Menikah Dengan Pelacur [Indonesia]
Menikah Dengan Pelacur [Indonesia]
Author: Julia Inna Bunga
PART 1

"Oh, yesss...! Kamu masih sama enaknya kayak dulu, Cintaaa...! Yes, Baby! Ughhh... Aku kangen banget sama kamu. Ahhh...!" Suara desahan keras Dewa Djatmiko terdengar seantero ruangan berdiameter 3x4, tempat di mana Cinta Andini menjajakan tubuhnya selama ini. Ia memang adalah seorang pelacur yang sudah lima tahun berada di bawah bayang-bayang Mami Chika, mucikari kejam tanpa belas kasihan. 

"Dewaaa... Ohhh..." 

"Iya, Sayang... Enak, hm? Ugh, fuck! Sudah berapa lama nggak aku entot, Baby? Jawab, Cinta Andini! Ough, yesss...! Kamu masih sempit aja! Ughhh... Enakkk...!" 

"Oughhh...!" Dan erangan bukan hanya terdengar dari pita suara Dewa semata, namun Cinta juga turut mengambil bagian yang tersaji. 

Dengan gaya bercinta missionary, keduanya saling mengejar gairah yang tercipta, diikuti serentetan kecup basah dan juga sentuhan milik Dewa. 

Dewa tak henti-hentinya memuja tubuh molek Cinta yang kini jauh berbeda sedari awal keduanya saling berbagi pengalaman pertama, masih di bawah penjagaan ketat Mami Chika. 

Sang mucikari menjual keperawanan Cinta Andini setelah dirinya melunasi utang piutang yang gadis itu lakukan untuk menebus kesalahan ayah kandungnya di dalam penjara, dan Dewa Djatmiko adalah pemenangnya, "Lebih cepat lagi, Dewaaa...! Oughhh... Ini enakkk...!"

"Cintaaa...! Ah, yeachhh...! Nakal kamu sekarang, hm? Aku tinggal kuliah ke New York udah berapa banyak yang ngentotin kamu, heh?! Ughhh... Jangan harap kamu bisa tidur sama laki-laki lain lagi, Sayanggg...! Aku nggak akan biarkan itu terjadi!" Dewa yang kala itu masih berstatus perjaka pula, menerima kekalahannya di arena balap motor dengan cara demikian, melepaskan keteguhannya menahan diri selama delapan belas tahun menjaga. 

"Aku mau keluar, Dewaaa...! Aku... Ah ah ahhh... Dewaaa...!" 

"Shit! Keluarin, Baby! Ughhh...!" Namun yang Dewa kehendaki saat itu adalah gadis perawan, sama sepertinya. 

Kejadian panas yang mendapat posisi paling menakjubkan di dalam diri Dewa itu tak mudah terlupakan begitu saja sepanjang lima tahun dirinya mengambil gelar Strata Satu sekaligus Magister di Negeri Paman Sam, sebab selama ini ia acap kali menyambangi Cinta ketika pulang ke tanah air. 

Cinta adalah tujuan kedua setelah rumah mewah milik orang tuanya, juga tekadnya yang tak kunjung padam untuk membawa gadis cantik itu keluar dari sangkar emas kepunyaan Mami Chika. 

"Oh, enakkk... Punyamu enak banget, Dewaaa...!" 

"Sialan! Ahhh...! Punyamu lebih enak lagi, Sayanggg...! Ughhh... Ayo teriak, Babyyy...! Ayo puasin Dewamu ini!" 

"Dewaaa...! Ahhh...!" Setelah menyelesaikan kehendak ayahnya, Dewa tak mau lagi menunda-nunda keinginannya untuk mengeluarkan Cinta dari lumpur dosa, juga bersedia melakukan apapun kendati rintangan sudah menunggu mereka di depan mata.      

Dewa memang tak pernah mencecar kalimat manis penuh mulut di hadapan Cinta untuk rasa yang selalu ia tata dalam hati, sebab sepanjang dirinya masih bergantung di kaki orang tua, kebebasan itu jelas hanya akan menimbulkan luka dan juga duka.    

'Sebentar lagi kamu akan keluar dari tempat laknat ini, Cinta! Aku nggak akan ngebiarin kamu dimiliki orang lain yang belum tentu sayang sama kamu!' Susunan kata-kata itu, bergulir bebas di isi kepala Dewa sedari tadi.

Diselingi dengan sentuhan dan kecupan basah, pinggul liat Dewa terus memompa di bawah sana, mencari pelepasan yang belum ia dapatkan. 

"Cintaaa...! Udah mau keluar, Sayanggg...! Oughhh... Naik ke atas badanku, Cin! Ohhh...!" Lelehan peluh yang membanjiri tubuh keduanya tak menjadi satu persoalan untuk mereka, sebab memang pada kenyataan bukan hanya rasa dari Dewa seorang, melainkan sudah sejak lama Cinta pun demikian. 

Perasaan lancang tersebut dengan sendirinya tumbuh subur di hatinya atas segala tingkah laku Dewa padanya, namun masih tersembunyi karena pria itu tak pernah mengutarakan hal yang sama, termasuk berjanji apapun. 

"Dewaaa...!" 

"Cintaaa...! Ohhh...!" Terlepas dari hubungan intim di atas ranjang, harapan memang selalu Cinta inginkan dari Dewa, namun ia sadar betul dengan kasta dirinya di banyak pasang mata. 

Cinta Andini hanyalah sampah masyarakat yang bertahun-tahun bahkan mampu menciptakan kehancuran biduk rumah tangga banyak pihak, padahal jauh sebelumnya Dewa sudah lebih dulu memikirkan semua itu dan anggapan wanita itu salah besar untuknya, sebab ia selalu memacu tekadnya menjadi anak manis agar dapat memperjuangkan kisah mereka.

"Terima kasih, Sayang. Uhhh... Enak banget." Deru nafas berpacu dengan debaran jantung kurang ajar, bertambah ketika bibirnya mendarat lembut di kening penuh peluh Cinta. 

Cup

Seulas senyum teramat sangat manis dari Cinta, menular untuk Dewa di tengah pujian yang sama, "Aku yang harusnya bilang makasih ke kamu, Dewa. Punyamu juga enak banget dan—" 

"—Mau nambah, hm?" Sampai-sampai ide untuk kembali berpacu dengan kobaran gejolak asmara hadir di bibir Dewa. 

Ikut tertawa renyah, Cinta menolak ajakan panas itu dengan mengelus sejumlah rambut halus yang tumbuh di dada bidang Dewa, "Jangan sekarang, Sayang. Sewa kamarnya bakalan double sama Mami Chika nanti. Pas aku libur hari minggu aja baru kita long time di luar biar nggak mahal ya?" 

Melakukan hal yang sama pada surai hitam legam di kepala Cinta, sejujurnya Dewa tak mempermasalahkannya, "Nggak masalah, Sayang. Aku kan udah nggak kuliah lagi. Udah diterima Papa di kantornya, jadi udah bisa bayar kamar double kok."      

Toh, ia sudah tidak berstatus sebagai Mahasiswa, tetapi kini menjabat sebagai wakil direktur mengganti posisi sang ibu, "Tapi—" 

     

"—Tapi apa, hm? Ada janji tidur sama cowok lain ya?" Sayangnya penolakan kecil itu berujung prasangka buruk dibungkus sedikit rasa kecemburuan.

      Membuahkan sentuhan di dada, kini beralih menjadi elusan ke rahang tegas Dewa yang  ditumbuhi bulu-bulu kasarnya, "Astaga. Aku nggak ada janjian sama siapa-siapa selain sama kamu hari ini, Dewa. Cuma nggak tahu aja nanti Mami Chika. Kenapa, sih, Sayang? Masih mau lagi memangnya?"

"Jangan tanya kayak gitu ke aku, Cinta. Mau belasan ronde pun aku jabanin asal itu sama kamu, Sayang," serak Dewa menahan gelombang panas yang bermunculan lagi.   

Cinta yang dibalur rasa bangga merambah ke ranah inti milik Dewa, menyengajakan diri kian merapatkan kulit di tubuh mereka, namun candaan tak luput sedikit pun, "Alah, gombal. Emangnya di New York kamu nggak pernah gitu tidur sama cewek lain, maksudku pacarmu."    

Setengah mati Dewa menahan dirinya untuk tidak menerkam Cinta saat itu juga, beralih pada berkata jujur demi bangunan kokoh yang digadang-gadang olehnya, "Ya itu, sih, pernah. Tapi kepepet pas aku diajak temen-temen mabok di kelab."

"Emmm..." Hasilnya? Hanya satu deheman saja yang keluar dari bibir Inna dan Dewa merasa kejujurannya adalah sebuah satu kesalahan.

Tiga detik Dewa mempergunakan waktu untuk mencari percakapan baru, tetapi masih saja kakinya belum ingin beranjak dari pembicaraan tadi, namun ia memilih terus bercerita jujur tentang isi hatinya, "Cuma anehnya kenapa yang aku bayangin itu lagi tidur sama kamu ya, Sayang? Jangan-jangan kita jodoh lagi." 

Sebenarnya, umpan dari bibir Dewa sungguh sangat tepat sasaran, bahkan kini semburat merah di pipi Cinta kian memerah, namun kegugupan membuatnya salah berkata, "Jangan bercanda, Dewa. Aku ini lonte. Edan! Apa kata keluargamu nanti? Mana ada di dunia ini orang tua yang mau punya menantu perempuan jalang kayak ak—"

"—Ssttt... Jangan ngomongin itu lagi ya? Pokoknya punyamu enak banget dan bikin nagih, Sayang. Oh iya, aku punya surprise lho minggu depan buat kamu." Dewa yang tak suka, pun memotong ucapan Cinta dan kali ini ia benar-benar mengalihkan pembicaraan mereka. 

Tanda tanya mulai membesar untuk hal baru yang penuh teka-teki, "Surprise? Apaan tuh?" 

"Surprise itu kejutan, Sayang." Lalu bergulir dengan begitu baik oleh kemasan candaan manis Dewa. 

Pukulan kecil di tubuh Dewa ada di sana, juga beragam reaksi lain, pun tak mau ketinggalan di antara diskusi kecil pelepas rindu, "Ih, Dewa! Aku juga tahu kali surprise itu artinya kejutan. Nggak bego-bego amat walaupun cuma tamatan SMA." 

"Kamu tamat SMA, Yang?" 

"Iya. Kenapa emang?" 

"Nggak. Kan bisa kerja waktu itu, Sayang. Kenapa harus pinjem duit ke rentenir terus ujung-ujungnya malah berhamba ke Mami Chika gini, sih?"

"Karena aku masih bego, Dewa. Aku anak umur delapan belas tahun dari kampung di Cimahi sana yang nggak ngerti apa-apa. Jadi waktu bapak nyuruh aku minta tolong ke tetangga di dekat kontrakan waktu itu, ya aku kira emang nanti bakalan diganti utuh seperti yang kami pinjam. Ternyata berbunga banyak gitu." 

"Terus." 

"Terus nggak bisa bayar aku dibawa ke sinilah. Kan udah pernah aku ceritain. Kamu bikin aku jadi inget almarhum bapak aja. Capek-capek kerja biar bisa bebas dari sini, eh bapak malah pergi tinggalin aku." 

"Ssttt... Sudah-sudah, Sayang. Aku minta maaf ya? Jangan nangis lagi oke? Aku janji nggak akan ngajak kamu ngobrol tentang itu lagi, tapi syaratnya sekarang harus senyum dulu. Bisa kan?" Namun ujung obrolan yang tidak Cinta harapkan lantas terjadi, ketika kisah masa lalu ikut menjadi pembahasan keduanya. 

"Nggak bis— Ough, Dewa!" 

Dewa memakai dua ruas jarinya untuk menebar umpan yang lebih jitu, "Kenapa, Sayang? Enak, hm? Mau aku kocokin sampai croot?" 

"Dewaaa... Ahhh..." Dan hasilnya sudah dapat ditebak, bahwa Cinta akan dengan mudah luluh, juga menggema seperti beberapa saat lalu.  

Hawa panas naik hingga ke ubun-ubun, memerahkan kulit di sekujur leher jenjang Cinta tentunya, "Terus, Sayang. Ayo teriak lagi, Baby..." 

Aksi berjalan cepat dan tepat hingga menjadi hebat, nyaris tidak bisa menghasilkan satu penolakan dalam bentuk apapun juga untuk diri Cinta Andini, "Stop, Dewa! Ini-- Ough, fuck!" 

Kalimat kotor juga menjadi mantra terbaik di sana, "Yes, Baby. I wanna fuck you again. Do you like it, hm? Enak, Sayang?"  

"Enak, Dewaaa..." Menyerupai kutukan yang mau tak mau harus Cinta lalui.

Pergumulan memang wajib hukumnya untuk dilaksanakan tanpa bantahan, "Kurang keras, Baby girl!" 

"Arghhh... DEWAAA...!" 

"Good sound, Girl. Gimana kalo pakai bibir aja dulu?" 

"Dewa, please! Cukup dong, Sayang. Aku— Ouhhh...! Sialan! Dewaaa...!" Lebih-lebih ketika lidah tak bertulang Dewa sudah sampai di lipatan Labia Mayor yang mulai menguar aroma khas itu. 

Detik membawa menit untuk kian membara dan berkobar pula, lalu penyatuan di zona inti adalah bentuk betapa keduanya bukan hanya sekedar saling memuaskan hasrat, melainkan juga mengikat rasa untuk semakin erat. 

Adalah janji ketika Dewa Djatmiko berulang kali meneriakkan nama Cinta di sana yang memiliki niat untuk dapat segera ditepati, tetapi tidak pada Cinta Andini. Ada butiran kecil air di kelopak mata yang diselimuti dengan lelehan peluh dan semua tentu saja masih tentang kasta serta derajat dirinya.

Cinta tidak ingin berharap lebih ketika di sepanjang lima tahun ke belakang Dewa tak pernah berkata jelas tentang isi hatinya, melainkan terus bersikukuh untuk menjadikan lelaki itu sebagai Raja yang membayar jasa. Mampukah ia terus bertahan? Entahlah. Semoga saja.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status