waswas, ia melangkah masuk. Namun, pemandangan di dalamnya membuat dunianya seakan runtuh untuk kedua kalinya hari itu.Apartemen itu kosong.Tidak ada lagi aroma kayu manis yang biasa tercium dari li
Ketegangan di koridor rumah sakit itu memuncak dalam hitungan detik. Kara, dengan kecepatan yang tidak terduga, menyambar amplop putih dari tangan Ariel yang gemetar. Sentakan itu begitu keras hingga ujung kertasnya sempat menyayat telapak tangan Ariel, namun rasa perih itu kalah oleh rasa takut yang menghantam dadanya."Hai! Apa yang kau lakukan? Kembalikan!" sergah Ariel, suaranya naik satu oktav. Ia berusaha meraih kembali miliknya, namun Kara melangkah mundur, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan.Kara tidak memedulikan protes itu. Dengan kasar, ia merobek segel amplop dan mengeluarkan selembar kertas hasil laboratorium di dalamnya. Matanya menyisir baris demi baris kata medis yang tertera di sana. Begitu sampai pada kesimpulan akhir, napas Kara tertahan."Positif hamil?" Suara Kara bergetar, bukan karena sedih, melainkan karena ledakan emosi yang nyaris tak terkendali. Ia menatap Ariel dengan pandangan menghina. "Kamu hamil anak siapa, Ariel? Siapa laki-laki malang yan
Lampu meja kerja Ariel berpendar kekuningan, kontras dengan kegelapan apartemennya yang hanya disinari lampu jalan dari balik jendela. Jemarinya menari di atas papan ketik, mencoba merangkai kembali kata-kata dalam draf novel lamanya yang sempat terbengkalai. Menulis selalu menjadi pelarian baginya—sebuah dunia di mana ia bisa mengatur takdir setiap karakter tanpa harus merasa sakit hati.Namun, fokusnya pecah.Tiba-tiba, sebuah rasa tidak nyaman naik dari perut menuju pangkal kerongkongannya. Rasa asam yang tajam membuatnya tersedak. Ariel menutup mulutnya rapat-rapat, mendorong kursi kerjanya hingga berderit keras, dan berlari menuju kamar mandi.“Hoekk!”Ia mencengkeram pinggiran wastafel porselen yang dingin. Tubuhnya gemetar saat ia memuntahkan cairan bening. Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak. Setelah beberapa menit yang menyiksa, ia membasuh wajahnya dengan air dingin, menatap pantulan dirinya di cermin yang kini tampak pucat pasi.“Apa maagku kambuh ya?” gumamnya p






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak