BAB 2

Edward termenung sebentar di ruang tamu. Sikap emma kali ini sungguh membuatnya takut. Takut tentang kebenaran bahwa adiknya itu sudah tidak ingin tinggal.

Berat rasanya harus berangkat ke kantor pagi ini. Tapi edward tetap berangkat walaupun dengan berat hati. Dia memasuki mobil mewah berwarna hitam miliknya.

Saat mobilnya hampir melewati sebuah gerbang besar tempat keluar masuk komplek perumahannya, edward melihat mobil yang sangat di kenali.

"Brengsek!!! Mau ngapain lagi tuh anak!!" Maki edward yang akhirnya memilih untuk memutar balik mobilnya. Dia tidak ingin adik kesayangannya bertemu dengan pria yang semalam sudah dia buat babak belur.

Edward sangat mengenal yucha dengan baik, bisa dipastikan bahwa dia pasti akan mengarang cerita pada emma dan memutarbalikkan fakta tentang wajahnya yang babak belur akibat kemarahan edward.

Tapi aneh, wajah emma pun tidak terlihat bahagia saat melihat kedatangan yucha. Justru wajah jutek adiknya itu sangat mendominasi. 'Apa semarah itu dia padaku?'

Tiba - tiba emma mendekat pada yucha dan menampar pria yang merupakan kekasihnya itu tepat di pipi yang terdapat memar diujung bibirnya. Edward terkejut dan memilih turun untuk menahan emosi adiknya. 

"Em... ada apa ?" Tanya edward sambil menarik adiknya mundur. Yucha terlihat sangat kesakitan akibat tamparan emma, terlihat sangat jelas karena ujung bibirnya yang sudah lebam itu kembali mengeluarkan darah.

Emma justru menghempas pelukan edward dan berbalik. "Apa sulit mengatakan yang sebenarnya padaku ?" Tanya emma menuntut. Edward bingung mendengar pertanyaan adiknya.

"Apa aku harus mengetahui kebenaran ini dari orang lain ?" Tanyanya lagi.

"Em... aku bisa jelasin." Kata yucha memotong pembicaraan emma dan edward.

Emma menoleh dan menatap tajam yucha. "Dan elu diem aja!!! Mulai sekarang gua bukan kekasih lu lagi!! Dasar lelaki menjijikkan!!!" Maki emma sambil menampilkan wajah yang sangat mengejek menurut yucha. Lalu pergi meninggalkan kedua pria itu.

"Em... emma... tunggu!!" Panggil yucha lagi yang sudah pasti tidak mendapat respon emma sama sekali. Karena gadis itu sudah masuk ke dalam rumahnya.

"Lu, mending buruan pergi atau gua bakal bikin wajah tampan lu semakin babak belur!!!" Ancam edward. Membuat yucha berdecih dan pergi meninggalkan rumah mewah milik kekasihnya. Bukan... bukan kekasihnya lagi, mungkin lebih terpatnya mantan kekasih.

Setelah yucha pergi, edward segera mengejar adiknya. Tapi dia justru menemukan emma yang duduk di pinggir kolam renang sambil merendam kakinya.

"Em..." panggilnya. 

Tidak ada jawaban. Emma benar - benar menulikan telinganya dari panggilan edward. Menanggap bahwa kakaknya itu tidak ada.

"Maaf.." dengan penuh penyesalan edward mengatakan permintaan maafnya.

Emma menolehkan kepalanya. "Untuk ?" 

"Karena nggak ngelibatin kamu untuk urusan yucha semalam. Seharusnya aku nggak gegabah dan menyelesaikan semua sendiri."

"Aku tidak bisa melihat dia menyakitimu lagi, em." Kata edward lirih. Terlihat ketulusan di mata kakaknya, membuat emma tidak tega.

Emma berdehem, "Seharusnya kamu kasih tau aku tentang kejadian semalam, ed. Dengan begitu kita bisa bekerja sama membuat laki - laki brengsek itu babak belur." Katanya dengan wajah datar. Tapi di telinga edward kata - kata adiknya mengandung sedikit lelucon.

Edward justru tersenyum mendengar kata - kata adiknya. Dia tau emma sudah tidak marah lagi padanya.

"Aku belum maafin kamu ya, ed." Lanjutnya lagi. Membuat senyum edward menghilang begitu saja.

Sekarang giliran emma yang justru tertawa terbahak - bahak melihat wajah cemberut kakaknya.

"Siapkan kuliahku ke korea, ed. Setelah itu aku baru akan memaafkanmu." Wajah edward semakin tertekuk mendengar syarat yang diajukan emma.

"Em..."

"Dan kau harus menemaniku selama kuliah disana." Lanjut emma lagi.

"Lalu perusahaan ?" 

"Apa perusahaan lebih penting daripada aku, ed ?" Edward menggeleng, sungguh baginya emma dan keluarganya adalah yang paling berharga dihidupnya.

"Kita buat pria tua itu bekerja lebih keras selama aku kuliah disana." Kata emma penuh dengan senyum licik.

"Apa rencanamu. em ?"

"Membuat pria tua itu tidak memiliki waktu untuk istri dan anak minionnya." Jawabnya cuek sambil mengangkat bahu.

Edward tersenyum. Adiknya ini memang sangatlah licik, jika sudah ada yang menyakiti hatinya.

"Ed.. jangan lupa, aku juga butuh mobil dan tempat tinggal yang nyaman selama disana." Pesan emma. Kakaknya itu hanya mengangguk.

Emma langsung saja berdiri dan berjalan menuju edward, mencium pipinya singkat. "Aku menyayangimu, ed. Kau yang terbaik." Lalu pergi begitu saja, membuat edward terdiam kaku karena perilaku adiknya. Entah kenapa detak jantungnya berdetak tak beraturan.

'Tidak... ini tidak benar.' Katany dalam hati.

**

Edward sangat sibuk akhir - akhir ini, dia sedang menyiapkan semuanya.

Agar saat dirinya menemani emma nanti tidak perlu untuk meninggalkan adiknya itu sendirian hanya untuk urusan pekerjaan. Edward sengaja membuka peluang kerjasama antara perusahaan miliknya dengan perusahaan yang ada di korea. Jadi, perusahaan tetap berjalan walaupun dia tidak berada di kantor setiap hari.

Mungkin kuliah emma hanya memakan waktu setahun kurang lebih. Selama itu pula dia bisa membesarkan peluang untuk memperluas perusahan miliknya. 

Sebelumnya pun edward memang sudah banyak melakukan kerjasama dengan beberapa perusahaan di Asia Tenggara. Jadi ini bukan hal yang baru untuknya, walaupun umurnya masih terbilang sangat muda.

"Ed... apa yang bisa mami bantu ?" Tanya elina.

Edward menggeleng. "Mam, apa mami bisa urus semua sendiri selama edward menemani emma ?" Tanyanya.

"Emma lebih membutuhkanmu, sayang. Selama ini hanya kamu yang menemani emma selain mami. Jadi, mami titip anak kesayangan mami ya." Pesan elina, lalu mencium kening edward.

"Tentu, mam." Janji edward pada ibunya. Di dunia edward hanya ada 2 wanita yang sangat di cintai, hanya emma dan maminya. Selama hidupnya edward berusaha selalu ada untuk kedua wanita ini dalam kondisi apapun. Bahkan saat tersulit yang terjadi di dalam keluarga mereka.

Dia merupakan anak sulung di keluarga mereka, siapa lagi yang melindungi mami dan adik - adiknya jika bukan dia. Semenjak papinya memilih untuk meninggalkan mereka, edward memiliki beban berat dibahunya. Dia tidak ingin menjadi lelaki brengsek seperti papinya.

Apalagi dia menjadi saksi kehancuran hati emma saat itu. Bahkan kemarahan adiknya benar - benar tak terbendung hingga detik ini. Papinya meninggalkan mereka di usia transisi emma dan edward. Jadi sangatlah wajar jika emma melakukan hal bodoh waktu itu

Tapi tidak untuk edward, dia menyikapi dengan dewasa saat melihat maminya yang sangat tegar. 

Hingga hari ini emma masih marah pada papinya. Terlalu besar harapan yang dia taruh pada 'pria tua' itu. Jadi di mata edward wajar jika rasa kecewa diantara ayah dan anak perempuannya menjadi sangat jauh. Walaupun sudah berbagai cara dilakukan papinya untuk mendapatkan maaf dari emma.

Nasib itulah yang di terima yucha saat emma memergokinya berselingkuh. Meskipun mantan kekasihnya itu mengatakan bahwa dia hanya bersenang - senang saja, tapi tidak bagi emma dan edward. Itu adalah salah satu sikap yang membuka gerbang perselingkuhan di masa depan.

Dan tentunya emma tidak akan mempertaruhkan masa depannya hanya untuk bersama pria yang memiliki tabiat sama seperti papinya. Alasan itulah mengapa edward tidak ingin melibatkan emma. Karena dia saja sudah cukup tersakiti melihat hal itu, apalagi adiknya.

Edward tersadar setelah tenggelam dalam lamunannya. Dia sebenarnya bahagia bisa menemani adiknya tapi juga khawatir. Setelah kejadian ciuman di pipi itu, entah kenapa setiap kali emma menyentuhnya atau tiba - tiba memeluknya manja jantungnya kembali bedetak yak beraturan. Tidak mungkin kan dia jatuh cinta pada adiknya sendiri ?

Dia kembali memikirkan cara apa untuk meminimalisasi untuk menghindari hal - hal yang tidak diinginkan.

"Ed.... apa kau sibuk ?" Panggil emma yang ternyata sudah sejak tadi berada di ruang kantornya. Tapi edward masih saja tidak bergeming. Emma melangkah maju lalu menyandarkan kepalanya di bahu edward sambil memperhatikan laptop milik kakaknya.

"Ed!!!! Kau melamunkan apa, hah ?" Kata emma yang sedikit berteriak. Tapi akhirnya berhasil menyadarkannya. Edward baru sadar bahwa kepala adiknya itu sudah tersandar di bahunya. 

"Ka-kapan kau datang ?" Tanya edward dengan terbata.

"Sejak tadi!! Ada apa denganmu, ed ? Kau memikirkan apa ?" Tanya emma beruntun.

"Nggak ada."

"Bohong!! Laptopmu aja mati. Apa yang kau pikirkan ?" Edward kembali menggeleng.

"Ada apa ?" 

"Ayo kita berbelanja beberapa keperluan untuk pergi kesana." Ajak emma dengan nada manja.

"Semuanya sudah ku siapkan, em. Kau bahkan bisa berangkat hanya membawa dompet, paspor, dan ponselmu saja."  Jelas edward.

"Baiklah, kalo gitu aku ingin makan bersamamu." Ajak emma lagi, kini tangannya menarik lengan kakaknya.

'Apa dia nggak sadar sikapnya yang seperti ini membuat jantungku sakit ?'

**

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status