My ThesShit (Indonesian)
My ThesShit (Indonesian)
Author: adwlstr28
Prolog

Tahun terakhir di kampus...

Akhirnya Felicia kembali demi menyelesaikan kuliahnya. Setelah cuti satu semester alias setengah tahun untuk yang kedua kalinya karena harus mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk membayar tunggakan semesternya. 

Mahasiswi tua?

Mahasiswi abadi? 

Si mahasiswi bodoh?

Felicia sering mendengar bisikan itu disekitarnya. Apalagi ketika dosen menyebutkan namanya saat absen paling pertama, padahal abjad namanya bukan dari A. Membuat semua orang tau dia lebih tua dari angkatan itu. 

Malu? Tidak. Gengsi? Tidak. Toh mereka tidak akan membayarkan tunggakan semesternya. Demi menyelesaikan kuliahnya dan mendapat gelar, Felicia mengesampingkan semua hinaan itu. Baginya tidak terlalu penting, toh semua itu tidak benar. Apalagi soal mahasiswi bodoh, mereka tidak tau saja IPKnya diatas 3,5. Yang sebenarnya bisa menutup mulut-mulut nyinyir itu.

Entah kenapa mahasiswi baru yang lebih muda darinya sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat.

Cih!

Cerdas tapi gak bernorma, untuk apa? 

Felicia memperhatikan koridor kampusnya yang penuh mahasiswa- mahasiswi tengah asik berkumpul dan menggerombol. Beberapa orang melihatnya dengan tatapan sinis dan bertanya-tanya. Mungkin heran ia kembali lagi setelah cuti setahun selama dua kali di masa perkuliahannya ini. 

Beberapa merasa enggan membuat kelompok dengannya di mata kuliah tertentu. Felicia ingat sekali saat itu, ketika ia begitu sulit mendapat teman sekelompok untuk presentasi. Hanya karena teman sekelasnya berpikir ia angkatan tua yang merepotkan dan pasti akan sok ngatur. Padahal tingkatannya saat itu hanya satu tahun diatas mereka.

Untunglah ada yang mau sekelompok dengannya yang ternyata mahasiswa angkatan pertama saat itu. Dua tahun lebih muda darinya tapi sepertinya dia berotak encer karena berhasil masuk ke kelas yang setingkat lebih tinggi dari angkatan mahasiswa itu.

Felicia pikir mahasiswa itu jauh lebih baik dari yang lain, nyatanya dia sama nyebelinnya. Bahkan sangat tengil. Ia berharap tidak bertemu pria itu lagi di kelas nanti. 

Nyatanya takdir seakan mempermainkannya, membuatnya satu kelas dengan mahasiswa tengil tapi pintar itu. 

"Hay, Kak Fel." Sapa Jayden, si mahasiswa tengil sambil tersenyum sok ramah. "Kita ketemu lagi."

Related chapters

DMCA.com Protection Status