Bab 5

Di sinilah Aisya dan teman-temannya berada yaitu di kantor Polisi. Bu Dewi yang merima telpon dari pihak kantor Polisi langsung lemas saat mendengar anaknya berada di sana, ia memutuskan untuk menelpon suaminya Ayah Aisya, dan memberi tahu suaminya bahwa anak gadisnya berada di kantor Polisi. Pak Ali pun segera pulang dan menjemput istrinya untuk pergi ke kantor Polisi.

Betapa kagetnya Bu Dewi yang melihat anaknya babak belur, ia langsung menangis histeris. 

"Ya Allah, Aisya." Pekik Bu Dewi. 

Aisya dan kedua orang tuanya sudah berada di rumah setelah menyelesaikan urusan di kantor polisi, mereka memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Andra dan Dimas melihat Adiknya yang terlihat kusut, acak-acakan muka juga biru-biru. Mereka langsung mendekat dan bertanya.

"Ada apa ini? Kenapa mukamu, Dek? Abis berantem sama siapa? Tanya Dimas langsung.

"Biasa, bang." kata Aisya dengan santainya

"Biasa apanya, mukamu sampai begini, mulai sekarang kamu gak boleh keluyuran terus main sama teman-teman cowokmu lagi, cewek kok mainnya sama laki-laki. Begini nih kalo kebanyakan main sama anak cowok" ia menarik napas perlahan lalu menghembuskannya  dan melanjutkan omelannya " hobbinya kelayaban terus kelahi, ujung-ujungnya ini muka babak belur, omelnya sambil mengompres muka anaknya yang memar dengan es batu. 

"Kamu itu anak perempuan, harusnya dirumah bantuin Bunda, bukannya keluyuran gak jelas, main gak jelas, terus ikut-ikutan berantem kaya cowok aja " Bu Dewi masih melanjutkan omelannya.

"Iya, iya Bun. Udah ngomelnya" kata Aisya sambil meringis karena bibirnya masih terasa perih

"Ini anak di kasih tahu, bisanya jawab aja" kata Bu Dewi sambil menekan kompresannya dan membuat Aisya berteriak "Aaww.... Sakit, Bun" 

"Makanya, orang tua ngomong itu di dengarin"

"Iya, ini juga udah dengar dari tadi, sampai ini kuping panas" timpalnya Bu Dewi semakin geram saja dengan kelakuan anak gadisnya ini. 

"Awww, sakittt, Bun." Katanya karena Bundanya tambah menekan kompresannya. "Iya, iya Aisya minta maaf, Bun. Terus janji deh gak keluyuran lagi."

"Ya sudah, sana istirahat ke kamarmu!!" Perintah Bu Dewi pada Aisya, dan ia pun langsung masuk ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya yang masih terasa sakit. Tak terasa ia pun terlelap ke alam mimpinya.

=======

Pagi harinya ia bangun, badannya terasa sakit semua. Aisya hari ini izin gak masuk sekolah dulu karena mukanya masih memar dan badannya terasa sakit. Ia ke luar kamar menghampiri Bundanya yang masih berkutat di dapur membuat sarapan.

"Pagi, Bun." Sapanya pada Bu Dewi

"Pagi, kamu udah bangun, gimana tu badan masih sakit??" Tanya Bundanya

"Ya, udah lah. Masa Aisya jalan sambil tidur ke sini" jawabnya 

"Ya, Bunda tahu" sahut Bu Dewi, anaknya ini baru bangun tidur aja sudah bikin dia geram.

"Udah tau, pake nanya lagi" timpalnya sambil cekikikan karena berhasil membuat Bundanya geram pagi-pagi begini, Bu Dewi melotot ke arah anaknya itu.

"Dari pada, kamu bikin kesal Bunda pagi-pagi gini, mending bantuin Bunda kamu, sini"

Bu Dewi menyuruh Aisya mengupas bawang. Aisya pun segera melakukannya biar Nyonya kesayangannya itu senang. Tak berapa lama Bu Dewi mendengar isakan kecil seperti orang menangis, ia menoleh ke arah Aisya dan langsung tertawa terbahak, mendapati anak gadisnya menangis sambil mengupas bawang. 

"Hahaa, baru disuruh ngupas bawang aja dah nangis" ledek Bu Dewi

"Bawangnya nakal, Bun. Bikin mata perih" cicitnya 

"Makanya jangan hobbi keluyuran aja, disuruh gitu aja gak bisa. Ya sudah sini Bunda aja yang lanjutin." Aisya pun berhenti mengupas bawangnya, ia mencuci mukanya di kamar mandi yang berada di dekat dapur. 

"Kamu itu anak gadis, harus bisa dan pintar masak, biar nanti suami kamu senang" kata Bu Dewi setelah Aisya kembali duduk di kursi dapur.

"Kan Aisya belum mau nikah, Bun. Udah bawa-bawa suami aja nasehatnya" jawab Aisya

"Ya kan nanti pasti menikah, mau kamu gak nikah-nikah" timpal Bu Dewi lagi

"Ya gak mau lah, Bun."

"Makanya, mulai sekarang harus belajar masak"

"Hmm, nanti aja lah Bun. Belajarny tunggu Aisya dah mau nikah aja" jawabnya ngeyel

"Kamu ini ya, di kasih tau ngeyel aja kerjaannya"

"Hehee, maaf Bun. Ya udah Aisya mau mandi dulu kalo gitu. By Bundaku yang cerewet, muuaachh  i love you." Ucapnya dan berlari masuk kamar sebelum Bundanya mengeluarkan suara emasnya lagi.

======

Aisya merasa bosan, sebab dari tadi dia cuma diam di kamar karena belom bisa pergi kesekolah. Kerjaannya cuma baring, gulung-gulung di kasur sambi memainkan ponselnya. Dia pun keluar dari kamarnya dan duduk di teras depan rumahnya. Ia memandang pohon jambu air yang ada di depan rumahnya berbuah lebat. Ia turun dan menuju pohon jambu air tersebut, ia mengambil satu dan memakannya "manis" gumamnya sambil melihat-lihat ke atas pohon. Ia pun ingin mengambil lagi buahnya tapi kali ini dia ingin mengambil buah yang berada di atas, ia pun memanjat pohon jambu air tersebut, dan duduk dibatang pohon sambil menjuntaikan kakinya ke bawah. Tiba-tiba ia melihat sebuah Motor sport berhenti tepat dihalaman rumahnya.

"Siapa, tuh" gumamnya pelan sambil melihat dari atas pohon.

Lelaki yang mengendarai Motor tersebut melepaskan helmnya "Lumayan ganteng" ucapnya pelan dengan masih memperhatikan lelaki tersebut.

"Cari siapa, Bang??" Tanyanya, yang ditanya mala celinguk-celinguk mencari sumber suara.

"Woy, Bang" panggil Aisya lagi, Reyhan si pengendarà motor tersebut melihat dan memperhatikan sekeliling tetapi tidak menemukan siapa pun. Ia pun jadi merinding sendiri dan bergidik ngeri sambil menyentuh tengkuknya.

Aisya yang melihat hal itu "Sialan, di kira gue setan apa" katanya seraya melemparkan buah jambu air ke arah Reyhan tepat mengenai kepalanya.

"Astagfirullah" serunya kaget seraya melihat ke atas pohon dan mendapati pemandangan seorang gadis manis lagi santai duduk di atas pohon.

"Biasa aja dong, kaya liat setan aja" kata Aisya 

"Mau cari siapa, Bang??" Tanyanya lagi

"Oh, Andranya ada?"

"Oh, temannya Bang Andra"

"Bang Andra, ada yang nyariin nih" teriaknya Reyhan meringis mendengar suara teriakan Aisya yang nyaring.

Andra keluar saat mendengar suara teriakan Aisya "Apa sih, Dek. Teriak-teriak kaya di hutan aja" katanya 

"Tuh, ada temannya, Abang." Katanya seraya menunjuk Reyhan yang masih berada diatas Motornya

"Eh lo, Rey." Ucapnya dan menghampiri sahabatnya itu lalu berjabat tangan. "Udah lama, lo" tanya Andra pada Reyhan

"Baru aja nyampe" jawab Reyhan 

"Ya udah, yuk masuk dulu" ajaknya pada Reyhan. Reyhan pun masuk ke rumah mengikuti Andra lalu melirik ke arah Aisya yang masih berada diatas pohon. 

"Siapa tu ndra?" Tanyanya pada Andra seraya menunjuk Aisya di atas pohon

"Oh itu, adik gue. Mang gitu orangnya cuekin aja" kata Andra seraya berlalu masuk ke dalam rumah, dan Reyhan pun mengikuti Andra masuk .

Aisya turun dari atas pohon jambu air, ia masuk ke rumah dan mendapati Bang Andra dan temannya duduk di sofa ruang tamu. Andra memanggil Aisya. 

"Sya, buatin minum dong, buat teman Abang!!" 

Aisya menghampiri Abangnya "Mau minum apa?" Tanyannya

"Bikinin aja es sirup, dua gelas ya" kata Andra pada Aisya. Ia pun berlalu ke dapur untuk membuatkan minum untuk tamu Abangnya itu.

Sementara itu di ruang tamu Reyhan melihat Aisya yang berlalu kedapur sepertinya dia pernah melihat itu cewek, tapi di mana pikirnya. Sebab muka Aisya masih agak memar-memar dikit jadi aura kecantikannya masih tertutup, eh emang bisa begitu???.

"Eh, gue kok kaya pernah liat adik lo, tapi di mana ya." Kata Reyhan seraya menatap Andra dan mengingat dimana dia pernah melihat Aisya.

"Dimana?" Tanya Andra

"Oh iya, gue ingat. Waktu diacara nikahannya jessi mantan, lo." Ucapnya

"Oh, itu" gumam Andra

"Cantik juga ternyata adik lo, boleh lah dikecengin" kata Reyhan sambil menaik turunkan alisnya pada Andra

"Sialan lo, jangan macam-macam lo sama adik gue" sengit Andra dan Reyhan hanya terbahak.

Aisya datang dari arah dapur membawa dua gelas es sirup, untuk Abang dan teman Abangnya. Ia meletakan gelas di atas meja.

"Silahkan, di minum" ucapnya sambil tersenyum. 

"Terima kasih" kata Reyhan sambil memandang Aisya sambil senyum-senyum. Dan mendapati lirikan tajam dari Andra.

"Awas, jangan macam-macam lo" ancamnya

"Gue cukup satu macam aja" jawab Reyhan

Aisya meninggalkan ruang tamu, dan masuk ke dalam kamarnya.

"Itu, kenapa muka adik lo memar-memar" tanya Reyhan yang ingin tahu, sebab dia melihat muka Aisya tadi ada bekas memar gitu.

"Biasa, adik gue jagoan dia, abis ikut baku hantam dia" kata Andra lalu ia meminum minumannya

"Weh, hebat juga adik lo" timpalnya seraya tertawa padahal gak ada yang lucu.

"Makanya, jangan macam-macam lo sama dia, bisa abis lo disikatnya" ucap Andra menakuti Reyhan.

"Padahal, adik lo cantik banget" yang membuat Andra memutar bola matanya. Dasar playboy cap biawak batin Andra.

Reyhan ini terkenal playboy di kalangan teman-temannya, makanya Andra gak setuju kalo Reyhan macam-macam sama Aisya. 

Bersambung..... 

Semoga suka. Terima kasih saya ucapkan buat yang udah baca cerita saya. Maaf ceritanya kalo kurang bagus saya masih belajar....

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status